
Dua purnama telah melambai pergi, Jesslyn telah terbiasa menjalani hari-harinya kini. Kehamilannya dianggap sebuah anugerah yang patut disyukuri. Namun, masih ada satu yang membebaninya yaitu kecewa di hati. Nama Jeaven masih terpahat pada tembok kebencian hingga saat ini.
Beruntung ada Bryan yang selalu hadir di saat ia butuh sandaran. Pria itu mengingatkan Jesslyn akan sosok almarhum Jennis yang selalu hadir di ruang kerinduan.
Bagi Jesslyn, Bryan dan Jennis memiliki karakter yang hampir sama. Ramah, perhatian, dan juga memberi rasa nyaman yang dibutuhkannya. Sehingga ia sangat mudah menerima kehadiran pria itu di kehidupannya.
Namun, bukan berarti sosok almarhum Jennis dapat digantikan oleh orang lain. Tidak! Bagi Jesslyn, almarhum Jennis tidak tergantikan dan memiliki tempat tersendiri di hatinya.
Jee Boutique, adalah sebuah butik yang sudah di dirikan Jesslyn semenjak tiga tahun terakhir tanpa sepengetahuan keluarganya. Di Swiss ia memiliki 4 anak cabang butik yang tersebar di beberapa kota.
"Jess, makanlah dulu."
Perhatian Jesslyn yang semula masih terpusat dengan kain dan gunting mulai beralih ke arah Bryan. Diletakkan alat tempurnya di atas meja lanjut menyematkan senyuman tipis di bibir.
"Seperti biasa, kau selalu datang dengan sekantong makanan di tanganmu," celetuk Jesslyn.
"Karena kau selalu lupa untuk mengisi perutmu jika tidak diingatkan." Bryan meletakkan makanan bawaannya di atas meja lalu sibuk mengeluarkan alat tensi dan stetoskop.
"Kau cerewet seperti Mommyku." Sepasang mutiara hazel Jesslyn bergerak mengikuti gerak-gerik Bryan.
"Anggap saja seperti itu," jawab si pria seraya mengukur tensi darah Jesslyn yang terlihat menerima begitu saja semua perlakuan yang di dapat. Wanita itu memang sudah terbiasa akan segala perhatian Bryan yang memang tidak bisa ditolak.
Jesslyn tersenyum tipis dan masih membiarkan Bryan yang kini tampak fokus menggerak-gerakkan ujung stetoskop di perutnya yang masih rata meski usia kandungan hampir menginjak tiga bulan.
"Detak jantung janinnya normal. Tapi apakah kau masih merasakan nyeri di kepala? Tensi darahmu sedikit rendah," tanya Bryan yang masih bersimpu di depan Jesslyn. Tatapannya menyiratkan akan sebuah perhatian sekaligus kecemasan.
"Aku sudah tidak merasa pusing, kok."
"Apa masih mual?"
Jesslyn menggeleng. "Sudah tidak."
Bryan pun mencetak senyuman lega. "Syukurlah. Tapi aku akan tetap memantau kondisimu dan juga janinmu."
Kesenduan samar-samar kembali membiasi sepasang netra Jesslyn yang sayu. Perhatian Bryan justru membuatnya berkalung pilu. Kendati ia tak menafikan akan rasa syukurnya itu, tapi tetap saja kesedihan masih membelenggu.
"Kenapa kau lakukan semua ini, Bryan?"
"Ini memang tugasku." Bryan menatap hangat wajah ayu si wanita yang selalu membuatnya terpesona itu.
__ADS_1
"Bagaimana caraku membalas kebaikanmu?"
Masih dalam posisi bersimpuh Bryan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Jesslyn. Diraup kedua tangan mungil wanita itu sembari merekatkan tatapan penuh makna.
"Apakah aku terlalu pamrih jika meminta kau membayarnya dengan menerima cintaku?" Ucapan Bryan terdengar layaknya sebuah permintaan tulus dari hati.
"Aku sedang mengandung seorang anak dari pria lain. Apa masih pantas untukmu?"
"Kondisimu sekarang tidak bisa dijadikan sebuah tolak ukur pantas tidaknya kau untukku, Jesslyn." Keseriusan kian tersorot jelas di dalam netra Bryan.
"Tap--"
"Jess, aku mohon."
Jesslyn menundukkan pandangannya dalam keheningan. Butuh beberapa waktu baginya untuk memikirkan sebuah jawaban. Perlahan ia kembali mengangkat manik mata dan pandangan keduanya langsung bertautan.
"Baiklah, aku akan mencoba membuka hati."
Keputusan Jesslyn sukses mencetak senyuman merekah di bibir Bryan. Dipeluk seketika tubuh mungil di depannya dengan perasaan haru. "Terima kasih, aku sangat senang. Bagaimana kalau kita menikah secepatnya?"
