Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Perdebatan Manis


__ADS_3

"Kita akan tetap menikah." Jeaven kembali berucap tegas. Seolah tak peduli akan sikap Jesslyn yang jauh dari kata bersahabat.


Satu gelengan cepat mengiringi penolakan keras Jesslyn untuk ke sekian kalinya. Tak selayaknya seorang Shinta yang berbunga hati karena diajak menikah oleh sang Rama, reaksi wanita itu sungguh bertentangan dengan ekspetasi manusia umumnya. Yang ada amarah di ruang hati kian meraja lela.


"Aku mohon jangan memaksa, Tuan Jeaven Allison." Jesslyn berkata tak kalah tegas seraya mengatup kedua tangannya di depan dada. "Aku lebih baik tidak menikah seumur hidupku dari pada harus menjadi istri ke duamu. Di mana letak hati nuranimu, hah? Sudah ada Verlin sebagai istrimu. Bisa-bisanya kau ingin menyeretku ke dalam biduk rumah tanggamu. Itu sama saja aku akan menjadi sebilah duri di dalam kebahagiaan wanita lain."


Sadar bahwa ada sehelai benang kusut yang belum diluruskan, Jeaven merutuki diri tanpa berlisan. Dengan pembawaan tenang ia bergegas memberi penjelasan untuk meluruhkan kesalah pahaman.


"Aku dan Verlin tidak jadi menikah."


Ungkapan yang terdengar cukup membuat Jesslyn terkejut dan ditepuk oleh sederet pertanyaan. Dia masih sangat ingat saat melihat Jeaven dan Verlin sudah berdiri di depan altar gereja dan juga pendeta untuk melangsungkan pernikahan.


Lalu, apa alasannya sehingga mereka tidak jadi menikah? Haruskah Jesslyn percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan Jeaven? Atau mungkin haruskah dia merasa lega dan bahagia?


Sayangnya wanita bermutiara hazel itu pun tak merasakan perubahan di hatinya. Perkataan Jeaven ternyata tak serta merta sukses mengusir rasa kecewanya. Terlalu banyak sayatan luka yang pria itu sematkan ke dalam perasaannya.


Bekali-kali cinta Jesslyn ditolak oleh Jeaven tanpa sedikitpun mau mempertimbangkan terlebih dahulu. Kalimat pedas juga tak jarang diterimanya hingga menyisakan pilu. Belum lagi si pria dengan sangat mudah menitah untuk melupakan insiden yang menyebabkan kesucian si wanita terenggut waktu itu.


"Aku tidak akan bertanya apa alasan kalian tidak jadi menikah. Itu bukan urusanku. Dan aku tetap menolak ajakan menikahmu," keukuh Jesslyn.


"Kita harus, Jesslyn." Jeaven juga tak kalah keukuh.


"Tidak ada alasan bagi kita untuk menikah."


"Ada, kau sedang mengandung anakku."


Sesaat Jesslyn terdiam menelan kata. Tidak percaya kalau Jeaven secepat itu tahu tentang kehamilannya.


"Kau jangan terlalu percaya diri. Ini anak pria lain," sangkal Jesslyn seraya melempar muka sekaligus menyembunyikan cairan yang sudah menggenangi mata.


Ingatannya tiba-tiba saja kembali mengulang bayangan tentang betapa ia merana dalam melewati hari-hari selama ini. Meski Bryan selalu memberi perhatian lembut layaknya seorang suami, tapi itu bukan yang dia ingini.


"Ini bukan anakmu. Ahk, sstt!" Jesslyn yang berniat kembali menegaskan tiba-tiba mendesis lirih seraya memegang perutnya.


"Kau kenapa?" Jeaven seketika cemas.


"Menjauhlah. Ini hanya kram biasa!" Sentak Jesslyn seraya menepis tangan Jeaven dari bahunya lalu mendaratkan pantat ke bibir ranjang. Ia merasa kesal, di saat seperti ini kenapa janin yang dikandung seolah berpihak kepada Jeaven.


