
Senja telah bersambut sang dewi malam. Kilau bintang pun tak merelakan langit hitam tampak muram. Suara semilir angin juga turut memberi salam.
Jesslyn mengantar kaki menuju ruang tamu. A-line dress yang membalut tubuh membuatnya terlihat semakin ayu. Dihela napasnya untuk menghempas degub jantung yang berderu.
Akan bertemu dengan pria yang selama ini hanya bersembunyi di balik status pengagum rahasia tentu membuat hatinya berdebar. Rasa penasaran pun kian berselancar. Sungguh ia sudah tidak sabar.
Sembari menunggu kedatangan si pria, otak Jesslyn kembali sibuk menerka. Membayangkan wujud pengagum rahasianya itu seperti apa.
Apakah dia pria berbadan gemuk, perut buncit seperti badut lengkap dengan rambut keriting seperti jari authornya yang tiap malam harus ngebut ngetik untuk kejar bab?
Atau mungkin pria berkaca mata, gigi maju sekilan, dan berbadan kurus kering seperti kondisi dompet authornya saat ini?
Haha! Terus terang authornya sampai merinding melihat isi dompet. Malah curhat. Kebiasaan!
Oke! Balik ke cerita!
"Hah! Sudahlah! Kenapa aku malah menerka-nerka nggak jelas gini sih?" Jesslyn merutuki dirinya sendiri seiring dengan gerakan gelengan kepala.
Tubuh Jesslyn seketika terhenyak kala suara bel pintu menegur lamunannya. "Itu pasti dia yang datang." Wanita itu gegas mengayunkan kaki menuju pintu. Rasa penasarannya sudah memburu. Ia bahkan lupa untuk memeriksa siapa yang datang melalui camera minitor terlebih dahulu.
"Bryan?" Lirih Jesslyn sedikit terkejut kala mata menangkap sosok manusia yang sangat dikenal setelah daun pintu terbuka.
"Aku datang menjemputmu untuk makan malam. Apa kau sudah siap?" Bryan menampilkan senyuman saat berkata sembari menahan kerinduan di rongga dada. Selama 4 hari ia tidak bertemu dengan Jesslyn karena harus keluar kota.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau tidak merindukanku?" Bryan kembali bersuara. Ia menyadari gelagat tak biasa si wanita.
Segera ditarik perasaan dari keterkejutannya, tapi mimik penuh tanda tanya Jesslyn masih menghiasi muka. "Jadi kau yang tadi pagi mengirimiku hadiah dan kartu ucapan?"
"Iya, itu aku."
"Kenapa kau tidak menerakan namamu saja secara langsung dikartu ucapan itu? Aku pikir kau--" Gerutuan Jesslyn seketika terpangkas oleh ucapan Bryan.
"Apa yang kau pikirkan? Aku memang pengagummu." Bryan seolah mengerti dengan apa yang sedang dipermasalahkan Jesslyn.
__ADS_1
Rona terkejut terbias samar di muka Jesslyn. "Apa kau ... yang selama ini ...." Ia tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
Bryan mencolek gemas ujung hidung Jesslyn yang mancung. "Kau mau bilang apa? Hm? Aku ini memang pengagummu, tapi bukan pengagum rahasia yang selalu mengirimi kartu ucapan kepadamu," jelasnya. Ia seakan bisa membaca isi kepala wanita itu saat ini.
Entah mengapa, bukan malah kecewa yang didapatkan Jesslyn, melainkan ada kelegaan tersendiri saat tahu bahwa Bryan bukanlah si pengagum rahasia yang diangankan. Seorang pengagum rahasia yang tanpa di sadari sudah menjadi bagian kisah perjalanan hidupnya.
"Kenapa? Kau kecewa ternyata yang datang bukan pengagum rahasiamu?" Tanya Bryan lagi, memecahkan kaca lamunan Jesslyn.
Jesslyn tersenyum kikuk seraya menguasai suasana. "Tidak, aku biasa saja."
"Dan apa kau menyukai hadiah pemberianku?" Pria itu sengaja memberi sebuah dreamcatcher karena tahu itu adalah benda kesukaan si wanita.
"Tentu saja, aku menyukainya. Tapi kok kamu bisa tahu tentang si pengagum rahasia itu?" Selidiknya.
"Maaf, dulu aku sempat lancang melihat tumpukan kartu ucapan dari pengagum rahasiamu itu." Bryan mendadak merasa tidak enak hati.
