
Cantik rupa berhias senyuman sejuta pesona. Bening sepasang netra berbinar indah bak mentari menyambut dunia. Pipi merona selayaknya kelopak bunga primadona. Itulah sedikit pendiskripsian pada sebuah lukisan besar yang terpampang di depan mata.
Jesslyn melangkah lebih dalam diiringi kemelut rasa tidak percaya. Pandangan belum lepas dari lukisan yang seolah tersenyum dan menatapnya.
"Di dalam lukisan itu aku, 'kan?" Jesslyn bertanya pada dirinya sendiri, meyakinkan hati bahwa apa yang dilihat bukanlah sekedar halusi.
Mahkluk cantik itu lanjut menyisiri sudut ruang lainnya. Hingga ia kembali dibuat terkesima. Beberapa foto berbingkai indah juga tampak menghiasi dinding di sekitarnya.
Jesslyn seolah sedang disambut oleh dirinya sendiri dari awal kaki berpijak di dalam ruangan. Sungguh, detak jantungnya kala ini bak gemuruh ombak lautan.
"Jeaven ...," lirihnya dalam kepiluan. Perlahan hatinya mulai menggencat sangkalan akan ketulusan Jeaven yang selama ini diragukan.
"Bagaimana ini?" keluh Jesslyn mendilema pada perasaan dirinya sendiri. Ego berseru untuk tidak percaya tapi berbanding terbalik dengan hatinya kini.
Perhatian Jesslyn ganti berpaling pada sebuah foto kecil berbingkai pigura duduk yang terletak di rak dinding. "Dari mana dia dapat foto ini?" Sepasang sudut bibirnya menyungging senyuman kecil kala tahu Jeaven juga menyimpan foto saat dia masih mengenakan seragam sekolah dasar.
Jesslyn mengamati satu persatu foto yang hampir diambil pada setiap momen kehidupannya. Seperti saat melakukan liburan bersama keluarga, perayaan ulang tahun, wisuda sekolah, tertidur di mobil, dan bahkan ketika ia menangis karena mengambek.
"Jeaven, apakah benar ini kau?" Jesslyn tidak menyangka saja kalau Jeaven yang sedari dulu memasang tembok dingin di antara mereka ternyata diam-diam melakukan sesuatu yang di mana orang lain bahkan kedua orang tuanya sekalipun akan sulit untuk bisa percaya.
"Kalau dia memang memiliki perasaan yang sama denganku kenapa tidak jujur saja sedari dulu? Dan kenapa dia malah selalu menolak dan menyakitiku? Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikirannya itu? Dia memang aneh." Di sela rasa terkesima Jesslyn juga kesal.
Hingga matanya menyipit kala melihat sepucuk surat yang terselip di antara buku-buku. Sepucuk surat yang sepertinya sengaja disembunyikan agar orang lain tidak tahu. Rasa penasaran kian menyokong hasrat untuk mengambil benda tipis itu. Dadanya seketika mengundang gelombang getaran hingga bertalu-talu. Setiap rangkaian kata yang terbaca sukses menyentuh relung kalbu.
^^^London, 23 April 2022^^^
Untuk Jesslyn yang tak bisa ku miliki.
Akhirnya surat ini sampai juga di tanganmu setelah sekian lama aku dibuat menunggu. Sangat diyakini kalau Jeaven tidak akan amanah dengan permintaan terakhirku. Dia adalah manusia yang dikaruniai harga diri selangit dan kau pasti tahu itu. Kakak kebanggaanku itu memang tidak akan mau terlihat menyedihkan atau dikasihani gara-gara surat yang aku tulis untukmu.
__ADS_1
Seperti yang kau tahu ketika surat ini terbaca kita sudah berada di alam yang berbeda. Aku sudah berpulang di sisi Tuhan bersama rasa cintaku untukmu.
Oya, Jess. Bagaimana kabarmu? Aku harap kau senantiasa bahagia dan tersenyum meski kisah di dunia ini tak seindah kisah di dunia dongeng. Maaf ya, aku ingkar akan janjiku untuk selalu ada di sisimu dan menjadi obat ketika kau terluka.
Namun, aku sadar. Bagaimana pantas aku menjadi obat sementara aku sendirilah sebagai sumber lukamu. Seperti halnya seorang bajingan, aku selalu ingin terlihat seperti tokoh protagonis di matamu saat Jeaven membuat hatimu patah berkali-kali. Padahal sebenar aku lah sosok antagonis di balik layar. Munafik bukan?
Aku lah manusia paling egois. Memanfaatkan kasih sayang Jeaven sebagai kakak agar mau mengalah dan merelakan wanita yang dicintai untuk adiknya yang berpenyakitan ini.
Aku seolah berlagak buta, tuli dan bahkan terkesan tidak peduli. Kendati tahu Jeaven sedang berjuang menutupi luka hati. Secara tidak langsung aku sudah menyakiti dua insan yang aku sayangi, menjadi tembok pemisah di antara kalian agar tidak saling memiliki.
