Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Lupakan Saja


__ADS_3

Hawa panas kian meradang, terbuai dalam sentuhan lena tak bertabuh bimbang. Getaran deru mahkota jiwa di dalam dada seolah berdendang. Kedua raga anak manusia kini tak lagi mampu mengelak dari gairah titik rangsang.


Seakan petuah keramat orang tua yang selama ini menjadi panutan hanyalah bisikan semu. Menggema sekilas ke dalam telinga dan langsung berlalu. Membiarkan diri terpenjara nafsu.


"Maaf, aku tak lagi mampu menahannya." Terdengar beberapa kali Jeaven mengulang kata maaf di sela cumbuannya.


Jesslyn tak berkata. Ia lebih memilih menyeimbangi ciuman Jeaven di bibirnya. Dessahan kecil turut mengalun kala jemari besar si pria bermain nakal di puncak dada. Namun, wanita itu harus menelan kecewa karena sentuhan di tubuhnya terjeda.


Sesaat Jeaven menatap lekat netra Jesslyn yang tampak sayu. Menyelami mutiara hazel dengan sebuah getaran bertalu. Ada sebingkai rasa yang tak mampu terangkai oleh goresan lisan berpadu. Ia terombang di antara kemelut otak dan hatinya itu. Hingga bisikan lembut si wanita kembali mengundang kabut nafsu.


"Jeaven ... tubuhku menginginkannya. Aku tidak bisa tahan lebih lama lagi. Panas," keluh Jesslyn. Tangannya mulai menuntun tangan Jeaven turun ke bawah hingga bermuara pada lembah kewanitaannya.


"Kau sudah basah," bisik Jeaven dengan sorot mata yang kian berkabut hitam. Ia sudah kalah melawan hasrat yang terus mendobrak gairah libidonya.


Sepasang anak adam itu tak lagi mampu menggunakan akal sehat manusia. Saat ini mereka sudah terkurung di dalam lingkar gairah bercinta. Cita-cita meneguk cumbanarasa kian bergelora. Dan setan pun tergelak menang dan bersorak gembira.


"Ahk! Jeav!"


Gelombang rintihan menembus atmosfer panas, seiring dengan tetesan darah yang mengalir dari gerbang mahkota milik Jesslyn. Bulir bening berderai dari bingkai mata. Hilang sudah hal beharga yang selama ini dijaga.


Milik Jeaven akhirnya sukses mengoyak selaput kesucian yang sepatutnya dilindungi. Tembok pertahanannya roboh, mengubur puing-puing kepercayaan orang tuanya yang selama ini dimiliki. Jeaven kalah telak kini.


Mereka sudah terlena dalam kekhilafan surga dunia. Penyatuan raga terjadi tanpa berbekal rencana. Semua ini terjadi begitu saja. Nafsu sudah membumbung di atas kepala.


Lelah menyapa di penghujung kenikmatan bercinta. Sepasang raga polos itu tampak terkulai tak bertenaga, saling merengkuh di bawah selimut dan terlena ke dalam lelap mereka.


Detak jarum jam masih berirama, berputar tanpa jeda, mengantar waktu di pagi buta.


Perlahan Jeaven mulai terbangun dari mimpinya. Menggeliat kecil seiring dengan mata yang terbuka. Ia mengernyit karena sisa pening di kepala. Sebelah tangan reflek memijat ringan pelipisnya. Hingga bayangan percintaan semalam berkelebatan di dalam ingatannya.

__ADS_1


Di pandangi sosok cantik mungil yang masih tenggelam ke dalam pelukannya. Rasa sesal pun seketika merenggut dada.


Akhirnya aku bertindak ceroboh. Apa bedanya aku dengan bajingan?


Jeaven merutuki diri yang tak mampu menahan gejolak nafsunya saat bersama Jesslyn. Niat hati ingin melindungi si wanita dari tindakan mesum Rocky, tapi malah ia sendiri yang merusaknya.


Inilah pahlawan yang tak layak disebut pahlawan.


Jeaven tiba-tiba teringat, bagaimana ia begitu menikmati kegiatan bercinta pengalaman pertamanya itu dengan tanpa rasa sesal sedikitpun. Inilah salah satu alasannya, kenapa ia sangat anti dengan minuman setan yang memabukkan itu. Ia bisa hilang kendali, apa lagi saat bersama Jesslyn.


Padahal aku cukup menyiramnya dengan air dingin atau memberi minuman penetral efek obat.


