Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Aku Seorang Yang Beruntung


__ADS_3

Padang golf terbentang luas nan hijau. Atmosfer segar bersapu semilir angin yang berdesau. Sebuah bola kecil bewarna putih tampak menggelinding tanpa terlepas dari mata yang memantau.


Suara tepuk tangan terdengar menggema mengiringi senyuman yang berdecak kagum. Satu tembakan terakhir dari jarak jauh mengakhiri permainan golf Jeaven bersama seorang bapak parlemen negara bernama Alfred Maunder, ayah dari Adaline Maunder.


"Kau adalah orang pertama yang sudah sangat berani mengalahkanku, anak muda." Alfred menyungging senyuman, sebentuk pengakuan akan kemampuan Jeaven yang berhasil menandingi permainan golfnya.


Sementara di sebelahnya ada Adeline si putri yang sedari tadi tak melepas pandang dari wajah tampan Jeaven. Ia bahkan tak merasa malu terang-terangan menunjukkan tatapan kagum pada pria itu.


Wanita itu terpesona, hatinya juga berbunga-bunga. Sosok si pria dingin itu seolah sudah mengalihkan dunianya. Ya ... sepertinya dia sudah terbuai oleh cinta sejak pandangan pertama. Lebih tepatnya sejak Jeaven berjaya di dunia lintas dan menjadi pembalap idola.


Tipis sekali, senyuman yang tersemat di bibir Jeaven hampir tak kentara. Seakan harga senyumannya itu tak sebanding dengan harga intan permata. Namun, bahasa tubuhnya berupa anggukan kepala beserta pembawaan tenang cukup mewakili sebuah etika sopan santun kepada yang lebih tua.


"Hanya kebetulan, Tuan." Jeaven merendah.


Alfred Mauren tergelak diikuti tangan yang menepuk pundak kokoh Jeaven. "Kau merendah untuk menyenangkan pria tua ini, bukan?" Kelakarnya tanpa menunjukkan ketersinggungan sama sekali.


Sekali lagi, Jeaven hanya tersenyum tipis dan Adaline kian menjadi dengan tatapan nakalnya. Sesekali wanita itu menghadiahi kerlingan mata kala matanya dan si pria saling bertemu.


Risih! Itulah yang dirasakan Jeaven sedari tadi. Ingin sekali ia segera melenggang pergi, tapi ada sesuatu yang harus diselesaikan dulu saat ini.


"Biasanya menang di saat pertama kali memegang golf itu karena ada keberuntungan yang berpihak," ucap Jeaven menyanggah. Memang benar, ini adalah kali pertama ia berada di lapangan golf.


Alfred kembali menggelegarkan suara tawanya. Berinteraksi dengan Jeaven rupanya memberi kesenangan tersendiri tanpa diduga. Dari situ ia pun bisa menelaah lebih jauh kenapa Adaline sampai bisa tergila-gila kepadanya.


Pria dingin itu memang memiliki bawaan berkarisma dan juga ketampanan paripurna.


"Baiklah, sekarang kau boleh mengutarakan tujuan utamamu menemuiku. Atau apa sebaiknya kita mencari tempat nyaman dulu sekalian makan malam bersama?" Alfred mulai mengarahkan pembicaraan ke topik yang sempat ditundanya beberapa jam karena untuk bermain golf. Ia juga sempat melontarkan sebuah tawaran.


Jeaven menyerahkan stik golfnya kepada seorang caddie sebelum melanjutkan pembicaraan ke jenjang yang lebih serius. "Saya bisa berbicara saat ini juga di sini agar tidak terlalu lama menyita waktu anda yang berharga." Orang berkedudukan tinggi seperti Alfred pasti bisa menilai bahwa ucapan Jeaven tersemat akan sebuah penolakan halus akan tawarannya.

__ADS_1


*Caddie adalah orang-orang yang disewa para pemain golf yang bertugas membantu pemain golf dan membawa stik golf.


"Baiklah, kalau itu maumu." Alfred mempersilahkan Jeaven untuk kembali berbicara melalui ekspresi wajahnya.


"Tolong luruhkan isu miring tentang kedekatan saya bersama putri anda." Jeaven langsung berucap pada titik pokok pembahasan.


Adaline sontak menekuk muka. Tentu saja wanita itu kecewa. Dipikirnya rancangan penyebaran isu itu bisa menarik Jeaven ke dalam pelukannya.


Ternyata penilaiannya salah kaprah. Jeaven rupanya bukan mangsa yang mudah. Berbeda dengan para biawak pejantan lainnya yang ketika melihatnya selalu menelan ludah.


Wah ...! Adaline, kau terlalu percaya diri.


