
Hari kian tenggelam dalam malam suram. Langit tak berkawan bintang, sang rembulan pun berwajah muram. Selayaknya hati Jesslyn yang kelam, belenggu kecewa membungkam rima suka cita hingga karam.
Setelah mengantar Jesslyn pulang ke apartemen Jeaven langsung pergi begitu saja, meninggalkan si wanita kesayangan tanpa sepatah kata. Pria yang juga sedang terkukung hasrat kecewa itu memang enggan menunjukkan luka laranya di depan istri tercinta.
Hati enggan menggemakan dusta, dibanding-bandingkan dengan pria lain tentu Jeaven tidak terima. Sekalipun pria lain itu adalah almarhum adiknya.
Insan mana yang tidak sakit hati kala menjadi korban perbandingan. Apalagi bagi kaum adam yang sejak dulu diberi cap 'makhluk dengan harga diri paling tinggi di dunia'. Kebanggaan diri mereka bisa seketika sirna. Apalagi yang membandingkan adalah wanita yang dicinta.
Disama-samakan saja tidak enak. Dibanding-bandingkan lebih tidak enak. Bisa bikin sesak.
Masih berpijak di ruang tamu, lidah Jesslyn terus saja menggerutu. Wajah cantiknya masih setia bermandikan air mata seraya tergugu. Relung hati meraung pilu.
"Seburuk-buruknya seorang suami di dunia ini dia adalah yang terburuk. Aku sangat membencinya. Sekarang dia pasti akan kembali bersenang-senang dengan wanita itu." Jesslyn kian berderai air mata, merenungi nasibnya yang dirasa tak seberuntung wanita di luar sana.
"Dia memang tidak sebaik Jennis." Lagi-lagi dia membanding-bandingkan seolah tiada setitik kebaikan yang tersemat pada diri Jeaven. "Kenapa harus Jennis yang pergi? Kenapa tidak dia saja yang pergi?" Pikiran kalut dan perasaan kacau membuatnya berkata sembarangan yang mungkin saja ia tidak akan kuat menghadapi kenyataan jika itu benar-benar terjadi.
"Ahk! Sakit ...." Jesslyn merintih kala merasakan kram di perut dan kakinya. Dengan hati-hati ia mendaratkan tubuh di sofa. Emosi yang terlampau lepas kendali ternyata memberi efek pada kandungannya. Kendati hanya efek ringan tapi tetap saja terasa menyiksa.
Jesslyn bersandar pasrah sembari menunggu rasa nyeri kram mereda. Kala terdiam menahan sakit tiba-tiba bayangan akan segala perhatian Jeaven melambai-lambai di atas kepala.
Biasanya si suami akan sigap menggendong dan memberi pijitan ternyaman hingga ia tidak perlu berlama-berlama didera kesakitan. Memang baru beberapa hari menikah sudah banyak perhatian yang Jeaven berikan. Tetapi semua itu seakan tak tampak di mata Jesslyn yang dibutakan oleh kekecewaan.
"Semua perhatiannya itu hanya sebagai bentuk tanggung jawab atas kesalahannya saja, bukan karena cinta. Bukankah itu berarti dia tidak tulus?" Jesslyn kian memperkuat cara pandangnya tentang Jeaven. Cara pandang yang justru kian menyeretnya dalam bahana siksa perasaan.
Merasa lelah dengan emosinya sendiri Jesslyn menghela napas, mencoba mendinginkan otak yang panas, melunakkan hati yang keras. Walaupun kekecewaan terhadap Jeaven belum tuntas, paling tidak kewarasannya tidak terkuras.
__ADS_1
Sesaat ia terdiam sembari netra memindai malas ruang apartemen milik Jeaven yang sengaja ia tempati semenjak kembali ke London. Sebuah apartemen yang dulu pernah ditempati Verlin sebelum meninggal. Tiba-tiba dadanya pun terasa sesak. Lagi-lagi pikiran negatif menggerogoti isi kepala.
Tidak tahan akan gemuruh perasaan tak nyaman, Jesslyn gegas beranjak menuju ruang peraduan. Wanita itu ingin segera membebaskan diri dari kepenatan. Penat badan dan pikiran.
Brak!
Tangan yang hampir meraih handle pintu kamar tetiba terurungkan kala Jesslyn mendengar suara seperti benda terjatuh di ruang sebelah. Jantungnya berdebar tak karuan karena dirundung rasa takut. Setahunya tidak ada orang lain selain dia di apartemen itu sekarang.
"Apakah ada maling?" lirihnya bertanya-tanya.
Dengan langkah pelan dan perasaan was-was Jesslyn memberanikan diri membuka pintu ruangan asal sumber suara tadi. Hingga ia kembali lega karena apa yang ditakutkan tidak terjadi.
Tadi sebelum keluar dia lupa untuk menutup Jendela. Kebetulan cuaca malam kali ini sangat berangin hingga daun jendela beberapa kali terbanting hingga menimbulkan suara.
"Fyuh! Aku pikir apa tadi." Jesslyn reflek bersandar di dinding, tapi tiba-tiba merasakan ada yang aneh dengan medan datar yang dijadikan tempat bersandar itu.
Ia memutar badan dan mengamati dinding berdesain kayu itu. "Ternyata ini sebuah pintu," monolognya pada diri sendiri. Dia baru tahu kalau ruang baca tempat ia berpijak sekarang terhubung dengan ruangan lain. "Apa ini sebuah ruangan rahasia?"
Rasa penasarannya kian menjadi, tapi sayang tidak bisa langsung terobati. Nada dering panggilan tiba-tiba berbunyi. Dahinya mengernyit saat melihat panggilan dari nomor yang tidak dikenali.
"Halo." Jesslyn mulai mendengarkan.
"Ini Jesslyn, 'kan?" Terdengar suara lembut seorang wanita dari seberang telepon. Jesslyn kian bertanya-tanya.
"Maaf, dengan siapa aku sedang berbicara?"
__ADS_1
"Aku, Callena."
Bersambung~~
Maaf sekali, bab ini sedikit pendek🙏 Dan Nofi ingin sekalian mengumumkan kalau judul karya ini diganti ya. Jadi Terjerat cinta Sang Pembalap.
Terima kasih masih setia mengkawal kisah cinta Jeaven dan Jesslyn ya🥰 Sekalian Nofi kasih bonus visual nih😁
Jeaven Allison/ Ice Gun J.J
Jesslyn Seanie Willson
Ini saat mereka akur😍
__ADS_1