Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Jennis Tahu


__ADS_3

Di balik bingkai kaca mata mutiara hazel Jesslyn tampak fokus pada jemarinya yang bergerak terampil di atas kertas sketsa. Sekilas ia terlihat sangat serius seolah menuangkan seluruh atensinya dengan apa yang ada di atas meja. Namun, jika diperhatikan beberapa kali terdengar helaan napas kasar dari mulutnya.


Ia diam-diam memendam frustrasi. Ternyata semuanya tidak selurus dengan ekspetasi. Dipikir dengan memforsir tubuhnya untuk bekerja siang dan malam rasa sakit di hati akan pergi. Nyatanya, rasa itu kian menjadi. Hingga ... tanpa disadari bulir bening mulai membelah pipi.


Coretan di atas kertas tiba-tiba terhenti begitu saja kala seseorang menggenggam sebelah tangannya yang masih memegang pensil warna. Jesslyn tahu genggaman itu bermaksud untuk menguatkan hatinya. Ia gegas menyeka bingkai netranya yang basah lalu menoleh ke sosok yang sedari tadi menemaninya.


"Jangan bersedih." Jennis terlebih dahulu menyela di saat Jesslyn sudah setengah membuka bibir untuk berkata.


Jesslyn membawa tubuh ramping menghadap sempurna ke arah Jennis. Kendati luka belum mengering ia mencoba mengulas senyuman meski tipis. Setidaknya, keberadaan pria yang selalu bersikap manis itu mampu menarik rasa optimis.


"Kau seharusnya tidak berada di sini. Pulanglah untuk beristirahat." Jesslyn tentu juga mencemaskan kesehatan Jennis.


Menggeleng tegas, Jennis menolak permintaan wanita yang selalu bertahtah di hatinya itu. "Aku ingin memastikan hingga kau baik-baik saja," ucapnya setulus hati. Tak khayal hal itu membuat si wanita terharu berkali-kali.


"Aku juga ingin kau baik-baik saja, Jennis." Jesslyn mengamati muka pucat Jennis. Ia tahu pria itu sedang menahan rasa sakit demi menemaninya.


"Kau sudah menolak cintaku, apakah kau juga akan menolak perhatianku?" Protes pria itu.


Iya, pria itu pada akhirnya harus menyerah akan rasa cinta di hati. Meraup kecewa itu sudah pasti, tapi ia lebih memilih untuk mengerti. Memang cinta tidak harus memiliki. Dan perasaan Jesslyn juga harus dihargai.


"Bukan seperti itu," bantah Jesslyn berujung helaan napas pasrah. "Maaf."


Jennis tersenyum seraya membelai pipi lembut Jesslyn. "Aku rindu dengan Jesslyn yang berisik dan suka berbuat onar. Rasanya sudah lama sekali tidak mendengar suaramu yang seperti lumba-lumba," selorohnya.


"Hiish! Apa aku seberisik itu?" cebik Jesslyn. Ia tampak cemberut, membuat Jennis tidak dapat menahan bibir untuk mencium ujung hidung wanita itu.


"Kau sangat tidak sopan." Jesslyn mengajukan protes seraya mengusap bekas ciuman Jennis pada ujung hidungnya.


Jesslyn memang tidak akan bisa benar-benar marah saat Jennis menciumnya dengan jahil. Ia sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu sejak kecil.


Bagi Jesslyn, Jennis adalah adik kecilnya. Meski kini suasana jalinan di antara mereka sedikit berbeda setelah si pria menyatakan cinta.


"Makanan sudah datang!" Suara cempreng Monica tiba-tiba menguar ke langit-langit ruangan. "Ini kalian harus makan yang banyak dulu biar kuat menghadapi kenyataan." Ia meletakkan dua kotak menu makan siang di atas meja.


"Kau tidak makan bersama kami?" Tanya Jesslyn yang menyadari gelagat sahabat terbaiknya itu akan kembali meninggalkan ruangan.


"Aku sedang diet. Kalian makan yang banyak ya. Aku harus cabut dulu, banyak kerjaan yang belum beres." Monica langsung menghilang di balik pintu.


Tanpa Jesslyn ketahui, bahwa Monica diam-diam menahan pilu di dada. Hati wanita itu juga terluka karena beban derita yang dipanggul sang sahabat. Hanya saja, ia tidak ingin menunjukkannya di depan orang-orang.

__ADS_1


"Kau makan dulu ya. Sedihnya dijeda dulu," ucap Jennis yang sudah menyodorkan sesendok nasi di depan mulut Jesslyn.


"Terima kasih." Jesslyn tersenyum dan menyambut suapan Jennis. Setelah itu dia mengambil alih sendok dari tangan si pria. "Kau juga harus makan biar tetap sehat dan menjadi pria kuat," ucapnya seraya menyodorkan sesendok nasi.


