Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Panggung Runaway


__ADS_3

Di atas panggung runaway beberapa model berjalan berlenggak-lenggok memeragakan busana. Rancangan yang ditampilkan tersebut adalah hasil karya belasan desainer dari beberapa kota. Dan Jesslyn adalah salah satunya.


Semua desainer menampilkan busana malam dengan tema yang berbeda-beda mulai dari segi desain, gaya, dan mode terkini. Masing-masing desainer memilih bahan dan warna dengan kesan mewah namun tetap memiliki ciri khas tersendiri.


Mereka yang berkecimpung di dunia industri fashion, pagelaran tahunan seperti ini tentu sangat dinanti. Pada ajang ini para desainer berkesempatan menampilkan karya terbaiknya di depan para pecinta mode agar bisa diapresiasi.


Kemeriahan di depan panggung sangat disambut antusias oleh para penonton yang mayoritas seorang fashionista. Di antara kursi tamu undangan ada Sean, Allesya, Jeffrey, dan Jenny yang terlihat duduk di sana.


Sementara di balik panggung runaway, suasana tegang tengah dirasakan Jesslyn saat ini karena model bayarannya mendadak sakit dan tidak bisa memeragakan busana. Padahal event fashion kali ini adalah kesempatan emas untuk mempromosikan hasil karya rancangannya.


"Tapi, Jess. Aku tidak pernah berjalan di catwalk. Aku tidak yakin akan bisa." Monica tampak ragu. Ia sangat terkejut karena permintaan Jesslyn yang sangat dadakan itu. Ia diminta menjadi model pengganti tanpa adanya pelatihan terlebih dahulu. Ah! Terus terang ia juga malu.


Namun, Jesslyn seolah urung mendengar kalimat keberatan Monica. Wanita itu malah menyeret sang sahabat ke ruang ganti pakaian dengan paksa. Ia berkeyakinan tinggi bahwa Monica bisa melakukannya.


Sementara Jaeden dan Bryan yang sedari tadi memilih menemani di belakang panggung hanya duduk sembari memperhatikan interaksi kedua wanita itu tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Kau tahu dia sedang hamil, tapi kenapa malah gencar mendekatinya? Apa kau tidak malu?" Jaeden mulai membuka percakapan saat Jesslyn dan Monica sedang tidak bersama mereka.


Dahi Bryan seketika mengernyit karena perkataan Jaeden yang tak sepatutnya dikeluarkan untuk sang adik. "Aku menerima semua yang ada pada dirinya. Apapun itu," jawabnya tegas tanpa keraguan sedikitpun.


"Kau mencintainya?" Jaeden kembali mengulik Bryan dengan pertanyaan.


"Iya, aku mencintainya." Jawaban Bryan menciptakan senyuman penuh makna di bibir Jaeden.


Putra semata wayang dari keluarga Willson itu cukup tahu tentang Bryan selama ini. Jeslsyn telah banyak bercerita bahwa sosok sang dokter muda itu memang sudah sangat baik dan banyak membantunya.


"Menurutmu bagaimana dengan Monica?"


Topik pembicaraan yang tiba-tiba berubah haluan menarik wajah Bryan untuk menoleh ke arah Jaeden. "Kau menyukainya?" Bukannya menjawab ia malah balik bertanya. Meskipun ia merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya sendiri. Seperti ada perasaan harap-harap cemas kalau jawaban dari si lawan bicara tak mengenakkan hatinya.


"Wanita menarik seperti dia bukankah pantas disukai?" Jaeden melempar pertanyaan yang di mana itu adalah sebuah jawaban sebentuk pertanyaan.


Bagaimana ya cara author menjelaskannya? Sebuah pertanyaan tapi sekaligus berupa jawaban juga. Pokok gitulah maksudnya. Para pembaca pasti paham dan kalau nggak paham harus pura-pura paham biar authornya nggak ngambek. Ok?

__ADS_1


Deal!


Hahaha!


Balik ke cerita!


"Kau benar. Dia memang penuh daya tarik. Pria mana pun pasti akan terpesona." Aku Bryan seiring dengan perubahan binar di wajah yang tanpa disadarinya tapi tertangkap jelas oleh mata Jaeden.


"Dan kau salah satu pria itu?" Pertanyaan Jaeden kali ini lebih menyerupai sebuah tudingan.


Sesaat Bryan membisu. Ia baru menyadari bahwa sudah terpancing ke dalam pertanyaan Jaeden yang sarat akan jebakan batman.


Ah! Sial!


