Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Perseteruan


__ADS_3

Raut penuh tanya tampak menghiasi wajah cantik Jesslyn sekarang. Setelah menemani Verlin di rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan, dia langsung mengantar manajer Jeaven itu pulang.


Tentunya dengan diantarkan seorang supir karena salju sedang menyelimuti sudut kota. Lagian mana berani dia keluar sendirian di saat musim dingin tiba. Dan untuk kejadian mengerikan beberapa hari yang lalu cukup dijadikan pembelajaran saja.


"Kamu tinggal di sini?" Jesslyn mencoba mengobati rasa ingin tahunya seraya mengamati sekeliling kamar milik Verlin yang merupakan bagian dari apartemen milik Jeaven.


Verlin tersenyum simpul disusul bibir yang mulai bergerak. "Iya, tapi belum lama. Jeaven memintaku menempati apartemennya," jelas wanita itu seraya mendaratkan bokong di bibir ranjangnya.


"Apa kau butuh sesuatu?" Jesslyn langsung berinisiatif untuk bertanya saat menyadari gerak bola mata Verlin seperti mencari sesuatu.


"Aku haus, bisakah kau membantuku?" pinta Verlin. Sesekali mukanya tampak meringis menahan perih pada luka di tangan kirinya karena terkena serangan air keras di acara konferensi pers tadi pagi.


Beruntung Verlin tadi mengenakan mantel dingin tebal berbahan kulit saat mencoba menjadikan dirinya perisai dari serangan. Jadi dampak luka yang diterima tidak sampai membahayakan nyawanya. Kendati, luka di tangannya cukup menyakitkan dan tentu akan meninggalkan bekas.


"ini minumlah." Jesslyn menyodorkan segelas air ke Verlin.


"Terima kasih."


Verlin meneguk perlahan cairan bening itu hingga tandas. Lalu meletakkannya di atas nakas. Sedetik kemudian ia tampak menghela napas. Dia seolah tahu dengan isi pikiran Jesslyn dengan jelas.


"Hanya sebentuk rasa peduli sesama manusia," ujar Verlin yang kembali memecahkan suasana.


"Ee? Maksudnya apa?" Jesslyn tentu tidak langsung mengerti. Perkataan Verlin terkesan ambigu.


"Jeaven memintaku menempati apartemennya yang kosong hanya karena merasa iba. Perlakuan baik Jeaven terhadapku selama ini hanya sebatas teman dan tidak melibatkan perasaan khusus antara pria dan wanita." Rupanya Verlin mencoba menepis sebuah prasangka di hati Jesslyn.


Sesaat Jesslyn masih mengatup bibirnya untuk tak bersuara. Namun, bahasa tatapan matanya seolah tengah menilai rasa. Garis-garis ekspresi di wajah Verlin seakan mengatakan semua, membuat rasa sesak tiba-tiba bergumul di rongga dada.


Helaan napas terdengar seiring dengan pandangan terlempar ke sembarang arah. "Tapi aku tahu kau mengharapkan rasa khusus itu ada untukmu," ucap Jesslyn sedikit pelan.


Verlin terhenyak pelan karena perkataan menohok Jesslyn. Kerutan di antara kedua pangkal alisnya seolah mewakilkan sebentuk tanda tanya. "Kau tahu kalau aku--" Ia tampak ragu untuk melanjutkan kata. Jujur, wanita itu tidak ingin ada hati yang tersakiti.


Jesslyn membuang napas panjang lalu mengambil posisi duduk di sebelah Verlin. Tangan diajak berlipat di depan dada seiring dengan pandangan menerawang.

__ADS_1


"Aku sudah tahu dari dulu. Itulah sebabnya aku selalu merasa tidak nyaman melihat kedekatanmu dengan Jeaven. Aku cemburu. Dan aku takut kau mampu mengalihkan perhatiannya dariku," beber Jesslyn, mencurahkan isi hatinya yang selama ini dipendam sendiri.


"Maaf, aku tidak bermaksud menusukmu dari belakang. Tapi perasaan itu datang begitu saja." Pandangan Verlin merendah. Rasanya terlalu malu jika harus bersitatap dengan Jesslyn setelah persembunyian perasaannya selama ini kepergok.


Rasanya terlalu tidak tahu diri jika dia harus bersaing dengan putri dari kalangan keluarga terpandang yang jelas-jelas sudah terlebih dahulu mencintai Jeaven. Apalah dia yang hanya wanita miskin dan datang diakhir dengan menggenggam label yatim piatu di kedua tangannya. Apakah masih pantas untuk bersaing?


"Andai kalau orang itu bukan Jeaven, kau pasti tidak akan tergerak mengorbankan dirimu demi melindunginya, bukan?" Sekali lagi, Jesslyn membuat Verlin terbungkam.


Kau membuatku iri, Verlin. Aku bahkan belum pernah sekalipun bekorban untuk Jeaven. Selama ini aku hanya sibuk mengejar dan membuatnya frustrasi.


Hening menyelimuti suasana. Masing-masing kedua wanita itu tengah hanyut ke dalam pikirannya. Hingga suara ketukan pintu memecahkan kaca lamunan mereka.


