
Rasa sesal yang merangkak di relung jiwa bagaikan sebongkah beban berat. Bryan tertunduk karena kenangan kelam kembali teringat.
Sepasang tangannya menjulur hingga menyentuh kedua lengan kecil Monica. Pandangan yang semula merendah diajak naik hingga bermuara pada mutiara bening si wanita. Sekali lagi Bryan mencoba mengutarakan isinya hatinya.
"Aku benar-benar menyesal. Awalnya aku tidak bermaksud ingin menyakitimu. Waktu itu kondisi jiwaku sedang terguncang dan sangat labil."
Rasa kecewa yang masih bernaung di hati membuat Monica tersenyum kecut. "Awalnya memang bukan aku tujuanmu, tapi Jesslyn lah yang ingin kau jadikan tempat sasaran." Ia menepis kasar kedua tangan Bryan dari kedua lengannya. "Andai dulu aku terlambat sedikit saja, Jesslyn pasti sudah menjadi korban dari sifat tempramenmu itu!" Tukasnya lagi sembari menahan denyutan pilu.
Dulu ia tidak mengira, niat hati ingin melindungi Jesslyn justru berakhir petaka untuk dirinya sendiri. Dan apa yang dialaminya itu masih ia simpan dari sahabatnya itu hingga kini.
Rasa panas mulai merebak di kedua netranya. Monica serasa ingin menangis di saat ini juga. Namun, ia masih bertahan karena tidak ingin menarik rasa iba.
Akan tetapi sekuat apapun Monica mencoba tegar, tapi sisi rapuhnya masih bisa tertangkap oleh mata Bryan dengan jelas. Terdorong oleh rasa hati nurani, pria itu sontak merengkuh tubuh kecil wanita berparas imut itu. "Aku sungguh minta maaf."
"Menjauhlah!" Monica langsung mendorong tubuh besar Bryan dan kembali menghunuskan tatapan tajam sarat akan luka dan kecewa. "Jika kau ingin aku memaafkanmu, jauhi Jesslyn."
"Aku tidak bisa. Selepas dari semua kesalahanku di masa lalu, rasa cintaku kepadanya itu nyata."
"Apa kau pikir aku akan rela membiarkan dia bersama seorang pria bertempramental tinggi sepertimu?!" Sengit Monica.
"Percayalah, selama ini aku sudah berusaha keras mengatasi sifat burukku itu." Bryan mencoba meyakinkan.
"Maaf, sulit untukku untuk percaya." Monica berniat melenggang pergi tapi pria itu menghalaunya.
"Baiklah jika kau masih ingin bertahan dengan kebencianmu itu kepadaku. Tapi jangan gunakan masa lalumu itu sebagai senjata untuk menghalangiku dalam memperjuangkan perasaanku. Aku juga tidak butuh restumu untuk mendekati Jesslyn. Asal kau tahu aku mencintai sahabatmu itu apapun kondisinya termasuk dia yang sedang hamil." Rupanya Bryan tak lagi ingin bersabar.
Meski nada bicara Bryan rendah, tapi sukses menguak kembali luka di hati Monica. Bagaimana semudah itu Bryan bertutur kata tanpa memikirkan perasaan si wanita.
Setelah apa yang Bryan lakukan terhadap Monica di masa lalu, pria itu malah terang-terangan ingin kembali mendekati Jesslyn tanpa rasa sungkan dan juga bersalah.
__ADS_1
Gejolak perasaan yang berbenturan di hati menuntun tangan meremas kain di dada. Rasa sesak menyulitkannya untuk bernapas secara leluasa.
Sekali lagi, Bryan menyadari sorot mata Monica yang menyiratkan luka. Pria itu pun terlena karena tak tega. Ia seketika sadar kalau ucapannya barusan kembali menyakiti si wanita.
Batin terus merutuki diri seiring tangan menarik Monica agar tenggelam di pelukannya. "Maaf karena aku kembali melukaimu," lirih Bryan dengan sesal.
"Lepaskan!" Monica mencoba terbebas dari rengkuhan Bryan, tapi tenaganya terlalu lemah. "Aku mohon lepaskan. Kau membuatku semakin membencimu," pintanya penuh penekanan.
Sebuah dorongan kasar langsung diterima Bryan kala lilitan tangannya mulai merenggang. Tubuhnya bahkan sampai terhuyun ke belakang. Bertepatan dengan itu matanya menangkap punggung Monica yang kian mengecil dan menghilang.
"Aarg! Sial! Aku harus bagaimana?" Bryan mengerang frustrasi sembari menyugar rambutnya dengan kasar.
