Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Ayah, tante cantik ini siapa?


__ADS_3

"Beneran tidak mau ikut?" Sekali lagi Jeaven melontarkan pertanyaan, kali saja si Jesslyn berubah pikiran.


"Hm," respon singkat wanita cantik itu tanpa mengalihkan atensi dari sketsa desainnya yang baru setengah jadi. Keberadaan suami tampannya itu seolah tak menarik hati. Ia bahkan tidak bertanya ke mana Jeaven akan pergi.


"Aku akan segera kembali." Jeaven berpamitan tapi kaki masih belum mau berpindah dari ruangan. Ia malah kian mendekati si istri yang tampak cemberutan. Kalau seperti ini bagaimana bisa ia tenang untuk meninggalkan.


"Kenapa masih di sini? Pergi sana kalau mau pergi," sungut Jesslyn. Seharian emosinya terus saja terpancing karena keberadaan Jeaven. Tetapi terselip juga rasa tidak suka kala suaminya itu akan pergi sekalipun hanya sebentar.


"Tetaplah di sini sampai aku kembali. Aku tidak lama," pinta Jeaven.


"Aku nggak janji."


"Jess." Jeaven melayangkan tatapan mengintimidasi, membuat Jesslyn berdecak pasrah. Yang berarti wanita itu tak mampu lagi untuk membantah.


Jeaven melabuhkan sebuah kecupan lembut pada pipi Jesslyn yang seketika menggeliat seperti ingin menghindar tapi nyatanya tak menggagalkan bibir pria itu untuk mencium. "Aku cuma sebentar, jadi menurutlah," ucapnya seraya mengusap sayang ujung kepala si wanita sebelum benar-benar pergi.


"Dia sebenarnya mau ke mana sih? Bukankah hari ini hari terakhir kita bersama karena besok mau pergi ke Prancis, tapi dia malah keluyuran," gerutu Jesslyn. Ternyata ia tak sepenuhnya abai. Kepedulian itu tetap ada meski ia mencoba mengelak.

__ADS_1


Belum lagi pikirannya sedikit terusik karena mengingat wajah serius Jeaven saat berbicara dengan seseorang di balik panggilan telepon. Dari sana sejujurnya ia sudah mulai penasaran dengan siapa pria itu berbicara.


Tidak tahan dengan rasa ingin tahu yang mendesak, Jesslyn segera beranjak dan mengikuti Jeaven sebelum ketinggalan jauh. "Pak, tolong ikuti mobil itu," pintanya kepada si supir taxi seraya menunjuk kendaraan roda empat yang ditumpangi Jeaven.


"Baik, Nona."


Tidak lama Jesslyn berhenti di sebuah rumah sakit tempat ia pernah dirawat. Kernyitan di dahi samar-samar tercetak karena serangkai pertanyaan mulai berkelebat. Namun, segera ia tepis dengan cepat.


Jesslyn segera membuntuti Jeaven dengan sebisa mungkin menjaga jarak agar gelagatnya tidak dicurigai. Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti kala melihat pemandangan yang tersaji. Hatinya seketika berdesir nyeri. Entah itu sejenis rasa cemburu atau bukan yang jelas ia mulai tersulut emosi.


Di depan sebuah kamar perawatan rumah sakit seseorang wanita berparas cantik menggenggam tangan Jeaven sembari menangis. Dari jauh terlihat jelas bahwa si suami menyambut hangat perlakuan itu hingga terkesan romantis. Hingga membuat Jesslyn merasakan denyutan perih yang kian dramatis.


Iya, Jesslyn sudah bertekat seperti itu. Ucapan manis Jeaven memang seperti angin lalu. Datang sekejap kemudian berlalu. Hah! Sungguh terlalu.


Sepasang manik hazel Jesslyn sedikit membulat saat melihat Jeaven dan si wanita asing itu masuk ke dalam ruangan. Kecurigaannya pun semakin menjadi. "Ini tidak bisa dibiarkan." Dengan mimik geram ia berniat memergoki perselingkuhan suaminya itu.


Kakinya melangkah lebar dengan amarah yang terbakar. Lidah sudah tidak sabar ingin menyemburkan lahar. Meskipun tubuh sebenarnya sedang bergetar, membayangkan penghianatan Jeaven akan ia bongkar. Tetapi ia tidak akan gentar. Jesslyn membuka pintu ruangan yang dituju dengan satu dorongan kasar.

__ADS_1


"Kau!" Hardik Jesslyn tapi sebagian kalimatnya seolah tersangkut di tenggorokan. Pemandangan di depan mata membuat amarahnya mendadak pergi tanpa berpamitan.


Di dalam ruangan terlihat seorang anak kecil yang diduga pasien rumah sakit tengah memeluk Jeaven. Sedangkan wanita yang disangka sebagai selingkuhan suaminya itu berdiri di seberang ranjang dan di saat itu juga Jesslyn baru sadar kalau wanita itu mengenakan seragam dokter. Semua penghuni ruangan tampak terkejut dengan keberadaannya seraya memasang wajah penuh tanya.


Ah! Sial! Apakah aku sedang berada di situasi yang salah? Hiish, jangan bilang aku akan dipermalukan karena tingkah bodohku sendiri.


Jerit Jesslyn di dalam hati. Rasanya ingin sekali ia memutar balik badan dan pergi. Tetapi bukankah itu malah membuat rasa malunya kian menjadi?


Sadar akan situasi yang sedang tidak beres Jeaven berjalan dengan pembawaan tenang mendekati Jesslyn yang masih terpaku di ambang pintu. "Kau datang juga?"


Jesslyn sempat melongo alias kebingungan, tapi dengan cepat otaknya mampu mengimbangi situasi. "I-ya," jawabnya sedikit gugup bercampur lega.


"Kemarilah. Ada yang ingin ku perkenalkan kepadamu." Ia lalu menarik istrinya itu hingga berhenti di depan ranjang yang di mana sesosok anak kecil bertubuh ringkih berada di sana.


"Ayah, tante cantik ini siapa?" tanya bocah itu dengan polosnya.


Bersambung~~

__ADS_1


Maaf sekali ... bab kali ini lebih pendek dan up nya telat pakek bingittt🙏 Insha Allah besok agak panjang😁


__ADS_2