
Damai dengkuran mengsyahdukan suasana. Hangat dekapan menyemayami raga. Di bawah selimut sepasang insan saling merajut mimpi di dalam lena. Namun, tak lama katupan mata terbuka oleh dorongan hasrat yang kembali menyapa.
Jeaven terbangun karena miliknya kembali menegang. Tetapi bukan berarti desakan libidonya dibiarkan menang. Ada hal penting lainnya yang jika tidak segera dilakukan membuat ia tidak tenang.
"Hmm, Jeav. Aku lelah," rengek Jesslyn. Lelapnya terusik oleh tingkah Jeaven yang menghujani wajahnya dengan kecupan. Bahkan sebelah gundukan sintalnya kembali menjadi sasaran remasan tangan.
"Bangunlah."
Mata setia terpejam karena beban lelah masih menyisakan rasa kantuk, Jesslyn yang semula menenggelamkan diri di ketiak Jeaven langsung merubah posisi ke terlentang. Penutup selimut sampai tersingkap hingga memamerkan tubuhnya yang sama sekali tak berbalut benang.
"Kau bermainlah sendiri, aku mau lanjut tidur." Tiada lagi kecanggungan ataupun gengsi, wanita itu bermaksud sepenuhnya memasrahkan tubuh untuk si suami.
Cetak!
"Aw!" Satu sentilan kecil dari Jeaven sukses menarik mata Jesslyn untuk terbuka. "Kenapa sih?" protesnya seraya mengusap bekas sentilan di kening.
"Bangunlah. Bersihkan badan dan makan malam. Minum susu dan vitamin."
Jesslyn melongo, tidak percaya dengan apa yang dilihat. "Kau siapa?" tanyanya yang mendadak seperti orang linglung dan konyol.
"Kau dimensia?" ledek Jeaven keheranan.
"Hish! Aku masih muda kenapa juga dimensia. Aku heran saja. Kau sekarang sangat cerewet." Selesai mencibir Jesslyn menarik selimut berniat melanjutkan tidurnya yang sempat terusik.
"Jesslyn."
"Hmm."
"Kau harus mengisi perutmu."
"Ingat. Kau tadi seperti kuda liar. Aku harus mengumpulkan kembali tenagaku yang kau kuras dengan cara beristirahat lebih lama," gumam Jesslyn. Suaranya terdengar kian mengecil lalu tenggelam ke dalam lelap.
Jeaven mendengus geli. Tidak ingin memungkiri akan ucapan si istri. Saat bermain hasratnya sungguh tak terkendali. Tubuh Jesslyn bak madu yang ingin ia sesap berkali-kali.
"Maaf ya." Jeaven mengecup pipi Jesslyn setelah berbisik lalu menuruni peraduan. Lanjut memunguti pakaian yang terkulai di lantai untuk dikenakan.
Kala kaki siap melangkah keluar sepasang manik hijaunya sempat memandangi sebuah dreamcatcher yang tergantung di bingkai jendela. Sudut bibirnya tersungging samar dengan tatapan berlimpah makna.
Akan sangat memalukan jika dia sampai tahu siapa si pengecut yang selalu bersembunyi di balik benda itu selama 10 tahun. Aku seperti anak kecil saja.
__ADS_1
Di dalam hati Jeaven menertawai dirinya sendiri. Sadar kalau ia menggila karena terpikat oleh sejuta pesona Jesslyn yang di mana dulu terlarang untuk dimiliki.
"Dasar," rutuknya lalu keluar kamar.
Tidak lama, Jeaven membawa sebuah nampan berisi makanan lalu diletakkan di atas meja. Didekati Jesslyn yang masih mendengkur di balik selimut hangatnya. Disibak sedikit selimut itu hingga menampilkan wajah lelap istrinya.
"Bangunlah. Aku sudah bawakan makanan." Suara Jeaven terdengar lembut saat berbisik. Sebenarnya ia tidak tega membuat tidur Jesslyn terusik. Tetapi perhatian untuk kesehatan istri dan calon anaknya juga tidak boleh ditampik.
"Hmm." Jesslyn menggeliat seiring dengan sepasang matanya yang mengerjap-ngerjap. Perlahan dia mulai bangkit dari balik selimut hingga mempertontonkan tubuhnya yang polos. Membuat Jeaven harus menelan berat salivanya.
