
"Tidak akan ada kata perceraian di antara kita." Ketegasan terbingkai jelas pada sepasang mata tajam Jeaven.
"Tapi aku menginginkannya." Jesslyn kian keras kepala. Lebih tepatnya ia sedang meluapkan kekesalan yang di mana bukan perihal kegagalan atas kontrak kerja sama dengan Alex saja, tapi juga masih terpengaruh oleh kesalah pahaman tentang hubungan Jeaven bersama Callena.
Dipandangi wajah ayu si istri yang saat ini tampak memerah karena tersulut amarah. Jeaven mengais lebih banyak kesabaran meski hati tengah resah.
Resah jika makhluk kesayangannya itu bersungguh-sunguh saat berucap kata. Jika perceraian itu sampai terjadi ia bisa menggila. Tetapi, walaupun sebenarnya apa yang ditakutkan itu tidak akan dibiarkan menjadi nyata.
Sekali mengikat, seorang Jeaven tidak akan pernah melepaskan Jesslyn begitu saja. Belenggu cintanya sangat berkuasa. Macam apapun situasi yang mungkin tidak mendukung akan dipaksa untuk berpihak kepadanya.
"Kita pulang sekarang." Jeaven enggan memperpanjang perdebatan yang jika diladeni akan kian memanas.
"Aku bisa pulang sendiri," tolak Jesslyn.
"Jesslyn, menurutlah."
"Kenapa? Bukankah harusnya kau senang. Kau tidak perlu mengurusku dan bisa lebih lama bermain bersama wanita itu," tuding Jesslyn, memperkuat prasangka terhadap Jeaven yang di mana tidak benar adanya.
"Kau salah paham, Jesslyn." Jeaven meraih kedua pundak wanitanya. Sorot matanya mencoba meyakinkan apa yang dituduhkan belahan hatinya itu tidak sesuai fakta. "Bagaimana bisa aku bermain dengan wanita lain sementara istri dan calon anakku sudah menyita semua perhatianku." Kejujuran tampak terpancar terang di matanya.
Namun sayang, hal itu tidak mampu menerangi kegelapan ego yang menyelubungi hati Jesslyn untuk saat ini. Rasa kecewanya di masa lalu belumlah sepenuhnya terobati, dan kini malah dicekoki kesalah pahaman yang meracuni hati. Belum lagi hormon bawaan hamil sewaktu-waktu mengundang emosi di luar kendali. Ditambah harus menjalani long distance relationship yang kian menambah intensitas kesukaran untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.
Hubungan jarak jauh bukanlah perkara mudah. Sekali pondasi kepercayaan goyah, tiang penyangga cinta bisa bubrah.
Pasangan yang selalu berada di bawah atap yang sama saja masih bisa beradu mulut apa lagi yang terpisahkan oleh jarak pembunuh kebersamaan. Hubungan memanas terhasut kesalah pahaman. Keposesifan menggila didorong kecemburuan. Hidup tidak tenang karena perselingkuhan mengintai kekilafan. Belum lagi jiwa terbelenggu kesepian, berkawan dera kerinduan.
Hah! Ini namanya penyiksaan bagi para kaum korban kebucinan.
__ADS_1
Sabar ... Sabar ... orang sabar jidatnya lebar.
Salah ...! Orang sabar banyak pacar.
Maaf, ralat lagi! Orang sabar itu berjiwa besar, pahalanya pun tidak bakal tersasar.
Namun, selepas dari segala resiko yang membuat kepala pusing tujuh keliling ada sisi positif juga yang tidak ketinggalan. Hubungan jarak jauh dapat menciptakan jati diri yang lebih dewasa dalam menyelesaikan permasalahan, melatih kejujuran, kepercayaan, dan kesetiaan. Dan kalau sudah saling bertemu raga maunya bermesrahan, ciuman, dan berpeluk-pelukan.
Menempel terus seperti perangko dan surat. Kemana-mana selalu bersama sembari tangan saling menggenggam erat.
Oke, balik ke cerita!
