
Beberapa jam sebelumnya ....
Setelah berbicara dengan Alfred, Jeaven langsung menuju bandara. Mengambil penerbangan ke Swiss untuk mengikuti ajang kompetensi balap MotoGP dunia. Dia tidak sendiri, tapi bersama sang manajer tim, Brent, dan juga bersama para anggota tim balap lainnya.
Selama penerbangan Jeaven terus memejamkan mata. Bukan karena rasa kantuk yang menyapa, melainkan karena menahan sensasi mual dan pusing yang terus mendera. Keringat dingin mulai menyembul dari pori-pori kulitnya. Membasahi rona pasi di muka. Deguban tak beraturan turut mendampingi rasa tidak nyaman di tubuhnya.
Setibanya di bandar udara international Zurich, tubuh Jeaven kian kekurangan daya kekuatan. Pria gagah itu perlahan terbuai dalam kepayahan. Langkah kakinya juga gontai tak lagi mampu menopang beban. Hingga dunia tiba-tiba berubah gelap dan dia langsung kehilangan kesadaran.
Setelah dilarikan ke rumah sakit Jeaven langsung ditangani oleh pihak kesehatan. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, penyebab tumbangnya pria itu karena kelelahan dan kekurangan asupan makanan. Selain itu, tingkat frekuensi muntah yang berlebihan membuat tubuhnya kekurangan cairan.
"Bisakah kau duduk dengan tenang?" Jeaven yang sudah sadar dari beberapa menit yang lalu tampak risih dengan gelagat Brent. Manajer timnya itu terus berjalan mondar-mandir di ruang kamar perawatan seperti setrika berjalan.
Gerak langkah kaki Brent berakhir kala ia akhirnya memilih mendaratkan pantatnya di atas kursi sebelah ranjang Jeaven. "Bagaimana aku bisa tenang? Kondisi kesehatanmu sedang kurang baik sekarang. Dan apa kau lupa tujuan kita ke Swiss?"
Merasa kondisi tubuhnya sudah lebih baik, Jeaven menarik diri dari posisi berbaring dan beralih ke duduk. "Aku tidak lupa."
"Kau mau ke mana? Kau harus istirahat dulu." Brent langsung menghadang tubuh Jeaven yang hendak turun dari ranjang.
"Minum." Jeaven menjawab dengan mimik jengah. Sikap protektif Brent sungguh berlebihan.
"Kau tetap duduk, biar aku yang ambilkan. Tubuhmu harus segera pulih, jadi harus banyak istirahat. Kali ini kau harus menurut. Jangan membangkang." Brent terus mengoceh seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.
"Iya," jawab Jeaven singkat seraya menerima uluran segelas air putih dari Brent, meminumnya hingga tandas lalu menyerahkan kembali gelas yang sudah kosong.
Jeaven terkesan malas meladeni celotehan manajer timnya itu. Apa lagi saat ini sebenarnya ia sedang menunggu kabar dari Levin, orang suruhannya.
Brent kembali memposisi duduknya dengan nyaman. Dipandangi wajah Jeaven dengan mimik sarat akan keseriusan. "Jika kondisi tubuhnya masih tidak bisa diajak kompromi sebaiknya kau tidak perlu mengikuti turnamen kali ini."
__ADS_1
"Aku tetap ikut."
"Jangan bercanda. Kau pikir turnamen balap ini hanya permainan anak kecil? Dua hari lagi tes hasil kesehatanmu menentukan kau boleh ikut mengisi pole position atau tidak."
"Aku tumbang karena kebetulan dan sekarang sudah baik-baik saja."
Karena masih dirundung rasa cemas bercampur dongkol, Brent sontak berdiri dari duduknya dengan kasar. "Kebetulan katamu? Kata dokter kau kekurangan asupan makanan. Apa kau baru saja jatuh miskin hingga tidak mampu membeli makanan? Bisa-bisanya pembalap profesional sepertimu sampai kurang makan." Nada bicara Brent sedikit meledek. Sikap anak pantauannya itu memang selalu sukses membuat ia gedek.
Sepasang netra tajam Jeaven menatap dingin wajah si manajer timnya itu sebelum kembali bersuara. "Kau cukup memberi kepercayaan penuh kepadaku seperti yang sudah-sudah," pintanya. Meski terkesan dingin, tapi pria itu serius dan memang tidak ingin bermain-main.
