
"Jess! Kau mau ke mana?" Teriak Monica. Dengan sekali hentakan kaki ia berdiri dari posisi duduk. Sesaat ia melirik sinis ke arah Jeaven sebelum berlari menyusul sahabatnya.
Melihat sesuatu yang tidak benar baru saja terjadi, Verlin gegas mengklarifikasi. Lagian ia semakin tidak enak hati, karena keberadaannyalah yang menjadi alasan perseteruan di antara Jeaven dan Jesslyn tadi.
"Jeav, kenapa kau malah menuduhnya seperti itu? Jesslyn tidak salah," terangnya dengan mimik khawatir.
Mendengar ungkapan Verlin, rona dingin di muka Jeaven perlahan sirna. Yang terlihat kali ini kalau pria itu tengah bertanya-tanya.
Mampu membaca akan raut muka Jeaven yang sarat akan tuntutan penjelasan lebih, Verlin lanjut berucap kata. "Beberapa saat yang lalu aku tidak sengaja menumpahkan sendiri minumanku. Jesslyn justru membantu membersihkan pakaianku tadi. Andai saja kau mau memperhatikannya lebih teliti, pakaian Jesslyn bahkan lebih kotor karena ulahku."
Lidah mendadak kelu, penjelasan yang baru saja tertangkap pendengaran menggiring sesal di dalam kalbu. Bisikan rutukan diri pun mulai berseru. Jeaven mendesah berat seiring dengan rasa bersalahnya terhadap wanita yang selalu mengejarnya itu.
"Jeaven!" Dari luar Monica tampak kembali dengan langkah cepat dilengkapi ekspresi cemas. Dilayangkan satu pukulan keras ke lengan Jeaven seraya berseru kesal. "Di luar ternyata sedang turun salju lebat, dan Jesslyn nekat menyetir mobilnya sendiri. Kau pasti tahu kalau dia tidak bisa keluar sendirian di saat cuaca seperti ini, kan?! Ini semua gara-garamu. Kalau sampai dia kenapa-napa, bersiaplah kau mati di tanganku, Jeaven!" Semburnya emosi.
Deg!
Denyutan kuat seketika menghantam dada. Mendengar laporan dari Monica sukses mengundang rasa cemas yang tak terkira. Jeaven sontak memutar tumit dan melangkah pergi tanpa berucap kata.
Brak!
"Berhati-hatilah, Tuan," komplen seorang tamu restauran yang hampir saja terjatuh karena kecerobohan Jeaven menabraknya.
"Maaf," ucap Jeaven singkat, mengabaikan ekpresi protes lawan bicaranya dan langsung berlari menuju parkiran kendaraan.
Jeaven tetaplah manusia yang memiliki hati. Kendati ia memiliki karakter dingin bukan berarti tak memiliki sisi kemanusiaan pada diri. Walaupun Jesslyn sering bertingkah dan membuatnya frustrasi, tapi rasa peduli tetap tersisip di sanubari. Mengingat juga bahwa mereka sudah berteman dari kecil hingga kini, mana mungkin pria itu bisa sepenuhnya berlagak buta dan tuli.
…
Di salah satu sudut kota, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di bibir jalan diiringi suara decitan rem yang dipijak secara kasar. Seorang wanita tampak gusar dengan tubuh bergetar. Pemandangan di luar kaca jendela, seolah siap melahapnya dengan tak sabar.
Pesona kristal salju yang berguguran dari perut langit, ternyata tak kuasa menarik rasa kagum dari seorang Jesslyn. Mereka sangat menakutkan.
Sesak mulai merenggut ruang dada, saat kilasan-kilasan kejadian mengerikan kembali berputar di kepala. Waktu seakan berhenti berputar seketika, menyeretnya ke lorong sepi dan hampa. Sungguh, ia tersiksa.
Daddy ... mommy, Jesslyn takut. Jaeden kau di mana? suara hatinya mengadu dan mengiba akan belas kasihan.
Siapapun tolong aku. Jeaven, aku tidak ingin mati!
__ADS_1
Bantinnya terus menjerit. Ketakutannya kian menghimpit. Jiwa Jesslyn bagaikan terkurung di ruang suram nan sempit. Ia tak berdaya untuk bangkit. Sungguh apa yang dirasa sangatlah sakit.
Pias wajah sudah terhias butiran keringat dingin yang tergiring. Pendengerannya berdenging nyaring seiring dengan denyutan pusing. Bahkan suara gedoran pada kaca jendela di samping seolah tenggelam bersama kesadaran yang perlahan berpaling.
Duk! Duk! Duk!
"Jesslyn! Buka pintunya!"
Duk! Duk! Duk!
"Aku mohon, bukan pintunya sekarang!"
Dari luar badan mobil, seseorang terdengar berteriak dengan kecemasan yang luar biasa. Namun, Jesslyn seolah tak mendengar apa-apa. Wanita itu justru kian terlihat ketakutan dengan menutup kedua telinga.
Hingga kinerja paru-paru yang melemah, membuat wanita itu kesulitan bernapas dan pasrah. Kesadaran perlahan runtuh, diikuti terpejamnya kedua netra yang basah. Lemas sudah!