"Sulit bagiku untuk percaya, Jeaven! Semakin aku berusaha untuk percaya semakin besar pula keraguanku kepadamu. Kau tidak mencintaiku, kau hanya berusaha untuk memenuhi tanggung jawabmu saja. Itulah sebab kau tidak pernah memikirkan perasaanku!" Jesslyn kian meluapkan perasaannya.
"Bagaimana caranya agar kau percaya?"
"Jadi kau menyesal sudah mencintaiku?" Tiada lagi luapan ekspresi di wajah Jeaven di depan wanitanya. Namun, siapa yang tahu kalau hatinya sedang bernanah luka.
Bagaimana pun Jeaven adalah seorang pria yang memiliki perasaan juga. Dia adalah manusia yang diberkahi hati oleh Tuhannya. Seonggok daging yang menyimpan banyak karunia rasa. Termasuk rasa lara, terluka, dan kecewa. Dia juga bisa merasakan tersiksa kala jiwa dibuat remuk redam oleh gemuruh cinta. Dan ucapan Jesslyn kali ini sukses mencetak lubang cedera yang menganga lebar di hatinya.
"Iya, aku benar-benar menyesal. Maka dari itu kita bercerai saja!" tegas Jesslyn tanpa berpikir panjang. Dia benar-benar membiarkan emosi merajai hati.
Jeaven tak lagi bersuara untuk menanggapi ocehan si istri. Ia memilih menyeret Jesslyn keluar gedung restauran dan membawanya masuk ke dalam kendaraan pribadi.
Tidak ada satu kata pun yang tercetus dari lidah Jeaven di sepanjang perjalanan. Terus setia dengan kebungkamannya kendati Jesslyn sempat beberapa kali melontar protesan.
Pria dingin berparas tampan itu tengah sibuk dengan gejolak perasaan yang terus bertentangan. Rongga dadanya sedang dibuat sesak oleh amarah tapi sebisa mungkin diredam oleh kesabaran.
__ADS_1
Jesslyn beberapa kali melirik ke arah Jeaven yang masih fokus dengan setir kemudinya. Selama menikah baru kali ini sikap dingin suaminya itu dirasakan kembali.
Biasanya, Jeaven akan memberinya sentuhan sayang dan ciuman manis di setiap waktu. Ia akan mendapatkan pelukan hangat yang menjadi candu. Tatapan penuh cinta kala mata saling bertemu. Namun, sekarang Jesslyn tak mendapatkan semua itu.
Sikapnya yang seperti ini semakin membuatku yakin kalau dia berdusta kala mengatakan cinta kepadaku. Memang seperti inilah sifat aslinya.
Bukannya sadar, suara hati kecil Jesslyn justru kian menyeret perasaan ke dalam lingkar prasangka.
Lamunan Jesslyn seketika berakhir karena Jeaven tiba-tiba membanting setir ke tepian jalan dan menghentikan mobilnya. Sesaat keheningan mengitari suasana. Belum ada dari mereka yang melontarkan kata.
"Aku akan menceraikanmu, jika kau bisa mendapatkan seorang pria yang benar-benar tulus mencintaimu seperti almarhum adikku Jennis." Akhirnya suara Jeaven memecahkan suasana. Pria itu mengutarakan isi hatinya yang sudah dipikirkan secara matang.
Deg!
Jantung Jesslyn sekita berdenyut tajam. Serasa ada pisau yang merajam. "Baiklah," jawab Jesslyn yang lebih menuruti egonya. Kendati sebenarnya ia juga terkejut dan tidak percaya. Nyatanya hati tak bisa berbohong bahwa keputusan Jeaven menyisakan kecewa dan juga rasa tidak rela.
"Setelah mengantarmu pulang, aku akan langsung terbang Rusia untuk mengikuti turnamen balapan. Hari ini aku sengaja menemuimu tanpa rencana sebelumnya, berharap mampu meredamkan amarahmu. Tetapi ternyata kedatanganku malah kian menambah masalah."
"Terserah. Aku tidak peduli."
"Maaf."
"Aku tidak butuh kata maafmu."
Bersambung~~
Mohon dimaklumi ya ... Namanya juga berumah tangga. Kalau nggak ada pertengkaran seperti makan bakso tidak pakek saos, sambal, kecap. Rasanya kurang nano nano. Wkwkw.
__ADS_1