Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Aku Ingin Bercerai


__ADS_3

"Kau?" Jesslyn tidak mampu menutupi ekspresi terkejutnya kala melihat kedatangan sang suami. Yang dia tahu, Jeaven sedang berada di Autria saat ini. Lalu kenapa pria itu sekarang berada di sini?


Sepasang alis tebal Jeaven menukik tajam, selaras dengan sorot mata mengkilat siap menikam. Deru amarah di dada meraung geram. Bagaimana tidak, keselamatan calon anaknya hampir saja terancam.


Segelas red wine yang masih tercengkeram jemari diletakkan di atas meja, Jeaven memang murka tapi tak menyulutkan lidah untuk banyak berkata. Lanjut diraih tangan kecil Jesslyn hingga beranjak dari duduknya.


"Jeav." Sorot mata Jesslyn mengisyaratkan agar Jeaven tidak bertindak impulsif apalagi di depan kolega bisnisnya, Alex.


"Kita pulang."


"Urusanku di sini belum selesai." Jesslyn sebisa mungkin bersikap tenang karena tidak ingin memperkeruh suasana. Ya ... meskipun sebenarnya atmosfer di dalam ruangan sudah mulai tak lagi baik-baik saja.


"Pulang," titah Jeaven yang tak butuh sebuah bantahan. Dia bahkan tidak peduli dengan ekspresi Alex yang tampak keheranan.


"Jeaven. Jangan seperti ini." Tangan Jesslyn menggeliat agar terbebas dari cengkeraman Jeaven tapi nyatanya sia-sia. Tenaganya tak sebanding dengan si pria.


"Maaf, Tuan. Nona Jesslyn sepertinya tidak ingin ikut dengan anda," tegur Alex yang akhirnya bersuara. Melihat reaksi tidak nyaman Jesslyn atas perlakuan Jeaven mana mungkin dia diam saja.


Jeaven langsung membalas tatapan Alex dengan sorot mata dingin. "Anda hampir saja membahayakan calon anak saya. Dengan apa anda harus membayarnya, hah?" ucapnya sarat akan tuntutan tidak terima. Sebelum masuk ke dalam ruangan ia memang sempat mendengar samar-samar interaksi di antara Jesslyn dan Alex.


"Apakah Nona Jesslyn sedang hamil?" Rupanya Alex langsung bisa mencerna dengan cepat perkataan Jeaven. Di dalam hati ia merutuki diri atas sikapnya yang mendesak Jesslyn menerima tawaran minumnya.


"Iya," balas Jeaven singkat.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak tahu. Nona Jesslyn juga tidak terlihat seperti sedang hamil," sesal Alex bersungguh-sungguh.


Selama hamil Jesslyn memang lebih sering mengenakan pakaian sedikit longgar. Hingga di kehamilannya yang masih menginjak awal semester dua itu tidak begitu terlihat.


"Terlepas dari ketidaktahuan anda, seharusnya anda bisa menghargai sikap penolakan dari orang lain," tegas Jeaven sekali lagi. Alex kian dirundung sesal karena kurangnya kepekaan atas sikap keberatan Jesslyn tadi.


"Jeav, sudah. Tuan Alex tidak sengaja. Dia hanya tidak tahu saja." Jesslyn mencoba menjadi penengah karena mulai merasa tidak enak hati. Namun, di mata Jeaven sikap si istri terkesan membela Alex dan mengabaikan perasaannya sebagai suami.


"Dan kenapa kau tidak berusaha memberi tahunya?" Jeaven juga tak menampik rasa kecewa atas sikap Jesslyn yang kurang tegas saat menolak desakan Alex.


Sekali teguk saja minuman setan itu tidak hanya berdampak buruk pada calon anaknya, tapi juga berimbas pada si istri juga. Bagaimana mungkin bisa dikubur dalam kecemasan itu kala kedua permata hatinya hampir berada di ambang bahaya.


Jeaven tidak akan bisa!


Alex juga berniat segera meninggalkan ruangan. Ia sangat tahu kalau saat ini sepasang suami istri butuh ruang dan waktu untuk menyelesaikan permasalahan. Namun, tungkai yang hampir mengayun harus tertahan kala Jeaven kembali berlisan.


"Kontrak kerja sama itu tidak akan terjadi. Ambil kembali surat ini," tegas Jeaven, menyabet map coklat dari tangan Jesslyn dan meletakkannya di atas meja. "Jika anda tidak terima, saya akan mengganti semua kerugian anda," imbuhnya lagi terkesan mengentengkan, tapi ia benar serius adanya.


Jesslyn sontak terkejut dengan tindakan berlebihan suaminya. "Jeav, apa yang kau lakukan? Kau tidak berhak melakukan itu."


"Baiklah, kita batalkan saja. Saya pikir kerja sama tidak akan sehat jika dilanjutkan. Dan tidak ada kerugian yang harus diganti." Alex akhirnya memutuskan. Terus terang ia kecewa dan merasa harga dirinya dipermainkan. Belum lagi hatinya dibuat patah karena Jesslyn sudah terikat oleh pernikahan.


Awalnya aku berniat menjadikan jalinan kerja sama ini sebagai alat agar aku bisa mendekati Jesslyn. Tetapi ternyata dia sudah bersuami. Ada baiknya kerja sama ini tidak terjadi agar aku bisa mengubur perasaanku jauh-jauh.

__ADS_1


Keluh Alex di dalam hati, menekan luka tak kasat mata yang menyisakan rasa nyeri.


Sama halnya dengan Alex, Jeaven juga sempat mengguman di dalam hati. Aku tahu kau memiliki ketertarikan terhadap wanitaku. Mana mungkin kubiarkan kalian selalu bersama.


Dari sorot matanya Jeaven bisa dengan mudah membaca perasaan Alex terhadap Jesslyn.


"Maaf, Nona Jesslyn. Dengan berat hati saya membatalkan kontrak kerja sama ini." Alex merobek map berwarna coklat berisi persetujuan di antara kedua belah pihak itu lalu membuangnya ke tempat sampah. "Kalau begitu saya permisi," ucapnya sebelum undur diri meninggalkan ruangan. Hinga tersisa Jeaven dan Jesslyn saja.


Plak!


"Kau sudah sangat mempermalukanku, Jeav!" hardik Jesslyn setelah melayangkan sebuah tamparan keras di pipi suaminya. Sekarang ia benar-benar murka. Impian kerja sama yang akan memperluaskan sepak terjangnya di dunia bisnis fashion harus menguap begitu saja di udara.


Jeaven sedikitpun tak menunjukkan ekpresi kesakitan ataupun ringisan walaupun hanya sekilas. Wajahnya malah kian terlihat dingin dengan rahang yang mengeras.


"Aku tahu mana yang baik untukmu."


"Tidak! Kau tidak tahu itu. Kau itu egosi dan selalu bertindak sesuai kemauanmu saja! Aku berhak mengatur kehidupanku sendiri, jadi kau tidak berhak ikut campur dengan apa yang aku lakukan terutama yang berhubungan dengan pekerjaanku!"


"Kau istriku. Semua yang ada padamu adalah tanggung jawabku. Jadi aku berhak atas semua yang ada pada dirimu, Jesslyn."


Jesslyn menggeleng cepat sebagai bahasa isyarat bahwa ia tidak bisa sepenuhnya menerima perkataan Jeaven. "Kalau begini caranya aku tidak akan bisa menjalani hidup bersamamu. Sebaiknya kita bercerai saja."


Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2