Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Cumbuan Tertunda


__ADS_3

Dada bidang naik turun terdesak deru napas. Erangan menguar lirih bersama rahang yang mengeras. Tubuh kekar itu sudah tersulut gelora panas. Gelenyar nikmat cumbuan mejalar ke dalam arus darah yang kian deras. Jeaven terbuai oleh sentuhan nakal meremas. Miliknya saat ini sedang terkurung ke dalam genggaman gemas.


Seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen lilipop kesukaan, Jesslyn mengajak lidah menyusuri milik Jeaven yang ternyata sangat menyandukan. Memang pengalaman pertama baginya, tapi tidak dijadikan penghalang untuk menyenangkan si pria pujaan. Lagian dia sendiri juga terlihat kegirangan.


Belum puas Jesslyn bermain tapi harus terjeda karena tangan kekar si pemilik pusaka menariknya hingga mereka saling berhadapan. Jeaven mendengus geli karena menyadari raut kecewa terlihat menghiasi wajah si wanita kesayangan.


"Kau suka?" goda Jeaven seraya tersenyum nakal.


"Ck! Masih nanya." Jesslyn cemberut tapi juga tersipu malu diikuti reflekan tangan memukul kecil dada Jeaven.


Dikecup sekilas bibir manyun Jesslyn yang bagi Jeaven sayang jika diabaikan. "Aku juga suka."


"Terus kenapa minta berhenti?!" sungut Jesslyn melempar protes.


"Kau nanti lelah." Jeaven memang tidak ingin jika Jesslyn sampai kelelahan apalagi di saat hamil seperti sekarang. Lagian dia tidak ingin egois di dalam urusan ranjang.


Jesslyn ganti mengecup bibir Jeaven yang berada di bawahnya. "Aku belum lelah." Ia memang berniat menyenangkan suaminya.


"Nakal dan agresif," celetuk Jeaven sembari mencetak senyuman gemas.


"Aku?" Jesslyn menunjuk hidungnya.


"Iya, siapa lagi?" jawab Jeaven lalu menempelkan ujung hidungnya yang mancung ke hidung Jesslyn, bergerak gemas dan lagi-lagi berakhir pada kecupan di bibir dan langsung mendapat balasan.


Hadooh! Nggak ada ahklak emang ini anak-anak. Ngeriii ... Ngerii ...! Authornya selalu ngenes kalau nulis bab manis-manis kayak gini. Kalian itu sama aja menabur garam di lukaku!


Jesslyn langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami usai berciuman. Tiba-tiba rasa malu menjalar di hati karena lagi-lagi tak mampu menahan hasrat perasaan. Tubuhnya sudah sangat bergairah dan kepanasan.


Benar yang dikatakan Jeaven kalau Jesslyn kali ini mulai menunjukkan sisi nakal dan agresif. Bahkan si pria tampan itu hampir dibuat kehabisan napas karena permainan bibir yang seolah enggan untuk usai.


"Kenapa lagi?" tanya Jeaven seraya mengusap lembut punggung polos Jesslyn.


"Kau jangan menertawaiku."


"Aku tidak tertawa. Aku hanya senang."

__ADS_1


Jesslyn sontak menarik muka lalu memandang lekat sepasang manik hijau Jeaven. "Beneran?"


"Iya. Jesslyn yang dulu sudah kembali. Nakal dan agresif."


"Tapi aku seperti itu hanya kepadamu. Selama ini aku hanya mengejar dan tergila-gila kepadamu." Cepat-cepat Jesslyn mengklarifikasi agar Jeaven tidak dipengaruhi pikiran yang aneh-aneh.


"Yakin?"


"Tentu saja. Kau tidak percaya?" Sepasang alis Jesslyn menukik tajam selaras dengan tatapannya.


"Aku percaya." Jeaven mulai bergerak hingga posisinya sudah berpindah mengukung Jesslyn.


Ranumnya bibir milik sang ratu hati kembali menjadi sasaran. Tangan besar Jeaven mulai menyisiri setiap pahatan seksi yang mendambakan belaian. Dessahan mengalun merdu menyambut tarian lidah di atas dua puncak Jesslyn yang menegang.


Jeaven sudah mengambil posisi, membuka kedua paha seksi sang istri. Bersiap menyambangi calon anak yang disayangi. Sekali hentakan sepasang raga bersatu tanpa aral yang menghalangi. Sentakan kedua kian membawa jiwa terbang memintal nikmat duniawi.


Namun, gerakan yang mulai berirama seketika berhenti. Jesslyn tiba-tiba mendorong tubuh Jeaven hingga miliknya terlepas kembali.


