
"Jess, pelan-pelan jalannya." Jeaven menuturi seraya berjalan mengimbangi langkah cepat Jesslyn menuju apartemen. Kali ini ia harus kembali meraup kesabaran ekstra untuk menghadapi sikap labil sang istri.
Wanita itu berjalan dengan perasaan dongkol. Berbagai pikiran negatif mulai lepas kontrol. Beberapa saat yang lalu emosinya kembali terpancing saat mengingat kedekatan Jeaven bersama Nicole.
Walaupun dokter cantik itu sudah menjelaskan tentang hubungan mereka, tapi tetap saja rasa cemburu itu ada. Ah, apakah Jesslyn sudah mengakui bahwa sosok Jeaven kembali menempati tahta di hatinya?
Kita lihat saja.
Sesampainya di ruang tamu apartemen Jesslyn menjeda langkah lalu memutar badan hingga berhadapan dengan Jeaven yang sedari tadi mengekorinya. "Pasti tangan dokter Nicole lembut sekali, ya? Sampai-sampai kau tidak menolak saat dipegang-pegang tangannya tadi? Padahal dulu kau sangat tidak suka jika aku sentuh. Kau akan menghindar seolah aku ini mahkluk kotor yang menularkan penyakit," cebiknya lengkap dengan tatapan sinis.
Seperti kebanyakan wanita di muka bumi ini. Yang di mana mereka akan mengungkit-ungkit masa lalu jika sedang bertengkar untuk menguatkan opini.
Konon, wanita dianugerahi ingatan yang lebih tajam ketimbang pria. Ibarat kata kapasitas memori otak mereka melebihi berjuta-juta gigabyte atau bisa dikatakan tak terhingga sealam semesta. Ini pula yang menjadi alasan utama dari hobi kaum hawa mengungkit masa lalu untuk dijadikan senjata. Dan bagi kaum adam bersiap-siaplah untuk gencatan senjata, menyelamatkan diri dari bencana. Haha!
"Dulu aku punya alasan untuk tidak menyentuhmu, Jesslyn," jelas Jeaven, mencoba meluruhkan gelenyar panas di hati Jesslyn. "Dan tentang sikapku ke dokter Nicole itu juga tidak seperti yang kau tuduhkan," imbuhnya lagi membela diri.
"Heleh gombal!"
"Ada apa ini? Baru hari pertama pernikahan sudah bertengkar."
Jeaven dan Jesslyn serentak menoleh ke arah sumber suara yang baru saja menyela. Dari ruang belakang Allesya dan Sean terlihat berjalan mendekati mereka. Sepasang orang tua itu memang sudah berada di apartemen sebelum kedua pengantin baru itu tiba.
"Mom, Dad. Sejak kapan kalian berada di sini?" Jesslyn bertanya.
"Belum lama, Sayang." Sean menjawab sabar. Sementara Allesya masih memasang ekspresi keheranan karena mendengar perdebatan anak dan menantunya itu tadi.
"Mommy tidak ingin terlalu ikut campur urusan rumah tangga kalian. Tetapi kalau kalian ingin bercerita silahkan." Kini ganti Allesya yang bersuara.
"Bukan apa-apa kok, Mom." Jesslyn tak berniat bercerita. Tentu saja ia tidak ingin malu juga. Tetapi keinginannya itu pupus kala Jeaven tiba-tiba membuka suara.
"Kami baru saja menemui dokter Nicole dan juga putranya, Mom," terang Jeaven dengan segera. Mungkin sedikit terkesan kekanak-kanakkan, tapi untuk saat ini sepertinya ia memang butuh bantuan sang mertua.
"Ow, kalian sudah bertemu dengannya? Padahal Mommy dan Daddy datang kemari berniat mengajak kalian menjenguk putranya bersama-sama." Allesya tentu langsung menanggapi karena nama Nicole tidaklah asing baginya.
Jesslyn mengernyit bertanya-tanya. "Mommy dan Daddy kenal dengan dokter Nicole?" Ia tampak menggiring pandangan kepada kedua orang tuanya secara bergantian.
"Tentu saja. Dia teman Mommy waktu kuliah dulu. Kami sudah lama tidak bertemu tapi tanpa sengaja bisa bertemu lagi di sini."
__ADS_1
"Teman kuliah? Tapi dokter Nicole terlihat masih sangat muda jika harus dibandingkan dengan Mommy," ceplos Jesslyn dan langsung mendapat lirikan sinis Allesya.
"Apa Mommymu ini sudah terlihat sangat tua hingga kau berkata seperti itu?"
"Bukan. Maksudnya dokter Nicole seperti terlihat sedikit lebih tua saja dari Jesslyn." Jesslyn segera meralat perkataan sebelum Allesya kian mengeluarkan sungutnya lebih panjang.
Nyonya Willson itu memang paling sensitif jika sudah membahas tentang penuaan atau kriput di muka. Padahal dia masih terlihat cantik dan awet muda meski usianya yang hampir menginjak kepala angka lima.
"Dokter Nicole memang sangat cantik dan selalu terlihat awet muda seperti Mommymu ini." Allesya kembali kumat narsisnya. Dari dulu hingga sekarang kebiasaannya itu seolah takkan hilang dimakan usia.
Seperti authornya. Haha!
"Jangan bilang perdebatan kalian ada hubungannya dengan dokter Nicole?" tebak Allesya yang menyadari gelagat tak biasa Jesslyn.
"It-itu--" Jesslyn tergagap karena merasa malu sendiri. Belum ada kalimat yang mampu terucapkan kini. Padahal beberapa saat yang lalu hatinya masih terkekang emosi, dan sekarang perasaan itu malah tiba-tiba mengungsi.
