
Tidak terasa musim gugur sudah berada di penghujung bulan. Bersiap musim dingin akan berkunjung kawan. Lima purnama telah dilalui berbekal penantian. Penantian akan sebuah pertemuan, meluapkan gemuruh rasa yang tersimpan. Jeaven dan Jesslyn kian hanyut ke dalam pusaran kerinduan.
Detik-detik dimulainya kompetensi Jeaven menyempatkan diri menelepon sang pujaan hati. Mencari obat rindu di dalam sebuah interaksi. Hanya cara itu yang mampu mempertahankan keharmonisan kala kedua raga terpisahkan oleh jarak kini.
Di dalam sambungan video call Jesslyn terlihat duduk di depan meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan sketsa desain busana. Tidak seharusnya wanita itu masih bekerja di saat hamil tua. Mengingat perutnya yang sudah membesar dan hari perkiraan lahir juga siap menyapa. Kendati pekerjaannya dilakukan di rumah, tapi tetap saja rasa lelah itu ada.
Jeaven bahkan sampai beberapa kali berniat menyerah dari ajang balapan agar bisa segera terbang ke negaranya, menemui Jesslyn yang sangat butuh perhatian ekstra. Istrinya beberapa kali hampir pingsan di masa kehamilan tentu mengundang kekhawatiran yang luar biasa.
"Kau beristirahatlah, Jesslyn." Di dalam video call Jeaven menumpahkan perhatiannya. Kecemasan juga turut tersemat kala ia berbicara. Namun, mata tak menampik akan wajah Jesslyn yang menurutnya kian cantik dan memesona.
Sungguh Jeaven seakan dibuat lemas oleh debaran jantung yang menyerukan ribuan syair cinta dalam cawan rindu. Setiap saraf ditubuhnya kian mendorong hasrat untuk segera bertemu, merengkuh sang ratu hati dengan cumbuan candu.
"Aku akan sangat bosan jika tidak melakukan apa-apa, Jeav. Lagian aku harus melakukan banyak hal sebagai pengalihan." Jesslyn tampak bertopang dagu seraya memandangi paras rupawan sang raja hati. Jantungnya berdetak kencang seakan merasakan jatuh cinta berkali-kali. Apalah hati yang tak kuasa menampik kilau pesona sang suami. Belum lagi gejolak rindu kian membuat rasa membumbung tinggi.
"Kau rindu?" Tak sulit bagi Jeaven untuk mencerna ucapan si wanita.
Jesslyn menjauhkan tangan dari dagu. Wajahnya perlahan tampak tertunduk seraya mengusap sayang anak di dalam perutnya dengan perasaan sendu. Tidak mudah menutupi perasaan hati di depan suaminya itu. Tetapi ia juga tidak membiarkan ego bertamu.
"Tentu saja aku rindu. Kau?" aku Jesslyn dan balik melempar tanya.
"Sangat, tapi kau selalu melarangku untuk menemuimu."
"Kau harus fokus dengan balapanmu dulu. Ingat kau juga ada janji yang harus ditepati. Hari ini balapan terkahirmu di musim tahun ini, 'kan?"
"Aku tidak akan lupa."
"Awas kalau ingkar janji. Aku akan membencimu."
Jeaven tersenyum melihat mimik cemberut Jesslyn yang malah terkesan menggemaskan. "Jangan pasang muka seperti itu."
"Kenapa? Kau sudah tidak tahan ingin menciumku? Dasar mesum."
Lagi-lagi Jeaven tersenyum lebih tepatnya mendengus geli karena ucapan Jesslyn yang memang sesuai fakta. "Kau tidak mau?"
"Tentu saja mau," ucap Jesslyn berterus terang tanpa basa-basi, meski rona tersipu malu tampak menghiasi pipi.
__ADS_1
"Baiklah, aku matiin dulu ya. Pertandingannya akan segera dimulai."
"Hati-hati ya. Kalau kau sampai terjatuh dari motor aku akan menghajarmu."
"Iya. Aku mencintamu," ucap Jeaven sedikit berbisik.
"Aku juga mencintamu."
Bibir masih menyisakan jejak senyuman kala panggilan video call berakhir. Sedetik kemudian helaan resah terdengar dari mulutnya. Ada rasa tidak nyaman yang sedari tadi mengusik hati.
"Aku berharap tidak terjadi apa-apa dengannya. Ya Tuhan tolong lindungi suamiku," doa Jesslyn guna meluruhkan perasaan tidak enaknya.
Waktu terus berjalan, Jesslyn sangat serius menyaksikan siaran langsung pertandingan balapan. Perhatian tak jua lepas dari Jeaven yang sedang bertarung di atas lintasan. Sepasang matanya memancarkan akan kekaguman. Sungguh pria yang berstatus sebagai suaminya itu terlihat sangat gagah di atas tunggangan.