Dilema? Tentu saja. Dia ingin memperjuangkan cintanya, tapi di sisi lain hati turut menjerit karena sebenarnya tidak tega menyakiti Monica.
"Seharusnya kau tidak mencintai pria bejat sepertiku, Monica."
"Sepertinya kesehatanmu sudah pulih dengan sangat pesat," komen Brent masih terus mengamati Jeaven. "Apa enak?" Kini ia memilih bertanya tentang pancake kentang dan cordon bleu yang sedang di makan Jeaven dengan lahap.
"Hm," jawab Jeaven dengan sebuah dengungan karena mulut masih penuh oleh makanan.
"Bagaimana dengan keadaanmu?" Brent yang masih dirundung kecemasan kembali berlisan tanya. Mengingat beberapa jam yang lalu Jeaven keluar dari rumah sakit padahal kondisinya masih lemah.
"Baik." Kali ini Jeaven menjawab dengan perkataan, tapi atensinya masih fokus kepada makanan di piringnya yang hampir tandas. Tidak ada yang tahu sebelumnya, bahwa baru kali ini ia memiliki selera makan normal. Berbeda dengan beberapa bulan terakhir yang di mana ia kesulitan menelan makanan karena serangan rasa mual.
"Syukurlah. Melihat cara makanmu aku sudah tidak perlu khawatir lagi kalau kau akan kekurangan makanan." Brent mencubit pegangan cangkir kopi yang sedari tadi belum sempat disentuhnya karena sibuk memperhatikan Jeaven.
"Aku sampai takut kalau kau terkena busung lapar. Apa kata dunia nanti jika sampai mendengar kabar bahwa pembalap terkenal Ice Gun J.J mengidap busung lapar?" Celotehan asal Brent sukses menarik atensi Jeaven.
"Kenapa?" Tanya Brent sedikit kikuk karena tatapan tak terbaca Jeaven.
__ADS_1
"Kenapa kau masih di sini?" Jeaven melirik arloji mahal yang melingkari pergelangan tangannya.
Brent sontak mendesis kesal. "Apa kau baru saja mengusirku?"
"Aku ingin beristirahat," usir Jeaven secara halus tapi tetap saja terkesan menyebalkan bagi Brent.
"Aku akan tidur di sini bersamamu. Kau harus dipantau dengan ketat agar tidak main kabur lagi." Brent berjalan menuju ranjang berukuran king size itu lalu melempar tubuhnya di sana. "Kau harus bersyukur karena diperlakukan seperti anak emas dari pada anggota tim yang lainnya." Ia lanjut mengenakkan posisinya di balik selimut.
"Terserah kau saja," ucap Jeaven sebelum pergi ke kamar mandi. Bahkan tidak ada kalimat bantahan yang meluncur dari bibirnya.
"Kali ini aku merasa dia seperti anak anjing yang sangat penurut," gumam Brent merasa lega.
Di dalam kamar mandi, Jeaven memandangi pantulan wajahnya di cermin. Titik-titik air tampak membasahi wajah yang kian menambah nilai ketampanannya. Pandangan lurusnya bersambut bayangan Jesslyn yang terus terngiang.
"Aku sangat ingin bertemu," lirihnya dengan perasaan rindu kembali mengetuk hati.
Dari bayangan cermin terlihat pandangannya bergeser ke bibir. Dan di saat itu juga ia teringat akan bibir ranum Jesslyn yang sempat diciumnya tadi. Kemudian pandangannya kini lanjut bergeser ke arah sepasang tangannya. Dan ingatannya kembali menuai rasa saat menyentuh dan memeluk wanita itu.
Getaran indah kembali mengetuk rongga dada. Pesona Jesslyn lagi-lagi merajai hatinya. Dia sepertinya memang sudah tak mampu menahan desakan rasa lebih lama.
"Aku bisa gila." Pria berparas dingin itu langsung berjalan keluar kamar.
"Hei! Kau mau ke mana lagi?!" Tanya Brent saat melihat Jeaven berjalan cepat menuju pintu keluar kamar, tapi tidak ada sahutan yang terdengar.
Manajer tim itu bahkan sampai meloncat dari ranjang untuk mencegah Jeaven tapi sayangnya kalah cepat. "Anak itu benar-benar," gerutunya frustrasi.
"Yaak! Kau tadi bilang akan beristirahat. Apa kau lupa?!" Brent kembali menyembur kesal meski Jeaven tidak mungkin mendengarnya.
Bersambung~~
__ADS_1