"Masuk saja, Jennis," ucap Verlin yang langsung tahu siapa yang datang karena kebetulan pintu kamar sedang terbuka lebar. "Apa kau datang sendiri?" sambungnya dengan pertanyaan.


Kaki jenjang Jennis melangkah masuk ke ruangan. Gurat-gurat di wajah tirusnya membingkai keseriusan. Jangan ditanya kawan. Itu karena ia sedang dilanda kecemasan.


"Aku datang bersama Jeaven. Dia masih di bawah. Bagaimana keadaanmu, Verlin?" tanya pria itu sebagai bentuk perhatiannya.


"Cuma luka ringan. Cukup dengan memberi obat dari dokter ini akan lekas sembuh," terang Verlin.


Verlin tersenyum ringan mendengar saran Jennis yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan olehnya. "Aku rasa saranmu itu perlu dipertimbangkan."


Tersenyum simpul, Jennis menanggapi ucapan Verlin kemudian kembali bersuara. "Aku juga seharusnya berterima kasih kepadamu. Bagaimanapun juga aku bersyukur karena kakakku tidak terluka karena pengorbananmu. Meski aku juga menyayangkan dengan keadaanmu sekarang. Andai kalau bisa meminta, aku tidak ingin ada yang terluka."


"Sudahlah, luka ini bukan masalah besar bagiku. Sudah tugasku sebagai menajer Jeaven untuk selalu memasang badan."


"Terima kasih, Verlin."


Jennis kini beralih perhatian kepada Jesslyn yang masih duduk di bibir ranjang. Ia merendahkan tubuhnya dengan bersimpu di hadapan kedua lutut wanita itu seiring dengan tatapan teduh penuh makna.


"Kau selalu saja membuatku khawatir, Jesslyn."


Deg!

__ADS_1


Denyutan kuat mengetuk dada Jesslyn yang bergetar. Baru kali ini penampakan wajah serius Jennis membayangi pandangannya tanpa samar.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Jennis. Verlin yang terluka, bukan aku."


"Tapi sebelumnya kau lah yang menjadi incaran utama dari serangan itu. Bagaimana kalau lemparan air keras itu benar-benar mengenaimu?" Terdorong kepedulian yang tinggi, Jennis kian menunjukkan reaksi kecemasannya. Bahkan tangan Jesslyn tidak lalai dari cengkeraman lembut tangan besarnya.


"Kau itu sangat berlebihan, Jennis." Terus terang wanita bermutiara hazel itu tampak canggung untuk pertama kalinya di depan Jennis.


Perhatian ketiga anak manusia itu seketika teralihkan oleh suara hentakan langkah kaki milik Jeaven yang memasuki kamar. Pria tampan bertubuh gagah itu sekilas bertaut pandang dengan Jesslyn sebelum memindahkan atensinya kepada Verlin.


"Bagaimana keadaanmu?" Ia langsung melisankan tanya.


Dengan tersenyum hangat, Verlin sedikit mengangkat sebelah tangannya yang terbungkus kain kasa. "Hanya luka kecil," ucapnya seolah sensasi terbakar yang dirasa bukanlah apa-apa.


Setelah mendengar jawaban Verlin, Jeaven kembali menggiring pandangannya ke Jesslyn. Seperti biasa, mimik mukanya selalu dingin. Bahkan kali ini tampak lebih parah dari pada di hari-hari lain.


"Apa kau tahu, musibah ini karena hasil dari perbuatanmu? Berhentilah bertindak ceroboh dan tanpa memikirkan dampak resikonya," cerca Jeaven.


Jesslyn mengernyit tidak mengerti. "Apa maksudmu?"


"Dalang dari semuanya adalah Angelina Rowler. Artis yang pernah kau permalukan sampai ia berniat balas dendam. Apa kau tidak punya otak?! Berhentilah bertingkah seperti bayi!"


Ruang dada Jesslyn seketika bergemuruh kecewa. Lidah tajam Jeaven kembali menoreh luka. Diakui dia memang salah, tapi egonya ternyata lebih berkuasa. Hingga akhirnya rasa tidak terima itu menyapa.


Dengan kasar, Jesslyn beranjak dari ranjang. Sampai-sampai Jennis yang semula masih bersimpuh di depannya terhuyung ke belakang. Titik embun pada kedua netranya mulai berlinang.


"Aku tidak akan menunjukkan taring jika tidak diusik duluan. Tanpa sepengetahuanmu, Angelina sudah beberapa kali menggangguku sebelumnya! Mencoba menjatuhkan harga diriku dan juga merusak nama baik hasil desain produkku. Jadi aku tidak salah jika memberinya sedikit pelajaran!" Jesslyn akhirnya membeberkan fakta yang sebelumnya belum ada yang tahu, termasuk para pembaca.


Jesslyn melayangkan pukulan di dada Jeaven. "Kau itu siapa, Hah?! Selalu saja melukai hatiku. Aku benar-benar membencimu!" Ia kemudian melenggang pergi dengan perasaan kecewa.


"Jess, kau mau kemana?" Teriak Jennis.


"Cepat kejar dia. Di luar sedang turun salju," titah Jeaven dan langsung mendapat anggukan 'iya' dari Jennis.

__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2