Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Kehamilan Ibu Mertua


__ADS_3

Tangisan haru menyelimuti kamar perawatan. Jenny langsung memeluk sang putra setelah sadar dari pingsan. Tak henti lidah berucap syukur atas kasih sayang Tuhan. Sungguh hati seorang ibu itu sudah dipenuhi oleh kelegaan. Jeaven benar-benar selamat dari kecelakaan.


Sementara Jeffrey tampak terpaku tanpa buncahan kata. Dia pun tengah menyimpan haru di dadanya. Sepasang matanya bahkan sudah memerah dan siap menumpahkan air mata. Sungguh lega karena putranya masih berkalung nyawa, dan terlihat baik-baik saja.


"Putraku ... kau selamat, Sayang. Ya Tuhan ... Mommy sangat terpukul saat mendengar pesawat yang kau tumpangi mengalami kecelakaan. Mommy pasti tidak akan sanggup menerima kenyataan bila kau benar-benar pergi meninggalkan Mommy." Jenny meluapkan semua isi hatinya lalu menghujani ciuman pada wajah tampan si putra. Sedetik kemudian dia mencoba memeriksa tubuh Jeaven dengan seksama. "Apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka, 'kan? Kau masih utuh, organ tubuhmu lengkap?" Ia langsung memberondongi Jeaven dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


"Jeaven baik-baik saja, Mom." Jeaven menyeka jejak-jejak air mata di wajah sang ibu lalu mencium sayang keningnya. "Jeaven selamat karena tidak jadi mengambil penerbangan," jelasnya.


Di sisi lain Jesslyn tampak mengulum senyum tanpa ada yang menyadarinya. Penampakan di depan mata sungguh merupakan fenomena yang langka. Jeaven saat ini terlihat seperti anak mama yang dimanja. Apalagi saat Jenny bertubi-tubi menciuminya. Memang hatinya turut mengharu tapi ia merasa gemas juga. Pria super dingin itu ternyata sangat hangat terhadap orang tuanya.


"Syukurlah, Sayang," ucap Jenny yang kian lega. Kemudian ia melihat ke suami yang ketahuan sedang menyeka bingkai matanya yang basah. "Suamiku, kita pulang saja ya. Aku sudah sangat baik-baik saja sekarang," pintanya dengan raut muka yang mendadak bersinar. Tubuhnya bahkan seketika sehat bugar.


Jeffrey sempat melirik pada arloji yang melingkari pergelangan tangannya sebelum menjawab. "Ini sudah terlalu larut, Jenny. Pulang besok saja, ya," tuturnya.


"Aku ingin pulang. Berada di sini sangat tidak nyaman." Jenny merengek, lupa dengan statusnya yang sebentar lagi menjadi seorang nenek.


"Sayang, Menurutlah. Lagian kondisimu memang kurang sehat," tutur Jeffrey kembali. Dia enggan menuruti rengekan si istri. Jenny memang mengalami penurunan daya tahan tubuh selama beberapa hari ini. Tentu saja dia tidak bisa meremehkan hal itu sebagai suami.


"Apa kau baru saja memarahiku?" Jenny tiba-tiba memasang mimik muka masam. Nasehat Jeffrey yang terdengar penuh kelembutan dan perhstian malah terkesan kasar dan tajam.


Sepertinya ada yang tidak beres.


Kumat lagi. Akhir-akhir ini perasaannya lebih sensitif dan mudah sensi.


Jeffrey mengeluh di dalam hati. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Dari mimik wajahnya saja bisa terbaca bahwa Jenny sudah bersiap-siap memuntahkan segala emosi.


"Daddy hanya sedang mengkhawatirkan kesehatan Mommy. Lagian Daddy tidak akan tega memarahi belahan jiwanya. Mommy tahu itu." Jeaven langsung menyela, berniat membantu sang Daddy yang tampak kesulitan memilih kata sekaligus berusaha mencairkan suasana. "Sebaiknya, Mommy pulang besok saja ya." Ia lanjut menuturi.


"Baiklah kalau putraku berkata seperti itu."


Tidak perlu kerja keras bagi Jeaven agar sang mommy menuruti perkataannya. Membantah sang putra? Jenny memang tidak akan berdaya. Seiring bertambahnya usia, Jeaven kian memiliki karakteristik yang berwibawa.


