
"Berani-beraninya kau menyentuh milikku! Dasar wanita binal kegatelan! Rasakan ini!" Tangan Jesslyn bergerak cepat, menjangkau pakaian wanita itu pada bagian dada. Ia menyeringai jahat sebelum akhirnya bertindak gila.
"Kyaaaak!" Wanita si penabrak langsung membawa kedua tangan menyilang di depan dada, menutupi gunung kembarnya yang kini terekspos menjadi tontonan umum karena mini dress beserta bra yang membalut tubuhnya ditarik ke bawah secara paksa oleh Jesslyn.
Tergelak puas di sela mabuknya, wanita cantik bermutiara hazel itu rupanya belum ingin berhenti di situ saja.
"Jess! Sudah cukup!" Jeaven gegas mencegah gerak tangan Jesslyn yang berniat melayangkan tamparan.
"Lepaskan aku! Aku harus memberi wanita gatal ini pelajaran!" Jesslyn memberontak.
"Kyaaaak! Sakitt! Lepaskan rambutku!" Wanita yang masih berupaya menutupi kedua gunung kembarnya kembali meraung kesakitan karena tangan Jesslyn masih sempat menjangkau rambut panjangnya.
Serasa ingin menepuk jidatnya hingga berkali-kali, Jeaven terdengar mendengus kasar. Inilah yang dia khawatirkan jika membiarkan Jesslyn berada di sekitarnya, selalu saja bikin ulah.
"Kyaaak! Jeaven, apa yang kau lakukan?!" Kini ganti Jesslyn yang memekik karena tubuhnya tiba-tiba melayang tak berpijak pada bumi.
Seolah tanpa beban, Jeaven membopong tubuh wanita itu seperti karung beras, membawanya keluar bangunan.
"Masuk ke mobil," titah Jeaven setelah menurunkan Jesslyn di depan kendaraan roda empatnya.
"Iya ... iya."
Dug!
"Ahk! Sakittt ... hiks!" rintih wanita itu karena kepalanya membentur keras atap mobil saat akan masuk. Mabuk memang membuat pengelihatannya tak berfungsi dengan baik.
"Masuklah dengan benar, Jesslyn." Seiring dengan dengusan jengah, pria tampan berparas dingin itu membantu wanita itu memasuki mobil.
__ADS_1
Tidak ingin membuang waktu, Jeaven menyusul dan menempati bangku kemudi. Sesaat ia melirik ke arah Jesslyn yang tengah meringis karena denyutan ngilu di dahi. Bahkan warna memar kemerahan sudah menghiasi.
"Dasar ceroboh," cibirnya dilengkapi dengan helaan kasar.
Jeaven menghidupkan lampu dalam mobil, kemudian mengambil sebuah kotak P3K kecil yang selalu tersedia di dalam laci.
"Kau mau apa?" tanya Jesslyn saat si pria mencondongkan tubuhnya hingga jarak mereka kian terpangkas.
"Jangan banyak bertanya." Pria tampan itu mengoles obat salep pada kening Jesslyn yang memar. "Dasar bodoh," ledeknya setelah selesai mengobati luka si wanita.
"Hmmm! Lagi-lagi kau mengataiku. Tidak bisakah sekaliii ... saja kau memujiku?" Melupakan denyutan ngilu di keningnya, Jesslyn malah menggelayut manja pada lengan keras Jeaven. "Di luar sedang turun salju, aku tidak ingin sendiri. Mereka itu sangat mengerikan seperti monster," racaunya kembali dalam lirih dengan sepasang kelopak mata yang terasa berat.
"Duduklah yang benar."
"Hmm, tidak mau ...." Jesslyn kian mengeratkan pelukan saat Jeaven mencoba mendorongnya untuk menjauh.
Mengabaikan tingkah si wanita, pria itu langsung menghidupkan mesin mobil dan membawanya membelah jalanan yang mulai tertutup salju.
Berjalan gagah seraya menggendong Jesslyn, si pembalap motor yang dijuluki sebagai The Ice Gun J&J itu berjalan menuju salah satu kamar apartemen.
"Lagi-lagi kau merepotkanku. Malam ini tidurlah di sini. Dan besok kau bisa pulang sendiri," ucap si pria setelah merebahkan wanita itu di atas ranjang.
"Kau mau ke mana? Jangan pergi." Jesslyn langsung menuruni ranjang meski rasa pusing karena pengaruh alkohol masih mendominasi. Dipeluk tubuh Jeaven dari belakang yang sudah mengambil beberapa langkah menuju pintu keluar.
"Hmm ... kau harus menemaniku. Aku takut tersesat. Di luar sedang turun salju. Aku ... takuuutt sakali."
Jaeven melepas lilitan tangan si wanita dari perutnya kemudian berputar hingga posisi mereka kini saling berhadapan.
"Hanya manusia bodoh sepertimu saja yang bisa tersesat di kamar."
__ADS_1
Lagi-lagi Jesslyn menangis secara tiba-tiba. Mabuk memang membuatnya bertingkah seperti orang gila. Saat ini berderai air mata, tapi sedetik kemudian bisa jadi ia ketawa.
"Kau selalu mematahkan hatiku dengan perkataanmu. Apa kau tahu, aku merasa sangat sesak seperti ada ribuan katak di dalam dadaku." Ia kian menangis histeris.
"Ck! Kau itu sedang mabuk, Jesslyn."
Dengan kepala yang masih terasa berat, Jesslyn menggeleng lemah. "Siapa yang bilang aku mabuk? Aku tidak mabuk. Apa kau buta? Aku bahkan masih bisa berdiri dengan benar," bantahnya membela diri.
Padahal saat ini Jesslyn malah terlihat seperti sedang mengeluarkan jurus mabuk bak pendekar sakti. Tubuhnya limbung ke kanan dan ke kiri. Ia tampak kepayahan berdiri dengan benar saat ini.
"Gara-gara kau mengejekku tidak laku karena jelek, aku terpaksa berkencan dengan pria brengsek itu. Dia juga sudah mencuri ciuman pertamaku. Padahal aku ingin memberikan ciuman pertamaku kepadamu. Huaaaa ...." Tangisan Jesslyn kembali pecah. "Betapa malangnya nasibku."
Jeaven seketika memijat pelipisnya yang mendadak terasa pusing. "Kau sudah membuang banyak waktuku hanya untuk mendengarkan ocehan bodohmu, Jesslyn."
"Kau harus membantuku."
"Membantu apa? Hah?"
"Membantu menghapus bekas ciuman pria brengsek itu dari bibirku." Tanpa aba-aba ataupun hitungan satu sampai tiga, Jesslyn langsung merangkum erat muka tampan Jeaven menggunakan kedua tangannya kemudian mendaratkan ciuman.
Serangan dadakan yang diterima seolah sukses membekukan gerak tubuh si pria. Ini adalah ciuman pertamanya, tentu ia merasakan gelenyar yang berbeda. Sentuhan lembut di bibirnya membuat desiran darah di dalam tubuh memanas seketika.
Bagaimanapun dia pria normal juga. Sedikit sentuhan cukup mampu menggugah hasrat keperkasaannya. Ditambah lagi himpitan kedua benda sintal Jesslyn di dada, membangunkan benda keras di bawah sana.
'Ah sial! Tubuhku mulai bereaksi!"
Bersambung~~
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya ... Vote dan Gift juga boleh dong disumbangin untuk Jeaven dan Jesslyn🥰
__ADS_1
Terima kasieeeehh... lop you🙏😘