Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Tamparan Tiba-Tiba


__ADS_3

Bak seorang profesional cantik yang sudah melanglang lintang di dunia modeling, Monica berjalan anggun di atas catwalk tanpa rasa tegang yang mengiring. Rongga dada pun tak lagi bertabuh bising. Senyuman menawan turut menyempurnakan penampilannya yang bikin para penonton berseru 'amazing'. Belum lagi gaun elegan rancangan Jesslyn kian menambah nilai keistimewaan yang membuat para mata sulit untuk berpaling.


Tidak seperti ketika berada di belakang panggung tadi. Monica saat ini terlihat lebih tenang dan percaya diri. Seluruh jalur catwalk seolah menjadi medan yang sudah ia kuasai.


Gemuruh tepuk dan sorakan takjub terdengar mengiringi Monica kembali ke belakang panggung. Di sana ia langsung disambut pelukan Jesslyn yang tak berhenti menyanjung.


"Kau sangat luar biasa, Monica. Dari awal aku sudah menduganya kalau kau memang sangat berpotensi di dunia modeling."


Monica mengurai paksa pelukan Jesslyn serentak dengan mimik sinis di wajah. "Jadi itu sebabnya kau menyeret dan memaksaku?"


Jesslyn mengangguk mantap sebelum menjawab. "Iya. Lagian mana mungkin aku asal-asalan memilih orang," ucapnya santai seolah tanpa beban. Padahal berkat dia sahabatnya itu hampir saja pingsan karena terkena serangan panik.


"Kau selalu bertindak sesuka hatimu. Hish!" Monica mendesis kesal, tapi tidak sepenuhnya kesal. Ia lanjut menoleh ke Jaeden dan Bryan yang sedari tadi tak melepas pandangan darinya. "Kalian akan jatuh cinta kepadaku jika terus menatapku seperti itu," cebiknya dengan tingkat kepercayaan diri paripurna.


"Jangan marah, jika aku beneran jatuh cinta kepadamu," kelakar Jaeden membuat Monica tampak tersipu malu dengan rona merah di pipi. Sementara Bryan seketika menekuk muka karena tidak suka melihat cara kedua anak manusia itu berinteraksi.


"Justru aku akan senang." Bryan kian dibuat panas karena mendengar perkataan wanita yang akhir-akhir ini mengganggu detak jantungnya.


Apakah aku ini sudah menjadi bajingan? Di saat aku mencoba mendekati Jesslyn tapi aku malah memiliki rasa berbeda ke Monica. Memang benar yang dikatakan Jeaven waktu itu. Perasaanku terhadap Jesslyn bukan lagi perasaan cinta seperti yang dulu, melainkan sudah berubah menjadi obsesi. Aku tak seharusnya berada di posisi perasaan yang salah seperti ini.


Bryan bergumam resah di dalam dada. Ingin sekali ia segera memperbaiki semuanya. Tetapi ia tidak tahu memulainya dari mana.


Seusai pergelaran fashion show Jesslyn dan Bryan berniat mencari makan siang bersama. Monica juga ikut meski harus diajak secara paksa. Sementara Jaeden sudah pergi sebelum acara selesai karena seseorang menelepon dan ingin bertemu dengannya.



Jaeden menyandarkan tubuh gagahnya di badan mobil dengan melipat kedua tangan di depan dada, menatap sinis sosok pria yang sedang berdiri di depan mata. "Untuk apa kau ingin bertemu denganku?" Aura dingin begitu terasa dari nada bicaranya.


"Berhentilah menghalangiku untuk bertemu dengan Jesslyn." Tak kalah dinginnya, Jeaven langsung mengutarakan sebuah permintaan tapi lebih terkesan menitah. "Bawa kembali semua anak buah itu." Kesabarannya kali ini sudah hampir terkikis sempurna karena tindakan Jaeden yang menurutnya sangat berlebihan.


Putra tunggal dari keluarga Willson itu sudah memerintahkan beberapa orang suruhan untuk memantau sekaligus menghalau Jeaven yang berniat menemui Jesslyn.


"Pergi dari kehidupan Jesslyn, maka aku akan menghentikan permainan ini." Jaeden mulai bernegoisasi.

__ADS_1


"Permintaanmu itu hal mustahil untuk dipenuhi." Jeaven menolak tegas. Lagian ia tidak akan mampu melakukannya.


"Kenapa? Kau masih ingin terus menyakitinya?! Membuat wanita setangguh Jesslyn menangis meratapi nasibnya, begitu?!"


"Dia sedang mengandung anakku."


"Kalau hanya ingin memperjuangkan rasa tanggung jawabmu, aku rasa kau lebih baik berhenti saja. Masih ada Bryan yang juga bisa melakukan hal yang sama. Bahkan pria itu lebih baik darimu. Lagian Jesslyn akan bahagia jika menikah dengannya."


Jeaven masih berusaha bersikap tenang kendati cemburu di dada sudah meronta ingin menunjukkan eksistensi. Sebisa mungkin kendali diri agar tak dikuasai oleh emosi. Ya ... walaupun sebenarnya ingin sekali ia mencengkeram kasar kerah baju Jaeden saat ini.