Jangan terlalu kecewa dan benci dengan Jeaven, ya. Semua sikap dinginnya kepadamu hanyalah rekayasa semata. Dia terpaksa lakukan itu demi membahagiakan adiknya yang dimana tak akan hidup lama.
Percayalah Jeaven juga sangat terluka kala kau terluka. Batinnya tersiksa karena melihat kau yang sangat dicintai berderai air mata. Sekali lagi maaf, ya. Aku tidak sebaik yang kau kira.
Aku memang mencintaimu tapi Jeaven jauh lebih mencintaimu.
Sudah dulu, ya. Sebenarnya masih banyak rasa hati yang ingin aku tuangkan di surat ini, tapi tubuhku kian lemah dan tak bertenaga. Selamat tinggal, Jesslyn.
^^^Jennis Allison.^^^
Basah sudah sepasang jendela hati karena terjajah air mata. Gemuruh sesak seketika memenuhi rongga dada. Jesslyn terisak sesal karena kebenaran yang baru diketahuinya.
"Aku sudah sangat bersalah kepadanya. Dia pasti sangat terluka." Wanita itu kian dirundung rasa bersalah, teringat akan sikapnya yang sempat membanding-bandingkan Jeaven dengan Jennis. Belum lagi segala tindakan dan tutur katanya yang tidak seharusnya dilakukan di depan sang suami.
"Aku memamg istri durhaka." Lidah terus merutuki diri. Kendati dia juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan dengan apa yang sudah terjadi.
Jesslyn juga manusia biasa. Bisa khilaf kala hati bersolek luka, senantiasa menyambut ego yang melambai tawa, membiarkan hati digelapkan oleh rasa kecewa tak bercela.
Sama halnya dengan Jeaven sang suami, Tuhan juga mengkaruniai Jesslyn segumpal hati. Kala cinta menabur trauma tentu kepercayaan sukar direngkuh kembali. Butuh perjuangan keras untuk memulihkan ruang jiwa yang sudah diporandakan badai belati.
__ADS_1
Jesslyn terduduk lemas pada sofa. Dan di saat itu pula mata kembali menangkap sesuatu yang membuatnya meraup tanya. Di atas meja beberapa tumpukan kotak berhias pita kado seolah menyapa.
Kebenaran apalagi yang akan dia ketehaui kali ini? Begitulah tanya Jesslyn di dalam hati.
"Ya Tuhan." Sekali lagi ia seakan tak kuasa menahan rasa tidak percayanya setelah melihat semua isi kotak yang berupa pernak-pernik dreamcatcher.
Jantungnya kian berdenyut nyeri kala membaca satu persatu kartu ucapan yang diselipkan. Setiap rangkaian kalimatnya memiliki karakter sama dengan kartu ucapan yang selama ini didapatkan.
"Bodoh. Kenapa aku baru menyadarinya? Semua yang tertulis sangat menggambarkan diri Jeaven." Jesslyn kembali merutuki diri. Ia serasa tak mampu berkata-kata lagi.
Ratusan kalimat di kartu ucapan yang selama ini menemani Jesslyn memang jauh dari kata romantis, tidak ada satu pun rayuan gombal, tapi sangat berkesan. Bukankah itu ada pada diri Jeaven?
Kenapa? Kenapa dia sangat tidak peka padahal sebuah petunjuk kuat jelas-jelas mencolok mata. Hati Jesslyn melayangkan protes pada si pemiliknya.
Rasa bahagia sudah pasti ada. Pria yang selama ini dicinta rupanya memiliki perasaan yang sama. Namun, rasa sedih dan sesal bukan berarti berlagak buta. Dua rasa itu nyatanya tak membiarkan Jesslyn menghirup lega.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.
Keresahan kian meronta. Jesslyn beberapa kali mencoba menelepon Jeaven tapi sia-sia, hanya suara mesin operator telepon yang menanggapinya.
Jesslyn sedikit terhenyak dari lamun kerisauan karena tiba-tiba ponsel di tangannya berdering. Sempat ia berharap bahwa yang menelepon si suami, ternyata sang ibu mertua.
Jesslyn segera mengangkat panggilan lalu ditempelkan ke telinga dan siap mendengarkan. Hingga sekali lagi jantungnya harus menerima hantaman. Ponselnya seketika terlepas dari cengekeraman. Kabar berita yang baru diterima seketika menyeretnya dalam ketidak berdayaan.
"Tidak! Ini pasti hanya mimpi. Aku harus bangun dari mimpi ini!" Jesslyn menampar pipinya sendiri. Namun apa yang diharapkan tidak terjadi.
Dunianya sedikitpun tidak berubah, masih sama kendati bekas tamparan di pipi meninggalkan bekas merah. Akhirnya luapan lara kian membuncah. Jesslyn menangis histeris sembari membawa kaki melangkah.
Bersambung~~
__ADS_1
Ya Allah ... butuh waktu tiga hari untuk nulis 1 bab. Maaf ya ... Kesibukan di dunia nyata sungguh menguras tenaga dan waktu😩