
"Jennis sayang, kau mau ke mana?" Jenny menarik tangan si putra bungsunya itu, mencegah langkah kakinya yang diyakini akan mencari keberadaan Jesslyn.
Bukan Jenny tidak peduli dengan keadaan Jesslyn. Hanya saja Kondisi kesehatan putranya saat ini memerlukan pengawasan ketat, khususnya ketika melakukan kegiatan di luar rumah.
Hari ini perihal kabar pernikahan Jeaven dan Verlin cukup membuat frustrasi sepasang orang tua, Jeffrey dan Jenny. Belum lama mereka harus dirundung sesal karena raut sedih Jesslyn dan sekarang berganti Jennis yang dikacau oleh kecemasan.
Beberapa saat selepas kepergian Jesslyn, Jenny kembali berkeluh kesah kepada sang suami perihal Jesslyn yang mengetahui kabar pernikahan Jeaven. Dan percakapan mereka tanpa sengaja terdengar di telinga Jennis.
"Jesslyn pasti sedang sangat terpuruk sekarang. Dia membutuhkan bahu seseorang untuk bersandar, Mom." Jennis mengespresikan seluruh kekhawatirannya di depan kedua orang tuanya.
"Kami tahu itu, tapi kau juga tidak boleh lalai dengan kesehatanmu." Jeffrey memperingatkan.
"Apa yang dikatakan Daddymu benar, Sayang. Jika kau kembali drop Jesslyn pasti bertambah sedih," timpal Jenny.
Jennis meraup dalam udara di depan hidung, mencoba menenangkan diri dan sekaligus mencerna dengan baik nasehat Jeffrey dan Jenny. Sedetik kemudian ia melabuh tatapan meminta pengertian pada kedua orang tuanya yang tengah bermimik cemas itu secara bergantian.
"Bisakah Mommy dan Daddy mempercayaiku seperti halnya kalian mempercayai Jeaven? Tenang saja, aku hanya pergi ke rumah Jesslyn yang berada di sebelah rumah kita. Aku akan menunggunya di sana."
"Mommy temani kamu ya?"
"Ayolah, Mom. Jangan buat aku seperti pria lemah di depan Jesslyn." Jennis menolak diiringi tawa kecilnya.
"Ijinkan aku menjadi seorang pria yang berguna untuk wanita yang kucintai sebelum menutup mata untuk selamanya," imbuh Jennis menegarkan perasaannya, menutup awan kelabu di wajah dengan senyuman terbaiknya.
Hati orang tua mana yang tidak bergetar kala mendengar ucapan sang putra yang mengingatkan akan perpisahan? Apalagi perpisahan yang dimaksud berkaitan dengan kematian. Jeffrey dan Jenny sama-sama tengah menekan denyut pilu di atas ketabahan.
"Baiklah, Sayang," ucap Jenny akhirnya membiarkan Jennis melakukan apa yang diinginkan.
"Terima kasih." Jennis langsung berlalu setelah berkata.
…
Jesslyn menapak lemah pesisir jalan tanpa arah tujuan, hanya mengikuti ke mana arah kakinya melangkah dengan perasaan tak karuan. Ragam rasa bergelut di dada melemahkan akal pikiran.
Jesslyn ... kini bagaikan bunga yang kering di musim kemarau. Pupus harapan cinta bak kelopak gugur tertiup angin mendesau. Terbang bersama isakan parau, lalu terkapar lemah di bawah ganasnya terik mentari yang berkilau.
__ADS_1
Memang ia mencoba menyerah akan cintanya, tapi kenyataan berkata bahwa hati belumlah siap sempurna. Jeaven menikah dengan wanita lain tentu ia menuai luka di relung jiwa.
Ditambah kesucian ternoda disusul oleh cinta tak lagi berpegang asa. Lengkap sudah penderitaanya.
Tiiinnn ...!
"Jesslyn!"
Jesslyn terhenyak dari lamunan kala seseorang menarik tubuhnya. Hingga ia tersadar bahwa Jennis baru saja menyelamatkannya dari laju mobil yang hampir saja menabraknya.
"Apa kau ingin mati?!" Sentak Jennis bercampur khawatir yang teramat tinggi.
Jesslyn tak langsung menjawab dan malah memindai ke sekitarnya. Ternyata ia sekarang berada di persimpangan jalan yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Dan dia juga baru ingat bahwa setelah keluar dari bangunan gereja mobil ditinggalkan begitu saja.
"Jesslyn, apa kau baik-baik saja?"
