Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Dia Calon Istriku


__ADS_3

Aroma lezat bola keju goreng, sereal oat, rosti kentang, panekuk, dan roti telur menguar ke dalam indera penciuman. Menggugah rasa lapar pada perut yang keroncongan. Mendesak hasrat lidah untuk segera menyantap olahan.


Monica melepas apronnya lalu menyampirkan pada kepala kursi meja makan. Kedua tangan berkacak pinggang seraya mencetak senyuman. Sepasang mata almondnya tampak memindai meja kotak yang sudah terisi penuh oleh menu sarapan.


"Aku merasa sudah kenyang duluan melihat semua makanan ini. Segini banyaknya apa akan habis?" Monica mendengus geli. Sebenarnya semua makanan itu bukan dia yang memasak. Wanita itu hanya bertugas menatanya di atas meja dan mencuci perlengkap dapur yang baru terpakai.


Wanita berwajah imut itu menggeser perhatiannya ke arah pintu kamar Jesslyn yang masih tertutup. "Apa kedua manusia itu masih belum kelar bertengkarnya? Jangan-jangan mereka malah saling sosor saat ini." Ia terkikik malu membayangkan apa yang sedang dilakukan Jeaven dan Jesslyn di dalam sana. Sesaat rasa iri juga menggelitik hatinya.


Ya ... bagaimanapun dia juga ingin di dampingi oleh seorang pria. Sosok gagah yang bertanggung jawab dan selalu memberikan dada dan bahu untuknya.


"Haah ... sepertinya aku memang harus segera membuka hatiku untuk pria lain. Reymond, Charles, Chris, Alen, Barnard, dan Axel. Hmm ... Mana di antara mereka yang harus ku pilih?" Monica berpikir sejenak, menimang-nimang pria mana yang harus diterima sebagai kekasihnya.


Namun, tiba-tiba ia tampak membuang napas panjang. "Kenapa sih mereka harus menembakku secara gerudukan seperti semut gitu? Kan aku jadi bingung! Dan yang ada aku serasa diserbu kawanan kumbang pejantan!" Gerutunya karena frustrasi.


Guna menetralkan pikirannya yang gusar, Monica menusuk sepotong panekuk dengan garpu lalu melahap dengan kasar. "Woah ... ini enak sekali. Bahkan lebih enak dari buatanku." Ia lanjut menggigit sisa potongan panekuk itu dengan binar wajah memuji.


Dentingan bel pintu seketika mengagetkan Monica yang tengah sibuk mengunyah sarapannya. "Siapa yang datang sepagi ini?" Ia menggerutu seraya kaki melangkah malas ke arah pintu.


Tanpa memeriksa siapa yang datang melalui door bell camera terlebih dahulu ia langsung menarik handle pintu. Dan kebiasaan seperti ini juga ada pada diri Jesslyn. Kalau dipikir-pikir buat apa alat pengaman itu dipasang kalau ujung-ujungnya tidak dimanfaatkan?


Dasar!


Monica sedikit terkesiap saat tahu ternyata sosok Bryan yang kini sedang berdiri di depan pintu. Mimik tidak senang pun langsung terbit seiring dengan degub jantung yang bertalu. Lagi-lagi pikirannya mengulang ingatan masa lalu.


"Hei, selamat pagi," sapa Bryan dengan senyuman ramah melekat di wajahnya. Sebisa mungkin bersikap biasa di depan Monica.


Enggan membalas sapa'an Bryan, Monica langsung memutar tumit dan kembali menuju ke meja makan, melanjutkan kegiatan menyantapnya yang sempat terjeda. Kendati terlihat lahap saat memasukan makanan ke dalam mulut, percayalah tenggorokannya terasa berat untuk menelan.


Di depan pintu yang masih terbuka Bryan tampak menghela napas panjang. Sesal di dada kembali membuatnya meremang.


Lama-lama aku bisa stress. Keberadaan Monica sungguh mengusik pikiranku. Sorot mata kebencian dan raut muka sendunya membuatku tidak tenang.


Tidak ingin berlama-lama di luar, Bryan melangkah masuk melewati ambang pintu. Ia mendekati meja makan yang di mana terlihat Monica tengah fokus dengan sarapannya.

__ADS_1


"Jesslyn belum bangun?" Tanya pria itu untuk memecahkan suasana canggung.


Makannya blepotan seperti anak kecil. Bryan masih sempat berkomentar di dalam hati. Jujur ia merasa lucu melihat cara makan Monica.


Belum sempat menjawab wajah Monica mendadak memerah karena tersedak. Tangannya tampak menekan leher karena kesulitan meraup udara.


"Mon, kau pasti tersedak." Bryan yang cemas langsung mengambil tindakan. "Kau tenang dulu lalu paksa dirimu untuk batuk."