"Daddy ...." Adaline merengek seraya menggelayut manja di lengan Alfred. Bahasa wajahnya seolah memohon agar ayahnya itu tidak menuruti permintaan Jeaven.


Sejenak Alfred memandangi Adaline dengan perasaan maklum dan tentunya mengerti dengan apa yang diinginkan putrinya itu. Sedetik kemudian pria tua itu kembali menggiring perhatian ke Jeaven. "Apa kau tidak menyukai putriku? Dia cantik dan berpendidikan tinggi. Aku juga akan merestui hubungan kalian. Kau akan sangat beruntung, bukan?" Ia mulai merayu. Demi kebahagiaan putrinya, ia pun rela menyisihkan sedikit kewibawaannya sebagai anggota parlemen negara.


"Saya justru merasa dirugikan atas isu ini. Harusnya putri anda meminta maaf kepada saya karena tanpa ijin telah menyebar berita palsu yang di mana untuk kesenangannya sendiri," tegas Jeaven tanpa basa-basi.


"Jeaven ... aku lakukan itu karena sangat menyukaimu. Beri aku kesempatan ya." Adaline mulai menggencarkan rayuannya. Tanpa malu ia menggamit tangan kekar Jeaven seraya menekan kedua gunung kembarnya agar pria itu tergoda.


Namun sayang, ia harus segera menyudahi aksi nakalnya itu karena tatapan tajam Jeaven sukses menciutkan nyali.


Sial! Pria ini sungguh sulit dikendalikan! Umpat Adaline di dalam hati.


Alfred diam-diam menghela napas pelan karena tingkah absurd si putri. Akan tetapi ia masih berniat mengambil peruntungan sekali lagi, mencoba membujuk Jeaven agar mau menarik permintaannya tadi.


"Aku akan mensponsorimu jika kau bersedia menerima putriku."


"Apa kau dengar? Ayahku bahkan bersedia mensponsorimu." Adaline turut menimpali dengan antusias.

__ADS_1


Diamati kedua wajah yang sarat akan harapan itu, tapi Jeaven masih teguh dengan pendiriannya. "Saya sudah berbaik hati berbicara langsung kepada anda tanpa harus melakukan klarifikasi di depan awak media yang di mana itu berpotensi merusak image anda dan juga putri anda," ucapnya dengan kilat mata tegas serta kalimat penuh peringatan.


Alfred seketika terbungkam tapi batinnya merutuki diri. Kenapa dia tidak berpikir sampai ke sana? Sebagai seorang anggota parlemen membangun image yang baik adalah suatu keharusan dan bersifat penting.


"Adaline, sebaiknya kau segera meminta maaf," titah Alfred kepada putrinya.


"Tapi, Dad!" Adaline membantah tapi mimik Alfred saat ini sudah terkesan tidak ingin membelanya. Bahkan ayahnya itu mengabaikan rengekannya dan lebih memilih menuruti permintaan Jeaven.


"Baiklah, anak muda. Akan aku pastikan isu itu akan tenggelam secepatnya," putus Alfred tanpa adanya paksaan.


"Daddy ...." Adaline merajuk manja bercampur kecewa.


"Putriku, Jeaven memang bukan untukmu. Masih banyak pria lain yang sama baiknya di luar sana." Alfred mencoba memberi pengertian seraya tangan mengusap sayang punggung putrinya.


"Daddy aku membencimu!" Adaline yang kecewa karena keinginannya tak terwujud langsung melenggang pergi.


Alfred masih mengulas senyum kesabaran melihat punggung putrinya yang kian menjauh lalu kembali menyorot Jeaven. "Maafkan aku yang belum becus mendidik putriku dengan baik. Kau tenang saja, aku akan segera membereskan isu itu," ucapnya bersungguh-sungguh.


"Terima kasih," jawab Jeaven merasa lega.


"Kau pasti sedang menjaga perasaan hati seseorang. Itulah tujuan utamamu menemuiku." Alfred menebak sembari tersenyum ramah.


Sebenarnya Alfred sempat membaca ekspresi Jeaven saat berbicara. Ia bisa melihat sebuah gurat keresahan dibalik pembawaan tenang si lawan bicaranya.


Jeaven menjawab dengan sedikit mengulas senyuman untuk menanggapi. "Jawaban saya sama dengan apa yang ada di pikiran anda saat ini."


"Wanita itu sangat beruntung."


"Bukan dia, tapi saya yang beruntung," sanggah Jeaven. "Kalau begitu saya ijin undur diri." Ia mengangguk pelan sebelum menaiki buggy car yang akan membawanya keluar area lapangan.

__ADS_1


Iya, aku adalah seorang yang beruntung karena pernah dicintainya. Dan aku akan menjadi yang paling beruntung di dunia jika bisa memilikinya.


Bersambung~~


__ADS_2