
Dinginnya dinding lorong hotel menjadi sandaran tubuh Jesslyn yang kian gontai. Rona merah di muka pun sudah membingkai. Desir gairah di dalam darah seolah membuai.
"Panas, ada apa dengan tubuhku?" Kesah Jesslyn yang masih menaruh kepercayaan penuh pada topangan kakinya, berharap tidak beringsut ke lantai. "Tolong ... ini panas sekali." Napas yang terengah seolah menghalau suaranya untuk lepas leluasa.
Dipindai ke sekitar, tidak ada satu pun manusia yang menampakkan eksistensinya. Terpaksa ia harus kembali membawa kaki untuk mengayun, meski berat dirasa.
Wanita itu terjingkat sekilas kala sentuhan sepasang tangan besar tiba-tiba merangkul tubuhnya. Dalam lena, kaki melangkah pasrah saat ia dibawa masuk ke dalam sebuah salah satu kamar hotel yang tidak jauh dari pijakan lama kakinya.
"Pergi!" Pekik Jesslyn dengan napas bergetar. Sepasang netra sayunya menangkap sosok Rocky yang sudah mengungkung dengan tatapan lapar.
Bagaimanapun Jesslyn juga wanita. Rasa takut tentu saja ada. Namun, desakan gairah seolah merenggut segala daya yang ia punya.
"Sstt ...! Menurutlah, Sayang. Aku akan membantumu. Setelah ini aku yakin kau akan berterima kasih kepadaku." Rocky membisikan rayuan. Akan tetapi, bagi Jesslyn terdengar menjijikkan.
Sreekk ...!
Rocky menarik jas milik Jeaven yang membungkus tubuh Jesslyn lalu dibuang ke sembarang tempat.
Kreekk ...!
"Aahk! Tidak!" Tubuh Jesslyn tersentak seiring dengan pekikan dari bibirnya. Tangan reflek menyilang kedua dada yang tinggal terbungkus BeHa.
Rocky rupanya kian bertindak asusila. Hanya sekali tarikan, gaun Jesslyn bagian atas koyak seketika. Jangkun pria mesum itu tampak naik turun karena beberapa kali menelan saliva. Ia menyeka kasar air liur yang meleleh di bibirnya. Bahkan sebagian cairan menjijikkan itu sudah menetes mengenai dada si wanita.
Yakin, setelah ini aku sebagai author akan menyeret Jesslyn untuk mandi ke tujuh sumur mata air yang bertabur kembang tujuh rupa dari tujuh mata angin selama tujuh hari dan tujuh malam untuk menghilangkan potensi kutukan najis mughaladah hingga tujuh turunan dari air liur Rocky.
Camkan itu!
"Hmm, aku mohon menjauhlah." Dengan sisa kesadaran dan tenaga Jesslyn mendorong kepala Rocky yang sudah tenggelam di antara gundukan dadanya. Namun, gerak berontaknya justru membuat pria itu kian bringas bak serigala lapar melahap mangsa.
"Arrrggg ...! Kurang ajar!" Rocky langsung roboh ke samping sembari menangkup pisang mungilnya setelah menerima pukulan keras dari lutut Jesslyn.
Mungkin baru kali ini ada bule, anunya mungil. Ahay!
Oke, stop membayangkan Ibu-Ibu. Dosa Bu ... Dosa. Buruan mandi junub sana.
__ADS_1
Kembali ke cerita.
Menyadari ada cela untuk melarikan diri, Jesslyn membawa tubuh lemahnya menuruni ranjang. Sepasang netranya sudah menaruh harapan pada handle pintu yang akan digapai, membebaskan dirinya dari manusia binatang seperti Rocky. Namun sayang ...
Kedebuk!
"Ahk!" Wanita itu harus membiarkan tubuh kecilnya jatuh bertiarap ke lantai karena Rocky sukses terlebih dahulu menjangkau kasar dengan menubruknya dari belakang.
Mengabaikan sensasi denyutan ngilu pada si pisang buntal, pria itu tanpa jeda menciumi punggung polos Jesslyn dengan brutal. Tangan luknutnya juga diajak merayap nakal.
Dok! Dok! Dok!
Suara keras ketukan pintu tiba-tiba mengusik kesenangan Rocky, tapi hal itu tak lantas mengakhiri aksi bejatnya. Ia bahkan sudah mulai menurunkan celananya.
"Hah! Jangan lakukan!" Jesslyn masih berupaya menghentikan Rocky kendati segala kesadaran akal sehatnya hampir sepenuhnya tenggelam.
Bruak!
