Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Satu Rahasia Terungkap


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan, Selena?!" Sentak Bryan membela Jesslyn.


"Gara-gara wanita jallang ini 'kan hingga kau memilih mengabaikanku? Jadi sangat pantas ia menerima tamparanku!" Selena berseru seraya melempar tudingan telunjuk ke arah Jesslyn yang masih terdiam mencerna situasi.


"Berhentilah bersikap seperti anak kecil. Minta maaf kepadanya," tuntut Bryan.


"Aku tidak sudi meminta maaf kepada jallang seperti dia!"


Disokong oleh rasa tidak terima Jesslyn berdiri dengan tangan masih menangkup pipinya yang baru saja menerima tamparan. "Siapa yang kau panggil jallang, hah?!"


"Apa kau tuli? Kau Jallang!"


"Selena, cukup!" Sela Bryan yang kian jengah dengan sikap frontal Selena.


"Kenapa kau terus membelanya? Aku ini calon istrimu. Apa aku harus kembali mengingatkan?!"


"Aku yang seharusnya mengingatkanmu. Tidak ada hubungan khusus di antara kita, Selena. Sedikit dewasalah," tegas Bryan.


"Orang tua kita sudah membuat kesepakatan tentang perjodohan kita. Kau harus ingat itu!"


"Itu kesepakatan di antara mereka, bukan denganku."


Kali ini otak cerdas Jesslyn sudah lancar mencerna situasi. Dari perdebatan di antara Bryan dan Selena bisa sedikit disimpulkan bahwa sebuah titik kontra terhadap keputusan sedang terjadi. Sebuah keputusan berhubungan dengan perjodohan yang Bryan tak ingini.


"Aku yakin wanita jallang ini yang sudah mempengaruhimu!" Selena membanting mimik muka kebencian ke arah Jesslyn. "Dari semenjak kuliah kau itu selalu menjadi duri di dalam perjodohan kami! Kau selalu saja menggodanya. Kau itu sama saja dengan sahabatmu!"


Sampai di sini, Jesslyn kembali mendapatkan kepingan kesimpulan bahwa perjodohan paksa itu sudah ada sejak awal pertama kali Bryan mengejarnya. Tetapi kernyitan di kening pun mengiringi tanda tanya. Kenapa nama sahabatnya terlibat juga? Ia harus segera mendapat jawabannya.


Namun, mau tidak mau Jesslyn harus menyisihkan dulu keinginannya. Perkataan kurang ajar Selena kian memancing emosinya. Gelenyar panas di hati sampai menciptakan sensasi gatal pada ubun-ubunnya.


"Hei wanita binal! Kau pasti sudah menggoda calon suamiku dengan tubuhmu! Dasar murahan! Kau sama saja dengan Monica. Sama-sama tidak punya harga diri!"


Sesaat Jesslyn sempat tersenyum syok. Baru kali ini dia dihina orang seperti itu. Dia pun kian tidak terima jika Monica dijelek-jelekkan. "Sepertinya otakmu perlu didinginkan biar kembali waras." Ia meraih gelas berisi air putih dari meja lalu menyiramkan ke kepala Selena. "Dan tarik kembali perkataan sampahmu itu tentang sahabatku!"

__ADS_1


"Kyaak! Apa yang kau lakukan?!" Selena memekik. Tidak terima, ia langsung mendorong tubuh Jesslyn. "Mati saja kau!"


Jesslyn terkejut seiring dengan jantung yang berdebar. Kaki tak mampu menopang tubuh dengan benar. Keseimbangan yang terampas diyakini akan membuatnya terjatuh dengan kasar.


Beruntung di waktu yang tepat Jeaven tiba-tiba muncul menjadi pahlawan. Pria itu menangkap tubuh Jesslyn dan menariknya ke dalam pelukan, memberi perlindungan yang sudah menjadi keharusan. Sepasang mata elangnya menghunuskan tatapan tajam kepada Selena yang kini terlihat gelagapan. Sorot mata Jeaven terkesan dingin dan juga mengerikan.


"Sembunyikan baik-baik tanganmu jika kau tidak ingin cacat." Nada bicara Jeaven terdengar rendah tapi sarat akan kecaman.


Selena reflek menyimpan kedua tangannya di balik punggung. "Wanita jallang itu sudah bertindak kurang ajar kepadaku! Dia menyiramiku dengan air." Meski nyali mengecil tapi ia masih nekat berucap kasar tentang Jesslyn.


"Wanitaku tidak akan menyerang jika tidak diserang duluan."


Deg!


Wanitaku? Kata sederhana tapi berhasil membuat dada Jesslyn bertalu. Rangkaian kata terdengar manis seperti air tebu. Tetapi sayang, wanita itu masih meragu.


