
Raut dingin Jeaven tampak sedikit menyamar kala ringisan meronai wajah ayu si wanita. Pria itu tahu, Jesslyn sedang menahan sakit pada organ intimnya.
"Aku bantu."
Jesslyn langsung menepis tangan Jeaven yang hendak menyentuhnya. Tentu sebagai bentuk penolakan nyata. Ia serasa enggan bersentuhan dengan pria itu lagi dan mungkin untuk kurung waktu cukup lama. Hatinya sudah dipenuhi kecewa.
"Menurutlah." Jeaven masih keukuh ingin membantu dengan meraih kembali tangan Jesslyn, tapi sekali lagi sikap kasar diterimanya.
"Menjauhlah! Aku tidak butuh bantuanmu!" Hardik Jesslyn dengan nada bicara sedikit meninggi.
Mungkin ia masih bisa bertahan untuk tidak menangis, tapi tidak dengan luapan luka hatinya. Baginya, menunjukkan kemarahan adalah sebagai bentuk kekuatan.
Gerak pijakan kaki membawa Jesslyn berdiri. Ia mulai melangkah dengan hati-hati. Sebisa mungkin mengurangi sensasi perih yang nyatanya tetap kembali.
Keinginannya saat ini agar bisa segera ke kamar mandi, mengosongkan kantung kemih yang sudah penuh oleh air seni. "Ssttt! Sakit sekali." Lidahnya mendesis karena kesakitan. Namun, tak mengurungkan niatnya untuk terus berjalan.
Jeaven tidak sabar melihat kepayahan si wanita. Apalagi lebar langkah kaki wanita itu seakan tak lebih besar dari pada langkah kura-kura. Hingga, ia memilih bertindak sesuai kemauanya, mengabaikan Jesslyn yang tengah meraut mimik tak suka.
"Kau mau ke mana?" Jeaven memandangi wajah cemberut yang sudah berada di dalam gendongannya itu.
Jesslyn kian mengeratkan balutan selimut di tubuhnya. "Turunkan aku saja, aku bisa berjalan sendiri!"
"Kau mau ke mana?" Jeaven mengulang kembali pertanyaannya, mengabaikan sikap tak bersahabat Jesslyn.
Jesslyn meronta, tapi usahanya itu tampak tak berguna. Kuncian tangan kekar Jeaven merenggut segala daya upaya. Pria itu bahkan masih bisa berdiri tegap seolah gerakan kasar si wanita bukanlah apa-apa.
Pasrah pada akhirnya, Jesslyn pun menunjuk dengan malas ke arah kamar mandi. Jeaven langsung berjalan membawa tubuh mungilnya ke tempat yang ditunjuk tadi.
__ADS_1
"Keluarlah!" Titah Jesslyn setelah kaki sudah berpijak pada ubin kamar mandi.
"Aku tahu." Jeaven langsung keluar setelah berkata singkat.
Selang lima belas menit pintu kamar mandi kembali terbuka. Jesslyn yang terkejut saat sosok Jeaven sudah berdiri di depannya.
"Aku sudah bisa berjalan sendiri!" Ketus Jesslyn yang memang sudah tahu apa tujuan pria itu. Apa lagi kalau bukan untuk membopongnya kembali ke peraduan.
Jeaven memandangi gerak jalan Jesslyn yang memang sudah tak seburuk beberapa waktu lalu. Namun, bukan berarti rasa sakit karena habis pecah perawan itu akan hilang dalam waktu singkat.
"Pakailah baju itu." Jeaven menunjuk sepasang pakaian miliknya yang tadi sempat di ambil dari mobilnya. Ia memang selalu menyimpan pakaian ganti di sana.
Sesaat Jesslyn melihat ke arah lantai. Di mana gaun pesta yang dikenakan semalam sudah tampak tak layak pakai. Di sebelahnya juga terlihat CD dan BHnya yang terkulai. Apa lagi kalau bukan ulah Jeaven malam tadi.
Mendesah berat, Jesslyn pada akhirnya terpaksa menerima tawaran Jeaven. Diraup pakaian dalamnya yang berserakan dan juga pakaian pria itu, lanjut kembali ke kamar mandi.
"Aku antar kau pulang." Jeaven menarik tangan Jesslyn, tapi respon kasar masih diterimanya. Tubuhnya sedikit terhuyun karena wanita itu mendorongnya.
"Kau tahu aku sedang membencimu sekarang. Jadi berhentilah bersikap seolah kau sangat peduli kepadaku setelah melukai hatiku! Aku bisa pulang sendiri!"
"Menurutlah. Di luar masih gelap." Jeaven mengingatkan bahwa saat ini masih terlalu pagi.
Seramai dan sehidup apapun kota London di siang dan malam hari, tapi tetap saja di waktu pagi gelap akan menjelma selayaknya kota berhantu. Aktivitas manusia masih minim terlihat.
Namun, hal itu nyatanya tak membuat Jesslyn menurut. Wanita itu malah menebalkan telinga. Meraih handle pintu keluar dan berlalu.
Suasana kota memang masih sangat sepi. Jesslyn terus menyusuri jalan yang ditapaki. Pandangan dibawa menyusuri kawasan berharap menemukan taksi. Namun, tak kunjung terlihat di matanya kini.
__ADS_1
Tiba-tiba, sepasang pundaknya bergetar seiring dengan luka hati yang meremukkan asa. Pada akhirnya ia melepaskan lara melalui gugurnya air mata. Ternyata ia sudah tak kuat untuk lebih lama. Berlagak sok kuat itu memang sangat menyiksa.
Jeaven adalah sosok pertama yang mengajarkannya tentang apa itu cinta dan sekaligus luka. Ternyata, yang pertama tidak selalu memberi rasa bahagia. Inilah hidup dalam realita. Yang selalu jujur apa adanya.
Diajak kaki menepi, bersandar pada pembatas jembatan yang membelah sungai Thames. Ia berbalik badan, membawa wajah sendunya menatap lurus ke hamparan air yang tampak tenang.
Aku tidak mencintaimu.
Menyerahlah dengan perasaanmu.
Apa baiknya sebuah hubungan karena kesalahan?
Anggap saja kejadian semalam tidak pernah terjadi. Segera hapus dari ingatanmu.
Serangkai kalimat tajam yang selalu menyayat hati terus terngiang dan larut bersama rasa sakitnya. Pecah sudah rintihan isak tangis Jesslyn yang terdengar memilukan.
Ia terhenyak kala air langit satu-persatu mendarat di kepalanya. Alam seolah mendukung suasana hatinya yang bergundah gulana. Dan saat itu juga tangisan Jesslyn kian bergema. Sesak bergumul di rongga dada. Hingga tumpuan kakinya terasa lemas dan membawa tubuh beringsut tak bertenaga.
"Aku membencimu, Jeav! Kau memang bajingan!"
Kala larut dalam kesedihannya, Jesslyn dibuat terkejut karena tubuhnya tiba-tiba melayang karena seseorang menggendongnya.
"Kau?"
"Sedang apa kau di sini? Apa kau sengaja mencari penyakit di bawah hujan?"
Bersambung~~
__ADS_1