Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Rasa Yang Terpendam


__ADS_3

Verlin menangkap ekspresi Jeaven yang langsung berubah saat punggung Jennis tak lagi tertangkap mata. Berbeda dari sebelumnya, kali ini kesan tak biasa meraut wajah tampannya. Namun, ia gegas menepis segala praduga di kepala.


"Kau tidak seharusnya bersikap seperti itu, Jeav. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada menerima ucapan kasar dari seseorang yang dicintai. Itu yang dirasakan Jesslyn saat ini." Verlin rupanya juga kecewa dengan sikap Jeaven.


Jeaven tidak langsung memberi jawaban. Hanya dessahan samar sebagai tanggapan. Dipandangi wajah Verlin yang masih menampakkan kekecewaan.


"Aku hanya berusaha bersikap tegas," sanggah Jeaven.


"Tegas boleh, tapi harus pada tempatnya."


"Iya aku tahu."


"Kau mau ke mana?" Cegah Verlin saat pria itu mulai membalik badan dan siap melangkah keluar.


"Kau harus beristirahat."


"Kenapa cepat sekali kau akan pergi? Apa tidak ada yang ingin kau sampaikan kepadaku?" Bagaimanapun juga Verlin mengharapkan sebuah perhatian dari Jeaven.


Ujung kaki Jeaven yang semula sudah menghadap pintu keluar kembali diputar menghadap Verlin. Dipandangi wajah bulat di depannya dengan tatapan tak terbaca.


"Aku berterima kasih atas jasamu dan akan memberimu kompensasi besar atas musibah yang menimpamu. Dan lain kali jangan kau lakukan itu lagi. Jangan jadi pahlawan dengan mengorbankan dirimu untuk orang sepertiku, sekalipun aku yang menggajimu sebagai manajer."


"Ini bukan hanya sekedar tugas yang aku emban sebagai manajermu, tapi karena dorongan hati, Jeav," sela Verlin dengan sorot mata penuh makna.


Entah dari mana datangnya keberanian itu. Sebuah rasa di hati tiba-tiba menggebu, mendorong sebelah tangan meraih jemari besar pria itu.


"Apa kau pikir aku akan rela melihatmu terluka? Itu tidak mungkin, Jeav." Perlahan Verlin mulai membawa ke permukaan perasaan yang selama ini ia pendam. "Apa kau tidak tahu itu?"


"Aku sudah tahu dari dulu," jawab Jeaven terkesan datar. Seolah rasa spesial dari Verlin untuknya tak berarti apa-apa.


Beda halnya dengan Verlin yang langsung menampakkan perubahan mimik di mukanya. Ia tidak menyangka saja kalau Jeaven begitu peka akan perasaannya.


Di saat seperti ini ia merasa usahanya untuk memendam rasanya sia-sia saja. Yang ada, dia malah terkesan seperti seekor keledai betina. Tidak Jesslyn dan juga Jeaven, mereka sama-sama sudah mengetahui isi hatinya. Dan dia tidak menyadari hal itu sejak lama.


Memalukan!


"Maksudnya ... kau tahu kalau aku--"


"Menyerahlah dengan perasaanmu itu jika tidak ingin terluka lebih lama," tandas Jeaven. Garis-garis serius terpahat jelas di wajahnya yang tampan tapi dingin itu.

__ADS_1


Verlin seketika menunduk lemah guna menyembunyikan raut sendu di muka. Kendati hal itu percuma saja. Jeaven masih bisa melihatnya. Dengan jelas pula.


Sedetik kemudian ia kembali berusaha menguasai rongga dada yang mulai bergetar. Dicetak senyuman terbaik di bibir dengan binar mata tegar.


"Hah ... jadi begini yang dirasakan Jesslyn saat kau menolaknya berkali-kali. Rupanya patah hati itu sakit sekali. Aku jadi salut kepada teman masa kecilmu itu. Dia kuat dan gigih," kelakar Verlin, tapi dia benar-benar serius dengan ucapannya.


"Aku tidak akan memaksamu. Anggap saja kau tidak tahu-menahu tentang perasaanku. Mari kita tetap bersikap seperti biasanya. Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman." Verlin masih berusaha mati-matian bersikap bijak. Tidak ingin perasaan bertepuk sebelah tangannya meretakkan hubungan di antara dia dan Jeaven yang selama ini terjalin baik.


"Beristirahatlah. Kau kuberi cuti hingga lukamu sembuh," tutur Jeaven, tanpa menanggapi serangkaian kalimat wujud dari ketegaran Verlin. Lebih tepatnya, ia tidak ingin membahas hal itu terlalu lama.