Menghela napas pasrah, Brent akhirnya memilih menyerah dengan omelan mautnya. Tatapan dan ucapan Jeaven sukses membuat ia tak sanggup lagi untuk banyak berkata.
Mengingat sang pembalap MotoGP yang memiliki julukan Ice Gun J.J itu memang selalu berhasil membuktikan perkataannya. Walaupun begitu, bukan berarti kecemasan Brent bisa seketika sirna. Kesehatan Jeaven masih harus dipantau dengan seksama.
"Bersiaplah. Lusa kau akan menjalani tes teknis trek, sesi latihan bebas, dan kualifikasi," tutur Brent mengingat akan sejumlah sesi penting yang harus diikuti sebelum Jeaven berlaga di atas sirkuit.
"Iya."
"Katakan," titah Jeaven langsung kepada seseorang bernama Levin di seberang panggilan.
"Saya menemukannya, Tuan. Saat ini saya sedang mengikutinya yang baru saja masuk ke dalam taman kota Bern," lapor orang suruh itu.
"Awasi dia terus," titah Jeaven kembali dan langsung memutus panggilan.
"Hei, kau mau ke mana?!" Brent langsung bergerak cepat menghadang Jeaven yang sudah melompat dari ranjang rumah sakit.
Jeaven tidak bersuara. Ia malah menepis tangan Brent dari lengannya. Sesaat hanya tatapan tuntutan akan kepercayaan yang dijadikan bahasa. Hingga membuat si manajer tim itu berakhir tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Ya Tuhan. Kali ini aku akan berdoa untuk diriku sendiri agar tidak stress dibuatnya," gerutu Brent setelah membiarkan Jeaven pergi begitu saja.
…
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tujuan. Jeaven berjalan cepat agar bisa segera bertemu dengan sang pujaan. Tidak peduli walaupun tubuh masih dirayapi rasa tidak nyaman. Baginya tidak ada yang lebih penting dari pada membawa Jesslyn ke dalam pelukan.
Baru beberapa langkah memasuki kawasan taman kota mata elang Jeaven langsung menangkap sebuah kericuhan yang sedang terjadi. Debaran jantungnya kian bertalu rindu karena melihat sosok Jesslyn di sana. Hingga ia dibuat terkejut saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri wanita yang dicintanya itu terdorong dan berakhir pingsan.
"Siapkan mobilnya!" Titah Jeaven kepada Levin yang semula berniat menolong Jesslyn tapi tidak jadi karena bosnya itu lebih dulu mengambil andil.
Jeaven langsung mengangkat tubuh tak berdaya Jesslyn ke dalam pelukannya kemudian membawanya menjauh dari kericuhan. Levin sudah terlihat membukakan pintu mobil dari beberapa langkah di depan mata.
Dituntun oleh naluri jiwa pelindung Jeaven masih terus memeluk Jesslyn yang masih terpejam. Kecemasan di rongga dada masih terus menghujam.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit pria itu beberapa kali mengecup ujung kepala Jesslyn dengan sayang. Sungguh melihat kondisi si wanita yang lemah membuat hatinya meremang.
"Anakku ...."
Jeaven seketika terhenyak saat mendengar Jesslyn menggumam lemah di bawah alam sadarnya. Perlahan ia melabuhkan sebelah tangan besarnya di atas tangan si wanita yang tampak mengusap perutnya. Meski masih dalam keadaan belum sadar, naluri seorang ibunya seolah masih terus terjaga.
Deg!
Jeaven terkesima. Sentuhan pada perut Jesslyn memberi rasa yang berbeda. Jiwanya bergetar seiring dengan tabuhan genderang di rongga dada. Suara hati menggaungkan sebuah firasat akan sesuatu yang luar biasa. Dia pun meyakininya bahwa tiada kesalahan saat menduga.
"Apa ada anak kita di dalam sini?" Jeaven bertanya dalam bisikan di telinga Jesslyn. "Aku yakin itu anakku," bisiknya kembali dan diakhiri dekapan erat dan sebuah kecupan di pelipis Jesslyn.
Bersambung~~
__ADS_1
Hehe ... telat banget ya up nya.
Maaf ya jika banyak typo bertebaran. Ngetiknya kayak dikejar mantan. Eh! maksudnya setan. Tapi ... mantan dan setan itu kan berteman. Haha.. peace! Mung guyon lo teman-teman..🤣