
Tidak terasa waktu terus bergulir. Siang dan malam pun saling bergilir. Mewariskan kisah kenangan yang terukir. Mengais harapan yang merajut takdir.
Tiga purnama mengalir seperti air. Jesslyn benar-benar teguh dengan keputusannya yang sudah dipikir. Ia mengabaikan Jeaven, meski debaran cinta masih berdesir.
Sumpah demi apapun ia harus berusaha keras. Melupakan cinta pertama itu bagaikan terjebak ke dalam lumpur hisap yang ganas. Semakin gigih ia bergerak untuk terbebas, semakin dalam pula ia tenggelam dan terkulai lemas.
Namun, bukan berarti ia menyerah hanya dalam sekali usaha. Tidak! Itu bukanlah dia. Mengejar cinta Jeaven meski terus ditolak saja bisa ia lakukan tanpa jera. Apalagi menahan keteguhan hati kala bendera putih dikibarkan sebagai bentuk akhir perjuangannya? Akan tetapi, asal kalian tahu ya, bukan berarti Jesslyn tidak tersiksa oleh lara.
Mau bagaimana lagi? Jesslyn juga harus menyelamatkan hati sebelum membusuk karena tusukan duri. Sudah cukup ia terperangkap ke dalam kebodohan diri. Apalagi mengatas namakan cinta sejati.
Hah! Sudahlah! Hanya bisa pasrah. Apakah kelak keteguhan hatinya akan kian terasah atau malah kalah. Entahlah!
Malam ini, sebuah acara pesta ulang tahun perusahaan digelar secara mewah di salah satu hotel berbintang di kota London. Anggota keluarga terpandang dari dua perusahaan besar yaitu Allison Corp dan Willson Corp juga tampak hadir memenuhi undangan.
"Saya merasa terhormat karena anda berdua bersedia hadir ke pesta kecil ini." Ronald si pemilik pesta langsung menyambut ramah kedatangan Sean yang ditemani oleh putrinya, Jesslyn.
Sesaat mereka saling berjabat tangan dan melempar senyuman ramah.
"Selamat atas kesuksesan perusahaan anda yang mampu menembus pasar internasional." Sean menimpali dengan pembawaan berkarismanya.
"Ini semua berkat anda yang bersedia menjadikan perusahaan saya sebagai rekan kerja sama." Ronald berusaha merendah diri lalu mengalihkan perhatiannya kepada Jesslyn yang tengah menggamit tangan sang Daddy. "Nona Jesslyn, seperti biasa anda selalu terlihat cantik. Semoga anda nyaman dengan pesta sederhana ini."
Senyuman manis mengulas cantik di bibir merah Jesslyn. "Terima kasih, Tuan Ronald," ucapnya dengan anggun.
"Selamat datang, Tuan Jeffrey dan Tuan muda Jeaven. Terima kasih karena sudah berkenan menghadiri pesta kecil-kecilan saya ini." Ronald langsung menyambut antusias kedua pria tampan berbalut jas formal yang baru saja datang untuk bergabung. Tidak lupa mengulur tangan untuk berjabatan tangan dan langsung menerima balasan dari mereka.
Jeffrey hanya tersenyum tipis begitu juga dengan Jeaven. Sepasang ayah dan anak itu memang sebelas dua belas. Berwajah dingin dan juga mahal senyum. Sebuah peribahasa mengatakan 'buah jatuh tidak jauh dari pohonnya' dan itu cocok menggambarkan karakter mereka.
"Tuan Ronald, saya permisi dulu ya." Jesslyn tiba-tiba ijin meninggalkan tempat, melenggang anggun memberi ruang ngobrol untuk para pria. Ia bahkan terkesan tak peduli dengan keberadaan Jeaven yang sedari tadi diam-diam mengamatinya.
Pandangan tajam pria tampan berparas dingin itu juga tak kunjung lepas dari punggung terbuka Jesslyn yang kian mengecil dari bilik mata. Hingga akhirnya ia menghela napas tanpa bersuara, menandakan ada sesuatu yang mengganjal dada.
__ADS_1
Apa dia tidak punya gaun pesta lainnya?
Di dalam hati Jeaven berkomentar. Beberapa kali sepasang mata elangnya memindai ke sekitar, membidik para pejantan ber jas yang tengah menyoroti Jesslyn dengan tatapan lapar.
Sementara itu, di salah satu sudut ballroom, Jesslyn tampak berduduk santai menikmati alunan merdu syair lagu yang dinyanyikan oleh salah satu artis ternama. Sesekali dia meneguk sparkling red wine yang berada di tangannya.