"Aku ingin disuap pakai tangan." Jennis malah bertingkah.


"Jangan seperti anak kecil!" Sungut Jesslyn, Jennis pun tertawa dan tak lupa melahap makanannya.


"Habis ini aku antar kau pulang. Kau harus minum obat dan beristirahat," tutur Jesslyn dan kembali menyuapi Jennis.


"Aku ingin di sini menemanimu."


"Tidak."


"Kalau begitu kau yang ganti menemaniku."


"Iya sudah."


"Aku ingin beristirahat sambil memelukmu di atas ranjang."


"Kenapa kau mesum sekali?!"



Malam kelam sudah menyapa. Langit suram tak berhias bintang bercahaya. Hanya awan hitam yang menempati singgasana.


"Kenapa baru pulang?" Jeaven terpaksa menjeda niatnya untuk menapaki anak tangga kala suara lembut Jenny menyentuh pendengarannya.


"Mana istrimu? Kenapa kau pulang sendiri? Tiga hari kau tidak pulang ke rumah ataupun memberi kabar apapun semenjak di hari pernikahanmu itu."


Pertanyaan terdahulu belum sempat terjawab, tapi Jenny kembali menimpali beberapa pertanyaan sekaligus. Wanita yang sudah melahirkan dua putra itu tampak keheranan. Pasalnya, Jeaven tak membawa Verlin ke kediaman Allison semenjak tiga hari yang lalu. Bahkan putranya itu terkesan biasa dan tidak menunjukkan sikap layaknya seorang pria yang baru saja menikah.


"Bagaimana dengan keadaan Jennis?"


Sekali lagi Jenny harus kembali mengusap dada karena sikap si putra sulungnya. Sederet pertanyaannya harus berakhir dengan jawaban hampa. Jeaven lebih memilih balik bertanya.


"Adikmu sedari tadi berada di kamarmu," terang Jenny.


"Kalau begitu Jeaven naik dulu."

__ADS_1


"Putraku," panggil Jenny lalu memeluk tubuh Jeaven dengan sayang. "Mommy tahu kau sedang tidak baik-baik saja dan Mommy akan menunggu hingga saatnya kamu mau untuk bercerita."


Jeaven menghadiahi kecupan hangat pada ujung kepala sang mommy sebelum bersuara. "Iya, Mom."


Jenny menatap nanar punggung bidang sang putra yang berjalan menaiki tangga. Kegamangan di dalam hatinya sungguh tak terkira.


Sudah cukup ia menanggung beban duka karena hidup Jennis yang divonis tidak akan hidup lebih lama lagi. Dan ditambah lagi dengan sikap tertutup Jeaven akan masalah yang dihadapi.


Awan kelabu kian bergumul di rongga dada. Ia tak lagi mampu menahan air mata. Bersamaan dengan itu Jeffrey datang dan langsung memeluknya.


"Kuatkan dirimu, Sayang."


"Aku mohon pegang tubuhku agar tidak terjatuh. Sungguh ini sangat berat." Jenny kian tergugu di dalam bidang sang suami.


Sementara itu di dalam kamar milik Jeaven.


Bug!


Jeaven langsung bersambut sebuah tinjuan kala kaki baru memasuki kamarnya. Meski pukulan terasa lemah tapi cukup membuat sudut bibirnya terluka.


Bug!


Satu tinjuan kembali mendarat dan Jeaven tidak berniat untuk membalas. Ia bahkan sama sekali tak terpancing amarah meski Jennis memukulnya dengan keras.


"Kau harus menjaga tenagamu." Jeaven masih sempat-sempatnya menasehati tanpa menanyakan alasan di balik sikap kasar Jennis yang baru pertama kali ia terima selama menjadi seorang kakak.


"Kenapa kau lakukan itu, Jeav!" Hardik Jennis tampak geram.


"Apa maksudmu?"


Jennis mendudukkan dirinya di sofa. Rupanya memberi pelajaran kepada Jeaven cukup menguras tenaga. Di saat ia sudah terlihat kurang berdaya, sang kakak masih saja berdiri gagah seolah pukulannya barusan tidak berarti apa-apa.


"Kau meniduri Jesslyn tanpa mau bertanggung jawab! Sejak kapan kau berubah menjadi bajingan? Hah?!"


Bersambung~~


Maaf ya kemarin nggak bisa up. Di RS susternya sliweran melulu. Belum lagi pasien covid yang di sebelah kejang terus. Nggak bisa fokus Nofi ngetiknya.


Ini aja sedari tadi Nofi ngetik sambil menghela napas dan ngelus dada terus.

__ADS_1


Makasih atas dukungan kalian... 😘 Maaf blum bisa blas komen kalian satu persatu🙏


__ADS_2