Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Pertemuan


__ADS_3

Denyutan perih bersenandung duka seiring gemuruh menabuh dada. Tak sekali suara hati membisikkan kata penyangkal prasangka. Namun, ego menelan semuanya tanpa frasa.


Nafas masih tersengal dalam tanya tentang kebenarannya, tapi hati seolah enggan mencerna dengan bijaksana. Hingga batin terus memekik tercekik luka.


"Aku nggak bisa mempercayainya. Itu sangat sulit." Kecewa yang dituai terlampiaskan pada cengekeraman tangan pada setir kemudi. Wajah cantik Jesslyn kembali bermandikan air mata karena patah hati.


Dibelai perutnya yang terlihat mulai membesar. "Kalau sudah seperti ini apa kau masih akan tetap berpihak kepada ayahmu? Dia sudah berkali-kali menyakiti perasaanku." Jesslyn lalu mengajak si janin berinteraksi. Menumpahkan keluh kesahnya yang kian menjadi.


Berat beban pikiran mengajak Jesslyn menjatuhkan kepalanya pada lipatan tangan yang tersusun di atas setir. "Aku benar-benar membencimu, Jeav. Padahal hatiku pelan-pelan mulai bisa menerimamu kembali, tapi lagi-lagi kau membuatku meragu akan keseriusanmu. Ini semua memang salahku juga yang mudah sekali terbuai oleh rayuanmu. Aku memang bodoh." Tetes demi tetes bulir air mata masih setia berjatuhan, membawa segenap penyesalan dan juga kekecewaan.


Jesslyn sempat terhenyak kecil kala sebuah panggilan suara kembali menegurnya. Namun, urung membuat ia menarik muka dari atas setir untuk sekedar melihat siapa yang menelpon.


"Aku tidak sudi berbicara dengannya." Jesslyn tahu siapa orang yang sedari tadi membuat ponselnya sangat berisik. Memang sejak tadi siang hingga menjelang petang ia enggan merespon panggilan yang tak lain dari Jeaven.


"Hah! Dia sangat menyebalkan." Merasa terusik Jesslyn menggerang sembari menghempas punggungnya pada sandaran bangku mobil.


Disorot ponselnya yang tak lagi bersuara. Selang tidak lama sebuah pesan singkat masuk dan sukses menarik perhatiannya.


^^^Jeaven:^^^


^^^Kau di mana sekarang? Kita harus berbicara face to face.^^^


Senyuman kecut seketika tercetak di bibir Jesslyn. "Apa dia bercanda? Konyol." Ia mencebik karena perkataan Jeaven dirasa tidak masuk akal pikiran. Bagaimana mungkin dua orang yang berada di negara berbeda bisa saling berbicara berhadap-hadapan.


Hanya membaca enggan memberi balasan, Jesslyn benar-benar berniat mengabaikan. Tidak peduli kalau Jeaven saat ini sedang kelimpungan.

__ADS_1


Jesslyn beberapa kali menarik napas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan secara teratur. Segera diseka jejak air mata di pipi lanjut menambal wajah dengan bedak yang sempat luntur. Ditata kembali mimik muka agar ia tetap terlihat baik-baik saja meski hatinya sedang hancur.


Mengingat dia sedang ada janji pertemuan dengan orang penting yang akan memberi sebuah peluang berharga untuk melebarkan sayap usahanya di dunia fashion. Jadi sebisa mungkin ia harus memberikan kesan pertama yang baik.


"Halo, ada apa?" Disela langkah kakinya memasuki bangunan restauran dan bar Jesslyn masih sempat menerima panggilan dari Monica.


"Kau di mana?" Dari seberang telepon terdengar Monica bertanya.


"Aku ada janji bertemu Tuan Alex."


"Kenapa kau pergi sendiri? Harusnya kau memintaku menemanimu."


"Kenapa juga kau malah mengomel-ngomel? Aku bisa berangkat sendiri. Ya sudah aku matiin teleponnya." Jesslyn langsung memutus sambungan panggilan, tidak ingin telinganya terasa gatal karena harus mendengarkan kicauan Monica yang diyakini akan terus berlanjut sampai matahari terbit.



"Kau terlambat lima menit. Tetapi bukan masalah bagiku. Ayo duduklah." Alex mempersilahkan. Bibirnya terus tersenyum lebar menyambut antusias kedatangan Jesslyn.


"Terima kasih." Jesslyn mendaratkan bokongnya di posisi agak jauh dari Alex karena merasa kurang nyaman berdua saja bersama pria lain di ruangan tertutup seperti sekarang.


Kalau diperhatikan baik-baik, tidak ada gelagat aneh pada pria matang berwajah campuran oriental itu. Pembawaannya ramah dan juga murah senyum.


"Sebaiknya kita menyantap makan malam dulu sebelum membawa pembicaraan kita ke ranah serius."


Jesslyn tersenyum anggun dan mengangguk sopan. "Baik, Tuan Alex."

__ADS_1


Tidak lama pesanan makanan tersaji di atas meja. Keduanya mulai menyantap diselingi obrolan ringan dan juga tawa. Alex benar-benar pandai mencairkan suasana, membuat Jesslyn nyaman berbicara dengannya.


Setelah selesai dengan ritual pengisian perut, keduanya langsung membawa percakapan ke ranah inti. Terus terang Alex sangat kagum akan kepiawaian Jesslyn saat bernegoisasi. Hingga kesepakatan kontrak kerja sama pun resmi ditanda tangani.


"Mari kita bersulang sebagai perayaan pembuka kerja sama kita." Alex menyodorkan segelas red wine ke Jesslyn.


"Maaf, Tuan Alex. Saya tidak bisa minum alkohol," tolak Jesslyn dengan perasaan tak enak hati. Ia sedang hamil tentu saja alkohol sangat dihindari.


"Ayolah, sedikit saja." Alex rupanya memaksa.


"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak bisa meminum alkohol."


"Anda terkesan tidak menghargaiku sekarang, Nona Jesslyn." Alex tampak kecewa.


"Ah, maaf. Saya tidak bermaksud seperti itu. Tentu saya sangat menghargai anda." Jesslyn kian dirundung rasa tidak enak hati.


"Kalau begitu minum sedikit saja agar saya senang. Anda tidak perlu menghabiskan semuanya."


Diiringi keraguan tangan Jesslyn akhirnya mencoba menjangkau gelas berkaki itu. Tetapi hati masih enggan untuk meneguk ataupun mencicipi cairan memabukkan itu. Ia berniat menjelaskan sesuatu yang di mana Alex harus tahu.


"Ayo, minum," desak Alex.


"Apa yang kau lakukan, Jesslyn!"


Jesslyn tersentak karena kehadiran seseorang yang tiba-tiba menyabet gelas red wine dari tangannya. "Kau?"

__ADS_1


Sementara Alex tampak keheranan karena tamu tak diundang menyelinap tanpa sopan ke ruang VVIP miliknya. "Maaf, anda siapa?"


Bersambung~~


__ADS_2