Terjerat Cinta Sang Pembalap

Terjerat Cinta Sang Pembalap
Buana Asmaraloka


__ADS_3

"Habiskan saja." Jeaven bertopang dagu. Sepasang netranya memindai setiap gerak-gerik Jesslyn yang menurutnya terlihat lucu. Wanita bermutiara hazel itu menyantap lahap masakan Jeaven tanpa merasa malu.


"Jika ku habiskan semuanya besok kau akan melihat istrimu ini menjelma menjadi babi," celetuk Jesslyn sembari mengunyah.


Jeaven tersenyum kecil karena ucapan konyol Jesslyn. Masih bisa istrinya berkata seperti itu di saat semua makanan di atas meja hampir tak tersisa. "Nggak apa-apa. Seperti apapun itu kau tetap istriku."


"Heleh! Mulut pria itu kalau ngomong memang manis seperti madu, tapi ujung-ujungnya terasa pahit seperti empedu. Bilang kau tetap istriku wanitaku, cintaku, pujaan hatiku, dan mau menerimaku apa adanya tanpa ragu, tapi di belakang suka bermain mata jika melihat wanita bertubuh seksi yang merayu," cerocos Jesslyn mengabaikan tanda koma di setiap kalimatnya.


"Apakah daddymu dan daddyku juga tergolong pria seperti yang kau ucapkan tadi?"


Jesslyn seketika mati kutu untuk berkata. Ucapan sederhana Jeaven sukses menjatuhkan persepsinya. Ia seperti termakan oleh ucapannya sendiri di saat itu juga. Wanita itu sadar perkataannya tadi terlalu meng-judge kaum pria.


"Terkecuali mereka berdua. Daddy Jeffrey dan daddy Sean itu contoh suami idaman para wanita." Jesslyn meralat ucapannya dengan segera. Dan lanjut menyantap makanannya.


"Pelan-pelan makannya. Aku tidak akan mencurinya." Jeaven mengusap sudut bibir Jesslyn yang blepotan dengan ibu jari lalu memakannya. "Pepatah bilang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kau pasti tahu maksudnya," ucap Jeaven yang bermakna bahwa sifat sang daddy menurun ke dia. Apalagi yang meyangkut perihal cinta.


Satu cinta saja sudah cukup memenuhi bilik hatinya, jadi buat apa punya dua atau tiga bahkan empat dan lima? Jeaven tidak akan bisa.


"Apa aku bisa mempercayaimu?"


"Kau sudah mengenalku sejak kecil."


Jesslyn menegak air minum setelah usai dengan ritual makannya lalu kembali berkata. "Tapi kau itu sangat tertutup."


"Aku akan lebih terbuka sekarang." Jeaven mengamati Jesslyn yang tak lagi menyentuh senduk dan garpunya. "Sudah kenyang?"


"Sudah," jawab Jesslyn dengan sangat lugu. Padahal pertanyaan singkat Jeaven barusan mengandung sebuah makna yang tersirat. "Kyaak! Lagi-lagi kau menggendongku!" Wanita itu terhenyak karena tubuhnya tiba-tiba tak lagi menginjak lantai.


"Hmp, Jeav!" Jesslyn mendorong dada Jeaven agar berhenti menciumnya. Dadanya terlihat naik turun karena kehabisan napas.


"Ada apa?" Jeaven berusaha sabar kendati hasratnya sudah mendobrak libido.


"Haruskah aku melayanimu disaat aku masih menyimpan kecewa? Aku bahkan masih ragu dengan perasaanmu."


Masih setia pada posisi setengah menindih, Jeaven membawa netra berkabutnya menatap lekat mutiara hazel milik Jeaslyn. "Kau cukup mengikuti kata hatimu. Jika kau merasa nyaman di setiap sentuhanku nikmati saja."

__ADS_1


"Jika tidak nyaman?"


"Kita coba dulu baru berkomentar."


Jesslyn bingung mau berkata apa. Dan Jeaven tahu kalau wanitanya itu sedang terkurung dalam dilema. Hingga ia berpikir inilah saatnya membantu Jesslyn terlepas dari permasalahan tentang rasa. Rasa hati yang mengombang-ambingkan jiwa. Jiwa yang harus segera diajak berlabuh ke dermaga. Dermaga cinta sejati yang begitu indah bak surga.


"Apa yang kau rasakan sekarang?" Jeaven kembali beraksi. Tangannya merayap nakal pada gunung kembar si istri. Memainkan puncak imut dengan ujung jari.


"Tubuhku berdenyut," lirihnya dengan deru napas yang berselingan dengan dessahan kecil.


Jeaven belum lagi berlisan. Tahu Jesslyn mulai bisa menyambut sentuhannya ia kian menggencarkan permainan. Tubuhnya sendiri juga sudah mulai kepanasan. Gairah libidonya sudah berunjuk rasa menuntut keadilan. Keadilan akan sebuah pelampiasan nikmat dalam pusaran percintaan.


