Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Pergi


__ADS_3

"Tante dan Paman sudah mencoba meneleponnya tapi nomor yang dituju tidak aktif. Jesslyn juga tidak berpamitan kepada kami sebelum betangkat."


Keterangan Allesya seketika meruntuhkan sebagian tenaga Jennis. Padahal ia berniat meluruskan sesuatu agar Jesslyn tak lagi menangis. Namun, yang ada malah batinnya melemas bersambut rasa pesimis.


"Apa Jesslyn sebelumnya tidak memberi tahu ke mana dia akan pergi, Tante?" Jennis tampak menaruh harapan besar pada kalimatnya. Berharap ada sedikit petunjuk akan keberadaan Jesslyn.


"Dia hanya pernah bilang ingin resign dari perusahaan dan akan pergi berlibur. Beberapa hari yang lalu Jessyln juga seperti memesan sebuah tiket pesawat, tapi dia tidak memberi tahu kami ke mana negara tujuannya. Tante memang kurang memperhatikannya sebagai orang tua," sesal Allesya.


Ia terus merutuki diri semenjak kepergian Jesslyn yang tanpa pamitan itu. Sebagai sosok insan yang pernah melahirkan, tindakan tidak biasa putrinya itu tentu menimbulkan rasa resah di hati.


"Sudahlah sayang, putri kita itu hanya ingin berlibur. Jangan bebani pikiranmu dengan kecemasan yang berlebihan." Sean merengkuh bahu Allesya agar menempel di dadanya, berharap istrinya bisa sedikit tenang.


Berbeda dengan sang istri, Sean lebih tenang dalam menyikapi. Kendati juga tak ia pungkiri, keresahan juga memadati hati. Namun, ia tetap mencoba menaruh kepercayaan bahwa putrinya itu bisa menjaga diri.


"Dia berangkat tanpa pamitan dan kita juga tidak tahu ke mana tempat tujuannya, itu membuatku tidak tenang."


Sementara Allesya dan Sean masih sibuk dengan kecemasan mereka, Jennis memilih berlalu begitu saja tanpa berucap kata. Memberi tahu Jeaven, itulah yang saat ini tercetus di pikirannya.



Di atas trek sirkuit pribadi Jeaven bersama motor tempurnya melesat cepat dan licin. Permukaan lintasan kering tak lepas dari tatapan tajamnya yang dingin. Desing deru mesin kudanya bak peluru menemembus angin.


Di sinilah dia sekarang, melatih kembali otot-otot tangan dan bahunya di atas tunggangan. Sekaligus melepas penat pada pikiran. Siapa yang mengira bahwa saat ini ia tengah terbelenggu rasa tidak nyaman.


Aku sangat membencimu Jeaven! Sangat membencimu sampai menembus tulangku!


Sepotong kalimat Jesslyn seketika merampas sebagian kosentrasinya. Otaknya otomatis mengulas balik ingatan tentang semalam saat ia menemui si wanita.


"Mau apa kau?" Nada ketus mengudara dari bibir Jesslyn selaras dengan rasa kecewanya.


Wanita itu sangat kesal, niat hati melakukan jogging malam untuk membebaskan diri dari rengkuhan kegalauan, tapi malah bertemu si Jeaven yang merupakan satu-satunya sumber kegalauannya.


"Malam sudah sangat larut. Aku temani." Jeaven mengingatkan.

__ADS_1


Jesslyn mendengus kasar lengkap dengan lirikan sinis. "Temani saja istrimu di rumah." Kakinya sudah mengambil beberapa langkah untuk berlalu, tapi satu tarikan tangan Jeaven membuat tubuhnya berakhir di dada pria itu.


"Menjauhlah!" Tangan kecil Jesslyn langsung mendorong Jeaven dengan kasar. Namun, tubuh gagah itu tak menunjukkan pergerakan yang berarti.


Tidak tahan dengan sikap tak bersahabat yang diterima, Jeaven menarik paksa tubuh mungil si wanita, menggiringnya menepi di bawah pohon rindang tidak jauh dari sana.


Dipandang lekat wajah cantik Jesslyn yang masih terbingkai kecewa tanpa melepas genggaman tangannya. Jeaven sebenarnya tengah dirundung kefrustrasian yang membuatnya hampir gila.


"Apa--" Pertama di sepanjang hidupnya, keraguan memangkas ketegasan Jeaven saat berbicara. Namun, gegas ia raup kembali situasi di bawah kuasanya. "Apa kau sudah mencoba melakukan tes kehamilan?" Rupanya hal itu juga sangat mengganggu ketenangan pria berparas dingin itu.


"Sekalipun hamil, aku tidak akan mengakui kau sebagai ayah dari anak yang aku kandung."


"Tarik kembali kata-katamu itu."