"Jesslyn sadarlah! Buka matamu!" Orang di luar jendela mobil masih berusaha keras memberi pertolongan.
…
Jeaven membawa mobilnya membelah jalanan kota yang sebagian sudah berselimut salju. Di sela laju roda, pandangan dibawa menyisiri area sekitar dengan deguban cemas yang bertalu.
"Sebenarnya kau di mana, Jesslyn?"
Pria itu sangat ingat, bagaimana dulu insiden mengerikan menimpa Jesslyn di masa lalu. Sehingga menyisakan rasa trauma yang terus menakuti wanita itu seperti hantu.
Dia juga sangat ingat, bagaimana reaksi tubuh Jesslyn jika traumatik itu kembali menyerang. Hah! Batin Jeaven mengerang, karena rasa tak tega tiba-tiba bersambang.
Empat roda masih berpacu, meninggalkan jejak panjang pada jalanan bersalju. Hingga perhatiannya tidak sengaja menangkap sosok yang dikenal saat melintas. Dan disaat itu juga dia langsung menginjak pedal rem dan keluar menghampirinya.
"Jennis, apa yang sedang kau lakukan?!" Teriak Jeaven di sela langkah kakinya menghampiri si adik. Melihat Jennis membiarkan tubuh ringkihnya diselimuti hujan salju tentu saja memancing kekhawatiran seorang Jeaven.
"Jesslyn harus segera ditolong, Jeav!" Lapor Jennis setelah menyadari kedatangan sang kakak.
Jeaven masih sempat memberikan sebentuk perhatian dengan melepas mantel dinginnya dan dipakaikan ke Jennis. Kemudian ia mencoba memeriksa keadaan Jesslyn dengan cara mengintip dari luar kaca jendela. Mata langsung menangkap kondisi wanita itu yang tampak lemah di balik kemudi mobilnya.
Deg!
__ADS_1
Kecemasan kembali meraung, menarik denyutan ngilu di dada. Dia langsung bertindak cepat tanpa banyak berucap kata. Ditarik handle mobil tapi pintu tak bisa terbuka. Berusaha berteriak memanggil Jesslyn dan masih sia-sia.
Tidak ingin membuang banyak waktu, Jeaven mengambil kunci inggris dari dalam mobilnya. Merusak kaca mobil adalah jalan satu-satunya, itulah cara darurat yang terlintas di kepala.
"Menjauhlah." Jeaven memberi instruksi kepada Jennis sebelum mengambil ancang-ancang.
Bruak! Bruak! Bruak!
"Jesslyn, buka matamu!" Jeaven langsung menepuk-nepuk pipi pucat Jesslyn setelah berhasil membuka pintu mobil.
Namun, wanita itu terlihat sangat tak berdaya, kendati kelopak mata mulai sedikit terbuka. Sesak membawa dadanya naik turun karena kepayahan meraup udara.
Entah dari mana datangnya bisikan yang menuntun Jeaven. Tanpa berpikir panjang pria itu menarik wajah Jesslyn dan langsung menempelkan mulutnya ke mulut si wanita, kemudian memberi napas buatan. Dan hal itu ia lakukan untuk beberapa lama.
"Hmm ... apa yang kau lakukan?" Jesslyn masih sempat menggencarkan protes meski suaranya sangat lemah dan kecil bak bayi semut.
Rupanya, usaha Jeaven cukup efektif menarik kembali sebagian kesadaran Jesslyn. Meski, tenaga wanita itu belum cukup kuat hanya untuk sekedar menggerakkan tangan.
Jennis seketika terpaku. Menyaksikan adegan di depan mata membuat detak jantungnya bertalu. Ada rasa tidak nyaman yang mengganggu. Sungguh, dia tidak ingin egois, tapi kenyataannya dia cemburu.
"Jennis, cepatlah masuk ke mobil!" Suara instruksi Jeaven seketika menariknya dari lamunan.
Dia baru menyadari bahwa Jesslyn sudah berpindah ke mobil milik Jeaven. Gegas ia mengambil langkah, lalu masuk ke mobil dan duduk di bangku penumpang belakang tempat si wanita berada.
"Jeav, aku tidak apa-apa dan juga tidak memerlukannya," tolak Jennis saat Jeaven melepas sarung tangan hangat miliknya untuk dipakaikan ke dia.
"Jangan banyak bicara," tegas Jeaven tidak ingin dibantah. Di sela kekhawatirannya tentang Jesslyn, ia masih sempat memperhatikan keadaan Jennis yang mulai memucat karena udara dingin.
"Dan bungkus tubuh Jesslyn dengan ini," imbuh Jeaven seraya menyerahkan syal miliknya kepada Jennis. Hingga pria itu kini hanya berbalut pakaian tipis saja.
Deru mesin mobil terdengar, Jeaven langsung membawa mobil membelah hujan salju, menuju rumah sakit.
Bersambung~~
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ga kawan🥰
Vote dan Gift juga akan Nofi terima dengan ucapan alhamdulilah..
__ADS_1
Terima Kasih🥰