Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Berat Hati


__ADS_3

Di bandara internasional Zurich, Swiss.


"Maaf, sementara aku tidak bisa menemanimu." Jeaven tak bosan-bosan meminta pengertian Jesslyn yang masih setia memasang wajah masam. Sikap si istri sungguh membuatnya berat untuk meninggalkan.


"Iya, hati-hati." Jesslyn berkata sembari mengulas senyuman tipis, meski hatinya tidak ikhlas.


Hati memang tak berdaya untuk mengelak bahwa ia mulai mengartikan sosok Jeaven selayaknya kebutuhan primer. Sebuah kebutuhan yang lebih utama dari pada kebutuhan sekunder ataupun tersier. Sebuah kebutuhan lahiriah yang mampu melengkapi ruang batiniah.


"Baik-baiklah di rumah. Jangan pergi sendirian," tutur Jeaven seraya membenahi scarf di leher Jesslyn agar bekas hasil karyanya semalam tidak terlihat orang lain. "Bercak merahnya keliatan," ucapnya lirih sekali.


"Hish! Kau pergi begitu saja setelah meninggalkan banyak tanda," sungut Jesslyn.


"Sstt! Kecilkan suaramu." Jeaven melirik sekilas ke kedua mertuanya yang terlihat mengulum senyum di belakang Jesslyn. Jujur pria itu gemas dengan sikap ketus si kesayangan tapi juga terkesan manja.


Sementara di sebelah Jeaven tampak manajer Brent yang diam-diam tengah menahan keterkejutan di dalam dada. Pasalnya tidak ada slentingan angin apapun selama ini tiba-tiba anak pantauannya itu sudah menikah saja. Dia hanya tahu, beberapa hari ini sang pembalap dunia itu terus saja mengundang rasa pusing di kepala.


"Sayang, kau jaga diri ya di sana. Ingat istri dan calon anakmu selalu menunggu di rumah." Allesya menuturi sembari membelai punggung Jesslyn yang masih setia memasang rona masam di muka sedari tadi. Sebagai seorang ibu yang juga pernah mengandung, dia sangat mengerti perasaan sang putri kala berjauhan dengan suami. Apalagi di saat hamil seperti ini, tentu terasa berat jika ditinggal pergi.


Jeaven memandangi wajah teduh kedua mertuanya, Allesya dan Sean secara bergantian lalu senyuman tipis terbit di bibir. "Iya," jawabnya dengan singkat.


"Kalau istrimu ini bandel biar Mommy yang marahi dia," imbuh Allesya lagi.


"Tolong jangan marahi istriku, Mom."


"Pukul juga nggak boleh?" goda Allesya.


"Apa lagi itu. Jeaven tidak akan rela," ucap Jeaven, sekilas mengusap lembut pipi Jesslyn yang samar-samar menyimpan sipuan malu. Ucapan sederhananya tentu membuat hati si istri berbunga-bunga kendati tidak ada orang yang tahu.

__ADS_1


Allesya dan Sean tertawa kecil bersama. Kehamilan Jesslyn memang berawal dari kesalahan yang tak pernah dinyana. Tetapi nyatanya menjadikan Jeaven sebagai menantu membawa kebanggaan tersendiri di hati mereka.


Kedua orang tua itu bisa menilai bahwa di balik sifat dingin Jeaven ada kepribadian kehangatan yang tersimpan. Meskipun sifat itu hanya ditunjukkan kepada orang-orang kesayangan. Tetapi justru itu yang membuat mereka menaruh segenap kepercayaan. Kepercayaan kalau sang menantu adalah penganut lingkar kesetiaan dalam sebuah hubungan.


"Maaf, sebaiknya kita segera masuk. Jadwal penerbangan kita sebentar lagi tiba." Suara Brent menelusup ke dalam percakapan.


