
Arus waktu terus mengajak para insan memintal kisah, menyisakan lambaian kenangan penuh hikmah, mengantar langkah tanpa lelah, menunju rongga di mana masa depan bersinggah. Beraneka ragam pola pelabuhan takdir dirajah. Ada nestapa berkiprah, ada pula suka yang tercurah. Tetapi pecayalah di setiap alur cerita tersemat banyak anugerah.
Di depan Sean dan Allesya, Jeaven meletakkan gengsi di atas simpuan kakinya. Meski raut dingin dan tenang masih membingkai muka, tapi binar harapan terpancar jelas di mata.
Ayolah, kalian pasti tahu kalau putra dari keluarga Allison itu adalah makhluk minim ekspresi. Raut dingin dan pembawaan tenang memang sudah Tuhan berikan saat ruhnya ditiup ke dunia yang penuh warna ini.
Di depan sepasang orang tua itu, Jeaven menceritakan semua. Dari dia yang sudah berkali-kali membuat hati Jesslyn patah dan terluka sampai bagaimana asal mula wanita itu bisa mengandung anaknya. Dia bagaikan seorang hamba yang tengah melakukan pengakuan dosa.
"Jadi kau ingin kami membujuknya?" Sean mulai melontarkan pertanyaan meski dia sudah tahu apa jawabannya. Pria tengah baya yang ketampanannya seolah tak lekang oleh waktu itu hanya ingin lebih memastikan saja. Memastikan akan seberapa besar kesungguhan Jeaven dalam memperjuangkan sang putri kesayangannya.
Jeaven mengangguk pelan. "Iya."
"Tapi bagaimana kalau Jesslyn akan tetap menentang pernikahan itu?"
"Itu hanyalah spekulasi saja, Paman. Belum tentu benar terjadi."
"Lalu?"
"Jeaven percaya kepada Paman dan Tante."
Sean menghela napas seiring atensi berpindah ke Alleysa yang sudah beberapa hari ini kurang sehat. Jesslyn yang enggan untuk menikah ternyata membuat wanitanya itu berpikir berat. Ditambah lagi apa yang menimpa sang putri membuat masa lalu kelamnya kembali teringat.
Allesya tahu bagaimana rasanya berada di posisi Jesslyn karena dulu ia pun mengalami hal yang hampir serupa. Hanya saja ia dulu keguguran dan tentu hal yang sama tidak diharapkan menimpa putrinya.
Sean menarik tubuh kecil Allesya agar bersandar di bahu. Tangannya membuat gerakan mengusap pada lengan milik kesayangannya itu. Sungguh rona pucat di wajah sang istri menciptakan perasaan pilu.
"Sebenarnya Paman tidak hanya sekali membujuk Jesslyn agar mau menikah. Tetapi tidak ada salahnya jika kita berusaha sekali lagi."
__ADS_1
"Terima kasih, Paman," ucap Jeaven bersungguh-sungguh.
Jeaven memang pada akhirnya nekat menemui kedua orang tua Jesslyn untuk meminta bantuan. Tentu setelah usahanya sudah berkali-kali menerima penolakan. Apa lagi mengingat dalam kurun tiga hari ia harus melakukan perjalanan ke beberapa negara untuk ikut turnamen balapan. Jadi kalau bisa pernikahan harus sudah terjadi sebelum ia pergi untuk selama beberapa bulan.
Setidaknya dengan itu ia bisa sedikit tenang. Kendati perasaannya tak sepenuhnya senang. Sumpah demi seisi langit yang membentang, berjauhan dengan dia si tersayang bak tersesat di ruang kerinduan dan diserang oleh keresahan yang bertandang.
"Tetapi jika pernikahan itu benar terjadi, berjanjilah untuk tidak menyakiti putriku lagi apalagi meninggalkannya. Ingat ini kesempatan terakhirmu dan tidak akan ada kesempatan lainnya." Sean menegaskan.
"Paman, kau tahu nasib jantung jika tanpa detak."
"Apa kau ingin mengatakan bahwa kau itu jantungnya dan Jesslyn detaknya." Otak cerdas Sean langsung menyahut, paham dengan yang dimaksud Jeaven.
"Iya, Paman." Jeaven pun membenarkan.
Sean kembali menoleh ke Allesya. "Kau dengar, Sayang? Calon menantumu rupanya sangat berani menggombal di depanku," kelakarnya.
Senyuman seketika terbit di bibir Allesya. "Apa bedanya denganmu," celetuk wanita itu.
Sean bersama Allesya mengunjungi butik tempat Jesslyn Bekerja. Seperti yang sudah direncakan sebelumnya mereka berniat kembali membujuk sang putri agar bersedia menikah dengan segera. Bukan semerta ingin menuruti permintaan Jeaven saja, tapi juga demi kebaikan Jesslyn serta bayi yang dikandungnya.