Tangan bergerak lihai melepas setiap benang yang membalut raga. Hingga pahatan indah tertampil polos bak bayi yang pertama kali menatap buana. Gesekan kulit mengantar getaran sinyal asmara.


Bungkus selimut bergelombang riak seiring tubuh kekar beringsut turun hingga ke buah dada. Jeaven mengajak lidah berpetualang dari lereng gunung, mendaki hingga ke puncak berwarna merah muda.


"Hah! Jeav. Aku--" Jesslyn sudah kehilangan kata. Sentuhan manja Jeaven membawanya terbang dalam lena. Gelenyar nikmat kian meresahkan jiwa saat buah dadanya tenggelam dalam rongga mulut suaminya. Sementara gerbang mahkota intinya juga tak luput dari jari-jari besar yang menjajah penuh kuasa.


Rasa seperti kehilangan tetiba mengundang kecewa kala Jeaven kembali menyembul dari bawah selimut. Sesaat pria itu menghentikan permainan dan menatap Jesslyn yang sudah bermuka cemberut.


"Kecewa, ya?" goda Jeaven tersenyum nakal.


Tidak rela durja ayu sang kekasih hati terhalang dari pandangan, Jeaven menarik tangan Jesslyn perlahan. "Aku memang buruk. Maaf."


"Iya, kau memang buruk. Aku membencimu," ucap Jesslyn. Namun tidak selaras dengan dorongan naluri yang di mana membawa tangan menyentuh benda keras di bawah selimut yang sedari tadi sudah menodong tubuhnya.


Jeaven kian menegang kala tangan kecil Jesslyn bergerak naik turun di bawah sana. "Nakal." Ia kembali mellumat bibir ranum Jesslyn yang terasa manis di lidahnya. Pagutan membrutal saat sambutan menyapa. Merangsang hasrat yang kian meraja rela.


"Pelan-pelan." Jesslyn mengingatkan bahwa dia sedang hamil.


"Aku tahu." Jeaven mencium perut Jesslyn lalu mencoba mengajak interaksi calon anaknya. "Daddy ingin menemuimu. Jangan usir Daddy, ya."


Jesslyn terkikik karena merasa lucu dengan tingkah Jeaven yang menurutnya sangat berbeda dengan yang dulu. "Sejak kapan kau bisa melawak, Jeav?" Dia sangat yakin, suaminya itu bukanlah tipikal manusia yang suka bercanda di kehidupan sehari-hari. Pria itu juga sangat tidak pandai dalam berekspresi. Tetapi semenjak menikah perubahan signifikan begitu terasa saat ini.


Jeaven menanggapi komentar Jesslyn dengan tersenyum lalu mulai memposisikan miliknya yang siap diajak menyambangi si janin. Pelan sekali, ia sebisa mungkin memperlakukan wanitanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Hmm." Jesslyn menegang kala Jeaven sukses menyatukan raga.


"Sakit?"


"Sedikit."


"Lanjut, ya?"


"Iya."


Jeaven mulai menggerakkan tubuhnya, mengajak si pujaan hati memintal nikmatnya cumbanarasa. Sungguh indah jika setiap sentuhan berbalut sutra cinta. Sutra cinta yang terikat di bawah janji suci pernikahan nyata.


Gelenyar rasa percumbuan kali ini memang terasa berbeda. Tidak ada pengaruh alkohol ataupun obat perangsang di antara mereka. Percintaan yang terjadi benar-benar dilakukan secara sadar dan saling suka.


"Jeav."


"Iya, Sayang."


"Di atas."


Paham dengan kemauan Jesslyn, Jeaven menarik tubuh si wanita hingga berpindah ke posisi memangku, kembali bergerak dan memagut. Atmosfer ruangan kian dibuat panas oleh gairah yang saling berlomba untuk memuaskan.


Jiwa keduanya berasa terbang bersama hembusan napas cinta. Menggapai nikmat surgawi tiada tara. Mereka terbuai dalam manisnya siraman cuan-cuan madu yang memabukan jiwa.


"Capek?" Jeaven berhenti sejenak lalu menghujani pundak mulus Jesslyn yang masih menenggelamkan wajah di ceruk lehernya. Wanita itu masih lemas setelah Jeaven berhasil membuatnya meneguk puncak nikmat berkali-kali.


"Iya."


"Aku belum."


Jesslyn langsung menarik muka dan menatap sangsi Jeaven. "Apa masih lama?"


"Iya."


"Ya Tuhan ... sudah 1 jam loh. Bisa encok aku."

__ADS_1


"Jika lelah kau cukup diam saja seperti boneka." Jeaven menidurkan Jesslyn dan kembali beraksi.


Bersambung~~


__ADS_2