"Kau yang masak?" tanya Jesslyn menaruh harapan. Tanpa disadari olahan tangan Jeaven sudah membuatnya ketagihan.
"Iya." Jeaven mengambil pakaian Jesslyn lalu membantu memakaikannya. "Tutup dulu tubuhmu agar aku tidak terpancing."
Sipuan malu terlihat dari pipi putih Jesslyn yang mendadak merona seperti habis terpapar di bawah terik matahari. Padahal beberapa saat yang lalu ia tak canggung menyuguhkan tubuhnya agar Jeaven bermain sendiri.
"Kau mencari apa?" Jesslyn keheranan melihat Jeaven seperti kebingungan mencari sesuatu.
"CDmu."
"Di sana." Jesslyn menunjuk ke arah CDnya yang tersangkut di atas lampu tidur. "Itu kau yang melakukannya." bibirnya menyebik, tidak menyangka saja Jeaven yang selalu memiliki pembawaan tenang ternyata sangat agresif di atas ranjang.
"Ihhh! Apa'an sih? Aku bisa pakai sendiri." Jesslyn segera menyabet kain tipis berbentuk segitiga itu dari tangan Jeaven.
…
"Besok aku berangkat ke Paris dan ke beberapa negara lainnya. Kau kembalilah ke London bersama Daddy dan Mommy." Usai menyantap makan malam Jeaven langsung membahas perihal schedule turnamen balapan yang harus diikuti.
"Iya."
Jeaven tersenyum karena Jesslyn kali ini sangat menurut. "Aku tidak lama."
"Iya, enam bulan tidak lama." Jesslyn bermaksud menyindir dan Jeaven menyadarinya.
"Aku akan kembali sebelum anak kita lahir."
"Tidak bisakah aku ikut saja?"
"Tidak. Kau bisa kelelahan. Wanita hamil tidak baik terlalu sering melakukan penerbangan," tutur Jeaven memberi pengertian meskipun dia juga berat meninggalkan istrinya.
__ADS_1
Gurat kecewa seketika membingkai muka. Jesslyn berdecak lalu beringsut ke dalam selimutnya. "Iya, pergi sana. Aku tidak akan menunggumu."
"Jangan seperti ini. Kau membuatku tidak tenang." Jeaven memeluk tubuh Jesslyn yang sedang membelakanginya.
"Menjauhlah."
"Tidak akan." Jeaven menarik tubuh si istri dan langsung menyambar bibirnya. Sepasang kekasih halal itu saling memagut lembut bertukar cairan saliva.
"Mau lagi?" Tatapan Jeaven kembali dipenuhi oleh gairah.
"Hm." Jesslyn mengangguk malu sebagai jawaban 'iya'. Tak menampik bahwa ia juga menginginkannya.
Jeaven langsung mengukung tubuh Jesslyn dan siap menggencarkan aksi. Tangan diajak merayapi di bagian-bagian lekuk sensitif si istri. Namun jeritan nada panggilan telepon tiba-tiba mengusik tanpa permisi.
"Angkat dulu teleponnya," saran Jesslyn.
"Iya."
Jeaven segera menggeser icon bewarna hijau untuk menerima panggilan yang ternyata dari ibu mertuanya, Allesya.
"Halo, Mom." Jeaven mulai mendengarkan. Selang tidak lama panggilan pun berkahir.
"Ada apa?" Jesslyn bertanya-tanya karena wajah Jeaven tiba-tiba berubah sendu.
"Abel menghembuskan napas terakhirnya baru saja."
"Ya Tuhan." Jesslyn terkejut dan juga merasa bersalah. "Aku merasa sudah menjadi manusia jahat yang tak berempati." Air matanya sudah terlihat membelah pipi. Ia menyesal karena sempat mempermasalahkan keberadaan anak tak berdosa itu.
Jeaven langsung memeluk tubuh Jesslyn dengan sayang, mencoba menenangkan. "Kau sekarang menangis untuknya. Bukankah ini sudah menunjukkan bahwa kau sedang berempati?"
"Tapi, Jeav."
"Sstt. Sudah, jangan terlalu sedih. Anak kita bisa ikut sedih."
Bersambung~~
Semoga para pembaca kesayangan masih setia nyimak kisah Jeaven dan Jesslyn yang hampir mendekati tamat ini. Aamiin...
Terima kasih atas segala suport kalian😘🥰
__ADS_1