
Semua peserta rapat sudah tampak membubarkan diri, menyisakan Jesslyn dan sang Presedir di dalam ruangan kini. Suasana mendadak mencekam karena tatapan pria paruh baya di hadapannya itu terkesan mengintimidasi.
"Jess--" belum sampai kalimat yang terangkai di otak terucap semua, sang Presedir tiba-tiba terhenyak karena kelakuan absurd bawahannya itu.
"Tuan Presedir, maaf! Jangan hukum saya ... kasihanlah saya. Saya janji tidak akan terlambat lagi." Jesslyn merengek sembari berlutut memeluk kaki sang Presedir.
"Jesslyn, berdirilah!" Titah pria tengah baya yang masih memancarkan ketampanan yang paripurna itu. Jujur, ia merasa gedek karena kelakuan Jesslyn yang terkesan berlebihan.
Menggeleng cepat, Jesslyn ternyata tidak ingin menyerah begitu saja dalam usahanya mengambil hati sang Presedir. "Saya akan tetap memeluk kaki Tuan seperti ini sampai malam kalau Tuan tidak memaafkan saya. Anda pasti tahu sendiri, jika malam belum pulang juga, istri anda akan meraung dan mengamuk seperti singa betina yang kehilangan telurnya," rengeknya kembali, dan kali ini diselipkan ancaman terselubung pada kalimatnya.
Di dalam hati Jesslyn menyeringai menang. Dia sangat percaya diri bahwa usahanya kali ini mampu meluluhkan hati sang Presedir dengan gampang. Apalagi menyadari raut pria itu yang mulai tampak tak tenang, karena ancaman si bawahan mulai membawa pikirannya melayang, membayangkan wajah sang istri yang berang.
Haha! Rupanya tuan Presedir tipe suami takut istri.
"Jesslyn, kau membuat Daddymu ini terlihat buruk. Bangunlah!"
Jesslyn yang masih bersimpuh seraya memeluk kaki sang Presedir yang tak lain adalah Sean itu sontak mendongak, hingga sepasang mata mereka saling bertemu.
"Daddy ... maaf." Wanita itu memasang wajah melas seolah meminta iba.
"Berdirilah, Sayang." Sean menuntun tubuh putrinya itu untuk berdiri. "Daddy tidak akan menghukummu."
Rona cerah seketika menghiasi wajah Jesslyn, seiring dengan senyuman lebar menampilkan gigi-giginya yang putih. "Benarkah? Fyuuh! Aku merasa lega. Aduh duh duh! Daddy sakit ...!" Wanita itu tiba-tiba mengaduh padahal baru saja meraup perasaan lega.
"Berani-beraninya kau mengancam Daddy seperti itu tadi." Sean mencubit pipi Jesslyn dengan perasaan gemas bercampur kesal.
"Daddy, sakit! Hiks!"
Semakin lama tidak tega melihat wajah kesakitan sang putri akhirnya Sean menyudahi cubitannya. "Bersikaplah lebih dewasa, Jesslyn. Umurmu sudah 25 tahun," tuturnya.
Bukannya segera memberi respon baik akan tuturan sang Daddy, Jesslyn malah sibuk mengambil kaca dari dalam tasnya untuk memeriksa bekas cubitan di pipi.
__ADS_1
"Waah ...! Dad, apa kau benar-benar membenci putrimu yang cantik ini? Pipiku sampai merah karena cubitanmu," celetuk Jesslyn seenak lidahnya, tapi sedetik kemudian kedua sudut bibirnya tertarik ke bawah dan mulai menunjukkan mimik sedih. "Aku tidak boleh terlihat jelek, nanti Jeaven semakin tidak menyukaiku. Daddy, kau sungguh keterlaluan. Aku membencimu."
Sean terperangah, bagaimana bisa keadaan kini malah berbalik menyudutkan dirinya. Padahal dari awal dia berniat menegur Jesslyn karena keterlambatannya saat menghadiri rapat. Akan tetapi saat ini justru Jesslyn yang terlihat banyak protes.
Wahh ...! Jesslyn sungguh luar biasa.
Deheman ringan terdengar dari bibir Sean untuk menguasai kembali keadaan. "Jadi kau membenci Daddy sekarang?" Ucap Sean. Pertanyataan sederhana yang baru saja terlisan menyiratkan sebuah peringatan tegas.
