Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Menikah?


__ADS_3

Kaki terpaku, berat untuk melangkah. Tubuh mematung dengan ragam rasa yang membuncah. Jesslyn membawa sepasang mutiara hazelnya menatap lurus ke satu arah. Bangunan gereja di depan mata tampak berdiri indah. Namun, itu tak membuat hatinya terpanah.


Jesslyn menahan sesak karena degub jantung yang bertalu. Pikirannya kembali menerawang pembicaraan antara Jeffrey dan Jenny yang tidak sengaja ia dengar beberapa saat yang lalu.


"Sayang, ada apa? Kita harus berangkat sekarang." Mimik penuh tanya tampak menghiasi muka Jeffrey saat melihat gelagat Jenny.


Tas yang sudah menggantung di pundaknya di lempar begitu saja di atas sofa. Jenny menghela napas panjang, mengusir rasa tak nyaman di hatinya. "Aku sepertinya tidak bisa datang ke gereja."


"Bukankah kau merestui keputusan putra kita?"


"Itu karena terpaksa. Kau tahu sendiri bagaimana karakter putra kita itu. Keras kepala kalau sudah memutuskan sesuatu. Sekalipun aku menolak dia tidak akan mendengarnya."


"Tapi putra kita yang satu itu jarang sekali membuat keputusan untuk kepentingan dirinya sendiri, bukan? Selama ini dia lebih peduli dengan kebahagiaan keluarga termasuk adiknya. Aku rasa dia tidak sepenuhnya keras kepala," timpal Jeffrey dan langsung mendapat anggukan pasrah Jenny.


Sekali lagi helaan napas terdengar dari bibir wanita yang sudah melahirkan Jeaven itu. Rasanya sulit untuk menyangkal perkataan suaminya itu. "Meski keras dan dingin tapi selama ini dia memang anak yang penurut dan tidak pernah berbuat onar. Tapi sekali membuat keputusan, dia tidak bisa dibantah dan keras kepalanya kumat." Nada bicara Jenny sedikit meninggi di penghujung kalimatnya karena geretan dengan putranya itu.


"Bagaimana, jadi berangkat tidak?" Jeffrey melihat pemutar waktu di pergelangan tangannya. "Sudah jam segini. Bagaimanapun juga putra kita butuh sosok dari kedua orang tuanya sekarang."


Pandangan menurun ke bawah diikuti gelengan lemah. "Maaf, aku tidak bisa pergi. Jujur, aku juga kecewa dengan Verlin. Dia sangat tahu tentang perasaan Jesslyn kepada putra kita, tapi malah menusuk dari belakang. Bagaimana perasaan Jesslyn jika mendengar Jeaven dan Verlin akan menikah hari ini?"


"Menikah? Apa Jesslyn tidak salah mendengarnya, Aunty?"


Jenny sontak terhenyak saat Jesslyn tiba-tiba menyela ke dalam percakapan. Sementara Jeffrey tampak pasrah dengan keadaan.


"Jesslyn sayang, sejak kapan kau berada di sini?" Jenny langsung beranjak dari duduknya dengan rasa sesal di hati. Apalagi melihat garis ekspresi Jesslyn saat ini. Siapapun pasti bisa membacanya bahwa wanita itu tengah menolak kenyataan yang menyesakkan dadanya kini.


Alih-alih menjawab pertanyaan spontan Jenny, Jesslyn malah menggilir pertanyaan ke Jeffrey untuk mendapat jawaban yang lebih meyakinkan. "Uncle, apa benar?" Tatapannya tampak nanar.


"Iya," jawab Jeffrey apa adanya, meski berat dirasa. Sungguh, iba sudah memenuhi rongga dadanya.


"Di mana?"


"Untuk apa? Sebaiknya kau tidak perlu ke sana, Sayang," saran Jenny bermaksud untuk mencegah kalau-kalau Jesslyn berniat mendatangi ke acara pernikahan Jeaven dan Verlin.


"Tolong katakan saja, Aunty," desak Jesslyn.


"Di gereja yang tidak jauh dari sini," jawab Jeffrey dengan tatapan penuh makna. Dan Jesslyn langsung melenggang pergi setelah menerima jawaban darinya.

__ADS_1


Jesslyn tersadar dari lamunan kala kelembutan semilir angin menerpa. Disibak surai yang menyapu wajah cantiknya. Wanita itu mulai beranjak dari keterpakuan kakinya.


Sementara itu di dalam gereja, Jeaven dan Verlin sudah berdiri di depan pendeta. Tidak ada yang istimewa di sana. Tamu undangan pun tidak terlihat mata. Bahkan sepasang baju pengantin tidak membaluti tubuh mereka yang semestinya. Hanya sebuah mahkota bunga yang menghiasi kepala si calon pengantin wanita. Dan juga sepasang cincin yang akan disematkan pada jari keduanya.


Berbeda dengan Jeaven yang tampak tenang seolah tiada masalah. Verlin diam-diam menahan resah.


Di acara pernikahan yang bersifat rahasia ini, Jeffrey dan Jenny diyakininya tidak akan datang. Mengingat sudah satu jam lebih sesi pengucapan ikrar janji suci diundur dari waktu yang sudah dirancang, demi menunggu kedua orang tua Jeaven yang disayang. Tentu hal ini membuat Verlin tidak tenang.


"Kita mulai saja sekarang," ucap Jeaven memecahkan suasana.