Rocky seketika tersentak saat suara yang semula masih berupa ketukan kini berubah menjadi sebuah bantingan daun pintu. Belum sempat otak menuai pertanyaan karena terkejut, pria itu harus merelakan muka dan tubuhnya menjadi tempat pukulan brutal Jeaven.
Dua orang kepercayaan keluarga Allison yang mengawali Jeaven langsung mengambil inisiatif menutup pintu kamar agar keributan yang tercipta tidak mengundang perhatian para tamu hotel lainnya. Kebetulan dinding kamar hotel juga difasilitasi oleh alat pengedap suara. Jadi, suara kegaduhan tidak akan terdengar dari luar.
Bug! Bug! Bug!
Disokong oleh gemuruh dahsyat di rongga dada, Jeaven meluapkan segenap amarahnya dalam bentuk layangan ganas di setiap kepalan tangannya yang kekar. Wajah berangnya seolah melukiskan ketidak relaan yang teramat besar. Rocky saat ini bagaikan seekor kelinci yang menjadi santapan binatang buas dan liar.
Sreekk!
Kedebuk!
"Arrggg!" Rocky meraung dan merintih kesakitan kala tubuhnya diangkat lalu dibanting dengan mudahnya. Belum berhenti di situ saja, Jeaven menarik tangannya dan ....
Kreekk!
"Aarrggh! Tanganku!"
__ADS_1
Suara gemertak tulang yang patah karena pitingan kuat mengakhiri aksi bringas Jeaven.
Jeaven membungkus tubuh setengah polos Jesslyn yang terkulai lemas di lantai menggunakan selimut dan diletakkan di ranjang sebelum memanggil pengawal.
"Seret dia keluar dari sini!" Titahnya dan langsung menerima anggukan mengerti dari kedua orang kepercayaannnya itu.
Jeaven langsung gontai kala di ruangan yang sama hanya tinggal dia dan Jesslyn saja. Efek alkohol ternyata masih merajai tubuhnya. Ternyata, ia sedari tadi menahan mati-matian kondisi lemahnya. Sesaat tadi mabuknya itu memang sempat teralihkan oleh kemarahan yang luar biasa. Akan tetapi, kini ia kembali kekurangan daya.
Sesaat ia merutuki dirinya sendiri. Andai dia telat sedikit saja, entah apa yang terjadi pada wanita itu kini.
"Tolong ... panas, tubuhku panas sekali," rintihan Jesslyn seketika menarik kembali perhatian Jeaven.
Pria itu tampan menggeleng kasar guna menghempas rasa pusing, lalu menghampiri Jesslyn dengan langkah sedikit terhuyun. Sungguh, kepalanya kian terasa berat, tubuh juga kian memanas.
"Jess, kau kenapa?"
"Panas, tolong aku." Jesslyn menggeliat hingga selimut yang membungkusnya merosot ke bawah ranjang.
Sial! Sepertinya bajingan itu sudah memberinya obat perangsang. Jeaven mulai bisa membaca situasi.
"Aku sudah tidak tahan, Jeav!" Sepertinya, efek obat di dalam tubuh Jesslyn sudah menjalar sempurna. Akal sehatnya sudah terurai tidak pada tempatnya. Dia menginginkan sentuhan yang mendamba.
"Kau jangan gila!" Cegah Jeaven saat menyaksikan langsung Jesllyn menanggalkan gaunnya. "Hah! Jangan lakukan itu, Jesslyn. Ini sangat berbahaya." Di tengah deru napas menahan hasrat, pria itu memberi peringatan. Kendati, pemandangan di depan mata begitu menggoda.
"Tubuhku ... panas ... tolong aku. Ini sangat menyiksaku." Jesslyn mengangkat tubuhnya kemudian berhamburan ke pelukan Jeaven. "Aku harus bagaimana?"
"Tidak, Jesslyn." Jeaven masih berupaya memperkuat benteng pertahanannya. Namun, ternyata itu tidaklah mudah.
Di kondisi tubuhnya yang dipengaruhi efek alkohol, pengendalian diri pun seakan bertindak di luar kuasa. Belum lagi dia sedang berada di situasi yang sangat mendukungnya. Libido keperkasaannya sudah menanjak cepat sampai kepala. Bisikan setan juga tak luput memenuhi telinga. Benteng pertahan nafsunya perlahan mulai goyah tanpa aba-aba.
"Maaf," ucap Jeaven sebelum membiarkan pengendalian dirinya terbuai oleh hasrat.
Bersambung~~
Maaf lanjut besok ya ...
__ADS_1
Itu pun kalau bisa. Tapi Nofi usahain kok.
Terima kasih atas segala dukungan kalian. Semoga kalian tidak bosan ya😉🥰