
"Hai, Verlin. Sudah lama tidak bertemu." Jennis yang pertama menanggapi sapaan Verlin.
Verlin tersenyum manis dan ramah. "Bagaimana dengan kesehatanmu?"
"Aku baik, seperti yang kau lihat."
"Syukurlah." Wanita berparas anggun itu menoleh ke arah Jesslyn yang sedari tadi tak bersuara.
Ia sebenarnya menyadari tatapan tidak suka Jesslyn yang terpampang samar-samar di depan mata. Akan tetapi, dia mencoba memaklumi saja, karena tahu bahwa wanita itu selalu cemburu akan keberadaanya di sekitar Jeaven, si tuan muda.
"Hai, Jesslyn. Apa kabarmu? Kau masih saja cantik." Verlin masih berusaha bersikap baik, menciptakan suasana nenjadi lebih hangat.
Memaksa bibir untuk tersenyum sebagai tanggapan, kendati Jesslyn sering merasa tidak nyaman melihat keberadaan Verlin di sekitar Jeaven, tapi dia juga tidak mungkin mengumbar rasa tidak sukanya hanya karena atas nama cemburu. Ditambah lagi selama ini wanita yang bekerja sebagai manajer pribadi Jeaven itu selalu bersikap baik dan sewajarnya saja.
Hah! Rasanya ia memang tidak punya hak untuk protes.
Jeaven melirik ke arah arloji mahal yang menghiasi pergelangan tangannya, merasa heran karena kedatangan Verlin terlalu pagi menurutnya. "Apa ada hal penting lainnya hingga kau datang lebih awal?"
"Tentu saja. Sebelum menyapa kalian di sini, tadi aku terlebih dahulu menemui tante Jenny untuk mengantar titipan minuman herbal dari ibu pengasuh panti, sekalian aku juga ingin melepas rindu kepada keluarga Allison," jelas Verlin.
Bukan untuk mencari muka, tapi memang begitulah adanya. Sosok Verlin juga sudah dianggap seperti keluarga. Jadi sudah wajar jika wanita itu terlihat cukup dekat dengan semuanya.
"Kalian berdua nanti mau ke mana?" Tanya Jesslyn yang sudah sangat hafal bahwasanya Verlin memegang jadwal kegiatan Jeaven selama cuti musim MotoGP.
Verlin sudah membuka sedikit bibirnya untuk kembali menjawab, tapi terurungkan karena Jeaven tiba-tiba menyela.
"Aku pikir kau tidak perlu tahu jika hanya untuk berulah lagi," ucap Jeaven dingin.
__ADS_1
"Aku ikut ya, janji akan bersikap anteng dan hanya duduk manis." Jesslyn membujuk. Terus terang ia tidak rela membiarkan Jeaven dan Verlin pergi berdua.
"Aku tidak mengijinkan."
"Please ...." Jesslyn masih merayu, memasang mimik puppy eyes.
"Jesslyn." Pria tampan itu menatap datar wajah Jesslyn yang masih mengemis ijin darinya.
"Iya."
"Sebaiknya kau urus saja ponselmu itu. Berisik sekali," saran Jeaven karena benda pipih milik Jesslyn itu sedari tadi menjerit minta dijamah.
Usai itu Jeaven melirik ke arah Jennis, si adik. "Bukankah kau juga harus bersiap-suap kuliah?" Imbuhnya lagi untuk mengingatkan sebelum melenggang pergi dari sana dan diikuti Verlin.
"Jess, apa kau baik-baik saja jika aku tinggal duluan?" Jennis bertanya dengan perasaan berat hati.
"Ya sudah."
"Kyaaaak! Jennis, kau ini benar-benar ya!" Sembur wanita itu setelah Jennis dengan usil mencium pipinya tanpa permisi.
Ingin marah tapi pemuda itu sudah kabur duluan. Meski dari kejauhan gelak tawa puasnya masih terdengar.
Jesslyn gegas melihat ke arah ponselnya dan melihat nama Monica tertera di sana.
"Halo?" Sapa Jesslyn terlebih dahulu dan mulai mendengarkan.
"Apa kau gila?! Ini sudah jam berapa dan kenapa belum datang juga? Apa kau lupa kalau hari ini akan ada rapat penting perihal pembahasan desain produk baru bersama tuan Presedir?" Sembur Monica dari balik sambungan telepon, membuat Jesslyn reflek menjauhkan ponselnya dari telinga.
__ADS_1
"Iya iya! Aku akan segera meluncur ke kantor!" Sembur balik Jesslyn lalu mematikan secara sepihak panggilan telepon.
Dilihat jam digital yang menghiasi layar ponsel, dan di saat itu juga kedua matanya seketika membola. "Ya Tuhan ... aku sudah terlambat 10 menit. Alamat aku bakal ditelan bulat-bulat sama Presedir."
Wanita blonde itu langsung mengambil langkah cepat untuk mengejar waktu, keluar dari mansion Willson dan kembali ke kediamannya sendiri. Cukup melelahkan memang, meski dua bangunan megah itu terletak bersebelahan, tapi luas halaman yang harus dilewati setara dengan 10 bangunan rumah berukuran standart.
"Permisi Nona Jesslyn."
Ayunan tungkainya tiba-tiba terhenti kala seorang security yang berjaga di depan gerbang menyapa dan mendekatinya.
"Iya, Pak Bavol. Ada apa?" Balas si nona muda sembari mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal.
"Ini, Nona. Paketan untuk anda baru saja datang beberapa saat yang lalu." Bavol mengulurkan sebuah bingkisan tanpa nama pengirim kepada anak majikan besarnya itu.
"Ah? Terima kasih, Pak." Jesslyn langsung menerima benda tersebut dan kembali berjalan menuju bangunan rumah.
Di dalam kamar, Jesslyn masih menyempatkan diri untuk melihat isi bingkisan yang selalu ia terima setiap minggu itu. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman saat sebuah benda imut kesukaan terpampang di depan mata.
"Cantik sekali ... kali ini dalam bentuk gantungan kunci." Jesslyn menatap kagum sebuah dream catcher berhias manik-manik mungil dan bulu angsa putih tersebut.
Ia lanjut membaca sebuah kertas kecil yang berada di dalam kotak.
Meski musim salju tiba, jangan resah. Malammu akan tetap ditemani mimpi indah. Percayalah.
Usai membaca tulisan tersebut, Jesslyn memutar leher ke salah satu sudut ruang kamarnya yang luas. Hingga ratusan dream cacther yang menghiasi dinding menyapa tatapan matanya.
"Siapa kau sebenarnya?"
__ADS_1
Bersambung~~