"Aku tidak peduli apapun itu katamu. Aku bertanggung jawab penuh akan Jesslyn dan juga anakku yang dia kandung. Aku yang akan menjadi suaminya, bukan Bryan."


"Tapi dia tidak butuh sebuah tanggung jawabmu yang tak berlandaskan cinta itu. Bryan yang pantas menjadi pendamping hidupnya."


"Berhentilah berkata sampah! Aku mencintai Jesslyn melebihi siapapun!" Kesabaran Jeaven mulain goyah. Nama Bryan yang sedari tadi diselipkan ke dalam topik percakapan sebenarnya membuat ia resah.


Bug!


Sebuah pukulan di perut langsung membuat tubuh gagah Jeaven terbungkuk tak berdaya. Meski tak sampai tersungkur tapi cukup memberikan sensasi sakit dan ringisan di muka. Jaeden menyerangnya secara tiba-tiba. Hingga ia tak memiliki cukup kesiapan untuk menangkis atau menghindari walaupun sekejap saja.


Jeaven terlihat bersusah payah menegakkan tubuhnya karena denyutan nyeri di perut masih begitu terasa. Sebagai seseorang yang mahir dalam ilmu bela diri judo, pukulan Jaeden sebenarnya tergolong pukulan ringan tapi cukup membuat lawan kesakitan.


"Jesslyn tidak akan percaya jika aku jujur."


"Iya, aku tahu itu. Dia pasti akan menganggap ucapanmu hanyalah sebuah bualan dari seorang bajingan yang sudah menyakitinya. Tetapi kau harus tetap lakukan itu! Kalau kau tidak segera jujur bagaimana bisa ia tahu?! Aku bahkan harus memancingmu terlebih dulu agar kau mau mengaku di depanku. Bodoh!" Ternyata ucapan Jaeden yang sedari tadi melibatkan nama Bryan di setiap ucapannya hanyalah sebuah pancingan belaka.


"Aku membiarkan kau bertemu dengan Jesslyn lagi bukan berarti kebencianku langsung sirna begitu saja. Camkan itu!" Setelah meluapkan kekesalannya Jaeden pun memilih berlalu.


Mengetahui ruang geraknya untuk bertemu Jesslyn kembali leluasa, Jeaven langsung mengayun kaki meninggalkan tempat juga. Sungguh dua hari tidak bertemu dengan si wanita menyisakan sesak kerinduan di rongga dada. Bayang-bayang wajah cantik sang kesayangan terus mengusik pikirannya. Dia sudah tidak bisa menahannya lebih lama.


Tidak peduli jika Jesslyn akan marah, yang jelas cita-cita untuk merengkuh tubuhnya harus terlaksana. Tidak peduli jika tamparan meninggalkan nyeri di pipi, yang penting bibirnya berhasil menghujani ciuman di wajah si wanita.


Ah ...! Jeaven sudah rindu berat.

__ADS_1


Di sebuah restauran ....


"Aku ke toilet sebentar ya." Setelah memesan makanan Monica berniat menenangkan degub jantungnya yang tak karuan. Manik matanya beberapa kali berbenturan dengan tatapan Bryan. Itulah yang membuatnya tidak nyaman.


"Punggung Monica lama-lama bisa berlubang kalau kau tatap terus." Celetukan santai Jesslyn spontan membuat Bryan memutuskan atensinya dari Monica yang saat ini sudah menghilang di balik dinding.


"Maaf. Bukan maksudku." Bryan tampak salah tingkah karena dipergok secara terang-terangan.


"Kalau suka ya bilang aja. Aku tahu kok." Sekali lagi ucapan Jesslyn yang terlalu berterus terang menimbulkan perasaan tidak enak hati bagi Bryan.


Pria itu tidak menyangka kalau Jesslyn sudah tahu lebih dulu tentang perasaannya kepada Monica. Padahal beberapa saat yang lalu ia sudah memantapkan diri untuk mengaku di depan wanita cantik bermutiara hazel itu sebelum perasaannya kian salah arah.


"Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu."


"Aku sama sekali tidak tersinggung. Lagian dari awal hubungan kita masih sekedar berteman." Senyuman tulus membingkai manis di wajah Jesslyn.


"Sekali lagi maaf karena sudah menjadi seorang bajingan yang selalu berucap manis kepadamu tapi dengan mudahnya berubah haluan ke wanita lain."


"Dia bukan wanita lain, tapi sahabatku. Tetapi bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Silahkan."


"Sebenarnya kau dan Monica pernah ada masalah apa sih? Sahabatku itu tidak mungkin bersikap ketus kepadamu tanpa alasan."


Sorot mata Bryan tampak kebingungan untuk menjelaskan semuanya. Bisa diyakini Jesslyn akan murka setelah mendengar pengakuannya.


"Sebenarnya aku dan Monica sempat--"


Plak!


"Ahk!"


Belum sampai kalimat yang terucap bertemu titik akhir, Bryan harus dibuat terkejut karena kedatangan seseorang yang tiba-tiba menampar Jesslyn.

__ADS_1


"Ow, rupanya ini si jallang yang sedang kau dekati?!"


Bersambung~~


__ADS_2