
Getaran ponsel di saku langsung menyita perhatian Jeaven yang masih menikmati sarapannya. Tangan langsung bergerak merogoh benda pipih itu untuk mengakhiri sensasi geli di badannya. Mata menyorot layar dan ada nama Brent di sana.
Di dalam sikap tenang Jeaven menarik napas lalu membuangnya, menyiapkan pendengaran untuk menerima omelan Brent yang menggatalkan telinga. Pria itu bisa menebak apa alasan manajer timnya itu yang dipastikan akan kembali berkotbah ria. Itu karena hari ini ada jadwal sesi latihan bebas dan kualifikasi MotoGP tapi ia belum mempersiapkan dirinya.
Tanpa meninggalkan meja makan Jeaven menggeser layar ponselnya lalu ditempelkan ke telinga. Bersamaan dengan itu, atensinya sembari mengamati Jesslyn yang tampak meninggalkan meja makan karena usai dengan sarapannya. Hati pun kembali terusik karena ada Bryan yang mengekori si wanita.
"Halo?" Ucap Jeaven mendengarkan suara dari seberang telepon.
"Di mana kau sekarang? Apa kau lupa hari ini ada jadwal sesi latihan bebas dan kualifikasi? Sudah jam berapa ini? Kita sudah harus bersiap-siap menuju sirkuit Bremgarten tapi kau malah kelayapan dan belum juga kembali. Apa kau ingin membuatku gila karena terus memikirkanmu? Kau bisa terancam tidak bisa mengikuti kompetensi jika sampai terlambat. Jangan membuat rambutku yang sudah menipis ini menjadi botak karena stress."
Dan benar. Omelan maut Brent langsung menguar. Jeaven serasa diserang oleh koloni lebah liar. Bahkan benda pipih yang sedang menempel di telinga sampai bergetar.
"Dua jam lagi acara baru akan dimulai. Masih ada banyak waktu." Jeaven menjawab sekaligus menenangkan Brent yang diyakini saat ini sedang kelimpungan seperti kuda kehilangan telurnya.
Ini khusus untuk kuda jantan ya. Ingat!
"Cepat kembalilah sekarang juga, kalau tidak ingin aku mati karena cemas."
"Iya."
"Jangan, iya iya saja. Lima belas menit kau harus sudah berada di depanku."
"Tunggu aku satu jam." Jeaven langsung memutus panggilan secara sepihak padahal Brent masih terdengar berbicara. Sudah dapat dipastikan manajer tim itu saat ini sedang mengamuk tidak jelas di tempatnya.
Pemandangan di ruang tamu membuat pria dingin nan rupawan itu tak mampu berdiam diri lebih lama lagi. Sebuah pemandangan yang sangat ia benci. Satu jejakan kaki langsung membawa tubuh gagahnya berdiri. Kemudian diajak berjalan mendekati objek cantik yang sedari tadi tampak berbincang dengan wajah berseri.
Iya, Jesslyn berkali-berkali memberi senyuman manis kepada Bryan yang bagi Jeaven itu hukumnya ilegal. Dia menciptakan peraturan yang memang tidak masuk akal. Itu karena kecemburuan kembali mengambil posisi yang di mana hati tak mampu menyangkal.
Senyuman Jesslyn itu terlalu manis. Itulah yang membuat hati Jeaven terhipnotis. Apalagi binar wajahnya yang cerah bagaikan sinar lembut mentari di tengah hujan gerimis. Hangat dan sejuk terbingkai dalam getaran dinamis.
Seperti itulah yang dirasakan Jeaven selama bertahun-tahun tiada satu pun orang tahu. Sebuah rasa yang tersusun rapi tapi terpaksa dibekap ke dalam relung kalbu. Tetapi itu dulu. Riak pengecut tak lagi dibiarkan membelenggu. Sekarang perjuangan akan cintanya sudah sangat berlaku.
"Turunkan tanganmu." Suara bariton Jeaven terdengar menitah tegas. Raut super dingin dipersembahkan telak untuk Bryan yang saat ini sedang menyentuh perut Jesslyn.
Bryan sontak menurunkan tangannya seiring pandangan membalas tatapan dingin seorang Jeaven. Itu tak semerta membuat nyalinya menciut, pria itu justru terdengar menghela napas jengah.
Jujur saja, keberadaan Jeaven cukup mengusik kesenangan Bryan saat bersama Jesslyn. Bahkan hati sangat peka akan aura persaingan yang menyelimuti suasana. Persaingan yang tentu akan menjadi batu sandungan di dalam perjuangan mendapatkan si wanita.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memeriksa Jesslyn dan juga kandungannya, jadi aku tidak wajib menuruti ucapanmu," ucap Bryan dengan tegas pula, tapi tanpa meninggikan nada bicara.
Sementara Jesslyn lebih memilih diam meski sebenarnya ia tidak suka berada di situasi seperti saat ini. Ia sangat bisa merasakan bahwa Jeaven yang sekarang lebih bersikap posesif.
Jesslyn berpikir, sikap Jeaven itu hanya sebentuk sebuah pertanggung jawaban karena ia sedang mengandung anaknya. Dia memang berusaha berpikir secara realistis saja. Lelaki itu tidak mencintainya jadi apa lagi alasan yang tepat kalau bukan untuk menebus sebuah kewajiban seorang pria.
"Aku bisa membedakan antara memeriksa dan menyentuh." Rupanya Jeaven tak langsung percaya. Ia merasa Bryan sedang memanfaatkan situasi.