Monica mencoba mengikuti instruksi tapi tidak bisa. Bryan mencoba alternatif lain dengan cara menepuk-nepuk punggung wanita itu dan hasilnya masih sama. Sepertinya makanan yang dimakan menyumbat total saluran pernapasan di sekitar tenggorokannya.


Melihat satu nyawa bisa terancam Bryan langsung mengajak Monica untuk berdiri lalu mengambil posisi di belakangnya dengan kedua lengan melingkari perut si wanita. Pria itu mengepalkan telapak tangan kemudian memberi dorongan tepat di ulu hati yaitu di antara pusar dan tulang rusuk.


Teknik ini dikenal juga dengan nama manuver heimlich.


Sampai dorongan ke lima Monica akhirnya berhasil membatukkan makanan yang menyumbati tenggorokannya. Ia kembali bisa bernapas meski lemas masih terasa. Tubuh diajak bersandar pasrah pada dada Bryan yang berada di belakangnya.


"Lain kali makan pelan-pelan."


"Ahk! Sakit ...!" Monica merintih kesakitan karena dengan ceroboh menabrak ujung siku-siku meja.


"Berhati-hatilah, Monica. Kau ini kenapa?" Tutur Bryan lagi setelah berhasil menangkap tubuh mungil si wanita yang hampir saja terjatuh.


Suasana berubah hening kala kedua jendela hati saling bertautan. Belum ada satu lidah dari mereka yang berniat melepas lisan. Hanya deguban jantung yang terdengar saling bersaut-sautan.


Sangat cantik. Kenapa aku baru menyadarinya? Padahal dulu kami sering pergi bersama. Dalam hati Bryan mulai mengagumi.


Di sisi lain Monica justru tengah berperang dengan perasaannya. Tidak. Aku tidak ingin kembali terbuai. Ingat Monica, pria ini telah membunuh calon anakmu.


Plak!


"Bajingan gila! Beraninya kau menciumku?!" Sarkas Monica sedikit menahan nada suaranya agar tidak menciptakan kegaduhan. Ia sangat terkejut karena menerima serangan dadakan di bibirnya.


"Maaf, aku tidak berniat melecehkanmu. Ada toping panekuk yang tertinggal di bibirmu jadi aku berniat membersihkannya," papar Bryan seraya hati mengutuk diri.

__ADS_1


Alasannya memang terkesan mengada-ngada. Tapi itulah kenenarannya. Jejak whipped cream di sudut bibir Monica seolah merayu hasratnya. Hingga ia pun tergoda dan tanpa sadar melakukan sesuatu yang tak pernah dipikirkan sebelumnya.


"Tidak waras!" Cerca Monica kembali dan berkali-kali mengusap kasar bibirnya dengan tisu, berharap bekas ciuman Bryan segera terhapus.


"Bibirmu bisa terluka, Mon." Entah mengapa Bryan merasa tidak rela jika wanita itu terluka. Perasaan itu tiba-tiba saja datang tanpa diminta.


"Bukan urusanmu!"


"Berhentilah. Jangan lakukan itu. Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi." Bryan menarik tangan Monica agar berhenti mengusap bibirnya yang sudah memerah.


"Bryan, Monica? Kalian sedang apa?" Suara lembut Jesslyn seketika menghentikan perdebatan di antara Bryan dan Monica. Keduanya sontak saling merenggang jarak agar sedikit menjauh.


"Jess? Ah, aku baru saja tersedak dan Bryan baru saja menolongku," terang Monica, sebisa mungkin terlihat tenang meski sebenarnya gugup.


"Kalian tidak lagi bertengkar, kan?" Jesslyn melempar tatapan menyelidik.


"Tidak kok," timpal Monica dengan cepat.


"Ow syukurlah." Jesslyn ganti menggiring atensinya ke Bryan. "Bryan, aku senang kau datang. Hari ini pasti kau sedang off kerja makanya datang sepagi ini."


"Iya, aku memang sengaja datang pagi-pagi untuk memeriksa keadaanmu. Aku sangat mencemaskanmu," ucap Bryan dengan mengulas senyuman manis. Meski sekilas ia tampak beberapa kali membalas tatapan tidak suka Jeaven yang berdiri gagah di belakang Jesslyn.


"Kau tidak perlu repot-repot mencemaskan calon istriku."


Pernyataan tegas Jeaven seketika menarik wajah Jesslyn, Bryan, dan Monica secara serentak.


Haaa? Calon istri? Batin Monica yang masih berusa mencerna ucapan Jeaven.


Itu tidak mungkin! Suara hati Bryan berteriak tidak percaya.


"Ya Tuhan ...! Aku benar-benar ingin mengikat mulutnya dengan tali! Jesslyn menjerit frustrasi di dalam hati.


Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2