Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Selami Hatimu


__ADS_3

Di luar kamar perawatan Jesslyn dirundung gelisah. Ia hanya terpaku pada pijakan tanpa sedikitpun melangkah. Ingin sekali ia masuk ke ruangan untuk melihat sang mommy malah berujung pasrah, karena selalu dicegah.


Dicegah? Kenapa? Iya, Allesya enggan bertatap muoa dengannya karena masih kecewa.


Beberapa jam yang lalu Allesya sebenarnya sudah sadar dari pingsannya. Tetapi tubuhnya masih lemah seolah tak bertenaga. Dokter menjelaskan bahwa tidak ada gejala serius yang menyerang kesehatannya. Vertigo disertai kelelahan itulah yang menjadi faktor utama.


Di sana Jesslyn tidak sendiri. Ada Jeaven yang setia menemani. Pria tampan itu sempat beberapa kali membujuk si wanita untuk pulang merehatkan diri, tapi tak ditanggapi.


Hingga, sosok tampan yang keluar dari balik daun pintu kamar perawatan sontak menarik seluruh perhatiannya. Kaki yang semula masih terpaku mulai mengambil satu langkah kecil seiring dengan raut khawatir di muka.


"Daddy, bagaimana keadaan mommy?" Sebuah pertanyaan berlimpah kecemasan itulah yang pertama terlontar dari bibir Jesslyn.


"Mommymu sudah lebih baik. Hanya butuh banyak istirahat saja." Sean mengakhiri jawabannya dengan helaan napas panjang. Ditatap sendu wajah sang putri yang masih tampak tak tenang. "Kau pulanglah dulu untuk beristirahat. Dia belum ingin menemuimu," imbuhnya dengan berat hati.


"Tapi, Dad. Jesslyn ingin melihat mommy." Ia memohon.


"Kau perlu beristirahat, Sayang. Pulanglah. Mommymu juga harus beristirahat."


"Mommy bersungguh-sungguh tidak ingin menemuiku, ya?" Raut mukanya berselimut sendu saat bertanya.


"Dia hanya perlu waktu untuk menenangkan diri. Percayalah, Mommymu sangat menyayangimu. Dia juga sangat mencemaskan nasib putri dan calon cucunya." Sean tidak bosan-bosannya memberi pengertian kepada si putri.

__ADS_1


"Dan itulah sebabnya mommy berada di rumah sakit ini sekarang." Tertunduk lemah, Jesslyn kian bergundah gulana. "Mommy sakit gara-gara aku. Iya, memang sebaiknya aku tidak berada di sini." Ia merutuki diri sendiri karena rasa bersalah.


Tidak tega melihat wajah si putri kesayangan terus-terusan bermendung kelabu, sean menarik tubuh kecil di depannya itu ke dalam pelukan. "Jangan terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri. Mommymu sakit ya memang sudah jatahnya sakit," tuturnya lagi tanpa menyelipkan satu pun kata yang bersifat menyalahkan Jesslyn.


"Maaf, Tuan. Pasien bilang ingin bertemu dengan putrinya." Suara seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang di mana Allesya sedang dirawat seketika menarik perhatian semuanya secara serentak. "Kalau begitu saya permisi." Ia lanjut pamit pergi setelah menyampaikan pesan.


Perasaan senang langsung dirasakan Jesslyn saat Allesya berubah pikiran dan mau menemuinya. Tanpa banyak kata ia langsung membawa diri memasuki ruangan. Sementara Sean dan Jeaven memilih menunggu di luar, membiarkan kedua wanita itu berbicara empat mata.


"Maaf, Paman. Ini semua karenaku." Kalimat penuh penyesalan Jeaven membuat Sean menghela napas.


"Cukup aku dibuat pusing oleh rasa bersalah Jesslyn. Jadi kau tidak perlu ikut-ikutan menyalahkan diri sendiri juga. Paman bisa semakin pusing."


"Mom," sapa Jesslyn sedikit pelan seraya menatap nanar Allesya yang seolah memilih pemandangan di luar jendela sebagai objek pandangan dari pada dirinya. Ia bahkan belum mendengar sahutan dari wanita yang melahirkannya itu.


"Bagaimana keadaan, Mommy?" Jesslyn berusaha sabar dan memaklumi meski hati terasa nyeri karena sikap dingin sang Mommy.


Allesya mulai menggiring wajahnya yang pucat lalu menatap serius sang putri. "Kau masih keukuh dengan keputusanmu?" Ia sengaja abai akan sebentuk pertanyaan kepedulian Jesslyn dan justru balik bertanya.


Jesslyn tampak tertunduk tak bersuara. Pandangannya lurus pada kedua tangan yang diletakkan di atas paha. Seakan ia tengah mencari jawaban untuk sebuah keputusan di sana. Jujur, keadaan sang mommy menggoyahkan pendiriannya. Beberapa detik kemudian ia kembali menaikkan muka.


"Baiklah, Jesslyn bersedia menikah," putusnya dengan suara mantap, tapi dari sorot mata terlihat jelas bahwa ada keterpaksaan.

__ADS_1


Garis lengkung senyuman tercetak tipis di bibir Allesya. Namun bukan sebentuk bahasa non verbal yang menjelaskan bahwa ia sedang senang atapun lega, melainkan sebuah senyuman masam karena rasa tidak suka.


"Kau mau menikah demi Mommy. Terus dipikir Mommy akan senang begitu? Itu bukanlah harapan Mommy."


Jesslyn terdiam karena tak mampu berkata-kata. Tidak menyangka saja Allesya bisa dengan mudah membaca niat tujuannya. Ia bahkan sempat terlihat menghindari tatapan dari si lawan bicara. Seakan takut pikirannya dapat kembali terbaca.


Dipikirnya sang Mommy bakal sama seperti karakter para orang tua yang berada di dunia pernovelan. Yaitu tidak menyia-nyiakan kesempatan dalam kesempitan, memanfaatkan sakitnya agar anak bersedia menerima pernikahan.


"Coba selami lebih dalam hatimu tanpa mengikut sertakan pikiran. Karena pikiran masih bisa berbohong tapi tidak dengan suara hati." Allesya lanjut menuturi.


"Mom, Jesslyn--" Jesslyn yang berniat menyangkal harus menelan suaranya karena Allesya menyela.


"Jangan kau korbankan semuanya termasuk perasaanmu demi ego pikiran yang membungkam jeritan hati. Yang tersiksa kelak bukan hanya dirimu saja tapi juga calon cucuku." Allesya yang semula duduk bersandar pada head board ranjang mulai membaringkan diri. "Kau bisa keluar sekarang. Dan jangan temui Mommy sebelum kau bisa berpikir secara bijak."


Tidak ada bantahan atau pembelaan diri, Jesslyn tampaknya lebih memilih menuruti perintah sang mommy. Meski berat tapi mau bagaimana lagi. Meski sebenarnya dia tidak dapat memungkiri, hati saat ini mulai menimang segala tuturan yang didengarnya tadi.


Jesslyn mulai beranjak dari duduk dan siap pergi, tapi masih sempat mengucapkan sepatah dua patah kata wujud dari perhatiannya. "Mommy cepat sembuh, ya. Jangan lama-lama menginap di sini." Dicondongkan sedikit tubuhnya untuk mencium pipi Allesya dengan sayang."Jesslyn pergi dulu."


"Dasar anak bandel," gerutu Allesya setelah tubuh si putri tenggelam di balik pintu.


Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2