Namun, jantung Jesslyn harus menerima sebuah hantaman keras saat Jeaven tiba-tiba mengalami high side di atas lintasan. Di layar televisi ia melihat tubuh sang suami terlempar jauh dari motor dan membentur tembok pengaman sirkuit dengan sangat keras.
Di layar televisi terlihat tidak hanya Jeaven saja yang mengalami crash. Ada beberapa pembalap lainnya juga. Bisa dikatakan crash beruntun baru saja terjadi.
"Ya Tuhan, Jeav!" Jesslyn reflek memekik dan berdiri. Jantung berdebar hebat menyerukan ketakutan hati. Kecemasan turut menanyakan akan keadaan si suami.
"Tidak, Jeav!" Jesslyn tambah panik kala siaran langsung di televisi tak lagi memperlihatkan sosok Jeaven. Bayang-bayang negatif mulai menyergap pikiran. Hati menjerit histeris bersama air mata yang tumpah membasahi pipi.
"Ahk! Perutku ... sakit!" Jesslyn merintih sembari mendekap perutnya. Keringat dingin juga mulai membasahi muka.
Brak!
Tubuhnya terjatuh ke lantai karena serangan kontraksi mulai terasa.
"Mom ...!" Ia berteriak dengan sisa tenaga yang ada.
"Dad! Jaeden! Tolong aku!" Ia masih berteriak meminta bantuan.
"Aahk! Sakit!" Jesslyn berusaha berdiri, tapi terasa payah.
Rasa nyeri kian menjalar ke seluruh bagian perut, mulai dari bagian depan, kanan dan kiri perut, hingga ke punggung. Perutnya juga terasa mengeras dan panggul terasa seperti ditekan. Sakit sekali.
__ADS_1
"Jesslyn!" Tidak lama pintu ruang kerja Jesslyn terbuka bersamaan Jaeden yang muncul dari sana. Sean dan Allesya juga terlihat menyusul masuk membawa rasa cemas. "Kau kenapa?" tanya Jaeden tampak kebingungan. Kendati seperti itu ia masih sempat mengangkat Jesslyn dan di letakkan di sofa.
"Sakit ...," rintih Jesslyn kesakitan.
"Jesslyn sepertinya akan melahirkan. Kita harus membawanya ke rumah sakit," saran Allesya.
Tanpa menunda waktu Sean langsung membopong si putri. Berniat membawanya ke rumah sakit. Namun, belum sampai kaki meninggalkan rumah niatnya harus terjeda.
"Lepaskan tanganmu, Jesslyn. Kau harus ke rumah sakit," tutur Sean kepada Jesslyn yang tengah berpegangan kuat pada bingkai pintu.
"Dad, Jesslyn takut," ucapnya saat melihat butiran salju mulai berguguran dari langit. Kristal putih yang terlihat cantik tapi begitu mengerikan bagi Jesslyn.
"Ada kami bertiga, Sayang. Jadi tidak perlu takut." Allesya yang kian cemas ikut menuturi.
Jesslyn menggeleng cepat meski nyeri di perutnya masih terasa. "Tidak bisa, Mom. Benda itu menakutiku." Perlahan ia menggeliat turun dari gendongan Sean. Dengan tertatih-tatih ia berjalan menuju ruang tamu.
"Jesslyn, kau jangan keras kepala!" Jaeden yang sangat gedek dengan tingkah kembarannya itu langsung menggendong tanpa meminta persetujuan. Dia tidak habis pikir, di situasi genting seperti ini sempat-sempatnya Jesslyn memikirkan akan trauma masa kecil.
"Jae! Turunkan aku!"
"Tutup saja matamu jika takut!" sentak Jaeden kesal tapi juga karena cemas.
Di dalam mobil Jesslyn terus merintih di sela tenaga kian terkuras.
"Jesslyn harus menghubungi Jeaven. Dia tadi mengalami kecelakaan saat pertandingan." Jesslyn tergugu Lemah. Antara menahan sakit dan juga didera kecemasan akan keadaan si suami. Bahkan pandangannya kian kabur. Ketakutannya akan salju seolah kian memperkeruh suasana. Jiwa bergejolak tak karu-karuan.
"Kami juga tahu itu, Sayang. Mommy akan menghubunginya segera. Jeaven pasti baik-baik saja." Allesya mencoba menenangkan si putri yang berada di pelukannya.
"Jeaven harus baik-baik saja. Jeaven tidak boleh mati. Jeav--" Suara Jesslyn kian mengecil dan akhirnya tidak terdengar lagi.
"Jesslyn, kau kenapa? Sayang, sadarlah," histeris Allesya.
Bersambung~~
Maaf sekali karena beberapa hari ini tidak bisa up bab. Kondisi di dunia nyata sangat tidak memungkinkan untuk mengetik. Maaf ya...🙏
__ADS_1
Insya Allah 3 bab lagi karya ini tamat.
Terima kasih ...🥰