
Bruak!
Sreettt ...!
Lagi-lagi Jeaven kehilangan grib secara tiba-tiba saat berlatih di atas lintasan dan mengalami high side. Di mana ia terpelanting ke udara sementara motornya terseret dan terkapar di batas tepian trek aspal.
Sisa tenaga yang ada dijadikan sokongan kaki untuk bangkit kembali. Sedikit gontai, Jeaven berjalan menjauh dari tempat ia terjatuh tadi. Bahkan motornya ditinggalkan terkapar seolah tak lagi berarti. Tak berarti seperti kisah hidupnya kini. Itu yang dia dirasakan di hati.
"Jeav--"
"Aku baik-baik saja," pangkas Jeaven dengan segera sebelum Brent berkata lebih banyak lagi. Ia berlalu begitu saja melewati si manajer timnya yang sudah terlihat cemas dengan kondisinya saat ini.
Usai setibanya di dalam gedung sirkuit, Jeaven tak lantas bisa mendapatkan waktu istirahat yang diinginkan. Brent ternyata masih berniat menggoyangkan lidah untuk menceramahinya.
"Kau ini sebenarnya kenapa? Apa kau tidak bisa lebih fokus saat berpacu? Satu minggu lagi kau akan terbang ke Swiss untuk mengikuti ajang MotoGP." Brent menjeda celotehannya tapi sorot mata tak lepas dari ekspresi datar Jeaven yang terkesan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. "Kau ini benar-benar ... hah!" Ia pun pada akhirnya hanya bisa menggerang frustrasi.
Brent menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia mencoba meraup rakus segunung kesabaran sebelum kembali berlisan. Kali ini nada bicaranya dibuat sedikit rendah agar tensinya tetap aman.
"Cobalah kau berdiri di depan cermin dan lihat mukamu itu." Brent menunjuk beberapa jejak luka yang menghiasi wajah tampan Jeaven. Luka hasil dari kecerobohan anak pantauannya itu saat berlatih di trek tanah. "Kau terlihat menyedihkan," imbuhnya lagi dengan perasaan miris.
Beberapa bulan ini Brent sudah dibuat frustrasi atas perubahan Jeaven yang di mana kurang fokus saat berlatih. Manajer tim itu bahkan harus rela membiasakan hatinya digelitik oleh sensasi getar getir karena pria berparas dingin itu berkali-kali terjatuh saat bermain di atas lintasan.
"Tanganmu juga terluka?" Brent kembali menunjukkan sikap cemasnya saat mata menangkap beberapa luka lagi di buku-buku jari Jeaven.
"Hanya goresan kecil."
__ADS_1
Rasanya ingin sekali Brent menendang semua bentuk rupa benda yang berada di sekitar sebagai bentuk luapan kekesalannya. Tapi sayang, hal itu tak lebih dari sebuah angan saja. Jawaban Jeaven yang terkesan santai membuat si manajer tim itu kian mengurut dada.
Beruntung selama ini Jeaven tidak sampai mendapati luka serius. Akan tetapi, bukan berarti Brent bisa berlega hati begitu saja.
Brent yang semula masih berdiri kini beralih ke posisi duduk di sebelah Jeaven yang tampak bungkam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dipandangi ekspresi datar di depannya itu dengan sorot mata sarat akan kepedulian.
"Aku tidak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi saat ini, tapi apapun itu jangan dijadikan sebuah alasan untuk meruntuhkan sikap profesionalmu, Jeaven." Brent menjeda ucapannya untuk membenarkan posisi duduk agar lebih nyaman. "Jika masih seperti ini, itu sama saja kau bunuh diri di tengah perjuangan karirmu selama ini. Dan di musim MotoGP tahun ini kau kembali digadang-gadangnya sebagai kandidat terkuat. Apa kau ingin meruntuhkan kepercayaan kami?"
"Itu tidak akan terjadi."
"Apa aku bisa mempercayai perkataanmu barusan?"
"Aku tidak akan banyak bicara untuk membuatmu percaya."
"Iya aku tahu kau itu tipe orang minim kata tapi kaya aksi, tapi kali ini kau membuatku ragu."
"Hei! Aku belum selesai ngomong. Sopanlah sedikit, setidaknya umurku setara dengan ayahmu," cegah Brent kala Jeaven mulai beranjak dari duduknya.
"Masih ada lagi?" Jeaven bertanya dengan mimik datar.
Helaan napas panjang mengiringi satu pijakan kaki yang membawa tubuh Brent ikut berdiri menyeimbangi posisi Jeaven. "Aku mohon, untuk selanjutnya lebih lah fokus dan berhati-hati. Bagaimanapun juga keselamatanmu juga sangat berharga."
"Baiklah," jawab Jeaven dan langsung memutar tungkainya berniat melenggang pergi.
Namun, niatnya itu diurungkan sejenak dan kembali memutar tubuh hingga mata memergoki Brent sedang menggeleng jengah sembari mengusap dada karena harus meraup kesabaran dalam menghadapinya.
__ADS_1
"Ada apa?" Brent langsung peka dengan gelagat Jeaven yang terlihat ingin mengatakan sesuatu hal penting.
"Tolong atur pertemuanku dengan wanita itu dan beserta ayahnya."
"Untuk apa?" Tatapan Brent menyelidik.
"Untuk meluruskan isu itu."
Brent kembali memasang mimik serius. "Dengarkan aku dulu. Menurutku, biarkan saja isu kedekatanmu bersama Adaline Maunder itu berlarut untuk beberapa waktu. Bayangkan, Adaline Maunder adalah putri dari seorang parlemen negara. Dia juga salah satu fans fanatikmu. Bukankah kau malah diuntungkan karena Ini bisa meningkatkan populeritasmu di dunia balap lintas dan juga entertainment?" Ia mencoba meyakinkan.
"Wanita itu sudah semena-mena menggunakan status kedudukannya dengan menyebarkan berita hoax yang merugikanku!" Tegas Jeaven tampak tidak suka.
"Ayolah, Jeav. Kau bisa mendapatkan banyak tawaran sponsor juga." Brent masih gigih menggoyahkan pendirian Jeaven. "Lagian tidak akan ada hati yang tersakiti dengan isumu itu. Kau--" Si manajer itu tiba-tiba harus menelan salivanya yang terasa berat karena hunusan tatapan tajam Jeaven. Ia sangat yakin bahwa lawan bicaranya itu sedang tersinggung.
"Baiklah aku akan mengatur jadwal pertemuan kalian," putus Brent dengan cepat tanpa menunggu lontaran kata pedas Jeaven. Dan di saat itu pula ia bisa merasa lega karena si pria dingin itu akhirnya melenggang pergi.
Ada hati yang harus aku jaga. Isu itu harus segera disirnakan.
Bisik batin Jeaven di sela langkah kakinya menuju toilet. Sesungguhnya, ia sedari tadi sudah menahan rasa tidak nyaman di perutnya.
"Hah! Sebenarnya aku ini kenapa?" Keluh Jeaven setelah memuntahkan semua isi perutnya.
Pria itu membawa kedua tangan bertumpu di kedua sisi wastafel guna menahan beban tubuhnya yang terasa lemas tak berdaya. Sudah dua bulan terakhir, ia benar-benar disiksa oleh rasa mual dan pusing yang terus mendera tanpa jeda.
"Jesslyn." Di saat seperti ini hanya sosok Jesslyn yang terus terngiang di benak pikirannya.
__ADS_1
Batinnya ingin berteriak untuk menumpahkan segala lara. Apalagi mengingat pencariannya selama dua bulan ini belum juga menampak hasil.
Bersambung~~