"Kenapa?! Kau ragu dengan keputusanmu sekarang?! Bukankah kau yang memintaku untuk melupakan kejadian buruk malam itu?!" Sentak Jesslyn yang memang sudah tidak bisa berkata lembut jika hatinya terluka. Terutama di depan Jeaven yang nyatanya masih dicinta.


Hah! Dia sangat membeci berada di situasi seperti sekarang. Di saat rasa marah, kecewa, dan terluka siap membakar jiwa menjadi arang, tapi rasa cinta masih saja bersarang.


Cinta memang satu rasa tulus nan indah yang mewarisi banyak kebaikan dari segala sisi kehidupan. Namun, jika emosi negatif mencuri tempat di hati bukankah yang ada dilema dalam penderitaan?


Jesslyn tersenyum miris. Sebagai seseorang yang harusnya mengemis maaf darinya ucapan Jeaven jauh sekali dari kata manis. Pria itu sungguh tidak pintar menempatkan etika agar hatinya tak kembali teriris.


"Jika sikap dari kekecewaanku ini kau katakan seperti anak kecil terus kau ini apa?! Kau bahkan tidak tahu apa itu tanggung jawab. Anak kecil bahkan tahu jika menyakiti hati temannya adalah perbuatan tercela. Sementara kau? Hah! sudahlah." Jesslyn sampai kehabisan kata-kata.


"Bisakah kau mendengarkanku dulu?"


"Tidak bisa! Aku ingin pulang," tukas Jesslyn secepat kilat.


"Jess--"


"Tetaplah di sana atau aku akan membencimu sampai mati," kecam si wanita agar Jeaven tidak mengikutinya.


Sreeek ...! Bruaaak!

__ADS_1


Lamunan Jeaven seketika buyar saat motor yang ia tunggangi tak mampu menguasai sebuah tikungan hairpin. Hingga akhirnya ia mengalami low side, yaitu terjatuh dan ikut terseret bersama motornya sampai ke pinggir lintasan.


"Jeaven! Apa kau masih bisa berdiri?" Teriak seorang tim manager yang terlihat mendekat membawa mimik cemasnya.


Dengan sedikit gontai, Jeaven berusaha berdiri membiarkan motornya tergelatak. "Aku tidak apa-apa," ucapnya membuat tim manager bernama Brent itu bisa sedikit bernapas lega.


Beruntung Jeaven sempat mengurangi kecepatan laju motornya sebelum kehilangan grib. Dan daya lindung baju balapnya juga cukup mumpuni. Hingga ia tidak sampai mengalami luka serius.


"Ini kali pertama di sepanjang karirmu kau jatuh di atas lintasan, Jeav. Apa kau baik-baik saja?" Kali ini Brent bukan menanyakan keadaan fisik Jeaven melainkan lebih tertuju ke psikisnya.


"Aku baik."


Brent spontan menggeleng kepala atas sikap dingin Jeaven yang memang sudah menjadi makanannya ketika bertemu. Ia mengekori si anak pantauannya yang sudah berlalu terlebih dahulu, membiarkan para petugas khusus mengambil alih motor yang masih terkapar itu.


"Ponselmu sedari tadi berbunyi." Seorang teman satu tim balap langsung memberi tahu setelah Jeaven kembali ke gedung.


Jeaven langsung merogoh ponsel dari tasnya dan langsung membungkam jeritan benda pipih itu dengan sekali gesekan di layar.


"Hm, ada apa?" Jeaven mulai mendengarkan suara dari balik telepon.


"Jeav, kau harus pergi ke bandara sekarang dan cari Jesslyn. Dia tadi pergi tanpa memberi tahu siapa-siapa. Perasaanku mengatakan dia berniat pergi untuk waktu yang lama. Cepat temui dia dan bertanggung jawablah jika tidak ingin menyesal di kemudian hari." Suara Jennis terkesan menuntut bercampur resah.


"Jeav? Halo? Apa kau mendengarku?" Dari balik telepon Jennis terus menunggu jawaban dari Jeaven yang tak kunjung bersuara. Tanpa ia ketahui bahwa sang kakak sudah berlalu sedetik setelah mendengar laporan darinya.


Jeaven bahkan sampai lupa untuk mematikan panggilan Jennis. Ia berlari keluar gedung dengan sebuah ponsel di tangannya. Dan juga helm masih membungkus kepalanya.


Bersambung~~


Terima kasih masih setia memantau kisah Jeaven dan Jesslyn ya. Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian berupa like dan komen.


Dan Nofi ingin mengingatkan nih.. mumpung Nofi ingat hari😆 Biasanya yang diingat cuma tanggal gajian aja. Hahay! Sekarang udah hari senin nih, boleh dong vote gratis mingguannya disumbangkan ke karyaku yang masih sepi kayak hatiku ini...😎😎


Giftnya juga boleh disedekahkan ke karya ini. Nofi tunggu🥰

__ADS_1


bye bye.. lop you pul..😘


__ADS_2