Tubuh gagah Jeaven dibawa bersimpu di depan Jesslyn. Sepasang matanya memandang teduh wajah cantik wanita itu. "Kau sangat payah dalam berbohong, Jesslyn," timpal Jeaven penuh percaya diri. Tangannya bergerak membentuk sebuah usapan lembut di perut Jesslyn. "Dia bahkan baru saja protes."


Di dalam hati Jesslyn langsung mengakui kemampuan Jeaven dalam membaca situasi, akhirnya ia memilih menyerah begitu saja dari pada harus dibuat malu karena kebohongannya diteruskan.


"Selama ini Bryan lah yang selalu setia menemaniku menjalani kehamilan. Dia selalu tahu apa yang aku butuhkan. Perhatiannya juga membuatku nyaman. Dan kau yang baru datang dengan seenak jidatnya memaksaku untuk menikah denganmu. Apa kau tidak berpikir saat berbicara?"

__ADS_1


Rasa tidak terima seketika mengalungi hati. Pujian-pujian Jesslyn untuk Bryan bagaikan racun yang menimbulkan rasa iri. Meski terkesan tenang tapi Jeaven sedang menahan kobaran cemburu saat ini.


"Jangan dekat-dekat dengan pria itu." Sikap posesif Jeaven mulai terlihat.


"Ck! Jangan gila! Aku bahkan sedang mencoba membuka hati untuknya," sengit Jesslyn. Merasa kram di perutnya sudah menghilang ia langsung berdiri berniat keluar kamar karena benar-benar ingin mengakhiri perdebatan yang terjadi.


Namun, keinginan itu harus gagal untuk ke sekian kali. Jeaven tiba-tiba menarik dan langsung menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi. Wanita itu sangat terkejut setengah mati.


Kau itu milikku. Hanya milikku.


Hati Jeaven menjerit tidak suka. Ucapan Jesslyn sukses mematik api kecemburuan pada dirinya. Pria itu sangat marah kala nama pria lain terus terucap dari bibir si wanita. Apalagi pria lain itu adalah Bryan yang sangat dikenalinya.


Jesslyn terus meronta, tapi tiada guna. Kuncian kedua tangan kekar Jeaven merampas ruang geraknya. Jujur, jantungnya serasa ingin meledak karena berdegub kencang bak pacuan kuda. Tanpa sopan tubuhnya juga meremang meski kemarahan itu masih ada.


"Hmp .... Jeav! Hmp!"


Jeaven bahkan tak memberi kesempatan pada Jesslyn untuk berkata. Semakin gencar si wanita membuka mulut semakin dalam si pria memagut dan meninggalkan jejak cairan saliva.


Kendali diri kian menguar sirna. Ciuman yang berlangsung memberi sensasi denyutan di dada. Jeaven menekan tubuh Jesslyn hingga keduanya saling menempel sempurna. Seolah takut jika si wanita akan kembali menjauh darinya.


Melihat Jesslyn yang mulai kehabisan napas membuat Jeaven tidak tega. Ciuman basah pun harus berakhir dengan terpaksa. Padahal pria itu masih menginginkannya lebih lama.


Plak!


"Kau sangat tidak sopan!" Hardik Jesslyn dengan sepasang mata sudah menyalang geram.


Namun, tamparan yang diterima seolah tidak memberikan efek yang siginifikan. Jeaven bahkan tidak terlihat meringis kesakitan. Ekspresinya tenang masih melingkari wajahnya yang rupawan.


"Maaf."


"Maaf, maaf, maaf! Dari dulu cuma itu saja yang bisa kau katakan setelah melukai hatiku!"


"Jangan marah. Kau sedang hamil."


Jesslyn kian diliput amarah. Mudah sekali Jeaven berkata seperti itu tanpa merasa bersalah. "Kau sangat lancang menciumku! Jadi pantas saja kalau aku marah!"