Suara Jennis kali ini sukses menarik penuh atensi Jesslyn.
"Jennis," lirih wanita itu seiring dengan denyutan perih yang mendobrak air mata. "Jennis, aku ingin mati saja." Tangisan Jesslyn pecah sudah. Sekali lagi ketegaran hatinya berakhir di pelukan pria yang selama ini selalu ada ketika ia terluka.
"Kenapa rasanya sakit sekali? Aku sungguh kesakitan!" Rintih wanita itu yang kian terisak. Sungguh, rongga dadanya serasa penuh dan ingin meledak.
Aku jauh lebih sakit ketika melihatmu seperti ini. Bahkan rasa sakitnya melebihi rasa sakit saat penyakit menggerogoti tubuhku.
Keluh Jennis di dalam hati.
Untuk beberapa saat Jennis memberi ruang pada Jesslyn menumpah segala luka lara ke dalam pelukannya. Tidak ketinggalan pria itu memberi usapan penenang di punggung dan kecupan sayang di pucuk kepala si wanita. Hingga goncangan tubuh karena menangis kian mengecil seiring dengan isakan yang perlahan mereda.
"Jennis, aku tidak yakin luka hatiku ini akan bisa sembuh. Jeaven menancapkan pisaunya terlampau dalam." Jesslyn masih berkeluh kesah di pelukan Jennis.
Jennis sedikit mengurai pelukannya, memudahkan mata menjangkau wajah Jesslyn yang tampak basah. Jemari menyeka lembut cairan kesedihan yang tak dibiarkan menjajah kecantikan si wanita terlalu lama.
"Sudah aku katakan berulang kali, jika kau terluka jadikan aku sebagai obatmu."
"Aku akan sangat jahat jika menjadikanmu sebagai tempat pelarianku." Suara masih terdengar bergetar, bertanda kesedihannya belum sepenuhnya pergi.
__ADS_1
"Coba katakan, apa kau merasa nyaman bersamaku saat ini?" Jennis menatap lekat sepasang mutiara hazel milik Jesslyn.
"Aku selalu nyaman bersamamu," jawab Jesslyn sesuai hati yang berkata. Namun, bilik hati yang lain juga berbisik bahwa ia lebih merasa nyaman saat berada di pelukan Jeaven kendati pria itu sering menyayat hatinya.
Senyuman senang seketika terbit di bibir Jennis. Jawaban Jesslyn bagaikan mata air surga yang terasa manis.
"Itu berarti aku bukan sebagai tempat pelarianmu, tapi sebagai tempat kenyamananmu. Tidak apa-apa kau mengingatku hanya di saat bersedih hati. Setidaknya keberadaanku bisa berguna untukmu dari pada tidak sama sekali." Jennis kembali menghadiahi kecupan lembut di kening membuat Jesslyn reflek mengerjapkan mata karena terkejut.
"Kenyataan memang tak selalu beriringan dengan harapan tapi bukan berarti kita harus dilanda keputusasaan," tutur pria itu lagi.
"Jennis," lirih Jesslyn dengan tatapan haru. Ia tidak menampik bahwa sosok Jennis selalu hadir di saat ia berderai air mata.
"Aku mencintamu, Jesslyn. Aku mohon pilih aku sebagai obatmu." Terbuai dengan ungkapan cinta yang meluncur dari bibirnya sendiri, Jennis langsung mencium bibir Jesslyn tanpa permisi.
Pria itu sedikit merasakan dorongan di dada karena Jesslyn melakukan penolakan. "Beri aku kesempatan sekali saja." Jennis meminta segenap hati.
"Tapi, Jenn."
"Please." Jennis tak pantang menyerah. Ia kembali mencium Jesslyn yang tampak bergeming.
Sementara dari sudut tidak jauh dari Jesslyn dan Jennis berada, sepasang mata menyaksikan adegan manis di antara mereka dengan berbagai perasaan yang bergumul di dada. Dari balik kaca mobil sebuah senyuman terbentuk, tapi tiada yang tahu apa arti senyuman itu sebenarnya.
"Sebagai kakak, hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu. Berbahagialah."
Bersambung~~
Maaf, up nya telat lagi🙏😅
Dan bab ini hampir saja Nofi hapus karena merasa nggak dapat feelnya sama sekali. Tapi kalau dipikir-pikir sayang juga kalau dihapus. Jadi Nofi up apa adanya🙏
Terima kasih ya atas dukungan kalian untuk karya ini...
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen. Vote dan gift juga sangat nofi harapkan juga loh..🥰
bye-bye🥰😘
__ADS_1