"Aku sangat berterima kasih kepadamu karena selama ini sudah menjaga Jesslyn dengan baik. Tetapi aku menyarankan agar berhentilah membohongi perasaanmu. Perasaan yang salah alamat akan berakhir merugikan dirimu sendiri dan tentunya juga Jesslyn." Jaeden menarik punggungnya dari sandaran kursi. Menopang kedua siku dia atas paha tanpa melepas pandangan dari lawan bicara.


"Aku tidak akan tinggal diam jika Jesslyn tersakiti. Jadi sebelum terlambat segera renungi perasaanmu itu untuk siapa," sambungnya lagi dengan tegas, membuat Bryan kembali mengernyitkan dahi dengan tatapan penuh tanya terlempar lurus ke arahnya.


Long dress yang membalut sempurna tubuh Monica serta sapuan make up flawless di wajah membuatnya terlihat anggun dan memesona. Keistimewaan hasil buah karya tangan Jesslyn memang nyata. Bryan bahkan sampai melempar tatapan terkesima. Jantungnya berdegub nakal tak berirama.


Ini tidak mungkin. Aku mencintai Jesslyn, tapi saat ini aku serasa jatuh cinta kepada Monica.


Bryan mulai menuai dilema perasaan di dalam hati. Pria itu kebingungan dengan perasaannya sendiri. Tetapi ia pun tak menepis bahwa pesona Monica sukses menggetarkan relung sanubari.


"Tenangan dirimu, oke. Jangan tegang. Kendurkan otot-otot di wajahmu." Jesslyn terlihat berupaya meredakan serangan panik pada Monica. "Ambil napas yang dalam lalu keluarkan pelan-pelan." Tangannya tampak bergerak naik turun di depan dada mengikuti bibir yang menginstruksi.


"Seperti ini ya?" Monica dengan polosnya mengikuti aba-aba dari Jesslyn.


"Iya betul seperti itu. Tarik napas lalu buang lewat lubang atas. Kalau lewat lubang bawah kentut namanya."


Cetak!


"Aw! Kenapa kau malah menjitakku?!" Jesslyn mengaduh diiringan layangan protes karena Monica tiba-tiba menyerangnya.

__ADS_1


"Aku sedang tegang. Serius sedikit kenapa?!"


"Ehem!" Deheman Bryan menarik wajah kedua wanita cantik itu seketika. "Untuk menghilang demam panggung coba lakukan tehnik peregangan." Ia memberi usul.


"Seperti apa?" Jesslyn bertanya antusias, Monica menyimak.


"Melakukan olah raga ringan. Seperti ini misalnya." Bryan memperagakan gerak-gerakan kecil. Melompat di tempat diikuti kedua tangan bergerak naik turun. Monica yang sedang dalam mode serius reflek mengikuti gerakan pria itu. Ia seakan lupa akan rasa bencinya.


"Lalu helakan napasmu hingga bersuara sedikit lantang seolah kau sedang membuang rasa yang mengganjal di dada."


"Huuuh! Huuuh! Seperti ini?" Tanya Monica yang masih berloncat-loncat bersama Bryan.


"Iya pintar, seperti itu."


"Pfftt!" Jesslyn akhirnya sudah tidak bisa menahan tawa. Baginya tingkah Bryan dan Monica sangat menggelitik perutnya. Jaeden juga terlihat ikutan meleoas tawa. "Kalian ini kenapa malah berlompat-lompat seperti cicak?"


"Jangan konyol! Mana ada cicak melompat?" Celetukan ngawur Jesslyn sontak membuat Monica berhenti melompat dan langsung tertawa. Bryan juga ikutan tertawa. Akhirnya mereka semua sama-sama tertawa. Tanpa disadari rasa tegang sudah bertransmigrasi entah ke mana.


Hingga tiba giliran Monica untuk berjalan di atas panggung runaway. Memamerkan rancangan Jesslyn yang tentu tak diragukan lagi keistimewaannya.


Jesslyn meraih kedua pundak Monica dan menatap serius. "Kau tidak perlu banyak berpikir. Kau hanya tinggal berjalan lurus. Yang penting tidak jatuh. Itu saja," tuturnya dan Monica mengangguk mantap. "Aku yakin kau bisa."


"Iya."


Bersambung~~


Maaf ya kemarin nggak bisa up dan sekali up tidak sesuai ekspetasi kalian.


Dan maaf jika banyak typo. Kerjaan udah nguber2 di belakang jd setelah ngetik gk sempet dicek lagi.


Dan maaf lagi jika komen belum sempat Nofi balas satu2🙏🙏


Terima kasih ya atas segala dukungan kalian. Lop you pul😘❤

__ADS_1


__ADS_2