Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Siapa Kau Sebenarnya?


__ADS_3

Langit bersalju kian suram, pertanda hari sudah malam. Jeaven terlebih dahulu mengantar Jesslyn pulang sebelum kembali ke kediaman.


Namun, setelah memijakkan kaki di mansion, Jeaven nyatanya tidak bisa langsung melepas penat. Disinilah ia sekarang, duduk tepat di hadapan Jeffrey dan Jenny, menjadi mangsa tatapan menuntut kejelasan mereka. Ia sangat yakin bahwa isu berita miring itu sudah sampai di telinga kedua orang tuanya itu.


Tidak tega membuat kedua orang kesayangannya itu menunggu terlalu lama, Jeaven pun mulai bercerita. Lagian rasa lelah pun sudah menyapa. Bayangan peraduan empuk sudah menari-nari di atas kepala.


"Mommy ingin kau lebih berhati-hati, Sayang. Selain merugikanmu, berita itu juga lebih menyudutkan Jesslyn. Mommy sangat percaya gadis manis itu tidak seperti yang diberitakan," tutur sang mommy setelah mendengar dengan seksama cerita si putra.


"Dan bagaimana keadaan Jesslyn? Jennis tadi sempat bercerita setelah tiba di rumah," lanjut wanita itu kembali.


"Keadaannya sudah membaik, Mom. Jeaven baru saja mengantarnya pulang," jawab Jeaven.


"Syukurlah." Jenny menoleh ke arah Jeffrey yang sedari tadi masih memilih menjadi pendengar yang baik. Ia tersenyum lega ke arah suaminya itu.


"Segera urus tuntas berita miring itu sebelum asumsi negatif nitizen merambah ke mana-mana. Nama baik keluarga Willson bisa tercemar. Daddy yakin, ini adalah ulah dari salah satu penggemarmu," tutur Jeffrey yang akhirnya mulai bersuara.


"Iya, Dad."


"Ya sudah, segeralah beristirahat. Tapi sebelumnya bisakah kau temui adikmu dulu? Dia terlihat murung setelah mendengar berita tentangmu dan Jesslyn," pinta sang mommy.


"Iya."


Usai berinteraksi dengan kedua orangtuanya, Jeaven menapaki anak tangga yang membawa ia ke lantai dua. Seperti yang dipinta sang Mommy, putra sulung keluarga Allison itu terlebih dahulu menemui si adik sebelum benar-benar kembali ke kamarnya.


"Masuk," teriak Jennis dari dalam kamar setelah Jeaven mengetuk pintu.


Daun pintu terbuka, sosok Jennis yang sedang berjibaku dengan perangkat tempur kuliahnya langsung tertangkap mata. Jeaven mengayun tungkai kaki mendekati adiknya. Diambil satu kursi untuk diduduki seraya mengamati raut pasi di depannya.


"Kenapa belum tidur? Ini sudah malam." Jeaven menyelipkan peringatan di sela pertanyaannya.


Jennis tersenyum simpul dan menoleh sekilas ke arah sang kakak sebelum kembali berkutat dengan laptop di depannya. "Aku harus menyelesaikan tugas makalah ini untuk dipersentasikan besok."


"Biar aku membantumu."


"Ayolah, apa kau lupa kalau aku bukan lagi Jennis kecil yang selalu memintamu untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahku," tukas Jennis seiring dengan mimik kesalnya, meski tidak sampai hati.


Jennis sangat tahu, Jeaven sangat menyayanginya. Segunung perhatian dan perlindungan sang kakak seolah tak akan pupus ditelan masa.


Jeaven masih mengamati wajah si adik dengan helaan lirih hampir tak bersuara. Ia tahu, Jennis sedang menutupi perasaan resahnya.


"Kau tidak perlu memikirkan berita itu. Aku dan Jesslyn tidak memiliki hubungan yang seperti mereka isukan," terang Jeaven.


Pergerakan lincah jemari di atas keyboard seketika terjeda. Fokus pandang Jennis pada layar laptop pun beralih ke kakaknya. Binar cerah samar-samar menghiasi muka, meski dia belum bisa sepenuhnya lega.

__ADS_1


"Apa aku bisa mempercayai ucapanmu?" Jennis ternyata masih ragu.


"Tentu saja."


Dipandang lekat wajah sang kakak, Jennis seolah sedang membaca setiap makna garis di sana, berharap bisa menemukan perasaan apa yang tengah dirasa oleh pria itu. Namun, ternyata tidak mudah. Jeaven sangat pandai menutupi isi hatinya.


Menyerah, pada akhirnya Jennis memilih untuk langsung bertanya saja. Selain ia tidak perlu bersusah payah membaca ekspresi Jeaven yang sangat sulit ditebak, bertanya langsung bisa lebih efektif.


"Apa kau mencintai Jesslyn?" Jennis langsung bertanya tanpa basa-basi.


Sejenak, Jeaven terdiam tanpa melepas pandang dari wajah Jennis yang terlihat tidak sabar menunggu jawaban. Hingga senyuman terlampau tipis terbit diikuti lidah yang mulai berkata.