"Bolehkah aku bertanya?" Lagi-lagi Verlin mencegah Jeaven yang berniat meninggalkan kamar.


"Hm."


"Apakah alasan kau menolakku karena belum bisa move on dari wanita masa lalumu?" Verlin kembali mengungkit kisah Jeaven yang kebetulan diketahuinya sejak lama.


Raut dingin Jeaven perlahan memudar, tergantikan sorot mata nanar. Helaan berat pun terdengar. Gelagatnya itu mampu mewakilkan kisah perasaanya yang besar.


"Aku tidak pernah menganggapnya sebagian dari masa laluku."


"Jadi kau tidak pernah mencintainya?"


"Jadi kau sangat mencintainya?"


"Iya."


"Siapa wanita itu?" Verlin kian penasaran. Kendati hatinya menuai pilu.


"Berhentilah bertanya dari pada harus menahan sakit hati."


Tercengang, ucapan Jeaven begitu menohok hatinya. Namun, dia tidak ingin menyangkalnya. Pria itu memang benar dalam berkata. Verlin memang terluka oleh rasa.


"Aku merasa kau mulai narsis," cebik Verlin.



Langkah cepat Jesslyn seketika tersendat seiring dengan gejolak yang mulai merambati jiwa. lempengan kristal cantik yang berguguran dari langit menciutkan keberaniannya. Irama degub jantung pun mulai tak seirama. Takut, Itu yang dirasa.


Beruntung rasa mengerikan yang menyesakkan dada itu tidak berlangsung lama. Perlahan ketakutannya sirna, karena sebuah dekapan hangat di tubuhnya.

__ADS_1


"Jennis ...," lirih Jesslyn yang kian menenggelamkan wajah pucatnya di dada pria itu. Saat ini ia sangat butuh sentuhan hangat yang membuatnya tenang.


"Kau lagi-lagi bertindak ceroboh. Di luar sedang turun salju dan kau kembali nekat pergi sendirian. Kenapa kau suka sekali membuat orang lain mencemaskanmu?"


"Maaf." Jesslyn hanya menanggapi singkat omelan Jennis.


Jennis sedikit mengurai pelukannya, lalu merangkum sayang kedua pipi Jesslyn. Dipandang teduh wajah cantik wanita di depannya itu. "Maafkan atas sikap kasar Jeaven tadi. Percayalah, dia sebenarnya sesosok yang penyayang dan berjiwa pelindung." Ia mencoba meminta pengertian Jesslyn. Meski ia juga kecewa dengan sikap Jeaven.


"Tapi kenyataannya dia sudah terlalu sering menyakiti perasaanku," bantah Jesslyn.


"Dia sebenarnya peduli kepadamu, hanya saja sikapnya kadang memang sangat menyebalkan."


"Dia memang menyebalkan! Rasanya aku sangat menyesal sudah menyukainya. Ak--" Kalimat Jesslyn mau tidak mau harus terjeda saat Jennis kembali menenggelamkan tubuhnya kedalam pelukan.


"Kalau dia terus melukaimu maka kau bisa jadikan aku sebagai obatmu." Naluri perasaan perlahan mendorong bibirnya melabuhkan kecupan hangat di pucuk kepala Jesslyn. "Kau juga bisa beralih menyukaiku. Aku akan memperlakukanmu seperti tuan putri."


Merasa perlakuan yang diterima berlebihan, Jesslyn mencoba lepas dari pelukan Jennis. Dipasang wajah cemberut sebagai bentuk protes. "Dasar kang modus! Jangan suka menciumku sembarangan jika tidak ingin aku memukulmu!"


Alih-alih menciut dengan omelan Jesslyn, Jennis justru tergelak. "Kau sangat menggemaskan."


"Jennis! Kau sangat tidak sopan!" Geram Jesslyn saat Jennis kembali mencium ujung dahinya. Tapi herannya, dia tidak akan bisa marah berlama-lama dengan pria itu.


"Apa kau ingin menonton film?"


"Pergi ke bioskop di saat turun salju adalah ide yang buruk."


"Tenang saja. Aku tahu tempat yang bagus untuk menonton film."


"Di mana?"


"Kau akan tahu nanti. Sebaiknya kita membeli cemilan dulu." Jennis merangkul pundak Jesslyn lalu menggiringnya menuju parkiran mobil.


"Aku tidak suka yang terlalu manis."


"Aku tahu."


"Aku ingin kripik kentang rasa original dan teh susu tanpa gula."


"Kau lama-lama sangat cerewet."

__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2