"Aku menyayangi janin yang dia kandung jadi tidak ada salahnya jika aku menyentuhnya sebelum memeriksa. Lagian apa hakmu melarangku?" Secara tidak sadar Bryan mengakui kebenaran dari prasangka Jeaven terhadapnya. Meski sebenarnya dia juga berniat memeriksa si wanita. Bahkan sebuah stetoskop sudah tampak mengalungi lehernya. Jadi sudah jelaskan kalau dia memang tidak sekedar berniat bermodus saja.
Kepala mendadak pusing karena mendengar perdebatan kedua pria di depannya. Jesslyn yang mulai jengah membawa tubuhnya berdiri secara tiba-tiba. "Kalian lanjutkan saja obrolannya. Aku ingin kembali ke kamar saja." Wanita itu langsung berlalu meninggalkan ruang tamu.
Jeaven dan Bryan terus memandangi punggung Jesslyn hingga hilang di balik dinding. Kemudian dua pasang mata beda warna itu berganti saling melempar tatapan.
"Jauhi dia." Jeaven kembali melempar kalimat tegas. Sebuah kalimat bermakna akan sebuah titahan yang pantang untuk dibantah.
"Apa hakmu berkata seperti itu?" Bryan terlihat tidak terima.
"Dia sedang mangandung darah dagingku. Kau pasti tahu bagaimana harus bersikap setelah ini." Jeaven langsung mengambil langkah pergi setelah membuat Bryan terkejut tidak percaya. Namun, jalannya harus terjeda karena Bryan kembali bersuara.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja." Bryan masih gigih memperjuangkan cintanya. Tidak peduli tentang status Jeaven yang merupakan ayah dari janin yang dikandung Jesslyn.
Tentu itu sebuah peluang beharga bagi pria berprofesi dokter itu, bukan? Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
Beberapa ayunan tungkai membawa Jeaven mendekati Bryan hingga hanya menyisakan sedikit ruang kosong di antara mereka. Tatapan membunuh mengantar lidah untuk kembali berkata. "Kau tentu masih ingat rasanya pukulanku saat itu."
Bryan tahu kalau Jeaven baru saja berusaha mengingatkan akan kejadian di masa lalu dan sekaligus memberinya ancaman keras. "Ancamanmu itu tidak akan membuatku takut karena aku sangat mencintai Jesslyn."
"Kau tidak mencintainya."
"Ck! Jangan sok tahu dengan perasaanku."
"Kau hanya terobsesi."
"Itu tidak benar. Jangan asal bicara."
"Monica yang kau cinta bukan Jesslyn."
__ADS_1
Deg!
Denyutan hebat seketika menciptakan sensasi berbeda di dada. Tetapi Bryan tidak tahu alasanya kenapa rasa itu tiba-tiba menyapa. Pria itu membatu di tempat dan membiarkan Jeaven pergi begitu saja setelah membuat lidahnya terbungkam oleh kalimat sederhana.
Sementara di kamar pada bangunan yang sama, Jesslyn tiba-tiba memeluk tubuh Monica yang sedang berdiri di depan jendela. Iya, wanita itu tidak kembali ke kamarnya sendiri setelah meninggalkan Jeaven dan Bryan, melainkan pergi ke kamar sahabat kesayangannya.
"Kau mengagetkanku!" Monica terkejut karena tindakan tiba-tiba Jesslyn . Cepat-cepat dibuang raut sendunya sebelum menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Kau saja yang sedang melamun sampai tidak mendengar kedatanganku." Jesslyn berkata seiring dengan tangan mengurai pelukan.
"Aku tidak melamun. Kau saja kalau berjalannya kakinya tidak menapa lantai jadi tidak ada bersuara."
"Memang kau pikir aku ini hantu apa?" Sungut Jesslyn, Monica pun tertawa.
"Kau pasti lelah karena tadi menyiapkan banyak sarapan. Mau aku pijit?"
"Kau mau apa? Aku tahu kau sedang menginginkan sesuatu." Monica bisa dengan mudah membaca gelagat ada udang di balik bakwan si Jesslyn.
Jesslyn menyengir kuda seraya mengusap perutnya. "Nanti siang bisakah kau membuat menu yang sama seperti tadi pagi? Anakku masih ingin memakannya lagi."
"Tapi ... itu tadi bukan aku yang masak."
"Jadi kau beli? Beli di mana? Bantu aku membelinya ya."
"Aku tidak beli."
"Terus?"
"Jeaven yang memasaknya."
"Ha? Semuanya?" Jesslyn masih bertanya karena belum percaya sepenuhnya.
"Iya semuanya," jawab Monica dengan mimik keheranan karena melihat ekspresi Jesslyn yang mendadak berubah masam. "Kau bisa meminta Jeaven datang untuk masak." Ia memberi saran dan langsung menerima gelengan cepat si sahabatnya.
"Gila apa?! Aku tidak sudi memakan masakannya."
"Tapi tadi pagi kau menyantap masakannya dengan sangat rakus seperti ini." Monica menirukan cara makan Jesslyn. "Aku juga melihat mulutmu terus penuh dan tak membiarkan piringmu kosong. Kau seperti tidak makan seminggu," ledek Monica tapi bibir tampak menahan tawa.
__ADS_1
"Aku akan memuntahkan semuanya kembali dari perutku!" Jesslyn langsung keluar kamar seraya merutuki diri.
Bersambung~~