"Apa?!" Jesslyn sontak melerai pelukan Bryan karena terkejut. "Jangan bercanda, Bryan."
Jesslyn tampak menyelami sorot mata si pria. Dan ia menemukan kesungguhan tak bercela. Meski wanita itu merasa sulit untuk percaya, tapi ia pun tak berniat menyangkal saat hati bersuara bahwa apa yang dikatakan pria di depannya itu memang tulus adanya.
"Bryan," lirih Jesslyn yang sebenarnya terlena bimbang.
"Iya, Sayang." Bryan mengecup lembut setiap buku-buku jari Jesslyn kemudian mendekatkan wajahnya untuk melabuhkan ciuman pada bibir ranum si wanita. Namun, cita-citanya harus pupus karena wajah cantik di depan mata menghindar dengan menoleh ke samping. "Maaf," sesal Bryan karena tindakannya yang tergolong grusa-grusu dan tak mampu menahan hasrat.
"Aku belum siap untuk melakukan itu." Jesslyn sedikit merendahkan pandangannya.
"Terlalu cepat ya?"
Jesslyn mengangguk pelan seiring dengan bibir menjawab singkat. "Iya."
"Pukul saja jika lain kali aku bertindak di luar batas kenyamananmu."
"Baiklah, aku akan memukulmu pakai gayung," cebik Jesslyn.
"Kau mandi pakai shower, dari mana kau bisa mendapatkan gayung?" Kelakar Bryan yang tak mampu menahan gelak lirihnya.
__ADS_1
"Gayung nenek tetangga. Aku sering lihat dia menyiram air para berandalan memakai gayungnya."
"Rupanya kau bersungguh-sungguh ingin memukulku dengan gayung." Bryan kian tergelak.
"Aku lapar," ucap Jesslyn dengan tangan mengusap perutnya yang mulai berkeroncongan.
"Oya aku sampai lupa. Maaf." Bryan langsung beranjak dari persimpuannya kemudian mengambil menu makanan dari atas meja. "Aku suap ya?" tawarnya.
"Aku bisa makan sendiri," tolak Jesslyn. Terus terang ia merasa canggung.
"Please ...." Bryan memaksa.
"Baiklah," jawab si wanita pasrah.
"Anak pintar." Bryan mengusap gemas ujung kepala Jesslyn sebelum menyuapinya.
Malam mulai memamerkan kilau cahaya bintang pada hamparan langit. Usai menyantap makan malam bersama, Bryan mengantar Jesslyn pulang untuk segera beristirahat.
Kaki Jesslyn berjalan tak bersemangat, menuju ranjang kesayangan untuk mengusir penat. Ia menelusup ke dalam selimur tebalnya yang hangat. Dan di saat itu juga kesedihan di hati kembali terpahat. Air mata di ujung netra pun mulai menggeliat.
Sungguh, Jesslyn belum bisa sepenuhnya baik-baik saja. Ia masih belum bisa lepas dari rasa kecewa yang menyeretnya ke dalam kubangan derita. Tanpa ada yang tahu setiap malam ia menangis meratapi nasib perasaannya.
Wajah berawan kelabu itu menunduk, hingga tubuh mungilnya sedikit meringkuk. Tangannya melipat di atas perut seolah mangajak calon anaknya ke dalam peluk.
"Anakku, maafkan ibumu yang cengeng ini ya." Jesslyn kian tergugu bersama kemelut rasa yang kian leluasa menyambuk hati.
Selama masa kehamilan, Jesslyn kerap hanyut ke dalam perasaan bertalu. Hormon kehamilannya memang sangat mengambil andil dalam perubahan suasana hati yang sering berubah-ubah tak menentu.
"Ayahmu sedang bersenang-senang di sana."
Bukan tanpa alasan Jesslyn berkata seperti itu. Beberapa hari terakhir ia sangat terusik dengan sebuah berita yang tersebar di sosial media. Isi berita itu menyiarkan tentang isu kedekatan Jeaven bersama seorang fans wanitanya.
"Dasar bajingan. Bukankah dia berstatus sebagai suaminya Verlin, tapi masih saja bermain nakal dengan wanita lain."
Marah, kecewa, dan sedih tengah bergumul di dalam dada. Jesslyn kian terisak berderai air mata. "Jeaven! Aku benar-benar membencimu!"
Bersambung~~
Maaf ya jika banyak Typo. Nofi ngetiknya buru-buru. Tapi meskipun nggak buru-buru, emang dasarnya aku si kang typo kalau ngetik🤣
__ADS_1
Terima kasih ya atas segala dukungan kalian..lope lope you sekebun pisang🥰😘😘😘