
"Aku bisa menjadi artis pengganti Angelina."
Semua perhatian seketika tertuju kepada Jesslyn yang baru saja menyela dalam percakapan. Dengan pembawaan penuh percaya diri, wanita blonde itu berkacak pinggang sebelah tangan, dan tangan yang satunya tampak menenteng lembaran skrip.
"Apa kau yakin? Proyek iklan ini bukan untuk main-main, Nona." Si sutradara bertanya dengan penekanan di akhir kalimatnya. Ia ragu, tidak mungkin juga asal menerima artis pengganti tanpa melewati casting terlebih dahulu.
"10 menit. Aku kira segitu cukup untukku mempelajari naskah." lagi-lagi Jesslyn berkata tanpa menanggalkan rasa percaya dirinya.
Sang sutradara tertawa dengan tatapan meremehkan. "Artis senior seperti Angelina Rowler saja butuh beberapa hari untuk memperlajari skrip, bagaimana mungkin kau yang tidak pernah memiliki sepak terjang di dunia seni peran berkata seperti itu?"
"Orang bijak akan menilai sesuatu setelah melihat hasilnya, Tuan. Anda bahkan belum melihatku bekerja," sindir wanita itu, sukses membuat ekpresi meremehkan si Sutradara luntur.
"Jess, apa kau yakin? Kalau sampai gagal, kau akan mempermalukan dirimu sendiri terutama aku." Monica sedikit berbisik di belakang telinga Jesslyn.
Memutar muka ke samping seiring dengan sunggingan di bibirnya, Jesslyn kembali bersuara. "Apa kau lupa siapa aku? Aku adalah Jesslyn Seanie Wilson," jawabnya dengan setengah berbisik juga.
"Oke, aku percaya kepadamu," ucap Monica diikuti anggukan mantapnya. "Tapi jika kau gagal, aku orang pertama yang akan meninggalkan tempat ini dengan sekantong keresek hitam di kepalaku," imbuhnya lagi dengan ekspresi serius dua kali lipat.
"Ck! Kau sungguh luar biasa," decih Jesslyn lalu menyikut perit Monica yang berada di belakangnya.
"Ugh! Sakit tauk!" Protes Monica seraya mengusap rasa ngilu di perut akibat serangan si sahabat.
Jesslyn berdehem sembari melihat mesin penunjuk waktu di pergelangan tangannya, kemudian kembali membuka interaksi kepada sutradara. "Sudah banyak waktu berharga yang terbuang sia-sia, bukankah ini juga termasuk kerugian? Bisa anda bayangkan berapa banyak kerugian lagi jika anda menolak tawaranku. Jadi, apa lagi yang harus anda pertimbangkan?"
Wanita itu melihat ke arah Jeaven yang tengah duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Kau pasti juga setuju dengan ideku ini, kan?" Ia melisankan tanya.
Jeaven lantas melirik ke arah si sutradara, membawa raut dinginnya kemudian bersuara. "Aku rasa 3 kali shot tidak terlalu banyak membuang waktuku. Jika 3 kali shot gagal, sebaiknya aku juga membatalkan perjanjian kontrak ini."
Sekali lagi, pria tampan bermata tajam itu kembali menekankan bahwa waktunya lebih beharga dari pada proyek iklan itu. Dari awal, pihak Production House juga sudah tahu, Jeaven Allison tak segan memilih melanggar kontrak kerja dan membayar penalty dari pada kenyemanan hidupnya terganggu.
"Apa kau meremehkanku? Aku bahkan bisa berakting tanpa mengulang shot." Jesslyn berucap kata dengan pongah, tanpa merubah posenya yang masih berkacak pinggang.
__ADS_1
"Terserah kau saja. Dan ingat, lakukan sesuai skrip awal dan tidak ada adegan ciuman." Jeaven menegaskan, membuat raut wajah Jesslyn berubah cemberut.
Sementara itu di belakang Jesslyn, Monica tampak menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak gatal. 1 shot katanya, yang benar saja, Jesslyn. Sebaiknya aku segera mencari kantong keresek untuk membungkus kepalaku nanti. Ia membatin frustrasi.
Sedangkan Verlin justru diam-diam tengah mengulas senyuman getir. Jesslyn sungguh wanita yang menarik. Apakah seorang miskin seperti aku pantas bersaing dengannya untuk menarik perhatian pria yang sama?
Setelah Jesslyn mempelajari skrip dalam kurung waktu yang sudah ditentukan, ia lanjut digiring ke sebuah ruangan khusus untuk mempermak penampilan.
"Jeaven, katakan kalau aku cantik." Jesslyn tampak berpose cantik di depan Jeaven yang kebetulan juga ada di ruangan. Wanita itu memamerkan penampilannya yang mempesona, mampu membuat mata pria manapun tak berkedip lama.
"Jeaven!" Panggil Jesslyn sekali lagi. Kali ini dengan raut kesal karena pria di depannya tak memberi tanggapan apapun.
Pria itu bahkan seolah enggan melirik ke arah si makhluk cantik bak barbie itu. Jeaven memang sungguh terlalu, hatinya bagaikan batu di puncak gunung bersalju.