Deheman Jeffrey sontak mencuri perhatian seluruh penghuni ruangan. Sepintas ia berusaha mengatur mimik wajahnya sebelum berlisan. Dari gelagatnya seperti terselip sebuah keraguan.

__ADS_1


"Daddy ingin memberitahukan sesuatu." Jeffrey mulai bersuara. Sementara Jenny tampak memperhatikan begitu juga dengan Jeaven dan jesslyn.


"Mommymu sebenarnya sedang hamil?"


"Apa?!" Jenny seketika terkejut luar biasa begitu juga dengan Jeaven dan jesslyn. Bagaimana bisa di usianya yang sudah menginjak 50 tahun masih bisa hamil? "Dari mana kau tahu? Sedangkan aku sendiri tidak merasakan tanda-tanda kehamilan."


"Saat kau pingsan dokter memeriksa kondisimu hingga ketahuan kau sedang hamil. Itulah sebabnya kau harus lebih menjaga kesehatanmu sekarang, ya," terangnya kembali.


"Sayang, bolehkan aku merasa senang?" Jenny tersenyum penuh haru, tangan diajak mengusap perutnya yang masih rata.


"Kau memang harusnya merasa senang, Jen." Jeffrey memeluk sayang si istri.


"Baguslah. Aku akan mempunyai seorang adik yang usianya sepantaran dengan anakku," sela Jeaven yang langsung mengundang tawa semuanya.


"Jeav, bukankah akan sangat menggemaskan karena anak kita akan memiliki seorang paman kecil?" Jesslyn pun turut berkelakar hingga semuanya kembali tergelak.


Namun, senyuman Jenny berangsur-angsur tenggelam. Binar cerah di wajahnya berubah suram.


"Aku teringat dengan putra kita Jennis. Harusnya dia berbahagia bersama kita," keluhnya.


"Dia juga bahagia di surga," ucap Jeffrey.


"Aku harapkan begitu."


Langit malam kian pekat. Jeaven dan Jesslyn akhirnya kembali ke apartemen untuk melepas penat.


"Tidurlah." Jeaven menenggelamkan tubuh mungil Jesslyn ke dalam pelukan.


"Kau benar-benar menyuruhku tidur?" Jesslyn memandangi Jeaven penuh makna. Dari sorot matanya seperti mengisyaratkan sesuatu.


"Sudah malam. Kau harus beristirahat." Jeaven membalas tatapan Jesslyn yang masih terlihat segar meski hari sudah melewati tengah malam.


"Tapi aku tidak akan bisa tidur?"

__ADS_1


"Kenapa? Ada yang kurang nyaman?"


"Iya."


"Bagian mana?" Jeaven mulai cemas.


"Di sini." Jesslyn menuntun tangan Jeaven agar menyentuh organ intimnya. "Harusnya kita melanjutkan apa yang sempat tertunda tadi."


"Besok saja, ya."


"Yakin bisa tahan sampai besok?" goda Jesslyn. Ia tahu milik Jeaven sudah mengeras.


"Jangan pancing aku, Jesslyn." Pria itu tampak mati-matian menahan hasrat. Bahkan gigi-giginya sampai mengerat. Yang dia ingin sekarang Jesslyn harus beristirahat.


Namun, malam ini kesabaran Jeaven benar-benar diuji. Jesslyn tidak mau diam dan malah menjadi.


"Kau sangat seksi saat berada di atasku." Jesslyn berbisik nakal lalu membawa lidah membasahi leher sang suami. Jemari merangkak ke dalam celana mencari sesuatu yang memang sudah berdiri.


"Ergg! Kau nakal sekali." Roboh sudah pertahanan Jeaven untuk menahan hasrat bercinta. Sentuhan jesslyn memang terlalu sulit diabaikan begitu saja. Dia tidak akan bisa menolak sejuta pesona yang dimiliki istrinya.


"Kyaak! Jeav, geli!" Jesslyn terkikik karena Jeaven mencium semua bagian tubuhnya secara brutal.


"Ini hukuman karena sudah mengusikku."


"Hmm, Jeav," dessah Jesslyn saat Jeaven berhasil merasukinya. "Katakan kau mencintaiku."


"Aku mencintaimu."


"Lagi."


"Aku mencintamu, Jesslyn."


Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2