
"Ayah, tante cantik ini siapa?" tanya bocah itu dengan polosnya. Jika diperhatikan secara intesn ia tampak sedikit lamban saat berbicara dan juga kesulitan berekspresi.
Jesslyn seketika tercekat di dalam hati. Lidahnya seakan ingin berteriak karena emosi. Tetapi setiap kata yang siap meluncur harus ditelan kembali. Dia tidak akan bersikap gegabah yang bisa berujung mempermalukan diri. Contohnya seperti beberapa saat tadi. Kalau itu sampai terjadi lagi mau ditaruh ke mana mukanya nanti.
Meskipun seperti itu tetap saja batinnya sudah terlanjur menjerit histeris. Kalau boleh sekarang juga Jesslyn ingin menangis.
Namun, detak amarah di dada hanya bisa tersalurkan pada genggaman kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bahkan sampai menciptakan rasa perih, karena kuku-kukunya menancapi bantalan telapak tangan tanpa belas kasih.
"Namanya Jesslyn. Istri baru Ayah." Jawaban Jeaven kepada anak lelaki bernama Abel itu sontak memancing denyutan nyeri di dada Jesslyn.
Istri baru? Apakah berarti aku bukan istri pertamanya? Apakah wanita itu ibu dari anak ini yang berarti istri Jeaven juga? Apakah aku sudah dibohongi? Jangan bilang aku adalah orang ke tiga di dalam rumah tangga mereka.
Jesslyn terus sibuk dengan serentetan pertanyaan prasangka yang sudah seperti angin ribut di dalam kepalanya. Ia serasa lemas karena pusing menyerang tiba-tiba. Beruntung topangan kakinya tidak kehilangan daya. Sehingga ia masih bisa berdiri tegap seolah sedang baik-baik saja.
"Sekarang ibu ada dua. Abel punya dua?" Abel kembali bertanya meski kesulitan merangkai kata-kata. Tetapi ia tampak kecewa karena Jeaven tidak kunjung bersuara. Hingga ia memilih mengalihkan perhatian pada wanita berseragam dokter yang berdiri di sampingnya. "Nangis jangan sedih. Abel nanti mati."
Nicole yang tak lain adalah ibu dari Abel itu segera membelai pucuk kepala si putra dengan perasaan haru lalu berkata. "Abel sayang, Ibu tidak sedih karena itu berarti semakin banyak orang yang akan menyayangimu termasuk tante cantik ini," jawabnya tersenyum hangat dan penuh kasih sayang. Dia tahu kalau si putra tidak ingin melihatnya bersedih karena Jeaven menikah lagi.
Tidak ada ekspresi antusias dari Abel setelah mendengar perkataan ibunya. Ia malah terlihat bingung untuk merangkai kata. Padahal ada berbagai jenis perasaan yang sedang bersarang di hatinya. Ia memilih menarik tangan Jeaven agar kembali memeluknya. Sementara Nicole terlihat mengulas senyum sembari membelai lembut kepala si putra.
Tidak tahan berada lama-lama di antara keharmonisan sepasang suami istri itu Jesslyn berniat pergi. Tetapi Jeaven dengan cepat menariknya agar tidak ke mana-mana. Padahal pria itu posisinya masih memeluk Abel.
"Jangan pergi. Kita harus bicara," pinta Jeaven.
Jesslyn tak menjawab, tapi gerakan tangannya agar bisa terlepas dari genggaman Jeaven cukup bisa menjelaskan akan sebuah penolakan.
"Jess. Menurutlah." Jeaven kian mengeratkan genggamannya hingga Jesslyn tak lagi berkutik. Hingga detik ini wanita itu masih berusaha menahan sikap meski amarah sudah menyesakkan dada.
…
"Apa kabar, Nyonya Jesslyn?" Nicole bertanya dengan pembawaan sangat ramah.
Sementara Jesslyn tampak menanggapinya dengan senyuman kecut. Baginya di situasi seperti saat ini bukanlah waktunya untuk menanyakan kabar. Apalagi mereka tidak saling kenal.
"Apa anda kenal saya?" tanya Jesslyn terkesan jengah.
"Saya dokter yang menangani anda saat pingsan beberapa hari yang lalu," terang Nicole dan Jesslyn hanya mengangguk malas.
Sedangkan Jeaven tampak belum bersuara. Pria itu sengaja memberi ruang dan waktu kepada kedua wanita untuk berbicara. Tetapi di bawah meja tangannya masih setia menggenggam tangan Jesslyn yang sedari tadi berniat pergi dari sana.
__ADS_1
"Maaf ya. Anda pasti terkejut tadi."
"Tentu saja," aku Jesslyn apa adanya. Tetapi ia masih berusaha menjaga kata agar tetap terlihat berkarisma.
Nicole tersenyum kecil meski gurat sesal mengitari mukanya. "Abel itu putra kandung saya. Dia sedang berjuang melawan kanker otak yang menggerogoti tubuhnya." Ia mulai menjelaskan.
Denyutan iba menyentuh hati Jesslyn seketika. Kendati perasaannya sendiri belumlah baik-baik saja. Digiring pandangannya ke Jeaven agar pria itu segera bersuara.
"Jeav," lirihnya.
"Nicole akan menjelaskan semuanya," ucap Jeaven kepada Jesslyn kemudian memberi isyarat pada Nicole untuk melanjutkan penjelasannya.
"Percayalah, kami berdua tidak memiliki hubungan khusus seperti yang anda pikirkan saat ini." Nicole tentu bisa membaca isi kepala Jesslyn.
