Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Siapa Yang Datang?


__ADS_3

"Ah, maaf! Aku tidak sengaja." Masih dalam posisi meringkuk di lantai, Jesslyn mengungkapkan rasa sesal dengan menutup mata dengan kedua tangannya.


Sementara Jeaven langsung meraup kembali handuk yang terkulai di bawah untuk membungkus tubuhnya kembali.


"Cepat buka matamu dan keluar," titah pria itu bernada dingin. Terus terang, ia juga malu bertelanjang bulat di depan seorang wanita, apalagi Jesslyn.


Jesslyn menggeleng dengan mata terpejam. "Tidak mau! Jika membuka mata aku akan melihat milikmu. Aku takut!" Ia kian histeris.


Berbeda dari sebelumnya, Jesslyn benar-benar tidak berani membuka mata. Reaksinya kali ini sangat berbeda saat melihat Jeaven yang masih berbalut handuk beberapa saat yang lalu. Ternyata, wanita itu juga masih memiliki sisi lugu seperti gadis kecil.


"Aku sudah menutupnya kembali, Jesslyn. Sekarang kau cepat buka mata dan keluar dari sini. Aku ingin segera memakai baju." Jeaven menjelaskan dengan kedongkolan di dada.


"Jesslyn? Kau kenapa?" Tanya Jennis yang langsung mendekati Jesslyn dan membantunya berdiri. Beberapa saat yang lalu pria muda itu mendengar teriakan si wanita ketika kebetulan sedang melintasi depan kamar Jeaven.


"Apa yang baru saja terjadi?" Jennis menggilir pertanyaan kepada Jeaven.


"Dia terjatuh karena kecerobohannya sendiri. Cepat bawa dia keluar, aku mau berpakaian," jawab Jeaven dengan nada suara seperti yang sudah-sudah. Dingin dan terkesan tidak peduli.


"Jess, apa benar begitu? Kakakku tidak bertindak cabul kepadamu, kan?" Jennis bertanya dengan mimik wajah curiga, membuat sang kakak sempat terperangah karena kalimat si adik yang tanpa melewati uji penyaringan itu.


"T-tidak kok, aku tadi kurang berhati-hati saja, makanya terjatuh," jelas Jesslyn sedikit canggung. Lagian mana mungkin dia bercerita bahwa beberapa saat yang lalu handuk Jeaven melorot karena perbuatannya. Yang ada malah dirinyalah nanti yang dipandang mesum.


"Jika aku si pria cabul, sudah dari dulu wanita itu hamil karena terus mengejar dan menggodaku," sela Jeaven dengan santai sembari mengenakan kaos.


Si kakak terlihat sudah tidak ingin terlalu ambil pusing dengan sikap si adik yang seolah menuduhnya terang-terangan.


"Aku akan pegang kata-katamu itu, Jeav." Jennis menoleh ke arah Jesslyn. "Apa kau masih bisa berjalan?"

__ADS_1


"Bisa kok."


"Beneran?"


"Iya."


"Atau mau aku gendong?"


Jesslyn tertawa kecil, sikap Jennis yang hangat dan humoris sukses mencairkan kecanggungan yang sebelumnya melanda hati. "Wah ... adik kecilku ini rupanya bisa manis juga." Ia mengayak gemas rambut Jennis.


"Jangan lakukan itu. Aku ini pria dewasa dan aku bukan adik kecilmu. Aku hanya lebih muda 5 tahun darimu. Masih pantas menjadi kekasihmu atau mungkin suamimu," kelakar Jennis, membuat Jesslyn kian tersenyum lebar.


"Sampai kapan kalian akan berada di sini? Kalau mau bercanda atau berpacaran di luar sana!" Sentak Jeaven yang mulai kehilangan kesabarannya.


Kesal saja, karena dari episode sebelumnya dia tidak jadi-jadi mengenakan celana. Ada-ada saja yang mengganggunya.


"Cepat kau obati kakinya itu," sela Jeaven lagi saat Jesslyn dan Jennis hendak pergi.



"Sudah, Jennis. Kau itu berlebihan. Ini hanya memar kecil saja, tapi kau membuatnya seolah ini luka serius." Jesslyn terkikik geli karena melihat cara Jennis mengobati kakinya.


Jennis membalut luka memar di kaki Jesslyn dengan kain perban, yang seharusnya cukup dikompres menggunakan air dingin atau diolesi salep pereda nyeri saja.


"Benarkah? Aku hanya ingin melakukan yang terbaik saja untukmu, Jess." Jennis menggaruk tengkuk lehernya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal dengan sesekali memandangi balutan perban di kaki Jesslyn dengan senyuman bodoh.


Jesslyn kian tergelak melihat ekspresi Jennis yang terlihat lucu di matanya. "Kau manis sekali." Ia kembali mengayak gemas rambut pria yang lebih muda darinya itu.

__ADS_1


Tindakan Jesslyn terhenti saat Jennis mencengkeram tangannya. Sesaat ia membisu, menyadari sorot mata pria itu yang seolah menyimpan segudang makna.


Namun, suasana kembali menghangat saat Jennis kembali mencetak senyuman di bibir. "Aku ini memang pria manis dan menyenangkan. Kenapa baru sekarang kau menyadarinya?" Ucapnya dengan kenarsisan paripurna.


"Iya, mungkin mataku yang sudah rabun seperti wanita tua, makanya aku telat menyadarinya," cebik Jesslyn, dan keduanya kembali tergelak.


"Aku lepas kembali saja ya."


"Tidak perlu, biarkan saja," cegah Jesslyn saat Jennis hendak melepas kembali perban di kakinya. "Aku rasa ini bisa berguna." Ia menyeringai penuh makna.


"Jika kau ingin menarik perhatian dan simpatiku dengan perban di kakimu itu, sebaiknya lupakan saja."


Jesslyn terhenyak karena kedatangan Jeaven yang secara tiba-tiba. Ia seketika lunglai tak bak tubuh tak bertulang saat pria itu bisa dengan cepat mengetahui niat modusnya.


"Kau itu seperti cenayang saja," cicit si wanita.


Mendengus jengah seraya menggeleng kecil. "Kapan kau akan berubah, Jesslyn?"


"Jika kau menikahiku."


"Jika menikah kau jadikan patokan untuk berubah, buat apa kau makan bangku sekolah selama ini? Jual saja ijazah magistermu itu."


Selesai membungkam mulut Jesslyn dengan perkataan pedasnya, Jeaven mengalihkan atesinya ke si adik. "Sudah jadwalnya kau minum obat." Ia mengingatkan.


"Lagi-lagi kau bersikap seolah aku ini anak kecil." Jennis tampak tak suka.


"Selamat pagi semuanya."

__ADS_1


Semua orang yang berada di ruangan seketika menoleh kompak ke arah sumber suara. Dan di saat itu juga, Jesslyn langsung memasang muka tidak suka.


Bersambung~~


__ADS_2