Hati kecil Jeaven menggerang frustrasi karena kebodohannya. Ditambah lagi bayang-bayang wajah Jennis membuat ia kian berbalut rasa bersalah yang teramat besar.


Pergerakan kecil di dalam pelukannya sontak memecahkan kaca lamunan sesal Jeaven. Ia mengamati Jesslyn yang perlahan membuka mata. Rupanya wanita itu mulai kembali dari mimpinya.


Jeaven reflek membanting pandangan ke samping saat tubuh polos Jesslyn tak lagi berlindung di balik selimut. "Tutup tubuhmu," pinta pria itu seraya batin mengumpat kesal. Bisa-bisanya miliknya kembali menegang di saat rasa sesal masih bernaung di hati.


"Kyaaa! Jangan melihatnya!" Pekik si wanita diikuti gerak cepat tangan meraup selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Maaf," ucap Jeaven. Ia meraup celana yang berserak di lantai lalu memakainya.


Suasana mendadak canggung. Kedua dari mereka sama-sama mengingat dengan kejadian semalam.


"Kita tak seharusnya melakukannya." Jesslyn tertunduk penuh sesal. Namun, sedetik kemudian ia mamandangi Jeaven yang duduk memunggunginya di bibir ranjang. Jujur, saat ini ia sangat berharap lebih ke pria yang masih bertahtah di hatinya itu. "Bagaimana dengan status hubungan kita?"


Jeaven memutar leher ke samping, hingga ujung hidungnya yang tajam terjangkau oleh pandangan Jesslyn. "Tidak akan ada yang berubah dengan status hubungan kita."


"Tapi kita sudah melakukan itu semalam." Suara Jesslyn terdengar kecewa.

__ADS_1


"Apa bagusnya sebuah hubungan berawal dari kesalahan?" Ucapan Jeaven mulai merogoh kasar hati Jesslyn yang lembut.


Jeaven berdiri dan memutar tubuhnya hingga menghadap sempurna ke arah Jesslyn. Pandangan matanya sungguh penuh makna tapi begitu sukar diartikan.


"Anggap saja kejadian semalam tidak pernah terjadi. Segera hapus dari ingatanmu," titah pria itu terkesan sangat dingin.


Titik-titik embun mulai menggenang di pelupuk mata, tapi sebisa mungkin tak dibiarkan luruh begitu saja. Jesslyn masih berusaha berdiri dengan segala ketegarannya.


"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu setelah merenggut keperawananku?" Jesslyn mulai emosi karena kecewa.


Jeaven tak bembalas pertanyaan yang dilontarkan untuknya. Hanya helaan di dalam hati yang tentunya tidak diketahui si wanita.


Tersenyum getir menahan perih di hati, Jesslyn kembali bersuara. "Seorang pelacur ternyata jauh lebih berharga dari pada aku. Mereka setidaknya mendapatkan uang dan kenikmatan. Tak jarang dari mereka tersenyum senang karena menuai kepuasan diakhir pekerjaanya."


"Jangan samakan dirimu dengan pelacur." Entah mengapa, Jeaven tidak suka mendengar perkataan Jesslyn.


"Tapi itulah kenyataannya kini. Selama ini aku mengejarmu seperti wanita tak punya harga diri. Dan sekarang, kesucianku pun ternoda dengan kecewa di hati. Meski karena sebuah kesalahan, tapi tetap aku merasa rugi!" Jesslyn mulai terbawa perasaan. Walapun air mata masih kuat tertahan tapi nada suaranya yang tinggi cukup menyiratkan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.


"Maaf." Lagi-lagi Jeaven mengucapkan kata maaf tapi selalu tak selaras dengan rautnya yang dingin. Jesslyn bahkan sampai ragu, apakah ucapannya itu benar-benar tulus dari hati?


"Lupakan saja. Peristiwa ini aku anggap peringatan dari Tuhan, bahwa kau memang tak baik untukku, dan aku juga bukan wanita yang pantas mendapat cintamu."


Jesslyn kian menutup rapat tubuhnya menggunakan selimut, lalu membawa kaki menuruni ranjang. Namun ternyata, organ intimnya belum siap menerima denyutan nyeri karena perbuatan Jeaven semalam. Sehingga ia memilih kembali duduk dengan gelagat muka tak nyaman.


"Kau kenapa?" Jeaven rupanya menyadari ekspresi aneh wanita di depannya itu.


"Bukan urusanmu."


Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2