Lagian sang pendeta juga tidak mungkin akan bersedia menunggu lebih lama lagi.


"Tapi, Jeav. Kedua orang tuamu belum datang." Verlin terlihat tidak setuju.


"Jangan pikirkan." Ucapan Jeaven membuat Verlin pasrah. Lagipula ia tidak akan mampu banyak bertingkah. Tubuhnya sudah terasa lemah.


"Bagaimana, Tuan?" Sang pendeta pun mulai bertanya.


"Tolong lakukan sekarang," pinta Jeaven kepada sang pendeta yang akan mengesahkan mereka dalam ikatan suci pernikahan.


"Baiklah."


Tap


Tap


Tap


Namun, perannya yang masih separuh perjalanan harus terhenti. Gema langkah seseorang tiba-tiba menarik atensi.


Perlahan Jeaven dan Verlin memutar badan ke belakang, mencari tahu siapa gerangan yang datang. Hingga raut wajah sarat akan luka tertangkap pandang.


"Jesslyn?" Lirih Verlin yang tentunya terkejut bercampur rasa tidak enak hati.


Sementara Jeaven memilih diam dengan sorot mata penuh makna. Ia tak menampik bahwa wajah kecewa Jesslyn menyisakan denyutan di dada.


Tepat di depan mimbar gereja, Jesslyn membawa kaki berpijak. Dipandangi wajah calon sepasang mempelai yang berada di depannya secara bergantian.

__ADS_1


Rasanya Jesslyn ingin tidak percaya, tapi kenyataan memaksanya untuk percaya. Hingga senyuman getir mewakili hati yang cedera.


"Selamat." Itulah ucapan singkat Jesslyn setelah beberapa detik melawan lidahnya yang kelu.


Bagi Jeaven dan Verlin, sikap Jesslyn kali ini sungguh tak disangka. Berbeda dengan Jesslyn yang dulu begitu ekspresif dengan apa yang dirasa. Wanita yang memiliki ciri khas berisik dan suka berulah itu saat ini lebih terlihat tenang dalam pembawaan dirinya.


"Jesslyn, maaf. Pada akhirnya aku menjadi tokoh jahat di kehidupanmu." Verlin kian dirundung rasa tidak enak hati.


Sesaat Jesslyn sedikit menunduk dengan sebelah tangan menyelipkan rambut di belakang telinga. Sehingga kecantikannya terlihat lebih sempurna. Padahal sebenarnya ia tengah menyembunyikan luka agar tidak terlihat lemah saja. Sedetik kemudian wanita itu kembali mengangkat kepala disertai sebuah senyuman berkarisma.


"Kau meminta maaf untuk apa?" Bagaikan kura-kura di dalam perahu, Jesslyn malah menghujam Verlin dengan sebuah pertanyaan.


"Karena aku sudah menusukmu dari belakang. Merebut Jeaven darimu," aku Verlin tertunduk. Rasanya ia terlalu malu membalas tatapan Jesslyn saat ini.


"Tidak ada yang namanya ditusuk ataupun yang menusuk di sini. Dan tidak ada yang diperebutkan juga."Jesslyn menjeda ucapan lalu memandangi Jeaven yang sedari tadi tak melepas tatapan dari wajahnya yang cantik. "Lagian pria ini bukan siapa-siapaku," tegasnya.


"Jess--" ucapan Verlin terjeda karena Jesslyn lebih dahulu memangkasnya dengan gelak tawa.


"Hah! Hidup ini memang dipenuhi oleh lelucon ya. Rasanya aku ingin tertawa sampai menangis. Sekali lagi selamat ya untuk kalian."


Perkataan Jesslyn bagaikan tamparan keras di hati Verlin. Tentang Jeaven, jangan ditanya, tidak ada yang tahu apa yang tengah dirasa dan dipikirkannya saat ini.


"Oke, lanjutkan saja acara kalian. Maaf sudah menggangu." Jesslyn langsung memutar tumit dan berniat berlalu.


Namun, tubuhnya terhenyak saat sebuah tangan kekar menarik pergelangan tangannya. Diputar lehernya hingga wajah tampan Jeaven memenuhi ruang mata.


Beberapa detik mereka saling berpagut pandang tanpa berkata. Jesslyn dan Jeaven seolah sama-sama menyalurkan rasa hati melalu sorot mata. Hanya Tuhan yang tahu tentang bahasa kalbu keduanya. Andai bisa disuarakan, mungkin seribu frasa tak cukup mengurai kesah hati yang membelenggu jiwa.


Jeaven melepas kembali pergelangan tangan Jesslyn seiring dengan banyak ungkapan yang akhirnya harus dikubur dalam. Pria itu seolah membungkam jeritan hati dan dibiarkan karam.


Jesslyn langsung melanjutkan langkahnya, membawa ketegaran hati yang entah akan bertahan berapa lama. Setidaknya, untuk beberapa saat ia sudah teramat tangguh sebagai pihak yang dijajah luka. Sungguh melawan gejolak rasa yang berpotensi membobol air mata itu tidak semudah orang berkata.


Bersambung~~


Maaf ya, up nya telat sekali. Dan sekalian minta doanya. Nofi lagi positif covid-19 nih. Padahal Nofi udah protektif banget masalah kesehatan, tapi si virus kayaknya memang ingin berkenalan😁


Makasih ya atas dukungan kalian untuk karya ini🥰

__ADS_1


Lop you pul sekebon pisang😘😘😘


Emuuaah👄👄


__ADS_2