"Ada apa lagi, Jesslyn?" Jeaven tampak frustrasi. Padahal baru dua tembakan tapi aksi penetrasi harus berhenti.


Jesslyn langsung berpindah ke posisi duduk. "Sekarang bukan waktunya untuk bersenang-senang, Jeaven. Aku baru ingat kalau orang-orang sedang mencemaskanmu. Daddyku masih berada di bandara menunggu perkembangan kabarmu. Sementara mommy Jenny sempat pingsan karena syok setelah mendengar kabar buruk tentangmu. Dan saat ini dia masih berada di rumah sakit. Kau harus segera menemuinya agar berhenti mencemaskanmu," terang Jesslyn diakhiri sebuah saran di penghujung kalimatnya.


Sekilas Jesslyn tampak mengulas senyum haru. Reaksi Jeaven saat mendengar kabar ibunya sungguh menciptakan rasa hangat di relung kalbu. Dari sini ia bisa menilai betapa sang suami sangat menyayangi wanita yang melahirkannya itu.


Ibu merupakan sosok wanita terhebat di dunia. Dalam garis besar seorang pria yang sangat menghargai ibunya melebihi apapun, maka dia tahu juga caranya menghargai sang istri dengan istimewa.


"Maaf, ya. Aku harus pergi dulu." Jeaven masih sempat membantu Jesslyn mengenakan pakaiannya. "Kau di rumah saja," tuturnya sebelum bersiap keluar kamar tapi suara si istri menjedakan langkah kaki.


"Aku ikut."


"Ini sudah larut, Jesslyn. Kau harus beristirahat."


"Pokoknya ikut." Jesslyn langsung berhamburan ke tubuh Jeaven. "Aku tidak ingin jauh denganmu." Ia merengek manja.


"Jesslyn ... menurutlah." Jeaven tampak keberatan.

__ADS_1


Jesslyn menggeleng cepat. Kali ini dia benar-benar berniat membantah perkataan Jeaven. "Aku tidak peduli sekalipun kau marah. Pokoknya aku ikut."


"Keras kepala sekali."


"Lagian aku juga ingin melihat kondisi mommy Jenny. Aku ikut ya."


Jeaven akhirnya menghela pasrah. Ketegasannya mendadak luntur jika Jesslyn sudah memasang mata puppy eyes seperti itu. "Baiklah."


Senyuman seketika mengembang di bibir Jesslyn seraya merentangkan tangan. "Gendong."


"Dasar manja." Meski bibir mencebik nyatanya Jeaven masih bersedia menuruti permintaan Jesslyn. Ia langsung berjongkok sembari membelakangi. "Naiklah."


Tanpa banyak kata Jesslyn naik ke punggung kokoh Jeaven. "Ayo berangkat."


Sementara itu di sebuah kamar rawat inap rumah sakit VIP, Jenny terbaring lemah di atas ranjang. Kendati sudah tersadar dari pingsan tapi tubuhnya masih tak berdaya. Berita kecelakaan maut yang menimpa sang putra sungguh menggoncangkan jiwanya. Nyonya besar Allison itu bahkan masih terisak menahan duka.


"Suamiku, putra kita pasti selamat, 'kan? Firasatku mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Tetapi tetap saja aku mencemaskannya." Jenny tergugu menumpahkan segala keresahannya.


Jeffrey menyeka air mata yang membasahi pipi istrinya. Sebagai seorang ayah dia juga dilanda kecemasan yang luar biasa. Belum lagi melihat kondisi wanitanya yang sangat terpukul tentu menyesakkan dada.


"Kau harus percaya dengan kata hatimu, Sayang. Putra kita pasti selamat," Jeffrey berusaha menenangkan.


Ceklek!


Perhatian sepasang orang tua itu serentak tertuju pada pintu yang perlahan terbuka. Hingga Jenny seketika terduduk seiring dengan tangisan mereda. Jeffrey bahkan sampai berdiri dengan perasaan tidak percaya.


"Mom, gimana keadaanmu?" tanya Jeaven tampak cemas.


Bukannya segera menjawab Jenny malah kembali terpingsan karena sangking terkejutnya.


"Mom!"


"Jenn!"


Jeffrey, Jeaven, dan Jesslyn memekik serentak karena juga terkejut.

__ADS_1


Bersambung~~


Yaelah ... Denger putranya kecelakaan pingsan. Setelah tahu putranya selamat juga pingsan. Apa maunya si mommy Jenny ini? 🤣


__ADS_2