Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Tindakan Jeaven


__ADS_3

Gema langkah kaki mengikuti gerak kemana tubuh gagah itu berjalan. Tapak demi setapak dibawa menyusuri lorong bangunan. Hingga pijakannya berhenti di sebuah ruangan. Dia yang tak lain adalah Jeaven Allison, langsung mengambil posisi duduk dengan pembawaan diri yang sulit diartikan.


Dua orang pengawal sudah berada di sana. Terlihat di tengah ruangan seorang pria terikat di atas kursi dengan tak berdaya. Setelah acara konferensi pers selesai, Jeaven tak langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Verlin yang terluka, melainkan ia datang ke sebuah ruangan di mana masih berada di dalam satu gedung yang sama.


"Belum juga mau buka mulut?" tanya Jeaven kepada si pengawal. Nada bicara terkesan santai.


Namun, di balik masker dan topi yang dipakai, sorot matanya terlihat tajam mengkilat. Bahkan, nyali si pelaku lempar air keras yang masih terikat di kursi itu seketika menciut.


"Maaf, Tuan. Kami sudah berusaha membuatnya membuka mulut, tapi dia sepertinya tidak bisa berbicara," lapor salah satu seorang pengawal.


Jeaven belum lagi berkata, tapi tatapan mengitimidasinya tak kunjung lepas dari tersangka. Sedetik kemudian, decihan meremehkan terdengar dari bibirnya. Ia tahu, orang di hadapannya itu sedang menyimpan ketakutan di balik rasa keras kepala.


Dirogoh sebuah benda dari saku celananya. Sesaat ia tampak mengotak-atik ponselnya kemudian menyodorkan layar benda pipih itu tepat di depa mata si pelaku. "Apa orang ini yang menyuruhmu?" Jeaven menunjukkan sebuah foto seseorang yang beberapa hari ini menjadi pusat kecurigaannya.


Si pelaku terlihat mencoba menjawab, tapi tidak satu pun dari penghuni ruangan mengerti dengan apa yang dikatakan. Sepertinya apa yang dilaporkan si pengawal tadi benar bahwa orang itu tidak bisa berbicara alias bisu.


Apakah kalau sudah seperti itu Jeaven akan menyerah karena keadaan atau mungkin menyerah karena rasa iba atas keterbatasan fisik si pelaku? Kita lihat saja.


Masih dalam posisi duduk, Jeaven mencondongkan tubuh dengan kedua siku tangan bertumpu pada kedua pahanya. Sehingga jarak di antara dia dan si pelaku sedikit terpangkas.


"Apa kau bisu karena bawaan lahir?" Jeaven kembali bertanya dengan sorot mata tak terbaca.


Sekali lagi si pelaku langsung merespon, tapi kali ini sebuah anggukan yang dijadikan jawaban.


"Apa dia yang sudah membayarmu?" Jeaven kembali mengangkat ponselnya, menunjukkan foto tadi.


Si pelaku langsung menggeleng sebagai jawaban 'tidak'. Akan tetapi bukan berarti Jeaven langsung menelan begitu saja pengakuan yang baru diterima.

__ADS_1


"Berapa banyak uang yang kau terima hingga berani mencoba menyerang kami? Ah, tidak. Lebih tepatnya Jesslyn lah yang menjadi incaranmu. Katakan!" Intonasi bicara Jeaven terdengar rendah, tapi terkesan berat akan penekanan.


Lagi-lagi si pelaku hanya menanggapinya dengan celotehan tidak jelas ala-ala penyandang tunawicara, mencoba menyangkal meski ketakutan tengah melanda. Namun, rupanya hal itu justru menarik sunggingan kecil di bibir Jeaven seketika. Pria itu kian yakin dengan spekulasinya.


"Bawa benda itu kemari," titah Jeaven kepada seorang pengawal.


Tidak lama, seorang pengawal berpakaian serba hitam meletakkan sebuah botol kaleng berisi air keras di atas meja sebelah Jeaven.


"Buka sepatu orang ini." Si pengawal langsung bergerak sesuai yang diperintahkan Jeaven.


"Arrrggg!" Si pelaku lempar air keras langsung meraung kesakitan saat Jeaven mulai menumpah satu tetes air keras di kakinya.


"Cepat katakan! Apa orang ini yang menyuruhmu?!" Desak Jeaven.


Sementara beberapa pengawal tampak saling lempar pandang penuh tanya. Pasalnya Jeaven terus saja mendesak si pelaku yang jelas-jelas bisu untuk berbicara. Bukankah percuma saja? Begitu pikir mereka.