"Ow ... itu bukan masalah."
"Belum," jawab Jesslyn singkat.
"Berarti kau tidak tahu siapa dia?"
"Aku tidak tahu, tapi entah mengapa aku selalu merasa dia selalu berada di dekatku. Kenapa mukamu mendadak masam begitu?" Jawaban Jesslyn diakhiri kalimat tanya karena menyadari perubahan mimik pada wajah Bryan.
"Terus terang aku cemburu. Aku merasa pengagum rahasia itu akan menjadi sainganku," aku Bryan terang-terangan.
"Aku memang sedang berusaha mencoba membuka hati, tapi bukan berarti kau itu sudah menjadi kekasihku. Dan apa ini, kenapa kau malah merasa punya saingan?"
"Kau membuatku kecewa. Padahal aku ingin segera melamarmu," cebik Bryan meski hatinya juga sudah mencoba memaklumi.
Jesslyn langsung menutupi sepasang bibirnya yang terbuka karena ketawa. Ungkapan kecewa Bryan justru terkesan lucu baginya.
"Ngomong-ngomong kita jadi pergi makan malam nggak? Kakiku udah pegel berdiri terus di depan pintu. Lagian aku juga udah lapar."
__ADS_1
"Ah, iya. Kalau begitu mari." Bryan memberi sebelah tangannya dan langsung disambut Jesslyn.
"Jesslyn?" Langkah kaki Jesslyn dan Bryan yang sudah menapaki lobi apartemen harus terhenti saat panggilan seseorang berseru ke arah mereka.
"Monica? Kau sudah mau kembali ke apartemen?" Tanya Jesslyn kepada Monica.
Monica tidak semerta menjawab pertanyaan Jesslyn. Perhatiannya lebih sibuk menyoroti keberadaan Bryan yang di mana ia tidak menyangka akan kembali bertemu dengan pria itu di Swiss. "Sudah lama tidak bertemu, Bryan," jawabnya dengan raut wajah seolah tenagah menyimpan sesuatu rahasia. Sesaat ia juga sempat mengamati penampilan pria itu.
Seperti biasa, senyuman ramah masih menyertai pembawaan Bryan untuk mengawali kalimatnya. "Apa kabarmu, Monica?"
"Tentu aku sangat baik, seperti yang kau lihat sekarang." Nada bicara Monica terkesan sedikit dingin. "Kau mau ke mana?" Kini ia beralih bertanya ke Jesslyn.
"Kami akan pergi untuk makan malam. Apa kau sudah makan malam? Kalau belum ikutlah bersama kami." Jesslyn menoleh ke arah Bryan. "Tidak apa-apa kan, Bryan?" Ia pun tidak lupa meminta persetujuan dari pria di sebelahnya itu.
"Tentu saja," jawab Bryan meski terpaksa.
"Tidak. Terima kasih." Monica menolak tawaran Jesslyn tanpa berpikir panjang. "Bisakah kau makan malam di rumah saja?" Wanita itu tampak tidak suka jika Jesslyn keluar bersama Bryan.
Jesslyn mengerutkan dahi seketia. Permintaan Monica barusan tentu membuatnya bertanya-tanya. "Kenapa?"
"Lupakan. Jangan pulang malam-malam. Kau sedang hamil. Udara malam tidak baik untukmu," tutur Monica sebelum akhirnya memilih melenggang pergi meninggalkan Jesslyn yang tampak keheranan.
Jeaven pasti tidak akan tinggal diam jika tahu Jesslyn kembali dekat dengan Bryan. Hais! Rupanya pukulan Jeaven waktu itu tidak cukup membuatnya jera.
Batin Monica bermonolog di sela langkah kakinya. Diam-diam ia menahan kegetiran di rongga dada kala bayangan masa lalu kembali mengapung di pikirannya.
Sementara di sisi lain, Bryan diam-diam juga tengah dirundung keresahan. Sosok Monica menggiring rasa tidak nyaman.
Setelah sekian lama kenapa aku masih harus bertemu dengannya lagi? Apakah keberadaannya akan kembali menjadi duri di dalam usahaku memperjuangkan cintaku terhadap Jesslyn? Hah! Sial! Itu tidak boleh terjadi.
Bersambung~~
Sabar ya ... Jesslyn dan Jeaven sebentar lagi bertemu kok🥰
__ADS_1