Jesslyn langsung menepuk bibir, menyadari kebiasaan buruknya yang suka berbicara asal tanpa berpikir. Dipeluk tubuh gagah si Daddy lalu menyengir.
"Percayalah, aku berkata seperti itu tadi benar-benar tidak dari hati. Bagaimana bisa aku membencimu yang merupakan cinta pertamaku? Daddy adalah pria terbaik di dalam hidupku."
Sean mengulas senyuman hangat seraya membelai sayang rambut si putri. "Aku percaya. Dan besok-besok jangan diulangi lagi kesalahanmu seperti tadi. Meskipun kau putriku, tapi aku harus tetap menegurmu. Kau boleh mengejar cintamu, tapi jangan sampai lalai dengan tanggung jawabmu, Jesslyn. Dan untuk hasil persentasimu tadi, Daddy sangat menyukainya."
Wanita blonde itu mengurai pelukan dan menatap senang paras tampan sang Daddy. "Terima kasih, Daddy. Kalau begitu aku ijin undur diri dulu ya." Ia mengecup pipi Sean sebelum meninggalkan ruangan dengan langkah semangat.
"Jesslyn ... Jesslyn. Kau mengingatkanku dengan masa muda ibumu. Tiba-tiba aku sangat merindukan Allesya. Sepertinya dia akan senang jika nanti malam aku ajak dinner romantis," monolog Sean seraya memandangi punggung putrinya yang kian mengecil dari ruang mata.
"Apa'an sih, Mon?" Protes Jesslyn. Baru saja ia menjatuhkan pantat di kursi kerja, Monica sudah mengusilinya dengan melempar gumpalan kertas dari salah satu sudut ruang.
Monica menjabat sebagai asisten sekaligus Trend Analyst yang bekerja untuk Jesslyn. Jadi tidak hayal jika mereka memiliki ruang kerja pribadi yang sama.
"Kau harus memberiku hadiah besar setelah menerima info terbaru dariku," lapor Monica seraya memainkan kursinya, bergerak ke kanan dan ke kiri sembari mengemut permen lolipop kesukaannya.
Mendengar perkataan si sahabat, Jesslyn sontak memusatkan perhatiannya. "Apa? Cepat katakan. Jangan setengah-setengah kalau berbicara. Kau tahu aku tidak suka dibuat menderita karena penasaran," desak wanita itu, lebih tepatnya menitah.
"Kau masih ingat tentang proyek iklan baru perusahaan parfum Geovardan?"
"Tentu saja masih ingat. Koleksi produk kita yang mensponsori bintang iklan mereka."
"Dan bintang mereka adalah Jeaven Allison."
__ADS_1
"Sumpah?!" Jesslyn tampak tak percaya. Antara terkejut dan senang. Bayangkan saja, ini pertama kali di sepanjang hidup, Jeaven bersedia memakai busana rancangannya.
"Sumpah demi nenekku yang sudah tinggal di alam kubur, aku mengatakan yang sebenarnya," ucap Monica seraya mengangkat kedua jarinya yang membentuk huruf v.
"Hish! Kenapa kau bersumpah demi nenekmu? Dasar cucu durhaka." Jesslyn mencebik tapi bibir masih saja senyum-senyum karena membayangkan Jeaven yang tampan saat mengenakan hasil karyanya.
"Tapi kau juga harus mendengar berita lain."
"Apa lagi?"
"Tapi kau jangan histeris setelah mendengarnya."
"Langsung saja, Monica. Jangan buat aku geregatan."
"Partner kerja Jeaven adalah Angelina Rowler."
"APA?!"
Brak!
Jesslyn berteriak seiring dengan gebrakan meja karena sangking syoknya. Monica bahkan dibuat terjingkat di saat itu juga.
"Apa kau ingin aku menyusul nenekku dengan cepat karena serangan jantung?!" Seru Monica.
Bersambung~~
Ada apa dengan Angelina Rowler ya ...? Tunggu jawabannya di beberapa selanjutnya.
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya ... Vote dan Gift juga boleh dong disumbangin untuk Jeaven dan Jesslyn🥰
Terima kasieeeehh... lop you🙏😘
__ADS_1