Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Ternyata Calon Kakak Ipar


__ADS_3

"Callena?" Jesslyn antara ragu dan tidak. Yang dia tahu hanya Callena si anak tim manajer Jeaven, tapi bisa saja bukan. Lagian untuk apa wanita itu meneleponnya. Begitulah sepintas tanya di pikirannya.


"Iya. Kita pernah bertemu sekilas di bandara beberapa minggu yang lalu." Perkataan Callena seketika meruntuhkan keraguan dan sekaligus menguatkan praduga Jesslyn.


"Ada apa ya kau meneleponku?" Jesslyn masih berusaha bersikap biasa, walaupun sulutan panas mulai menguar di rongga dada, mengingat Callena adalah salah satu sumber konflik di dalam pernikahannya.


"Hmm, itu ... sebenarnya aku--" Dari gelagat ucapan Callena terdengar ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


Semetara Jesslyn masih sabar menyimak sembari menahan gemuruh di dada. Tetapi ada satu hal yang dia tangkap dari suara Callena. Yaitu suara serak dan sumbang seperti seseorang yang sedang tidak baik-baik saja.


"Halo?" Jesslyn menegur kala sudah beberapa detik suara Callena belum lagi terdengar.


"Ah, maaf."


"Maaf untuk apa? Dan kau mau bicara apa? Jika hanya sekedar menanyakan keberadaan Jeaven aku tidak tahu." Jesslyn mulai sedikit kehilangan kesabaran.


"Iya, aku sebenarnya juga ingin menanyakan tentang Jeaven. Apa dia baik-baik saja?" tanya Callena tanpa dosa. Tetapi dia memang tidak tahu menahu akan perterngkaran Jeaven dan Jesslyn disebabkan olehnya juga.


"Kau sangat perhatian ya dengannya?" sindir Jesslyn dengan senyuman getir membalut muka. Dia semakin yakin bahwa wanita bernama Callena itu memiliki ketertarikan kepada suaminya.


"Aku mengkhawatirkannya. Tadi usai mengikuti turnamen dia langsung ijin untuk kembali ke London. Padahal sudah beberapa hari ini keadaannya tidak begitu fit. Setiap pagi dia diserang rasa mual dan juga muntah-muntah," terang Callena yang secara tidak sadar mencubit hati kecil Jesslyn.


Sebagai seorang istri, begitu banyak ketidak tahuannya tentang si suami. Dan dalam kondisi seperti ini malah wanita lain yang lebih tahu dan terkesan peduli. Jeaven memang tidak pernah bercerita ke Jesslyn perihal dia yang sedang mengalami sindrom couvade sampai saat ini.


"Halo?" Kini berganti Callena yang menegur Jesslyn kala suaranya tiba-tiba tenggelam.


"Iya."


"Kau baik-baik saja?"

__ADS_1


Apa ini? Kenapa Callena malah bersikap sok perhatian ke Jesslyn di saat situasi seperti ini? Tingkahnya sungguh tak mewakili watak para pelakor di dunia ini.


"Katakan apa tujuanmu meneleponku?" Nyatanya meski seperti itu Jesslyn tak menaruh atensi lebih pada sebentuk perhatian kecil dari Callena. Ia memilih melontarkan tanya, karena merasa belum bertemu dengan titik tujuan utama dari si lawan bicara.


Kendati bisikan prasangka buruk sudah menggema di relung hati. Prasangka tentang kedekatan Callena dengan si suami. Hah! Sampai kapan kesalah pahaman akan terus mengambil posisi.


"Sebenarnya aku malu untuk melibatkanmu di dalam urusan asmaraku." Suara Callena terdengar seperti cicitan bayi tikus. Antara sungkan dan tidak enak hati terbungkus menjadi satu.


Jesslyn kian kepanasan. Perkataan Callena sukses mencetak kepalan tangan. Berani sekali si lawan bicaranya itu berkata jujur tanpa segan. Seolah merajut asmara dengan suami orang adalah kewajaran. Bukan sebuah aib yang harus dirahasiakan. Melainkan sebuah kebanggaan.


Ternyata Jeaven dan Callena sudah sejauh itu. Mereka memiliki kisah asmara sendiri.


Batin Jesslyn di dalam hati kian terhasut oleh arus kesalah pahaman.


"Jangan bercanda," balas Jesslyn mulai jengah, serasa ingin segera menyudahi percakapan karena tidak betah dengan denyutan pilu yang kian membuncah.


"Ow ... jadi kau berniat mendekati seorang pria dengan meminta bantuan istri dari pria tersebut? Apa kau tidak punya malu?" Jesslyn langsung memangkas kalimat Callena yang belum selesai.