"Aku tidak mencintainya. Lagian aku tidak ingin bersaing dengan adikku sendiri." Usai menjawab, Jeaven beranjak dari duduknya. "Sudah malam, cepatlah tidur." Ia menepuk ringan bahu Jennis dan berlalu dari kamar.



Di kediaman Willson, Jesslyn duduk termangu di peraduan dengan perasaan gundah. Dadanya meremang karena rasa kecewa yang masih menjajah. Mungkin akan sulit, tapi keputusannya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat apalagi dibantah.


"Jika Jeaven itu jodohku, Tuhan pasti akan membawa kami untuk berdiri di pusaran cinta yang sama. Dan jika ternyata tidak --" Jesslyn menjeda monolognya. Membayangkan bahwa kelak dia tidak bisa bersanding dengan pria pujaannya menimbulkan rasa sesak di dada.


"Ah! Sudahlah, aku tidak ingin memikirkan pria menyebalkan itu lagi." Ia langsung menghempas tubuhnya di atas ranjang dan bergumul di bawah selimut.


Rasanya ia ingin segera tidur agar bisa melupakan semua kejadian tak menyenangkan hari ini. Sungguh tubuh dan pikirannya sangat lelah kini.


Diraih benda pipih itu dari nakas dan langsung membuka isi pesan yang baru masuk. Sinar parasnya menghangat saat tahu itu pesan dari adik si pria yang masih bertahtah di hati.


Jennis:


Kau beneran sudah baikan? Sungguh kau tadi membuatku ketakutan. Kau pasti akan menertawaiku jika melihat mukaku yang seperti pria bodoh tadi.


Jesslyn menyungging senyuman di bibir seraya mengetik balasan.


Jesslyn :


Aku sudah baikan kok. Apa muka bodohmu tadi sangat jelek?


Jennis:


Apa kau sedang mengataiku?


Jesslyn:


Tentu saja, iya.

__ADS_1


Jennis:


Wah! Aku akan menculikmu lalu menikahimu. Kau cantik, jadi aku tidak akan rugi.


Jesslyn:


Hai adik kecil, kau harusnya belajar dengan baik dari pada merayu wanita yang lebih tua.


Jennis:


Kenapa kau masih memanggilku adik kecil sementara tubuhmu tidak lebih tinggi dari ketiakku?


Disepanjang obrolan via chat, Jesslyn terus saja dibuat tertawa karena Jennis yang memang sangat pandai mencairkan suasana. Bahkan ia sampai lupa dengan hatinya yang sempat bergundah gulana.


Tidak terasa malam kian larut. Lelah juga sudah melanda. Akhirnya Jesslyn memilih mengakhiri obrolannya dengan Jennis.


Ponsel diletakkan kembali di atas nakas lalu mengambil posisi ternyaman di bawah selimut tebalnya. Namun lagi-lagi keinginannya untuk tidur kembali tak terlaksana. Sebuah kotak berhias pita cantik seolah menyapa mata.


Ia sangat tahu, dari mana benda itu dikirim. Siapa lagi kalau bukan dari pengagum rahasianya.


Jesslyn menggapai kotak tersebut yang kebetulan terletak di nakas sebelah ranjangnya. "Pasti mommy yang meletakkan kiriman ini di kamarku," monolognya.


Jari-jari lentiknya tampak terampil membuka kotak tersebut dengan tersenyum. Hingga sepasang mata cantiknya berbinar cerah dengan perasaan kagum.


"Ya Tuhan ... ini cantik sekali!" Jesslyn mengangkat isi kotak itu tepat di depan wajah cantiknya.


Sebuah kalung emas putih dengan sebuah liontin berbentuk dream catcher di ujungnya membuat makhluk cantik itu terkesima. Ia lanjut meraih lembaran kertas kecil berwarna merah muda. Kemudian membaca deret kalimat singkat di sana.


Ketika cinta memberimu seratus alasan untuk menangis. Tunjukkanlah bahwa kamu punya seribu alasan untuk bahagia.


Bolehkan malam ini aku memimpikanmu?


"Ck! Kau lucu sekali. Kalau aku menjawab pertanyaannya apakah mungkin kau akan dengar? Dari dulu aku sangat penasaran tentang siapa kau sebenarnya. Jika kita bertemu, mungkinkah aku akan langsung jatuh cinta kepadamu?"


Bersambung~~


Para pembaca kesayangan dan berbudiman, sekalian Nofi ingin menyampaikan pengumuman. Mungkin untuk 1 minggu ke depan, Nofi sementara ijin tidak up ya. Karena ada kepentingan di dunia nyata yang benar-benar harus didahulukan.


Please, jangan unfavorite dulu. Nofi masih sangat membutuhkan dukungan dari kalian. Kalau kalian pergi bagaimana nasib karyaku yang masih sangat sepi seperti hatiku yang merana ini? Haha!


Nggak, Nofi bener-bener serius ini. Please jangan tinggalkan aku🥺


Bye-bye. See you next chapter🥰😘

__ADS_1


__ADS_2