Andai dia mencintaiku, tentu rasa senangku tak terkira saat ia berkata seperti itu. Perhatiannya saat ini justru membuatku serasa ingin berlalu.


Jesslyn menyuarakan keresahan di dalam hatinya.


Monica tidak heran dengan kehadiran Jeaven karena beberapa saat yang lalu pria itu menelepon dan menanyakan keberadaan Jesslyn. Namun berbeda saat ia melihat sosok Selena. Wajahnya langsung memancarkan eskpresi tidak suka.


Iya, dia tahu siapa Selena.


"Ada apa ini, Jesslyn?" Monica mengulangi pertanyaan yang belum sempat mendapatkan jawaban.


Jesslyn sedikit menggeliat, sebentuk bahasa tubuh agar Jeaven melepas rengkuhan tangannya. Kemudian ia lanjut membenarkan posisi berdirinya sebelum menjawab pertanyaan Monica.


"Dia tiba-tiba datang dan menamparku. Mengataiku Jallang dan menudingku telah menggoda Bryan. Dia juga berkata buruk tentangmu." Jesslyn mengadu ke sahabatnya itu.


Plak!


"Ahk! Kau?!" Selena merintih kesakitan seraya merangkum bagian pipinya yang baru saja menerima hadiah tamparan dari Monica.

__ADS_1


"Aku kembalikan tamparanmu. Jallang kok teriak jallang!" Cerca Monica yang tidak terima jika Jesslyn diperlakukan kasar oleh Selena.


"Beraninya kau mengataiku?!" Berang karena dikatain, Selena bersiap membalas tamparan Monica, tapi Bryan bergerak cekatan menangkap ayunan tangannnya.


"Aku katakan cukup, Selena. Jangan bikin suasana semakin rusuh." Bryan memperingatkan.


"Ow jadi kau juga membelanya? Kenapa? Apa karena dia kembali mengajakmu tidur?"


"Diam!" Sentak Monica dan Bryan secara bersamaan. Sekilas mereka tampak saling melempar pandangan. Keduanya sama-sama tidak ingin Jesslyn mengetahui sesuatu yang selama ini sangat dirahasiakan.


Nyali bukannya menciut, Selena malah tergelak tawa. Ia bisa melihat kecemasan pada raut wajah Bryan dan Monica. Wanita itu sangat tahu mereka ingin menjaga perasaan Jesslyn agar tidak kecewa dan juga dirundung lara.


Selena lanjut memutar perhatian ke Jesslyn yang sudah terlihat bertanya-tanya. "Kau itu tidak pantas disebut sahabat."


"Selena sebaiknya kita pulang sekarang." Bryan berniat membawa Selena pergi agar berhenti berulah, tapi wanita itu menolaknya.


"Jess, sebaiknya kita pergi dari sini." Kini ganti Jeaven yang berniat mengajak Jesslyn pergi, tapi wanita itu juga menolaknya dan memilih menanggapi ucapan Selena.


"Kau tidak tahu menahu tentang aku. Jadi berhati-hatilah saat bertutur kata," tegas Jesslyn.


Selena kian menggencarkan aksinya. Baginya dengan cara seperti ini Bryan bisa berhenti berhubungan dengan Jesllyn maupun Monica. "Kau itu tidak pantas disebut sahabat. Atau bisa dikatakan kau sahabat yang sangat buruk. Gara-gara kau orang lain harus menderita. Demi melindungimu Monica menjadi korban pelecehan Bryan. Harusnya waktu itu kau yang dilecehkan, bukan dia sahabatmu. Kau bahkan tidak tahu jika Monica pernah hamil dan keguguran. Apakah kau masih pantas disebut sahabat?!"


Bagaikan dijatuhi ribuan batu. Ungkapan yang baru saja didengar membuat dada Jesslyn serasa dihujam pilu. Kemana ia selama ini hingga hal sebesar itu pun ia tak tahu?


Dengan perasaan bergetar karena dentuman pilu dan sekaligus kecewa Jesslyn menggiring kedua maniknya yang sudah berkaca-kaca ke arah Monica. "Apa benar yang dikatakannya, Mon?"


"Aku akan menjelaskannya, Jess."


"Jadi semua itu benar?! Kenapa kau tidak bercerita kepadaku?! Kenapa?" Tukas Jesslyn. Air matanya sudah membelah pipinya yang merona. "Benar juga yang dikatakan wanita itu kalau aku tidak pantas menjadi sahabatmu." Ia lanjut menatap Bryan. "Dan aku benar-benar kecewa kepadamu, Bryan! Rupanya kau tidak sebaik yang aku pikirkan."


"Jesslyn--" Monica berniat mengejar Jesslyn yang berlari meninggalkan tempat tapi Jeaven menghalaunya.


"Biar aku yang mengejarnya."

__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2