Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Hidup Tak Lagi Lama


__ADS_3

Langkah gontai tarpaku pada pijakan kaki di depan ranjang. Sepasang mutiara hazel dibawa menatap nanar ke arah gulungan selimut yang membentang. Sepasang kaki juga siap berancang-ancang.


Tanpa banyak berkata ia langsung menyusup ke dalam selimut, memeluk Monica yang masih mendengkur.


"Hmm ...." Monica langsung meracau menyerupai sebuah dengungan. Tidurnya yang damai mulai terusik. Dibuka sedikit sepasang kelopak matanya yang masih terasa berat hingga ia menangkap keberadaan sosok Jesslyn.


"Mau apa kau datang pagi-pagi gini?" Monica bertanya dengan malas. "Ihhh! Kau basah. Menjauhlah. Atau ganti bajumu dengan pakaianku di lemari," gerutunya karena risih lalu kembali memejamkan mata untuk melanjutkan tidurnya.


Mengabaikan sungutan menyebalkan si Monica Jesslyn justru kian mengeratkan pelukannya. Kendati, garis cemberut menghiasi muka.


"Aku sedang sedih dan juga marah," curhat Jesslyn.


"Kenapa?" Respon Monica yang masih menyisihkan sedikit kesadaran di sela tidurnya.


"Aku menangis sampai mataku bengkak."


"Ada apa?"


"Karena Jeaven."


"Sudah ku duga."


"Aku sangat membencinya sekarang."


Monica bergerak miring, memunggungi Jesslyn. "Aku sudah sering mendengar kau berkata seperti itu," ucapnya terkesan bosan.


Pasalnya, sahabatnya itu sering berkata hal yang sama setiap dibuat kecewa oleh si pria kutub, Jeaven. Namun, itu tak akan bertahan lama.


Ibarat kata, Jeaven adalah satu sosok yang memegang dua fungsi. Yaitu sebagai yang melukai sekaligus mengobati. Walaupun Jesslyn sudah menahan sakit berkali-kali, tapi akan sembuh begitu saja saat berhadapan dengan sang pangeran hati.


Akan tetapi, alur cerita yang dulu sudah tak berarti. Rasa kecewa telah meraung keras di hatinya kini.

__ADS_1


"Aku ... benar-benar membencinya, Monica," tekan Jesslyn tentang perasaan seriusnya yang tengah membelenggu. Bahkan suaranya terdengar bergetar karena mulai tergugu. "Jeaven--" ucapannya terjeda karena ragu.


"Jeaven kenapa?" Monica masih setia menanggapi curhatan sang sahabat meski rasa kantuk masih merajai.


"Kami semalam bermain di atas ranjang hingga aku sudah tidak lagi suci."


"APA?!" Pernyataan yang baru saja terbang dari bibir Jesslyn seketika sukses menarik Monica dari rasa kantuknya. Wanita itu langsung terduduk dengan melayangkan ekspresi terkejut karena tidak percaya.


Yang Monica tahu, selama ini Jeaven si teman dari kecilnya itu adalah sosok pria aneh yang tak mengenal pacaran, bermain wanita, apalagi bermain ranjang.


"Jadi dia sudah menerima cintamu?" Tanya Monica kembali disertai mimik penuh harap.


Wajah Jesslyn menunduk seolah beban lara yang dipanggul terlalu berat. Air matapun kian berguguran bersamaan denyutan perih yang menyayat.


"Jeaven memintaku untuk melupakannya karena itu hanya sebuah kesalahan."


"Hah?! Benar-benar pria bajingan dia. Emang dipikir kamu wanita murahan apa?! Tunggu saja, aku akan memberi pelajaran!" Seru Monica yang langsung terpancing emosi.


"Tapi, Jess. Aku tidak bisa menerimanya."


"Mon, aku sudah benar-benar menyerah dengan perasaanku."


Dipandangi wajah kelabu sang sahabat. Monica seolah bisa merasakan lara hati Jesslyn. Tak urung jika kini dia juga ikut berlinang air mata. Diraih tubuh lemah di depannya itu untuk dibawa ke pelukan.


"Berbagilah kesedihanmu bersamaku. Itu bisa meringankan bebanmu. Dan ingat, jangan biarkan ujian hidup membuat kau tidak mengenali dirimu sendiri pada akhirnya. Tetaplah seperti Jesslyn yang aku kenal."


"Terima kasih, Mon. Kau memang sahabat yang terbaik."


"Aku tahu itu."


__ADS_1


Di kediaman keluarga Allison.


"Adikmu sudah tahu semuanya," sela Jeffrey yang baru saja datang mendekat. Terlihat raut suram juga menaungi wajahnya yang tampan.


Jeaven langsung bisa mencerna ucapan sang daddy. "Bagaimana dia bisa tahu, Dad?" Ia bertanya dengan tangan mengusap punggung sang Mommy yang terasa bergetar karena menangis.


"Entah bagaimana ceritanya berkas diagnosa dokter tentang penyakitnya bisa berada di tangannya," terang Jeffrey.


"Dia pasti sudah sangat putus asa karena tahu perkiraan kesempatan hidupnya tidak akan lebih dari 1 tahun. Mommy sungguh tidak tega. Mommy juga terluka. Kenapa nasibnya begitu malang?" Jenny menyela sambil tergugu.


Jeaven mulai merutuki dirinya sendiri. Kalau tahu keadaannya seperti ini, sudah pasti dia akan menyeret si adik untuk pulang saat melihatnya tadi.


"Daddy sudah mencari, tapi belum juga ditemukan keberadaannya," imbuh Jeffrey.


Perlahan Jeaven mengurai pelukan lalu menatap serius wajah wanita yang sudah melahirkannya itu. "Mom, berhentilah menangis." Ia menyeka lembut luluhan air mata yang membasahi pipi. "Jeaven akan keluar mencarinya sampai ketemu."


"Kau harus membawanya pulang," pinta Jenny.


"Daddy akan ikut bersamamu," sela Jeffrey.


"Iya."


Ujung jari kaki yang sudah berputar dan siap berayun pergi tiba-tiba diurungkannya kala sosok Jennis terlihat masuk ke dalam rumah.


"Putraku!" Jenny langsung berhamburan mendekati Jenny yang tampak berjalan pelan membawa mukanya yang pucat.


"Mom," lirih Jennis sebisa mungkin memaksa lidahnya yang berat untuk bersuara. Kemudian ia menggiring pandangan sayunya ke arah sang kakak. "Bolehkah aku ... bersikap egois menjelang kematianku? Aku ... Ingin menjadi bagian dari hidup Jesslyn. Tapi--"


Belum tuntas Jennis mengutarakankan isi hatinya, tubuh sudah sulit diajak bekerja sama. Kaki tak mampu lagi bertopang seiring dengan pandangan mulai gelap gulita. Pada akhirnya kesadaran pun hilang seketika.


"Jennis!" Pekik cemas semua orang secara serentak.

__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2