Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Harus Menikah


__ADS_3

Kaki langit telah berhias sang mentari. Anak cahayanya memancar ceria menyapa pagi. Riuh pikuk aktivitas para mahluk ciptaan-Nya pun kembali memadati isi bumi.


Di bawah gulungan selimut Jesslyn menggeliat dari lelapnya. Kedua tangan terlentang bebas di atas ranjang super empuknya. Mulut menguap menghempas rasa kantuk yang tersisa. Sepasang mata sayunya mengerjap sebelum terbuka sempurna.


Tidak seperti di waktu-waktu biasanya. Pagi kali ini ia merasa suasana hatinya sedikit berbeda. Gelenyar energi positif seolah menaungi jiwa. Rasa semangat pun lebih terasa.


"Tidurku semalam benar-benar nyaman." Jesslyn sesaat termenung, membawa pikiran untuk menerawang kembali mimpinya semalam. Sebuah mimpi yang hanya tergambar samar tapi memberikan rasa damai di hati.


Bangkit dari posisi berbaring, Jesslyn merunduk disusul tangan menyentuh perutnya. "Selamat pagi, Anakku." Ia memberi sapa'an penyambut pagi pada calon anaknya dengan perasaan penuh kasih sayang.


Walaupun janin yang dikandungnya itu berasal dari kesalahan, meski hati juga harus menuai luka goresan, Jesslyn tetap menyayangi dengan penuh ketulusan. Tidak terbesit sedikitpun pikiran bawah kehadiran si janin adalah sebuah kefatalan. Apa lagi berniat untuk menggugurkan.


Aroma makanan yang tiba-tiba menguar ke dalam kamar menarik indera penciuman Jesslyn. "Baunya enak sekali." Jesslyn terlihat menghirup dalam aroma yang membuat cacing-cacing di dalam perutnya berteriak lapar.


"Itu pasti Monica yang sedang memasak," tebak Jesslyn. Ia sangat tahu, sahabatnya itu sangat mahir jika berhubungan dengan bahan dapur.


Jesslyn lantas menggiring kaki menuruni tempat peraduan. Sebelum menemui Monica ia terlebih dahulu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan isi perutnya dari limbah makanan.


Pagi ini wajah wanita cantik itu benar-benar tampak berbinar cerah, selaras dengan suasana hatinya yang sumringah. Seolah ia lupa akan lara yang selama ini mengusiknya tanpa lelah.


Selepas membersihkan tubuhnya Jesslyn langsung mengayun kaki untuk keluar. Namun, ia langsung terkejut kala daun pintu terbuka lebar. Ruang matanya kini dipenuhi oleh sosok gagah Jeaven yang sudah berada di luar kamar.


Kekecewaan yang kembali menyapa membuat dadanya bergetar. Kebencian di relung hati pun kembali membakar. Jesslyn yang urung bersuara memilih menarik kembali daun pintu dengan kasar. Sungguh, dia sangat tidak ingin bertemu dengan pria yang sebenarnya sukses membuat tangannya gemetar.


"Jess."


Jesslyn terhenyak karena Jeaven sudah bergerak cepat memegang daun pintu agar tidak kembali tertutup.

__ADS_1


"Pergi," usir Jesslyn masih dengan nada bicara rendah. Namun, suaranya terdengar bergetar karena menahan kemarahan di dada. Sepasang netranya juga sudah terlihat berkaca-kaca.


"Kita harus bicara," mohon Jeaven sembari menahan daun pintu yang sedari tadi hendak ditutup paksa oleh Jsi wanita.


"Aku tidak ingin," tolak Jesslyn.


Monica yang tidak sengaja melihat interaksi dingin di antara kedua anak manusia itu memilih untuk tidak ikut campur dan memberi ruang privasi untuk mereka. "Saatnya kau berjuang, Jeav."


"Jess, beri aku kesempatan," mohon Jeaven kembali.


Jesslyn tak lagi menjawab. Ia memilih sekuat tenaga untuk menutup pintunya. Akan tetapi usahanya sia-sia. Jeaven berhasil masuk dan mengunci pintu kamar.


"Apa kau tidak dengar? Aku minta kau pergi sekarang!" Sentak Jesslyn yang sudah tersulut amarah. Namun, sebisa mungkin menahan air mata agar tidak terjun bebas dari telaga beningnya.


"Aku akan pergi, tapi kau harus ikut denganku," ucap Jeaven dengan tegas, lengkap dengan ekspresi serius yang di mana ia tidak bermain-main dengan perkataannya. Baginya, Jesslyn sudah menjadi tanggung jawabnya.


Tidak akan!


"Apa hakmu atas diriku? Hah!"


Jesslyn melangkah mundur saat Jeaven mencoba mendekatinya. Wanita itu merasa terintimidasi oleh tatapan lekat si lawan bicara. Hingga pergerakannya harus terhenti karena punggung membentur tangan sofa. Bahkan dia hampir terjerembab tapi tangan si pria dengan sigap menangkap tubuhnya.


Sentuhan hangat dari kedua raga yang menempel menciptakan gelenyar tak biasa di dada. Jeaven kian memperdalam tatapan meski kecewa harus dirasa karena Jesslyn mencoba mengelak dari sorot matanya.


"Maaf," ucap Jeaven dengan tulus tanpa melepas lilitan tangannya dari pinggang ramping Jesslyn.


"Maaf katamu?" Jesslyn mendorong dada Jeaven agar menjauh darinya. "Aku tidak ingin membohongi diriku sendiri. Buat apa lidahku berkata sudah memaafkan tapi hatiku tidak?"

__ADS_1


"Aku harus apa agar kau mau memaafkanku?"


"Kau cukup pergi dari sini."


"Tidak akan."


"Baik. Kalau begitu biar aku yang pergi." Jesslyn berniat pergi tapi Jeaven malah merengkuh dari belakang. "Hei! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!" Ia memberontak, kendati dada berdegub kencang karena tindakan tiba-tiba pria itu.


Sesaat pikirannya membuat perbandingan antara Jeaven yang dulu dan sekarang. Sungguh ia merasakan sebuah perbedaan. Dulu, mana mau pria itu memeluknya seperti sekarang. Bahkan nada bicaranya terdengar lebih lembut, mimik dingin pun tak lagi menghiasi wajah.


"Kau harus ikut bersamaku, Jesslyn. Menurutlah." Jeaven berucap pelan, bahkan hampir menyerupai bisikan. Dia sangat bersungguh-sungguh dalam memohon.


Meremang, itulah rasa yang merayapi hati. Sapuan napas Jeaven di telinga membuat Jesslyn kesulitan bernapas untuk beberapa saat. Namun, cepat-cepat ia kuasai keadaan.


"Jangan memaksa. Kau tidak ada hak atas diriku!" Jesslyn kembali mengulang perkataannya tadi. Ia benar-benar melempar penolakan telak.


"Aku memiliki hak, Jesslyn."


"Apa kau tidak sadar? Sikap sesuka hatimu itu sangat menyebalkan. Aku semakin membencimu." Jesslyn mulai jengah. Rasanya ia ingin segera menjauh dari Jeaven sekarang.


"Kita ... harus menikah."


"APA?! Aku tidak sudi!"


Bersambung~~


Maaf perdebatan Jeaven dan Jesslyn lanjut besok ya. Hari ini benar-benar kayak kutu loncat akoh teman-teman. Lompat sana lompat sini. Lari sana lari sini. Naik turun tangga dari lantai 1 ke 3. Kayak ninja warior dah. Persis..🤣

__ADS_1


__ADS_2