"Dulu kau selalu menginginkannya, kan? Ciumanku."


Jesslyn seketika mati kutu. Perlahan amarahnya digeser oleh rasa malu. Di saat seperti ini kenapa Jeaven sempat-sempatnya mengungkit kegilaannya di masa lalu?


Arrgg! Rasanya Jesslyn ingin sekali mengikat mulut Jeaven dengan tali.


"Itu dulu! Kalau sekarang aku sudah tidak sudi berciuman denganmu."

__ADS_1


"Aku tidak percaya." Jeaven malah kembali memancing emosi Jesslyn. Padahal dia yang tadi melarang wanita itu untuk marah-marah.


Dasar Jeaven!


"Terserah."


"Apa kau sudah tidak mencintaiku?" Jeaven mulai menanyakan perihal perasaan Jesslyn.


Jesslyn langsung membelakangi Jeaven, menyembunyikan raut mukanya. "Iya. Rasa cintaku itu sudah sirna."


"Lagi-lagi kau berbohong, Jesslyn." Jeaven berjalan mendekat dan kembali memeluk tubuh wanita itu dari belakang.


Jeaven mengecup lembut leher Jesslyn yang langsung menggeliat seperti ulat kepanasan. "Kau masih mencintaku, Jesslyn," bisiknya dan kini ciumannya berpindah ke bahu.


"Itu tidak benar." Jesslyn tampak bekerja keras menggerakkan lidahnya yang terasa berat. Sedangkan tubuhnya sudah membeku karena tindakan Jeaven yang menurutnya lebih nakal dan agresif.


Jeaven yang dulu tidak seperti ini. Ucap Jesslyn di dalam hati.


Jeaven langsung menarik kedua sudut bibirnya hingga mencetak sebuah senyuman saat menyadari kegugupan Jesslyn. Ia kembali mencium bahu wanita itu sebelum berucap kata "Kau pasti lapar." Tangan yang semula masih memeluk erat diurainya perlahan. "Sebenarnya aku datang ke kamar untuk mengajakmu makan, bukan untuk bertengkar."


"Aku tidak lapar."


Kruyuuuk ...!


Jesslyn seketika tercekat saat lidahnya berbohong tapi perutnya malah berkata jujur. Lagi-lagi dia harus menanggung malu.


Hiiish! Sial! Sial! Sial! Kenapa harus begini? Memalukan! Jesslyn menjerit di dalam hati.


Namun, cepat-cepat wanita itu menguasai keadaan. "Ehemm! Itu tadi suara perutmu, bukan perutku. Mengerti?!" Ia mencoba berkilah dan justru menuding Jeaven.


Tak tahan menanggung malu, Jesslyn langsung berlalu dari kamar dan tentu diekori Jeaven yang sedari tadi berusaha mengulum senyuman.


Hingga sesampainya di luar kamar, Jeaven seketika memasang wajah tak bersahabat dengan tatapan tajam. Sosok yang berada di depan mata sungguh merusak suasana hatinya.


Bersambung~~


Yuhuu ... di bab ini Jeaven si irit bicara sedikit banyak bicara. Nggak apa2 sekali2 ... Demi Jesslyn dia harus membuang sikap dingin bawaan lahirnya itu.


Mu'uuuuup sekali ya dulur-dulur, karena Nofi kemarn nggak bisa up. Aksi kutu loncatnya masih berlanjut. Loncat sana loncat sini. Bahkan ini tadi sampai gelundung dari tangga.


Maklum, Nofi orangnya nggak bisa jalan pelan. Mau ke ruangan sebelah aja kadang suka lari. Belum lagi ini kaki kalau jalan nggak pakek mata kali ya. Tendang sanan tendang sini. Apes dah barang2 di dalam rumah. Alhasil jari kaki sering bengkak.


Apa lagi habis nendang manisan meja. Byoooh! Mantap cuy! Serasa mau ngamuk tp gk boleh. Wkwkwkw..

__ADS_1


__ADS_2