Keras, dingin, dan sulit dijangkau. Begitulah perumpamaan katanya. Namun, hal itu nyatanya tidak dapat meruntuhkan tembok kegigihan Jesslyn. Wanita itu begitu tangguh dengan perasaannya.
Ditarik memutar kursi yang diduduki Jeaven hingga posisi Jesslyn saat ini sudah berdiri menantang di depannya. Si wanita memandang sanksi si pria. "Apa sesulit itu hanya untuk bersuara di depanku? Kau sungguh keterlaluan, Jeav!"
Jesslyn terus mengomel-mongel tanpa jeda. Entah sudah berapa ribu frasa yang sudah terbebas dari ujung lidahnya. Tanpa ia tahu, Jeaven tengah menahan denyutan di bagian bawah sana.
Gegas ia tampik desiran gairah yang mulai merayap dari segala arah. Jeaven tidak ingin kembali lengah. Ia harus memperkuat pertahanan libidonya agar tak lemah.
Satu kali hentakan kaki langsung membawa tubuh gagahnya berdiri. Hingga bahunya yang lebar menghadang tubuh mungil Jesslyn kini.
"Penampilanmu seperti ini bisa mengundang kejahatan." Jeaven menaikan resleting yang tersemat di dada Jesslyn, hingga belahan si bukit kembar tak lagi terlihat.
Sedetik kemudian, Jeaven membawa iris hijaunya menyorot beberapa kostum wardrobe yang terletak di salah satu sudut ruangan. Menemukan apa yang diinginkan, ia berjalan dan menyabet kain yang menjadi pilihan. Jesslyn bahkan tampak keheranan, gelagat pria itu begitu sulit jika dijadikan bahan tebakan.
"Jeaven, kenapa?" Tanya Jesslyn seraya memandang lekat pria itu yang baru saja menutupi pundak polosnya dengan scarf panjang.
"Di studio banyak kru pria. Jaga lekuk tubuhmu," tutur Jeaven dan langsung berlalu setelah berkata. Ia tidak ingin berlama-lama berdua saja dengan si wanita, takut libidonya kembali tergoda.
__ADS_1
Jesslyn memandang punggung luas pria pujaan hatinya itu dengan tatapan mendamba. Segurat senyuman seketika menghiasi paras cantiknya.
"Kau manis sekali, Jeav."
1 jam kemudian~~
"Oke, wrap it! Bagus sekali." Sang sutradara langsung berdiri dan bertepuk tangan, diikuti gemuruh tepuk tangan para kru lainnya.
Dia dan termasuk semua penghuni studio tampak puas dengan hasil kerja Jeaven, terutama Jesslyn. Wanita cantik itu benar-benar menunjukkan kemampuannya dalam berakting, meski dia bukanlah seseorang yang aktif dalam dunia seni peran. Ia telah membuktikan bahwa ucapannya bukanlah omong kosong belaka.
Setelah selesai dengan pembuatan iklan, Jeaven dan Verlin langsung meninggalkan studio tanpa banyak kata. Jangan lupa, masih ada Jesslyn yang akan selalu ada di manapun pria pujaannya itu berada. Sementara Monica? Tentu saja dia juga berada di tempat yang sama.
"Kau mau apa lagi, Jesslyn?" Raut penuh tanya bercampur jengah mengulas di wajah tampan Jeaven. Di tambah lagi, Jesslyn masuk ke dalam mobil miliknya tanpa permisi, membuat pria itu harus menghela napas.
Sebuah senyuman manis seketika membingkai ekspresi penuh makna Jesslyn. Tangan diajak menggelayut manja pada lengan berotot Jeaven, dengan wajah mendongak ke arah pria itu.
"Kau berhutang budi kepadaku, Jeav," ucap wanita bermutiara hazel itu.
"Sayangnya aku tidak merasa berhutang budi."
Jesslyn mencebik diikuti kedua pipinya yang mengembung. "Pembuatan iklanmu tadi jadi bisa berjalan dengan baik karena aku. Dan waktu berhargamu juga tidak terbuang sia-sia. Apa kau amnemia hingga tidak mengingat semuanya?" Protesnya dengan muka ditekuk.
"Amnesia, Jesslyn." Jeaven membenarkan seraya menggeleng kepala.
"Iya, maksudku amnesia. Lidahku tadi kepleset," kilah wanita itu sembari nyengir kuda. Sedetik kemudian ia kembali memasang raut sedikit serius. "setidaknya kau harus memujiku," tuntutnya.
"Bagaimana bisa aku memujimu sedangkan kau sendirilah otak dari kerusuhan tadi."
"Jadi kau sudah tahu?" Jesslyn terkejut dan tampak tak percaya.
Semudah itu si pembalap MotoGP Jeaven Allison mengetahui semua gerak geriknya saat di studio, termasuk memasukkan obat pencahar pada botol minuman Angela Rowler.
__ADS_1
Jeaven menggiring wajahnya ke arah Jesslyn yang tengah menatapnya. Dibawa jari telunjuknya mengetuk-ngetuk kening wanita itu dengan gemas. "Di dalam kepalamu sangat mudah dibaca, Jesaslyn."
Bersambung~~