"Benarkah?" Jesslyn tidak bisa langsung percaya, meskipun hati sudah sedikit lega.
"Selama tuan Jeaven berada di Swiss saya sengaja beberapa kali memaksa agar bisa menemuinya. Memintanya agar bersedia mengunjungi putra saya yang selama ini mengira tuan Jeaven adalah ayahnya."
Sepasang pangkal alis Jesslyn hampir bertemu karena apa yang di dengar menarik tanda tanya. Sekali lagi ia menoleh ke Jeaven yang di mana langsung tersenyum tipis kepadanya.
"Dengarkan saja." Jeaven menuturi.
Helaan napas terdengar berat saat Nicole hendak melanjutkan ceritanya. "Abel juga menderita alzheimer yang di mana penyakit itu sangat langka terjadi di usia anak-anak. Ia hampir kehilangan seluruh memori ingatannya. Termasuk tentang status ayah kandungnya yang sudah meninggal satu tahun yang lalu karena mengalami kecelakaan di atas lintas balapan. Namun, meski banyak memori yang terhapus, tapi tidak dengan mendiang sang ayah yang selalu melekat di ingatannya. Mendiang dulu adalah teman seprofesi tuan Jeaven. Selama ini Abel sangat mengidolakan sosok mendiang ayahnya. Kebetulan postur tubuh dan wajah tuan Jeaven hampir mirip dengan ayahnya. Itulah sebab ia mengira tuan Jeaven adalah ayahnya yang masih hidup. Tiada hari baginya tanpa menonton video tuan Jeaven yang sedang berpacu di sirkuit."
*Penyakit Alzheimer adalah penyakit progresif yang ditandai dengan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, serta perubahan perilaku dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Tanpa terasa Jesslyn menumpahkan air matanya. Cerita Nicole sungguh menyentuh rongga dada. Apa lagi mengingat anak sekecil Abel harus berjuang dengan penyakit yang kapan saja bisa merenggut nyawanya.
Jesslyn tiba-tiba juga teringat akan mendiang Jennis di mana memiliki penyakit yang hampir mirip dengan yang diderita Abel. Rasa rindu pun mulai menelusup relung hati.
"Maaf, tadi saya sempat berburuk sangka kepadamu," sesal Jesslyn kepada Nicole.
"Anda tidak salah, Nyonya. Di sini saya lah yang salah karena sudah mengganggu kesenangan suasana pengantin baru anda berdua." Nicole mencoba mengalihkan topik agar kesedihannya tentang nasib si putra tidak kian larut.
Pipi Jesslyn mendadak merona seperti buah ceri di musim semi. Tanpa disadari sebutan pengantin baru membuatnya terbayang akan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kewajiban suami istri. Namun, segera ia depak jauh pikiran itu saat rasa kecewanya terhadap Jeaven kembali melanda hati.
"Anda beruntung memiliki suami seperti tuan Jeaven, Nyonya. Saya bisa melihat sendiri betapa besar rasa tanggung jawab dan juga perhatiannya saat membawa anda yang pingsan beberapa hari lalu."
"Anda sepertinya keliru. Yang mengantar saya waktu itu teman saya." Jesslyn membenarkan perkataan Nicole yang dianggapnya salah.
__ADS_1
Nicole tersenyum sabar. "Tidak, Nyonya. Tuan Jeaven lah yang membawa anda ke rumah sakit. Saya melihatnya sendiri."
Jesslyn terbungkam oleh sebuah fakta yang sebelumnya tidak ia ketahui. Namun, dibiarkan ego mengundang gengsi. Gegas diajak lidah untuk menaikan harga diri. "Bukan saya yang beruntung Dokter Nicole, tapi tuan Jeaven lah yang beruntung menikahi saya," tegasnya.
"Iya, kau benar." Jeaven pun langsung menimpali.
"Tentu saja."
Nicole kembali tersenyum melihat interaksi manis sepasang suami istri di depannya itu. Tidak ingin mengganggu ia pun akhirnya memilih pamit dan berlalu.
"Ada apa?" ketus Jesslyn karena Jeaven terus menatapnya.
"Bukankah sudah aku katakan untuk tetap tinggal di butik sampai aku kembali menjemputmu?"
"Kapan kau bilang gitu? Aku tidak ingat." Jesslyn tentu saja memilih berkilah.
"Kau hanya berpura-pura lupa."
"Sok tahu." Wanita itu melempar pandangan ke sembarang arah. Tidak ingin kebohongannya sampai terbaca Jeaven dengan mudah.
"Apa'an sih?!" sungut Jesslyn lagi karena Jeaven menarik dagunya hingga mereka saling beradu muka.
"Kenapa kau membuntutiku?" tanya Jeaven dengan tatapan sanksi.
"Ingin memastikan saja."
"Untuk apa?"
Jesslyn mulai kikuk dengan tatapan mengintimidasi Jeaven. "Memastikan kalau kau tidak nakal di belakangku. Lagian salahmu kenapa tidak menceritakan tentang Abel."
"Aku tadi memintamu untuk ikut karena ingin memberi tahumu tentang mereka tapi kau menolaknya?"
"Mana aku tahu."
"Jesslyn ... Jesslyn." Jeaven mulai gedek dengan tingkah istrinya itu. "Kita pulang sekarang."
"Untuk apa?" tanya Jesslyn sekenanya.
"Melakukan kegiatan pengantin baru."
__ADS_1
"Tidak mau."
Bersambung~~