Namun, kenyamanan Jesslyn harus terusik karena kedatangan seseorang yang sangat tidak diharapkan. Dipasang wajah jengah dan berusaha mengabaikan. Akan tetapi orang itu seolah tebal muka dan malah memulai obrolan.
"Kau masih saja cantik," puji pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Rocky, mantan kekasih Jesslyn.
"Apa kau sedang menyesali perbuatanmu dulu, Tuan?"
"Iya, aku sangat menyesal. Rasanya aku ingin memutar ulang waktu agar tetap bisa menjadi kekasihmu."
"Di mana letak rasa malumu itu?" Jesslyn kian jengah. Tidak ingin kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun memancing masalah ia berlalu begitu saja.
Rocky langsung ketawa, wajah jutek Jesslyn sungguh menggoda. Bahkan batang sosisnya sudah berdenyut ria. Setan pada diri pun mulai berbisik pada jiwa mesumnya.
"Maaf, Tuan. Bisakah biarkan saya sendiri?" Pinta Jesslyn kepada Rocky yang terus membuntutinya.
Meski Jengkel wanita itu masih mempertahankan etikanya dalam berbicara. Banyak mata di pesta, ada nama baik diri dan juga keluarga yang harus dijaga. Sifat bar-barnya harus disimpan untuk sementara.
"Ijinkan aku memperbaiki kesalahanku. Kalau kita tidak bisa kembali menjadi kekasih, setidaknya kita bisa berteman," rayu Rocky.
"Turunkan tanganmu!" Seru Jesslyn dengan suara sedikit tertahan. Dia kian risih saat tangan Rocky tanpa sopan menyentuh punggungnya.
Rocky segera menarik tangannya dari punggung Jesslyn. "Maaf, aku tidak bermaksud," sesal pria itu, tapi tidak sepenuhnya menyesal. Terlihat dari sepasang matanya yang terus menggerayangi lekuk tubuh Jesslyn dengan binal.
"Jaga matamu!"
Rocky langsung mengakhiri gelagat mesumnya saat suara dingin Jeaven menyentak otaknya yang kotor. Sementara Jesslyn hanya menoleh sesaat dan kembali membuang pandangan ke sembarang tempat.
__ADS_1
Disokong oleh rasa ingin melindungi, Jeaven melepaskan jas mahalnya untuk menutupi bahu dan punggung Jesslyn yang terbuka. Ia tahu, tubuh wanita itu sedang menjadi pemandangan lezat mata Rocky.
"Kau--"
"Jangan membantah," tukas Jeaven saat Jesslyn hendak menolak inisiatifnya.
"Ah, Tuan Jeaven. Rupanya kau juga menghadiri pesta. Apa kabarnya?" Rocky gegas menguasai suasana, mencoba bersikap santai kendati baru saja kepergok menatap mesum tubuh Jesslyn.
Alih-alih menanggapi ucapan basa-basi Rocky yang dianggapnya tidak penting, Jeaven lebih memilih memusatkan perhatiannya ke Jesslyn. "Masuklah ke dalam," pintanya setengah menitah.
"Aku ingin di sini." Jesslyn mencoba membangkang.
"Jesslyn." Wajah dingin Jeaven kian mempertegas bahwa dia tidak suka dibantah. Namun, Jesslyn seolah tak gentar.
"Maaf, Tuan Jeaven. Bisakah anda saja yang masuk ke dalam? Saya sedang ingin menikmati suasana malam kota dari sini."
Jujur, Jesslyn tidak ingin goyah dengan keputusannya semenjak beberapa bulan yang lalu. Yaitu untuk menyerah akan harapan cintanya yang semu. Lagian ia masih kecewa dengan pria yang masih bertahtah di hatinya itu.
Diraih jemari lentik Jesslyn, Jeaven berniat membawa paksa si wanita ke dalam untuk bergabung kembali bersama Sean dan Jeffrey. Akan tetapi Rocky menghadangnya.
"Maaf, Tuan Jeaven. Jesslyn terlihat tidak nyaman dengan sikap anda saat ini," ucap Rocky membela Jesslyn.
"Bukan urusanmu, Tuan." Jeaven melempar tatapan tajam kepada mantan kekasihnya Jesslyn itu.
"Sudah cukup." Jesslyn menyela sebelum perdebatan di antara kedua pria itu berlangsung panjang.
Jesslyn melepas pelan genggaman Jeaven dari tangannya, kemudian ia tersenyum manis kepada Rocky. "Bukankah kau ingin berbincang denganku?" Ia langsung menarik tangan Rocky dan menyeretnya ke tempat lain, meninggalkan Jeaven yang tampak kesal.
Tanpa Jesslyn sadari, Rocky tengah menyeringai dengan sebuah rencana jahat di kepalanya.
Bersambung~~
__ADS_1