"Sudah berapa kali Jesslyn katakan Dad. Pernikahan itu sangat tidak ku inginikan." Jesslyn kembali menentang. Wajahnya terlihat sangat tidak senang.
Sean masih berusaha menguasai situasi. Sebisa mungkin tidak ikutan emosi. Bahkan mencoba untuk memaklumi sembari terus membuat sang putri mengerti.
Sementara Allesya hanya bisa menghela napas pelan tanpa bersuara. Tubuh yang masih terasa lemah membuatnya tak bertenaga. Bahkan sensasi pening mulai merayapi kepala. Andai saat ini ia sedang sehat bisa dipastikan omelan maut sudah menggema.
Apa alasan terbesarmu menolak menikah, Sayang?" tanya Sean.
__ADS_1
"Aku tidak ingin terluka lagi, Dad. Lagian Jeaven ingin menikahiku karena tuntutan tanggung jawabnya saja, bukan karena cinta. Dia itu sangat buruk. Aku membencinya."
Sejenak Sean tak lanjut melepas kata. Namun, pandangan masih terpaku pada wajah cantik putrinya. Sorot matanya bahkan sulit diterka.
"Jika Jeaven sangat buruk, terus bagaimana dengan Daddymu ini? Jika kau membenci dia harusnya kau membenci Daddy juga. Daddy adalah pria jahat yang dulu pernah menyakiti wanita di sebelahku ini." Sean menoleh kala Allesya meremas tangannya sebagai isyarat agar dia tidak menceritakan lebih jauh tentang masa lalu kelam mereka.
"Apa maksudnya, Dad. Kenapa juga Jesslyn harus membencimu?" Jesslyn pun mulai bertanya-tanya.
Sean meminta persetujuan Allesya untuk lanjut bercerita melalui bahasa mata dan akhirnya mendapat anggukan iya. Seorang ayah itu lalu kembali bersuara. Hingga sang putri dibuat tercengang di ujung ceritanya.
Jesslyn tentu tak menyangka. Sang daddy selama ini selalu menjadi patokan pria idamannya. Tetapi ternyata pernah melakukan kesalahan fatal juga.
Namun sayang, kisah orang tuanya belum mampu membuka hati Jesslyn. Wanita itu malah kian gencar melontarkan kalimat tentangan. "Tidak, Daddy. Itu adalah kisah masa lalu Daddy bersama Mommy. Tidak ada kaitannya dengan jalan pikiranku. Dan tentang jenis perasaanku ke Jeaven tidak bisa disamakan dengan perasaanku ke Daddy."
"Baiklah jika seperti itu jalan pikiranmu. Tetapi setidaknya tujukan juga pikiranmu kepada anakmu kelak tanpa ayah. Akan ada banyak gesekan yang berdampak negatif pada mental anakmu." Sean masih berusaha memberi pengertian.
"Jesslyn bisa menjadi seorang ibu dan sekaligus ayah untuk anakku. Kalian tidak perlu mencemaskan hal itu." Jesslyn menghela napas kasar. "Aku lebih baik sendirian seumur hidup dari pada harus menikah dengan Jeaven."
"Jesslyn!" Allesya yang sedari tadi memilih diam akhirnya bersuara. Wanita itu bahkan sampai beranjak dari duduk karena sudah tidak tahan melihat tingkah putrinya.
"Kenapa kau sangat keras kepala?! Kecilkan egomu dan berpikirlah secara bijak. Baiklah jika itu maumu. Tapi ingat, Jeaven juga seorang pria yang memiliki harga diri. Mungkin sekali dua kali penolakan ia akan masih berjuang, tapi jangan menyesal jika akhirnya ia memilih berhenti karena merasa perjuangannya tidak dihargai. Lagian Jeaven tidak akan rugi banyak. Dia masih bisa mencari wanita lain yang mau menerimanya dan bisa diajak hidup bahagia. Sedangkan kau--" ucapannya sempat terjeda karena napas mulai tersengal-sengal. "Nikmati saja kesendirianmu itu seperti yang kau mau."
Pusing yang kian merajai melemahkan pijakan kaki Allesya. Tubuhnya oleng seiring dunia yang mendadak gelap gulita.
"Allesya!"
Bersambung~~
__ADS_1
Bagi yang penasaran dengan kisah Sean dan Allesya bisa baca di karya Nofi berjudul Cintamu Menjadi Canduku. Yuk baca, kali aja suka🥰
Terima kasih ya atas semua dukungan kalian. Cup cup muah😘