
Jeaven mau tidak mau harus menelan kembali niatnya untuk mengikuti Jesslyn karena seseorang menyapanya. Disempatkan sekali lagi melihat keberadaan si wanita yang kian menjauh sebelum membalas sapaan dari pimpinan perusahaan besar yang mensponsorinya di dunia lintas balap MotoGP itu.
"Tuan Regard, senang bertemu dengan anda," ucap Jeaven seraya mencetak senyuman tipis.
"Aku tidak menyangka ini benar-benar kau? Selama ini aku hanya melihatmu saat mengenakan baju tempur balapmu." Pria yang sudah tidak lagi muda itu memindai penampilan Jeaven yang terlihat berbeda saat mengenakan jas formal. Terkesan lebih berwibawa dan berkarisma.
Kembali tersenyum tipis, itulah respon yang ditunjukan Jeaven untuk mengawali kalimatnya. "Anda sendirian saja?"
Sebelah tangan yang masih menggenggam segelas wine diajak menunjuk sekilas ke arah sang istri yang tampak berbincang dengan tamu undangan lainnya. "Seperti biasa, istriku tidak akan membiarkan pria tua ini pergi sendirian," kelakar Regard dan Jeaven pun tersenyum, meski garis lengkung di bibir hampir tak terbentuk.
"Karena beliau sangat mengkhawatirkan anda."
"Aku tahu," ucap Regard tanpa menanggalkan sunggingan di bibir. Kemudian ia melambaikan tangannya ke seorang pelayan minuman.
"Silahkan, Tuan," ucap si pelayan dengan ramah.
"Terima kasih." Regard mengambil segelas wine dari nampan.
"Sama-sama, Tuan." Si pelayan pun berlalu, melanjutkan pekerjaannya.
"Ini untukmu." Regard menyodorkan gelas berkaki panjang itu kepada Jeaven.
"Maaf. Saya tidak minum, Tuan Regard," tolak Jeaven secara halus.
"Kau sangat tidak menghargai niat baikku ini."
"Maaf, Saya tidak bermaksud."
"Ayolah, temani aku minum segelas wine saja sebelum aku keluar dari pesta ini."
Jeaven tampak berpikir sesaat. Lagian bayangan Jesslyn terus menyergap otaknya sedari tadi. Apalagi mengingat gelagat Rocky yang tak wajar. Mungkin dengan meneguk segelas saja cairan bewarna keemasan itu, obrolan bersama Regard akan berakhir dengan cepat. Dan dia bisa segera menyusul si wanita yang terus saja membuatnya frustrasi itu. Begitu spekulasinya.
Sebenarnya ia bisa saja langsung undur diri. Tapi bukankah kurang sopan jika itu dilakukan saat sebuah obrolan baru saja dimulai? Ditambah lagi Regard adalah orang yang berperan penting di dunia karirnya selama ini.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Jeaven setelah menerima segelas wine dari tangan Regard.
"Minumlah."
Jeaven mengangguk samar seiring dengan perasaan berat hati. Ia langsung meneguk tandas wine tanpa diminta untuk kedua kali. Dan tak menunggu lama, efek minuman itu langsung bereaksi. Kendati masih berupa sensasi panas di dadanya kini.
Regard seketika tersenyum senang lalu menepuk pundak kokoh Jeaven. "Bagaimana? Tidak buruk bukan? Kau bahkan masih terlihat baik-baik saja," selorohnya.
Jeaven tak lagi mengulas senyuman tipis yang menjadi ciri khasnya. Hanya anggukan kecil sebagai mengiyakan ucapan si lawan bicara. Padahal di balik itu ia tengah menahan pusing yang perlahan menggerayangi kepala.
"Kalau begitu aku undur diri dulu. Pria tua ini harus segera pulang untuk beristirahat," seloroh Regard lagi.
"Silahkan, Tuan." Jeaven mengangguk kecil dan dibalas dengan anggukan yang sepadan oleh pria tua itu sebelum berlalu.
Sebuah dessahan berat seketika tercipta. Jeaven membawa tangan menekan ringan pelipisnya, mengusir denyutan pusing berkawan hawa panas di dalam dada. Segelas wine nyata tak butuh kerja keras untuk mempengaruhi kinerja organ tubuhnya.
Di luar kondisi tubunya yang tengah berperang melawan efek minuman setan, Jeaven tak semerta lupa akan bayangan Jesslyn yang nekat pergi bersama sang mantan. Rupanya, hal itu lebih sangat mengganggu pikiran.
Sementara di salah satu sudut keramaian pesta. Jesslyn dan Rocky tengah bertatap muka. Memang ada hal yang harus dibicarakan saat ini juga. Tak sekedar ingin menghindari Jeaven saja.