"Oya, Dokter Nicole memang sempat meminta bantuan Mommy membujuk Jeaven agar bersedia menemui putranya yang sedang sakit itu. Suamimu ini awalnya sangat sulit dibujuk. Hingga dia menurut karena Daddymu yang berbicara. Keras kepala sekali. sebelas dua belas dengan putriku ini," cebik Allesya diakhir kalimatnya.
Jesslyn menghela napas panjang seraya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. "Apakah tidak ada cara lain agar putranya itu tahu kalau Jeaven bukan sosok ayah yang dia rindukan selama ini. Mungkin Jesslyn terkesan egois, tapi dia juga harus tahu yang sebenarnya. Lagian Jesslyn sangat tidak nyaman saat Abel menganggap Jeaven dan dokter Nicole itu ayah dan ibunya yang berarti mereka harus berperan seperti sepasang suami istri. Dan posisiku di sini malah terkesan orang ketiga saja." Tidak sadar ia terus menumpahkan seluruh isi hatinya dengan mengabaikan kata gengsi.
Allesya menyusul duduk di sebelah putrinya lalu tersenyum maklum. "Yang Mommy tahu dokter Nicole sudah berusaha memberi tahu Abel tentang ayahnya yang sudah meninggal, tapi tidak lama ingatan putranya itu akan kembali seperti semula. Kau pasti sudah tahu tentang penyakit gangguan memori yang dialami Abel Kita tidak bisa memaksanya mengingat sesuatu yang tidak bisa ia ingat."
"Sedikitlah berlapang dada, Sayang. Kau sendiri tahu yang sebenarnya. Jeaven itu tetap suamimu bukan suami orang lain. Anaknya bukan Abel tapi janin di perutmu. Dan kau juga bisa melihat sisi menyedihkan dokter Nicole yang harus mengemis iba dari Jeaven agar mau berpura-pura menjadi ayah dari putranya untuk beberapa saat saja. Hanya itulah kesempatan trakhirnya untuk membahagiakan si putra karena umurnya tidak lagi panjang." Kali ini Sean yang ganti menuturi si putri.
"Ya sudah. Kalau begitu kami pergi dulu. Kami rasa peran kami sebagai orang tua sudah cukup. Cepat luruskan perdebatan kalian agar tidak jadi penyakit dalam rumah tangga." Imbuh Sean lagi sembari tangan terulur ke Allesya dan langsung bersambut.
Setelah mertuanya pergi Jeaven duduk di sebelah Jesslyn. "Jadi sekarang kau sudah tahu, 'kan? Jika aku menampik sentuhan tangan dokter Nicole sama saja aku sudah berlaku kurang sopan terhadap orang yang lebih tua. Bukan untuk menikmati sentuhannya tapi untuk menghormati saja." Ia berkata dengan sangat hati-hati saat memberi pengertian kepada Jesslyn.
"Kau meledekku?" sungut Jesslyn saat sadar Jeaven berusaha mengulum bibirnya agar tidak tertawa.
"Tidak."
"Heleh!"
"Aku senang."
"Karena apa?"
__ADS_1
"Karena kau cemburu."
"Aku bukannya cemburu tapi hanya ingin menjaga harga diriku saja sebagai seorang istri." Jesslyn masih saja berkilah tentang hatinya.
"Iya sudah." Jeaven pun mengiyakan saja karena tidak ingin perdebatan berlangsung lama. Ia mendekatkan wajahnya ke Jesslyn seraya melabuhkan tatapan mendamba. Ia merasa kecantikkan wanita yang berstatus istrinya itu kian memikat hati.
"Jangan lihat-lihat." Jesslyn memalingkan muka karena tidak nyaman dengan tatapan si suami. Lebih tepatnya ia tidak ingin terlampau terlena dengan pesona Jeaven yang melelehkan hati.
Jeaven menarik dagu tirus Jesslyn agar melihat kepadanya. "Jangan cemberut," pintanya.
"Hm."
"Maaf ya. Aku memang salah."
"Hm." Jesslyn hanya bergumam ria saat merespon. Padahal jantungnya serasa mau anjlok dari rongga dada.
"Percayalah, aku serius dengan pernikahan kita."
"Entahlah. Aku tidak tahu harus percaya kepadamu atau sebaliknya."
"Pelan-pelan saja." Jeaven menarik tubuh Jesslyn ke dalam pelukan, membiarkan sang pujaan hati mendengar detak jantungnya yang sedang berdendang riang.
Tidak lama Jeaven mengurai pelukan dan mulai mendekatkan wajahnya ke Jesslyn. Satu kecupan di bibir berlabuh dengan sangat manis tanpa adanya penolakan.
"Inilah alasannya kenapa dulu aku selalu berusaha menjauhimu. Karena sekali menyentuhmu aku tak terkendali."
"Maksudnya?" Jesslyn tak langsung mengerti. Kadang otaknya yang pintar berubah loading. "Ahk! Jeav, turunkan aku!" pekiknya saat Jeaven menggendongnya tiba-tiba.
"Akan kuturunkan, tapi di atas ranjang."
"Kyaakk! Aku nggak mau!"
Bersambung~~
Sabar ya. Perihal surat Jennis untuk Jesslyn dan juga siapa pemuja rahasia Jesslyn sebenarnya akan ada nyusul kok.
Terima kasih ya atas semua dukungan kalian..
__ADS_1
Maaf jika belum bisa balas komen kalian dengan cepat.
Lop you🥰😘