"Arrrrggg!" Erangan kesakitan kembali menguar ke seluruh langit-langit ruangan saat satu tetesan lagi air keras mendarat di kakinya. Akan tetapi ia masih gigih untuk menutup rapat mulutnya.


Kedua mata si pelaku seketika membola seiring dengan erangan kecemasan yang luar biasa saat melihat putri kecilnya yang sedang berdiri di depan bangunan sekolah tengah dipantau dari kejauhan oleh orang suruhan Jeaven.


"Beberapa tetes saja air keras sudah cukup membuat kakimu terbakar. Bagaimana jadinya jika air keras ini menyirami tubuh putrimu?" Sebuah peringatan sekaligus ancaman terbingkai jelas di dalam ucapan Jeaven.


"Atau bagaimana jadinya jika selang oksigen istrimu yang masih terbaring lemah di rumah sakit di lepas tanpa sepengetahuan siapapun?" Rupanya Jeaven sudah bergerak cepat. Tidak sulit bagi pria itu untuk mengorek informasi si pelaku.


"Tidak! Saya mohon jangan sakiti keluarga saya!" Si pelaku akhirnya memilih mengakhiri sandiwaranya. Mengingat keselamatan keluarganya terancam ia tak lagi berdaya. Keringat dingin di badan seolah turut menyoraki ketakutannya.


Di balik masker dan topinya, Jeaven menyeringai puas meski tidak ada yang tahu. Dari awal ia sudah yakin kalau si pelaku hanya berpura-pura bisu.

__ADS_1


"Kau pikir aku bodoh? Orang bisu karena bawaan lahir itu pasti tuli. Tapi kau selalu bisa merespon secara langsung di setiap pertanyaanku." Jeaven memberi isyarat kepada pengawal untuk siap merekam video setelah usai dengan kalimatnya.


"Cepat beri pernyataan di depan kamera. Kau sudah membuang banyak waktuku."


Rasa gugup terus menyerang. Seluruh tubuhnya bergetar tegang. Dia membayangkan bagaimana nasibnya dan keluarganya setelah ia berterus terang.


Belum sampai ia menikmati hasil dari tindakan kejahatannya, tapi kini harus menuai resiko yang tak pernah ia sangka. Yaitu mendekam di dalam penjara dan juga jauh dari keluarga. Mau bagaimana lagi coba? Dia memang tidak memiliki pilihan dan tidak bisa apa-apa.


"Orang yang ada di foto itu, Artis Angelina Lowyer yang menyuruhku. Aku diiming-imingi dengan upah besar asal bersedia mencelakai Jesslyn."


"Lanjut."


Di sela rasa hatinya yang kian menciut, si pelaku memasang muka penuh keraguan. Rupanya sedikit pengakuan belum cukup membuat pria beraura dingin di depannya itu mendapat kepuasan.


"Jangan bermain-main denganku!" Gertak Jeaven, menuntut pengakuan lebih.


"Arrggh! Ampun Tuan!" Si pelaku kembali mengerang kesakitan kala Jeaven menginjak luka bakar di kakinya. "Angelina Rowyer juga lah yang menjadi otak dari isu miring tentang kalian," akunya kembali sembari terengah-engah menahan perih.


Merasa cukup dengan informasi yang diterima, Jeaven langsung beranjak dari duduknya. Dipandangi si pelaku lempar air keras yang tampak tak berdaya.


"Kau akan mati di tanganku jika sekali lagi berani mengusik Jesslyn."


"Tuan, tolong ampuni saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Tolong bebaskan saya. Keluarga saya sangat membutuhkan saya saat ini." Si pelaku memohon dan mengemis iba. Dia sangat tahu, setelah ini ke mana dia akan di bawa.


"Seorang pelaku kriminal tetap harus dihukum." Jeaven ganti mengalihkan atensi ke seorang pengawal. "Urus sisanya," titahnya setelah melenggang pergi dengan langkah lebarnya.


Seorang pengawal yang diutus tadi langsung mengambil alih. Ia berdiri di depan si pelaku yang masih menangis karena menyesali perbuatannya. "Selama kau menjalani hukumanmu di penjara, Tuan Jeaven akan membiayai pengobatan dan operasi istrimu. Dan kau tidak perlu khawatir tentang putrimu. Yayasan sosial milik Tuan Jeaven akan merawat dan membiayai pendidikannya," terangnya.

__ADS_1


Si pelaku tampak tak percaya. Bercampur lega dan haru ia menangis histeris di tengah rasa sesalnya.


Bersambung~~


__ADS_2