Jeaven mengangguk mengerti. Sesaat ia terlebih dahulu menaruh atensi kepada si istri. Sebelah tangannya terulur dan menarik tubuh sang pujaan hati, memeluk dan mencium pucuk kepala dan pipi, menyalurkan perasaan cinta disertai rindu yang tentu tak langsung bisa terobati, karena jarak pemisah akan membentang sampai dua musim panas dan gugur silih berganti.


"Jangan nakal."


"Iya."


"Aku pergi, ya."


"Iya." Jesslyn hanya menjawab dengan sepatah kata saja, tapi cengkeraman jemarinya di kain dada Jeaven cukup mengisyaratkan bahwa hati tidak rela.


"Aku tidak janji."


Kali ini Jeaven mengalihkan suara ke mode berbisik di telinga Jesslyn. "Terima kasih untuk sarapan paginya tadi. Aku akan merindukanmu."


"Ih! Apa'an sih!" desis Jesslyn yang juga berbisik bersamaan tangan memukul manja dada bidang suami. Lagi-lagi ia harus tersipu malu karena tahu kemana arah tujuan perkataan Jeaven tadi.


Puas menggoda wanitanya Jeaven mulai mengurai pelukan meski terasa berat hati. Kemudian atensi berganti kepada kedua mertuanya yang masih mengamati. "Mom, Dad. Jeaven pergi dulu."


"Iya, Sayang," sahut Allesya tersenyum lembut begitu juga dengan Sean.


Jeaven dan Brent yang hampir memutar badan harus terurungkan saat seseorang wanita memanggil seraya berlari mendekat.

__ADS_1


"Papa, tunggu!"


"Callena, Papa kira kau tidak jadi menyusul?" Brent menyambut sang putri raut bertanya-tanya.


"Mana mungkin. Aku hanya sedikit terlambat saja," jelas Callena lalu menggilir perhatian ke Jeaven. "Hai, Jeav," sapanya antusias tapi tak mendapat respon hangat.


Jeaven malah memilih melempar senyuman tipis ke Jesslyn sebelum memilih berjalan duluan menuju ruang check-in. Tidak lama Brent dan Callena juga menyusulnya setelah mengangguk permisi kepada Jesslyn, Allesya dan sean.


"Aku tidak menyukai wanita itu," gerutu Jesslyn seraya menatap sinis punggung Callena yang dari jauh kelihatan terus mencoba mengajak interaksi Jeaven. "Dari tatapannya saja aku bisa membaca bahwa dia menyukai Jeaven."


"Kau harus percaya kepada suamimu, Sayang. Suamimu itu bukan tipe pria yang mudah termakan oleh rayuan godaan wanita lain," tutur Allesya.


"Sayangnya, aku belum bisa sepenuhnya percaya kepada dia yang dulu sering menyakitiku." Jesslyn langsung memutar badan dan pergi dengan membawa suasana hati tidak senang.


"Maklumi saja, Alleysa. Putri kita juga butuh waktu. Lagian jika diperhatikan dia sudah mulai bisa menerima Jeaven sebagai suaminya." Sean ganti menuturi Allesya yang terlihat menghela napas karena sikap si putri.


"Iya kau benar."


Sementara di dalam pesawat Jeaven sudah menempati bangku di dekat jendela, menikmati pemandangan di luar dan mengabaikan keberadaan Callena yang duduk di sebelahnya.


"Jeav, bisakah kau membantuku memakai seat belt ini. Aku tidak bisa," pinta Callena yang memang terlihat kesulitan mengenakannya.


Dilirik malas Callena, Jeaven sebenarnya tidak nyaman dengan keberadaan wanita itu. "Nona." Dia memanggil seorang pramugari yang kebetulan sedang lewat.


"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Pramugari berparas cantik itu menyambut dengan sangat ramah.


"Sepertinya wanita ini butuh bantuanmu," ucap Jeaven lalu meletakkan tas miliknya tepat di tengah-tengah untuk dijadikan pembatas untuk menghindari interaksi lebih jauh dengan putri manajernya itu. Selanjutnya ia memilih memejamkan mata untuk beristirahat.

__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2