"Menjauhlah selagi aku masih bisa berbicara dengan baik-baik, Tuan Rocky. Buang jauh-jauh pikiran kotor di otakmu. Aku sangat yakin kau saat ini sedang merencanakan sesuatu." Jesslyn menegaskan dengan sangat berani. Ia tahu, bukan, lebih tepatnya sangat percaya diri dengan segala prasangka tentang Rocky.
"Kau terlalu berprasangka buruk kepadaku, Jesslyn." Rocky masih menunjukkan gelagat tebal muka. Bahkan di dalam hati ia menyeringai penuh makna. "Aku hanya ingin menjalin kembali hubungan baik bersamamu. Dan akan lebih menyenangkan lagi kalau kita bisa saling menjalin kemesraan seperti dulu."
Ya Tuhan ... ingin sekali kumelemparnya dari lantai seratus! Dasar tidak punya malu!
Jesslyn menjerit di dalam hati. Andai tidak sedang banyak mata saat ini, pasti ia akan kembali beraksi dengan tingkahnya yang berani.
Sudah tidak tahan lagi, akhirnya makhluk cantik itu mengeluarkan cara andalannya. Tak pakai lama, ia menelepon sahabatnya, Monica.
"Ada apa? Aku sedang kencan." Terdengar suara Monica langsung bertanya sekaligus menekankan bahwa ia merasa terganggu dari seberang panggilan.
"Tolong kirim rekaman itu ke nomor telepon Rocky," pinta Jesslyn.
__ADS_1
"Iya nanti."
"Tidak! Harus detik ini juga." Jesslyn langsung memutuskan panggilan secara sepihak, yang sudah diyakini Monica langsung bersumpah serapah di luar sana.
Beberapa saat kemudian, Rocky yang memang sudah diserang ribuan pertanyaan seketika dibuat terkejut. "K-kenapa?"
"Iya itu, rekaman CCTV saat aku memergokimu tengah berbuat mesum di taman. Kau harusnya berterima kasih kepadaku, karena aku sudah menggelontorkan banyak uang agar rekaman ini tidak tersebar luas. Tapi ... jangan salahkan aku jika pada akhirnya jiwa jahatku pada akhirnya mengambil peran." Jesslyn sedikit mencondongkan mukanya ke arah Rocky lalu berbisik.
"Kau pasti bisa membayangkan jika rekaman ini ditonton oleh banyak orang. Aku yakin, kau akan memilih untuk mengakhiri hidupmu. Jadi, pikirkan sekali lagi jika ingin bertindak kotor kepadaku. Menjauhlah dan jangan buat aku risih dengan keberadaanmu," tegas Jesslyn sekali lagi lanjut menegak habis wine miliknya yang masih sisa setengah.
Sebenarnya, Jesslyn sudah merasa tidak nyaman di tubuhnya. Sensasi panas tiba-tiba menjalar selaras dengan detak jantung bekerja cepat. Di tarik jas yang diberikan Jeaven tadi agar lebih rapat menutupi tubuhnya. Bahkan bayang wajah tampan pria itu kembali terngiang-ngiang.
Di saat seperti ini, sungguh sosok Jeaven yang paling ingin ditemuinya. Berhamburan ke dalam dada bidangnya. Namun, ia tidak mungkin meruntuhkan keteguhan hatinya begitu saja.
Anti terlihat lemah di depan Rocky, Jesslyn melenggang pergi menuju pintu keluar ballroom, meninggalkan pria itu yang masih membatu.
Sial! Wanita ini ternyata tidak mudah didekati. Tapi rencanaku sudah setengah berjalan. Akan sangat nanggung jika tidak dilanjutkan.
Seakan dorongan nafsunya lebih penting dari segalanya, Rocky memilih membuntuti Jesslyn yang tampak berjalan tergesa-gesa.
Sepertinya obatnya sudah bereaksi. Tidak rugi aku membayar pelayan minuman tadi.
Ternyata Rocky sudah mengambil satu langkah lebih cepat dari Jesslyn. Beberapa saat yang lalu, ia meminta seorang pelayan untuk mengantarkan segelas wine yang mengandung obat perangsang.
Setidaknya aku harus mencicipi tubuhnya dulu. Tentang rekaman itu, akan aku pikirkan setelah ini.
Bersambung~~
Meskipun pembaca karya ini sangat minim tapi Nofi tetap ingin menyampaikannya.
Maaf ya, untuk beberapa hari Nofi tidak bisa rajin up karena tuntutan pekerjaan di dunia nyata.
Ini saja, Nofi ngetik sambil nunggu kakek di RS. Maaf ya jika kurang dapat feel ceritanya🙏
__ADS_1