"Hei, kau sepertinya salah paham." Callena seperti langsung bisa membaca pikiran Jesslyn meski tidak saling bertatap muka, hanya sebuah percakapan melalui sambungan panggilan suara.


"Benarkah? Ck!" Jesslyn berdecih tak percaya.


"Awalnya aku mendekati Jeaven dengan menaruh berharapan dia bisa membantu mempertemukanku dengan Jaeden. Tetapi Jeaven sangat dingin dan sulit didekati. Jadi terpaksa aku mengambil alternatif lain yaitu mencoba menghubungimu." Cepat-cepat Callena memberi penjelasan sebelum Jesslyn tenggelam lebih dalam kesalah pahaman.


Jesslyn seketika tersentak dari kesalah pahaman dan terlempar ke dalam penyesalan karena sudah sembarangan menuduh sang suami. Lidah beberapa kali merutuki diri karena malu juga. "Jadi, kau--"


"Aku dan Jaeden sepasang kekasih. Sudah dua tahun kami menjalin hubungan diam-diam. Tetapi selama sebulan terakhir Jaeden benar-benar memutus komunikasi denganku setelah pertengkaran waktu itu. Dia sepertinya sangat kecewa karena aku berkali-kali menolak ajakan nikahnya." Callena menjeda penjelasannya dengan helaan panjang lalu kembali bersuara. "Jesslyn, bisakah kau membantuku? Aku sangat menyesali sikapku itu. Tolong sampaikan ke Jaeden bahwa aku bersedia menikah. Dan tolong sampaikan kepadanya kalau aku sudah sangat merindukannya." Callena memohon sepenuh hati. Samar-samar terdengar kalau dia sedang menangis di seberang panggilan.


"Aku akan membantumu. Kalau perlu akan ku seret dia di depanmu," putus Jesslyn dengan suasana hati sedikit membaik. Meski masih terbelenggu oleh rantai kecewa terhadap Jeaven. Dan terus menyangkal bahwa ia mulai merasa lega.

__ADS_1


"Terima kasih, ya." Sama halnya dengan Jesslyn, Callena juga terdengar lega. "Oya, bolehkah aku curhat sedikit?"


"Silahkan?"


"Suamimu itu pria yang sangat menyebalkan. Aku tadi hampir pingsan karena tiba-tiba asam lambungku kumat tapi dia sama sekali tidak mau menolongku. Dia seperti enggan menyentuhku. Memang aku ini kotor apa?!" cibir Callena tanpa ada rasa sungkan terhadap Jesslyn.


"Dia memang pria yang paling menyebalkan di dunia ini," timpal Jesslyn membenarkan ucapan Callena.


Tidak lama sambungan telepon berakhir.


"Ternyata aku sudah salah paham kepada calon kakak iparku sendiri. Apakah itu berarti Jeaven memang setia?" Tiba-tiba Jesslyn mendessah kasar. "Tapi tetap saja hal itu tidak mampu menyurutkan rasa kecewaku. Dia benar-benar buruk." Rupanya ia masih berusaha menyangkal perasaan di hati. Ada rasa senang di rongga dada tapi tak mau mengakui. Itulah Jesslyn yang masih dibutakan sejuta gengsi.


Bibir Jesslyn menggerundel sejurus dengan mata menyoroti pintu di depan mata. Tiba-tiba ia teringat akan tujuannya yang tadi sempat tertunda. "Aku penasaran sebenarnya ini ruangan apa?"


Diamati beberapa angka yang tersemat di door lock digital. Ia mencoba beberapa kali memasukkan angka sandi tapi gagal. Bahkan hampir dibuat menyerah dan kesal.


Hingga akhirnya pintu berhasil terbuka dan Jesslyn terheran seketika. "Sandinya sama dengan tanggal lahirku. Kebetulan sekali."


Sepasang mata diajak memicing karena seisi ruangan terlihat gelap. Jesslyn meraba dinding sekitar, mencari tombol saklar lampu.


Ceklek!


Ruangan gelap menjadi terang kala lampu menyala. Bersamaan dengan itu Jesslyn seketika menutup mulutnya yang menganga. Pemandangan di depan mata sungguh sulit dipercaya.


"Apa maksud dari semua ini?"


Bersambung~~


Terima kasih ya masih setia mengkawal kisah cinta Jeaven dan Jesslyn sampai mendekati ending. Di bab selanjutnya para pembaca kesayangan pasti bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Karena alur cerita karya ini sangat ringan dan mudah ditebak🥰😁

__ADS_1


__ADS_2